in Uncategorized

Sebuah Novel Teenlit Unik Berlatarbelakang Gempa di Yogyakarta (Review “57 Detik” karya Ken Terate)

57 detik karya Ken Terate

Judul buku: 57 Detik

Penulis: Ken Terate

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun: 2009

Jumlah halaman: 234 halaman

Sinopsis:

Aji, Ayomi, Nisa adalah remaja “biasa”, kayak kita-kita gitu deh. Mereka mengaku kadang bosan dengan hari-hari mereka. Sekali-kali mereka pengin juga mengalami kejadian seru. Tapi tentu saja bukan seru yang menyengsarakan seperti GEMPA. Namun itulah yang terjadi!

Gempa itu tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya. Cuma 57 detik tapi akibatnya begitu mengerikan. Petualangan luar biasa terpaksa mereka jalani.

Sebenarnya awalnya saya pinjem buku dari ipunas karena penasaran dengan karyanya beliau ini. Maklumlah saya kan rada kudet, jadi tak banyak tahu tentang penulis kecuali yang sudah pernah saya baca bukunya dan berkesan (hihihi). Dan kebetulan ini karya pertama Ken Terate yang saya baca.

Ken Terate, Penulis

Berikutnya, wah, ada tiga kesan pertama yang tersirat di benak setelah membaca novel berlatarbelakang gempa di Yogyakarta ini:

1. Gile, bahasanya asyik banget. Belum-belum saya udah terbawa seolah saya jadi tokoh utama dalam cerita ini. Meskipun tokohnya beragam dan mempunyai karakter yang berbeda-beda. Apalagi novel menggunakan PoV 1 atau sudut pandang orang pertama setiap tokohnya.

2. Ngasuh anak itu susah, bener deh. Duh kayaknya gak siap deh kalau anak saya tiba-tiba jadi teenager mendadak seperti si Nisa. Tapi jangan sampai juga jadi orangtua seperti orangtuanya Ayomi. Ck ck ck. Tapi seiring membaca lebih banyak lagi jadi semakin terharu, hiks.

Kalau novel satu ini akan membuatmu lebih menghargai hidup. Baca reviewnya yuk!

3. Wahh, baca ini jadi mengingatkan masa lalu saya. Pas banget pertama saya pakai hijab waktu SMU tuh ya, saya kan penggemar nasyid, dari snada, hijjaz, the fikr, the zikr, dll. Brasa Aisyah di buku ini mirip karakter saya dulu deh. Tapi dia mah lebih lembut, maklum anak pondok. Lah saya slengekan kayak Nisa, cuma luarnya aja kayak Ais. Duh. Mudahan dulu gak ada yg ter-zholimi dengan diri saya. Hiks. Tapi ya itu, setelah baca ke belakang-belakangnya jadi tambah terharu.

Belum lagi kata-kata Aji, “terlambat! Gue selalu grogi kalau identitas gue sebagai mahasiswa kedokteran tersingkap.”

Wah, kita kok sama ya. Saya juga gak nyaman kalo orang tahu identitas saya sebagai bidan. Apalagi sekarang, saya sudah benar-benar ambil keputusan beralih dan menjalani yang sesuai passion saja meski resikonya gak sedikit.

Anyway, memanh banyak sekali quotes yang jleb dalam buku ini. Seperti ucapan Ayomi, “aduh murahnya harga pertemanan. Hanya dengan semangkuk mi ayam sudah membuat mereka lengket padaku.”

Atau ucapan Aji, “emak, betapa mudahnya memanipulasi para emak.”

Atau kata-kata jleb Nisa yang mudahan menyadarkan kita para orangtua, “yang aku tidak mengerti kenapa anak-anak harus mengerti perasaan orangtua mereka? Memangnya anak-anak tidak bisa stres?”

Cover belakang “57 Detik” karya Ken Terate

Selanjutnya apa lagi? Udah selesai? Beluum. Itu baru tentang karakter tokoh-tokohnya. Plot akan semakin menegangkan ketika latar belakang gempa dimulai. Showingnya yang mantap jadi buat saya seolah-olah menyaksikan langsung di depan mata. Wah, seru deh pokoknya.

Apalagi dalam novel ini juga menyajikan foto-foto real dari berita gempa di Yogyakarta itu sendiri. Jadi benar-benar brasa nyata banget kan ya.

Jadi gimana kondisi tiga tokohnya, Nisa, Ayomi dan Aji setelah gempa? Well, baca sendiri aja deh. Lagian saya bacanya free kok. Dari ipunas. Eaa …. Selamat membaca!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.