in Uncategorized

5 Pesan untuk Pelaku MLM

Hadiah gratisan yang kudapatkan saat aktif di MLM

Dulu banget ya, saya sempat aktif pada sebuah MLM kosmetik. Lumayan sih sudah sampai level Manajer. Sudah pernah merasakan bonus hampir 1 juta, di luar keuntungan langsung.

Lalu kemudian saya dimutasi di tempat kerja yang lebih sibuk dari sebelumnya. Saya sempat stres waktu itu. Saya sempat merasa pekerjaan saya akan menghalangi impian saya. Karena saya di sisi lain selain menikmati berjualan skincare, make up, dsb, saya juga belajar menulis, sudah mulai nyemplung di literasi waktu itu.

Mau gak mau saya harus menentukan sikap. Harus memilah mana yang harus saya korbankan. Saya sempat izin pada upline saya, bahwa waktu saya tidak sesenggang dulu. Saya titipkan downline2 saya. Gak tahunya gak kepegang juga dan sukses jaringan saya rontok. Hehe.

Berkat ikut MLM, saya jadi paham tutorial make-up berikut ini

Sebenarnya saya gak serta merta meninggalkan MLM ini. Saya tetap melayani pembeli. Hanya saja karna waktu terbatas saya gak bisa aktif jemput bola, aktif follow up, apalagi membina jaringan, mengajari dari 0 seperti dulu. Saya lebih ke melayani pembeli yang mau beli saja. Tidak terlalu aktif menawarkan.

Lumayan, masih dapat orderan walaupun tidak kejar point

Alhamdulillah, saya masih dapat keuntungan langsung itu, meskipun tetep, dari dulu sampai sekarang jualan di tempat saya bekerja pasti orang-orang maunya bayar tempo dan cicil. Ini bukan hal yang baru sih. Cicilannya bergantung pada insentif kami yang tidak tiap bulan keluar lho. Sebenarnya jadwalnya mestinya tiap bulan, tapi lebih sering ngaretnya daripada on time-nya. Hehe. Ya beginilah.

Lama-lama saya jadi lelah sendiri. Yang namanya MLM, menguntungkan upline yang sudah mencapai level tertentu. Memang sih ada aturan, leader pun harus tutup point. Bedanya, kalau belum punya level, tutup point-nya gak dapat apa2, paling banter keuntungan langsung nya itu saja, sama kalau beruntung ada hadiah langsung (tergantung promo). Kalau leader yg sudah mencapai level tertentu, dia berhak keluarnya bonus sesuai levelnya. Jadi kan caer banget ya jadi leader di MLM. Mempertahankannya pun gak gampang. Gak bisa pasif seperti saya. Hehe.

Bahkan, bulan ini pun saya masih aktif mendaftarkan downline baru

Makanya tuh, banyak pelaku MLM yang memilih konsisten dan berhenti bekerja. Fokus pada impiannya. Gak cuma MLM yang saya ikuti, tapi juga yang lainnya. Karena duluuu banget saya sempat gigih ikut MLM sana sini. Anggaplah sebagai pencaharian jati diri. Hehe.

Nah, alhamdulillah. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Dari mulai masa2 terpuruknya saya ketika awal mutasi kerja, pelan2 saya bangkit. Saya menulis lagi, saya jualan lagi. Saya jalani saja semampu saya. Di sisi lain jangan lupa, tanggung jawab utama sy sebagai seorang istri dan ibu.

Saya pernah saking semangatnya menjawab downline sampai gak lepas HP, ada protes dari anak dan suami. Makanya perlu banget kita buat time management yang restricted buat diri sendiri.

Anyway, singkat kata, kini saya kembali menjadi seorang Manajer. Bukan di MLM, tapi di bidang literasi. Berawal dari menjadi PJ pembuatan antologi, lalu saya diangkat ke jenjang lebih tinggi lagi, Manajer Area yang membawahi beberapa PJ.

Alhamdulillah dapat amanah sebagai Manajer Area, karena ditunjuk Direkturnya langsung

Qodarullah, ternyata saya yang berlatarbelakang anak bungsu ini berbakat jadi leader. Eaa. Pengalaman saya di MLM juga yang memberanikan saya untuk bisa menjadi pemimpin di dunia online. Mengatur banyak orang, dll. Kadang2 saya harus tegas. Kadang2 saya bercanda biar gak tegang terus. Kuncinya semua itu harus dinikmati.

Baca Tips Manajemen Waktu untuk Emak-emak ini yuk.

Saya tidak menyesal telah menjalani semua yang saya alami. Saya tidak menyesal dengan alur hidup saya yang akhirnya membawa saya ke sini, passion saya sebenarnya. Saya mengakui sisi baik dari MLM, karena darinya saya bisa belajar membangun mental positif, salah satunya (walaupun karena saking parahnya saya dulu, seminar online saja gak cukup, saya pergi ke terapis baru bisa “sembuh” hehe)

Dari pengalaman saya, saya punya beberapa pesan untuk pelaku MLM, apapun itu bentuknya:

Karakter manusia berbeda-beda

1. Karakter tiap orang berbeda.

Sepertinya ilmu ini udah umum diketahui ya. Gak di dunia kerja, dunia MLM, sampai masuk ke dunia literasi, namanya kita pasti berhubungan dengan orang banyak. Karakter orang berbeda-beda. Kemampuan orang berbeda-beda. Impian orang pun berbeda-beda.

Ada yang mudah mencerna hanya dengan baca tulisan. Ada yang harus dijelaskan lewat lisan. Ada yang harus dikasih contoh. Ada yang bakat jadi leader, gak disuruh juga mau belajar sendiri, ada yang bergantung penuh pada upline-nya.

Maka, kehati-hatian dalam berkomunikasi memang dibutuhkan. Saya sudah bilang kalau dulu saya bisa dibilang parah. Mindset-nya melulu negatif. Memang setelah ikut seminar di MLM sedikit membantu mengubah mindset, tapi…ternyata kebutuhan saya tak cukup di situ. Iyalah, saya kan survivor suicide, manusia yang dulu saking depresinya hingga nyaris bunuh diri. Tentu menghadapi orang depresi dengan yang tidak, berbeda. Kamu gak bisa ba bi bu, langsung nawari barang.

Di mana-mana konsumen hanya akan mendekat bila kamu punya sesuatu yang dibutuhkannya. 😊

2. Hargailah pilihan orang lain.

Pelaku MLM harus biasa dengan penolakan. Ada yang resign demi fokus MLM, ada juga yang memutuskan tetap nyambi kerja, yang manapun boleh. Itu semua tergantung individu masing-masing.

Ada yang nyaman di MLM karena enak, nyaman dengan bonus dan hadiah lain, misal jalan-jalan ke luar negeri gratis, dll. Ada yang lebih memilih buka usaha sendiri dari 0, bakulan makanan, pakaian (jahit), atau seperti yang saya pilih: nulis. Monggo. Gak ada, siapa benar, siapa salah. Asal konsisten dengan pilihan masing-masing, semua bisa sukses.

MLM, reseller, dll, mau bagaimanapun juga, intinya nge-lakuin barang orang lain.

Gak semua suka dengan pilihan ini, no problemo. Ada yang lebih puas hatinya ketika bisa menjual hasil produksinya sendiri. Dan kita mesti berterimakasih pada para wirausahawan ini. Justru kita dukung. Karena apa yang mereka lakukan berpotensi membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Berikut ini salah satu usaha yang bisa kamu pilih, no MLM.

Lagipula, bayangkan ketika semua mengikuti langkah untuk aktif di MLM saja tanpa bekerja?

Kamu mau makan, warung tutup, karena pemiliknya lebih milih MLM. Kamu sakit, klinik tutup, dokternya resign karena lebih milih MLM.

Apakah lebih suka seperti ini? 😁😁

Intinya kita tetep kan butuh orang-orang yang memilih pekerjaannya dan juga usahanya.

Gak ada yang tahu, barangkali suatu saat kamu butuh ke rumah sakit?

3. Gak ada orang yang suka di-judge

Entah kenapa ya, saya sering menyaksikan pelaku MLM men-judge orang lain. Gak semuanya memang. Misal saya waktu ternyata lebih memilih passion saya di literasi, ada beberapa komentar yg sy terima.

Ada juga yang sakit hatinya dulu, dari seorang teman. Alhamdulillah dia beda jaringan dengan saya. Karena dia seorang ibu rumah tangga yang sudah sukses dengan level direkturnya yang bonusnya di atas saya, PNS golongan dua ketika itu, dia mengatakan ini, “ya wajarlah lebih milih PNS, daripada resign, masuknya kan bayar.”

Hingga detik ini saya gak bisa melupakan kata2 nya waktu itu. Padahal dulu kami sempat dekat karena berasal dari satu SMA yang sama. Hanya karena MLM, hubungan bertahun-tahun pun bisa merenggang.

Sy bertekad untuk sukses meskipun bukan berada di jaringan dia. Dan karena sekarang sy sudah menentukan passion saya maka sayapun harus sukses dengan passion saya. Terakhir saya tahu levelnya sudah tambah tinggi.

Tapi apakah seumur hidupnya dia tak butuh bantuan seorang PNS seperti saya ini? Apakah seumur hidup gak perlu bantuan ke RS, mungkin bukan dia, bisa jadi anak-anaknya yang butuh ke RS? (Karena saya seorang PNS yang kerja di RS) Apakah bila anak-anak sakit cukup datang ke upline saja?

Tolong banget, jaga bener mulut kita dari komentar yang menyakitkan. Berkatalah yang baik atau diam.

Setiap orang bisa sukses!

4. Jalan kesuksesan ada banyak cara.

Sukses gak cuma di MLM saja. Kalian boleh memilih jalan di sana. Tapi hargailah orang yang memilih jalan lain menuju sukses. Ada yang sudah bangga dengan pekerjaannya dan bisa mencapai jabatan tinggi di pekerjaan biarkan saja.

Ada yang lebih memilih buka usaha dari 0 tau-tau pas kamu ketemu dia sudah punya ratusan cabang dengan penghasilan yang mungkin sama dengan penghasilan di level kamu, biarkan saja.

Ada yang suksesnya justru setelah ikut MLM lain? Mungkin yang produknya sesuai hobinya, biarkan saja.

Ada yang lebih memilih nulis sebagai passion, barangkali suatu saat kamu nonton di bioskop dan ketika melihat capturenya, ternyata filmnya diangkat dari tulisan dia, biarkan saja. Atau mungkin kamu nanti perlu bantuan dia untuk membuatkan buku biografi kesuksesanmu?

Beri support pada sesama. Kamu fokus di bidangmu dan biarkan dia fokus di bidangnya. Saling mendoakan untuk sama-sama sukses di bidang masing2 saja. Amiinnnn.

Kamu tak pernah tahu kapan akan membutuhkan orang lain

5. Bertemanlah tanpa memandang untung rugi. Nah ini yang paling sulit saya rasa. Saya tahu, betapa terbatasnya waktu kita yang hanya 24 jam sehari. Apalagi kita juga punya anak, punya kesibukan kuliah atau kerja misalnya. Masih harus membimbing downline, follow up customer, buat pelatihan. Rasanya gak cukup waktu untuk menghubungi mereka yang bukan jaringan kamu.

Tapi satu hal, jangan sampai membuat siapapun merasa kamu mendatanginya hanya karena ingin point atau keuntungan dari dia. Setelah saya tak terlalu aktif lagi di MLM sepertinya hilang alasan mereka untuk keep contact dengan saya. Kalaupun komunikasi lagi hanya untuk menanyakan, “kapan mau aktif lagi?” Haha.

Belum lama ini juga saya baca status sosial media tentang seseorang yang muak karena dihubungi teman lama yang menghubungi hanya untuk menawari barang. Karena setelah pembicaraan itu selesai, tidak ada hal lain lagi dibicarakan. Big no no.

Apalagi itu teman lamamu, bisa kan membicarakan hal lain, seperti aktivitas dia, anaknya, atau mantan waktu sekolah dulu, hiyaa, apa aja deh. Pokoknya kamu harus tunjukkan pertemanan yang tulus, sekalipun ternyata gak ada sepersenpun uang yang bisa kamu tarik darinya, bisa?

Akhir kata, jangan menunggu kehancuran bisnismu dahulu baru mempraktikkan ini. Tapi belajarlah dari pengalaman orang lain, tanpa perlu kamu mengalami sendiri.

Siapapun dirimu, seorang pegawai kantorankah, seorang MLM-ers kah, seorang penuliskah, seorang pedagang kuekah, inti dari kita sama sebenarnya: berjualan. Sasaran kita pun sama: manusia. Maka, layanilah sesama manusia, dari hati. Setuju?

Tetap kompak, meski berbeda-beda pilihan

Sumber gambar: Pixabay dan Koleksi Pribadi.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

60 Comments

  1. aku dulu MLM wkwk, tapi emang bener sih pesan yang bunda emmy sampaikan. Kadang pelaku MLM suka maksa, tapi saya mah enggak wkwk. Makasih ya bun sharingnya.

  2. Keren banget ulasannya Mbak Emmy. Suka dengan penutupnya: layani manusia dengan hati siapapun kita.
    hebat Mbak Emmy selalu jadi leader karena enggak semua orang bisa lho
    Enggak usah diambil hati omongan orang Mbak. Memang harus ada yang begitu biar terlecut semangat kita 🙂
    Btw, saya dulu juga pengin jadi paramedis lho kecilnya..ternyata enggak lolos UMPTN , jadi belok deh

  3. Saya dulu parno ama MLM. Kayaknya cara persuasinya yg kurang tepat. Mana ngajal kumpulnya engga terus terang. Nerangin bagan apalah gitu. Hehe…saya engga mudeng. Ujungnya disuruh beli…
    Entah mungkin skrng pdktnya beda yah…

  4. Setuju mba Emmy, pasti ada pengalaman berharga saat kita serius menjalani pekerjaan apa pun bentuknya. MLM Salah satunya, dengan sering bertemu banyak orang, pasti banyak pelajaran di dalamnya.

  5. Aahh bener banget, karakter tiap orang beda-beda dan karena lebih sulit mnegendalikan orang lain, maka mulai dari diri sendiri kendali diri itu.

  6. Hihi..bener banget mbak, saya pernah ngalami dihubungi tiba-tiba oleh teman lama hanya untuk diajak masuk jaringannya. Setelah saya menolak, ee nggak pernah nongol lagi. Sedih rasanya

  7. Setuju Mb Emmy …
    Hebat ehh Mb Emmy, padahal introvert bisa sukses di MLM.
    Saya aja nggak betah sama penolakan dan kata-kata kurang nyaman di telinga, hehe.

    • Hehe, iya mbak. Tapi itu sudah kisah lama, skrg gak terlalu jalanin MLM hanya jualan saja. Lebih fokus ke nulis

  8. Saya juga sudah level manager tapi tahun ini saya memutuskan berhenti. Lebih ke prinsip sih alasannya. Tadinya sempat mikir2 juga krn gajinya udah lumayan, apalagi saya juga buat review produknya di YouTube. Jadi dapat tambahan bonus adsenAd. Tapi mudah-mudahan dapet ganti yg lebih baik nantinya.

    • Mantap udah sampe ke YouTube. Kalau saya awal punya blog justru niatnya buat review produk2 nya sih 😁😁 Tapi susah banget menej waktu gini deh

  9. Saya orang MLM mb sejak tahun 2003, dah lumayan lama ya. Bahkan mencapai puncak kejayaan antara thn 2009 hingga 2013. Reward jln2 ke LN atau dlm kota udh prnah saya dpt. Yang penting mnurutku pelayanan dan merawat jaringan sih klu nymplung di dunia ini. Dulu produkku fashion mb.
    Sejak kompetitor bnyk n hrga hncur2an saya resign dari dunia MLM. Mulai Feb thn 2018 beralih menulis, dunia lamaku. Tp sekarang tergelitik lgi dengan produk skincare Oorloop karena tak ada kewajiban tutup point. Produknya saya cb juga cucok dan marketing plann nya bagus dan menguntungkan plus bonus harian, why not membuka hati lgi dgn produk skincare… ?
    Bahkan dulu jaman Avon di tahun 2003 sdh bljr juga ttg marketing. Skrg tggal ngasah lgi….😊

  10. Saya nggak sreg terlibat dalam jaringan mlm, tapi beberapa produknya saya pakai. Dulu pernah coba beberapa mlm berasa tidak merdeka. Hahah mungkin karena bukan leader ya? Lalu saya merasakan kemerdekaan dengan berjualan sendiri dan merekrut mitra sebagai reseller. Lebih merdeka lagi ketika saya ngantor di “literasi” bawaannya hepi. Padahal dikejar2 deadline juga. Ah, begitulah kalau passion bermain

  11. Peluk mba Emmy..ini namanya curhat yang bermanfaat. I guess bukan buat orang2 di MLM aja. Salah satu pesan yg sampe di otakku Mind your business, hahaha…g usah ganggu urusan orang. Gak perlu juga nyinyir sama orang lain 😬. Semua orang punya pilihan 😉.

    • Iya bener banget Mbak. Biarkan tiap orang dengan pilihan masing-masing. Selama itu memang pilihannya dan tidak merugikan orang 😁

  12. Dulu saya sempat mau ikutan jadi MLM. Salah satu teman saya ngajak MLM si obat kesehatan itu loh mbak. Setelah ikut seminarnya dipikir2 kok aneh yah dapat uang dan point krna bawa 1 orang baru. Trs anehnya lagi kok jadi point buat yg udah level atas. Hmm selidik selidik disinkronkan dengan agama ternyata bener ga pas buat saya.
    Nah saya lebih suka cerita mbak skrg jadi leader pengatur PJ.. sukses yah mbak

    • Amiiinnnnn. Saya juga pernah mbak ikutin yg obat-obatan. Tentu jualannya lebih sulit dibandingkan skincare dan kosmetik 😁😁

  13. mantap loh. ternyata mbak yang pendiam aja bisa menjalankan MLM dengan keuntungan hampir 1 jutaan. itu udah keren. secara MLM itu tidak semuanya mau . dan kebanyakan orang risih dengan istilah MLM. padahal itu pilihan kan..

  14. Waah ternyata kita sama sama alumni mba hahahaha. Aku dulu juga udah manajer. Dikit lagi jadi seniyor. Tapi ya gitu…garis hidup menuliskanku bukan di MLM. Jadinya nyemplung di literasi seperti dirimu. Emang terkadang kits lihat orang main MLM kok sukses ya.. trus mereka yang sukses ngimnping imingi kits untuk resign. Banyak loh yang kayak gini, padahal nasib orang kan beda beda. Siapa sih yang gak ingin financially free? Cuma kadang jalannya yang beda arah. Wkwkwk semangat ahhh

  15. Saya kok tidak pinter ya mbak ikutan MLM seperti itu. hehe perasaan kurang pd dan tidak pandai menawarkan dagangannya.
    Ternyata bisa diambil juga ya mnfaat ilmunya bisa ikutan MLM seperti itu. Semoga sukses dengan dunia PJ menulisnya ya, mba

  16. Wah, mantan manajer MLM ternyata. Dunia yg sering saya tolak dulu, hehe. Soalnya teman2 saya yg nyemplung disitu hard selling banget, cenderung maksa. Ketemuan atau japri kalau ada maunya aja. Kalo saya tolak, yaudah ga calling-an lagi, hehe. Walopun sebenernya saya salut juga sih pada mereka yg bisa sukses di MLM. Iyes, Kalo sudah sukses ya ga perlu kali nyombongin diri: kerjaanku lebih baik dari kerjaan kamu. Lha wong jalan rezeki halal bisa darimana saja dan passion orang emang beda2.

    Selamat ya, Mbak. Udah jadi manajer area lagi di bidang literasi. Sukses berkah selalu 🙂

    • Alhamdulillah 😊 hihihi, untungnya selama aktif MLM saya gak pernah hard selling mbak 😊😊

  17. pesanku buat para pelaku mlm, bertemanlah yang tulus tanpa memandang orang tersebut ‘prospek’ atau nggak, hehehe. aku belum pernah ikut mlm mb.. tapi kadang suka risih tetiba temen lama menghubungi ga pake basa basi lama, tau-tau nawarin produk..