in Uncategorized

Mencermati Hikmah dalam Film “Dear Nathan Hello Salma” dari Sudut Pandang Orangtua

“Dear Nathan Hello Salma” (sumber gambar: sidomi)

Judul film: Dear Nathan Hello Salma
Sutradara: Indra Gunawan
Pemain film: Amanda Rawles, Jefri Nichol, Devano Danendra dan Susan Sameh
Rilis: 25 Oktober 2018

“Dear Nathan Hello Salma” merupakan film drama remaja Indonesia yang juga sekuel dari Dear Nathan (sumber: Wikipedia). Film ini masih berkisah tentang sosok remaja yang bisa dibilang nakal namun mempunyai sisi baik dalam dirinya. Nathan yang awalnya berpacaran dengan Salma lalu mereka putus karena kelakuan Nathan yang masih saja suka berkelahi. Karena perkelahian itu juga Nathan memutuskan pindah sekolah. Di sekolah barunya dia bertemu dengan Rebecca, seorang siswa yang sering bermasalah di sekolah lantaran latar belakang keluarganya yang berantakan. Sementara di sisi lain, Salma dipertemukan kembali dengan Ridho, teman masa kecilnya.

Waktu pertama saya memutuskan nonton ini, saya pikir sekedar untuk hiburan saja tak apalah. Saya sempat mengira bahwa isinya seputar cerita cinta anak muda, anak SMU yang belum banyak kenal lika-liku kehidupan. Apalagi saya akui saya belum pernah baca novelnya. Jadi saya sempat berpikir dah ketuaan ya nonton genre teenlit. πŸ˜…

Dan ternyata, saya salah besar. Menonton film ini tidak hanya buat hiburan semata, tapi juga banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.

Nonton film pilih yang berkualitas, baca fakta tentang perfilman Indonesia di sini

Dari mulai mempelajari bagaimana para remaja ini menyelesaikan masalah mereka masing-masing bahkan tanpa bantuan orangtua.
Bagaimana cara mengatasi masalah dan menerima kondisi hidup kita sekacau apapun keadaannya (tengok saja kisahnya Rebecca di film ini).

Bagaimana cara mengelola perasaan cinta agar jangan sampai menyakiti hal yang paling berharga, yaitu keluarga (seperti yang dikatakan Nathan kepada orangtua Salma)

Dan yang paling berkesan karena satu adegan yang sukses membuat saya berurai air mata. Yang mana yaa?

Film animasi pun juga banyak mengandung hikmah loh, salah satunya ini

Yang pasti adegan ini menyadarkan saya, sulitnya menjadi orangtua. Betapa sulitnya menghadapi anak-anak kita ketika mereka sudah beranjak remaja.

Kita mesti membimbing namun tanpa menyuapi. Kita selayaknya memberi ruang untuk anak-anak kita agar mereka belajar berani mengambil keputusan, belajar mengatasi masalahnya sendiri. Dan yang tak kalah penting bagi semua orangtua agar mendukung passion anak-anak kita meskipun kadang berlawanan dengan keinginan kita.

Tiket “Dear Nathan Hello Salma” Hari Jumat, 26 Oktober 2018

Mari kita simak salah satu nasihat yang diberikan orangtua Nathan:
“dalam hidup ada lima fase ketika kita dihadapi masalah/ujian;
yang pertama ngeyel atau bahasa kerennya denial, kita mengingkari diri sendiri bahwa kita punya masalah,
Yang kedua; marah, kita salahkan semua, kita lampiaskan emosi pada siapapun termasuk marah pada diri sendiri,
Yang ketiga; nawar, kita lakukan tawar-menawar terhadap masalah kita,
Yang keempat; depresi, di titik ini seolah kita tak menemukan jalan keluar dari masalah kita hingga akhirnya tertekan,
Baru yang terakhir: ikhlas. Saat ini kita sudah acceptance dengan kondisi yang kita hadapi.”

Benar-benar menarik bukan, dari sebuah film begitu banyak nasihatnya tak hanya untuk remaja, tapi juga saya pribadi sebagai orangtua. Dan saya semakin terkejut lagi saat mengetahui ternyata film ini diangkat dari sebuah novel yang ditulis oleh Erisca Febriani, seorang penulis dari Lampung.

Masya Alloh! Bertambah lagi satu alasan yang memicu saya untuk mengikuti jejak mereka yang sudah sukses sebagai penulis, apalagi novelnya sudah difilmkan. Luar biasa!

Simak trailer filmnya di sini (sumber video: YouTube Rapi Film)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

51 Comments

  1. Menjadi orang tua sekarang memang harus ekstra luar biasa. Beda dengan ketika kita masih anak anak .
    Pendampingan orang tua begitu penting.
    Ulasan mbak Emmi keren.

  2. Aku juga sempet berasumsi kalau ini sama aja dengan film remaja lainnya. Nyesel kemarin nggak jadi nonton. Jadi penasaran nih berkat ulasan mbak Emy

  3. Seneng deh baca ulasan yg mengandung hikmah begini. Apalagi yg diulas adalah film terkini yg saya belum nonton, hehe. Saya sedang mengalami fase punya anak menjelang remaja, nih. Memang banyak kejutan dan kita harus siap dg ilmu maupun kebijaksanaan, melihat dr berbagai sisi. Makasih sharingnya πŸ™‚

  4. Belum nonton.. jadi cukup baca review dan ulasan nya saja dulu btw mantab mbak emmy ulasanya, emang segaai ortu hendaknya bisa memilah mana tontonan yang tepat untuk anak, karena menjadi orang tua memang tak semudah yang dibayangkan

  5. Ini cita2 saya banget mbak, bikin buku best seller lalu dibuat film. Huhuhu doakan cita2 saya terwujud yaaa πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

  6. Aku belum nonton Mbak..pengin juga..karena kemarin di bioskop ada film Indonesia lainnya jadi nonton yang lain itu…
    Berarti enggak sekedar cinta-cintaan ala remaja ya, tapi ada banyak nilai moralnya πŸ™‚

  7. Bagus ya reviewnya…alhamdulillah, saya audah melewati masa2 anak2 mulai beranjak remaja, besar & dewasa. Klo saya dulu kenali teman2nya, bisa masuk didunia mereka & rangkul seperti dg teman. Tarik ulur seperti layangan tp jangan menggurui.
    Saya ga pernah minta no tlp teman2nya, yp anak2 dg kessadaran sendiri memberikan no tlp tsb dg pesan:”klo aku ga bisa dihubungi, mama bisa tlp si A, B, C, D. Ini no tlpnya. Aku main sll bersama mereka”..
    Yg utama percayai mereka & saya membiasa bercerita kejadian di kantor/ kegiatan saya. Akhirnya anak2 dg sendirinya sll bercerita kegiatannya sehari saat makan malam.
    Sukses ya Mba dlm membimbing anak2

    • Itu bukan untuk anak muda aja Mbak nasihatnya, untuk seluruh manusia. Kadang orang dewasa pun bisa khilaf dan ngeyel pas ada masalah kan

  8. Melalui ulasan film ini semakin mengingatkan kita sebagai orangtua dan mantan remaja. Bahwa menghadapi remaja juga harus dengan cara2 yang tepat. Good mbakπŸ‘

  9. Senang baca ulasannya. Saya pikir saya juga ketuaan nonton teenlit, tapi sesekali kayaknya perlu juga ya, secara saya juga punya anak remaja 😊