in Uncategorized

Tujuh Konsep Mengenali Tantrum Pada Anak dan Solusinya

Sumber: rocking Mama

Tempo hari saya pernah mengikuti sebuah diskusi online yang dibimbing Bapak Supri Yatno, seorang praktisi kesehatan mental, mengenai jenis-jenis tantrum dan bagaimana cara mengatasinya.

Apa sih tantrum itu? Berdasarkan Wikipedia, tantrum (atau tantrum temper) adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika “tujuan” orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang.

Tantrum bisa jadi merupakan momok yang ditakuti orangtua. Padahal sebenarnya kalau kita paham penyebabnya, kita tak perlu khawatir untuk mengatasinya. Apalagi tantrum bisa dibilang merupakan hal yang wajar dialami anak-anak, yang belum mengerti bagaimana cara mengungkapkan emosinya.

Usia anak dan prosentase anak-anak yang mengalami temper tantrum:

18 – 24 bulan: 87 persen
30 – 36 bulan: 91 persen
42 – 48 bulan: 59 persen

Rata-rata, tantrum berlangsung selama:
– 2 menit di usia 1 tahun
– 4 menit di usia 2 – 3 tahun
– 5 menit di usia 4 tahun
dan terjadi
– 8 kali dalam satu minggu pada usia 1 tahun
– 9 kali dalam satu minggu; pada usia 2 tahun
– 6 kali dalam satu minggu; pada usia 3 tahun
– 5 kali dalam satu minggu; pada usia 4 tahun

sumber: Potegal & Davidson, 2003

Sumber gambar: kumparan

Ada empat jenis tantrum pada anak.
Keempat jenis tantrum secara lengkapnya dapat anda baca di sini .

Singkat kata, jika anda sudah mengetahui tipe tantrum yang mana, maka kemudian anda menggunakan isu yang mendasarinya untuk secara efisien menerapkan intervensi logis pada tantrum. Begitu anda menjadi lebih mengerti dan berpengalaman, anda akan mampu mengenali tipe tantrum dalam beberapa detik.

1. Manipulatif tantrum timbul karena perasaan ingin mengendalikan sesuatu, maka paling baik ditangani dengan menetapkan batasan untuk mendapatkan kekuasaan dan kendali yang tepat versus tidak tepat.

2. Upset tantrum timbul karena perasaan anak yang tertekan, maka paling baik ditangani dengan membimbing atau memberi validasi kepada individu yang dalam tekanan.

3. Helpless tantrum timbul karena perasaan tidak berdaya, maka paling baik ditangani dengan membantu membangun kekuatan diri anak melawan rasa putus asa untuk merawat dirinya sendiri.

4. Cathartic tantrum timbul karena stres anak yang menumpuk, maka paling baik ditangani dengan memberikan ijin dan membimbing bagaimana cara yang paling baik melepaskan stres yang menumpuk.

Dua kesayanganku

Namun bagaimana kita bisa membedakan anak kita termasuk jenis tantrum yang mana? Pencegahan ini dimulai dari pengenalan anak terlebih dulu.

Ada tujuh konsep yang bisa kita pakai untuk mengenali tantrum anak kita sendiri:

(1) Buatlah diary tentang tantrum anak anda selama 7 hingga 10 hari. Catat informasi berikut ini: di mana kejadian tantrumnya, apa yang terjadi sebelumnya, dan apa yang terjadi setelahnya. Adalah penting kita mempunyai catatan lengkap mengenai tantrum anak kita. Semakin kita paham semakin kita mudah mengenali anak kita termasuk jenis tantrum yang mana.

(2) Kenali situasi yang menyebabkan tantrum terjadi lebih sering. Buat rencana untuk menghindari situasi tersebut atau buat situasi tersebut tidak membuat stres anak. Nah, kalau sudah paham dan mengenali pola tantrumnya, maka kita akan lebih mudah untuk bersiaga menghindari situasi pencetus tantrum pada anak.

(3) Kenali apa saja yang memicu anak anda tantrum. Cari cara mengurangi atau menghindari pemicu tantrum. Hampir sama dengan nomor dua di atas, kita juga harus mengenali apa yang menjadi pemicu anak tantrum.

(4) Kenali konsekuensi tantrum. Dapatkah anda melihat perilaku tersebut tanpa anda sengaja disebabkan oleh tindakan anda atau tindakan orang lain? Kita memang perlu memahami juga apakah tantrum itu disebabkan kesengajaan anak karena kehadiran orang tertentu?

(5) Beri hadiah kepada anak anda sebagai dorongan tambahan jika tetap mampu tenang. Sangat dianjurkan sering-sering memberi pujian pada anak ketika dia mampu bersikap tenang, supaya anak paham dan merasa dihargai.

(6) Bantu anak yang lebih tua untuk belajar dan mempraktikkan penanganan masalah (coping skills) pada situasi-situasi yang biasanya membuat dia tantrum. Bila anak sudah lebih besar, bisa pelan-pelan kita ajari dia mengatasi emosinya sendiri.

(7) Ini adalah dua kemungkinan saat anak anda mengalami tantrum:
– Abaikan tantrum: jangan melihat atau berbicara pada anak anda saat tantrum.
– Ambil jeda waktu

Namun jangan lupa ya bahwa kita mengabaikan tantrum-nya, bukan anaknya. Jangan membuat anak merasa dia yang ditinggalkan. Kita tetap berada di sisinya hingga tantrum berakhir. Tapi jangan coba untuk merangkul anak terlebih dulu. Dan bila sudah berakhir, anak mendekati kita dengan sendirinya, barulah kita berikan pelukan yang ia butuhkan dan beri pengertian padanya.

Cari tahu cara mengasuh anak zaman now di sini yuk

Sebelum diskusi yang berlangsung lebih kurang dua jam ini ditutup, Bapak Supri mempersilakan peserta untuk bertanya.

Kurang lebih saya rangkum demikian:
– Anak perlu diajarkan cara yang tepat untuk menyalurkan emosinya. Dan mengajarkannya ini perlu kesabaran, gak cukup sekali.

– Yang terpenting saat menghadapi anak, lakukan mindfulness. Kita perlu benar-benar berada penuh di situasi saat ini. Jangan terbebani oleh pikiran lain yang buat gagal konsentrasi dalam menghadapi anak.

Sumber gambar: Bapak Supri Yatno

– Yang perlu dipahami juga, percuma belajar pengasuhan anak bila tidak dibarengi dengan usaha mengasuh diri sendiri. Bagaimanapun anak adalah peniru ulung orangtuanya. Bila anak sendiri pernah melihat orangtuanya tantrum, jangan disalahkan kelak mereka akan meniru.

Sementara mungkin orangtua tidak menyadari bahwa ada masalah yang belum tuntas pada dirinya sendiri. Maka memahami diri sendiri terlebih dulu ini sangat penting. Bila dirasa perlu bisa menemui pakar terapis atau orang yang tepat untuk berdiskusi.

Sumber gambar: Bapak Supri Yatno

Sekilas info, barangkali ada yang membutuhkan, berikut jadwal terapi online dengan Bapak Supri Yatno, boleh dicoba, recommended. Kalau saya pribadi pernah mengikuti terapi “Mindfulness Parenting” dari beliau dan diskusi tantrum ini merupakan salah satu yang diberikan pada alumni Mindfulness Parenting.

Baca juga Manajemen Kemarahan pada Anak

Sumber: Bapak Supri Yatno

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

36 Comments

  1. Susah-susah gampang ngadepin anak tantrum, tapi yg utama, ibu tidak boleh panik, karena panik sering memperkeruh suasana, dan tantrum anak semakin jadi

  2. Ulasan yang bermanfaat Mbak..Setelah mengenali jadi tahu cara mengatasi tantrum ini.
    Oh ya anakku yang sulung dulu juga tantrum..makin tahu sebabnya memang jadi bisa diantisipasi dan siatasi sih..belajar dari pengalaman jadinya

  3. Ada sebab ada akibat yah mba. Kalau sudah tau penyebabnya insya Allah tau cara mengatasinya. Alhamdulillah anak ga pernah tantrum, emaknya yang sering #eh hahaha

    • Abaikan saja tatapan itu. Dan bawa anak kita ke tempat yg aman segera untuk dia melampiaskan emosinya 😁

    • Ya mbak, kalau masa kecilnya sering ditekan perasaannya. Bukan gak mungkin berlanjut sampai dia jadi orangtua

  4. Anak saya krmarin dalam sehari tantrum sampai 3 kali. Biasanya dia ga suka tantrum. Ini sampai 3 kali karena emaknya lagi sakit jadi rasany belum bisa menangkap pesan emosi anak. Yang ada kepalaku lagi sakit wkwkkw

  5. Intinya tata diri sendiri sebagai orang tua ya mbak. Biar kita bisa mengolah tantrum kita sendiri. Agar bisa ditiru anak.
    Nice artikel.
    Tengkyu.

  6. Anak tantrum memang mengaduk-aduk rasa ya bunda. Kadang jadi bingung, kalau sudah kenal gini mungkin jadi mudah cari solusinya. Makasih mbak Emmy informasinya.