in Uncategorized

Berusaha Jujur pada Diri Sendiri

Sumber: blog stupidcancer

Be Honest (to yourself)

“Kapan terakhir kali kamu jujur pada diri sendiri?”

Sejak 2016 lalu, saya menjalani beberapa terapi online. Dari situ saya mulai menemukan jawaban, “kenapa sih saya slalu berkubang di masalah yg sama?”.

Saya mengenal istilah “mental korban”, “inner child”, “PTSD”, “love addicted”, juga “mindfulness” juga dari terapi tersebut. Terapi yang digagas oleh Bapak Supri Yatno, seorang praktisi kesehatan mental dan founder Peduli Trauma, telah banyak menolong saya, terutama dalam hal pengasuhan anak dan mendengarkan kata hati.

Pengetahuan tentang tantrum yang saya tuangkan di sini adalah salah satu yang kupelajari dari pelatihan Bapak Supri Yatno.

Saya merasa bekal saya cukup. Di saat beberapa teman seperjuangan saya tahu ada yg mendatangi psikolog, bahkan psikiater, saya yg merasa diri sudah baik-baik saja merasa tak perlu melakukan itu semua.

Grup khusus alumni Mindfulness Parenting, salah satu pelatihan Bpk Supri Yatno, kebetulan saya salah satu adminnya

Berlembar Episode Pasca Terapi

Hari-hari saya lalui kemudian dan berbagai masalah muncul. Masalah parenting, masalah dengan pasangan, masalah di tempat kerja, dll. Saya memang sudah bisa pulih lebih cepat.

Dari yang dulu bisa berhari-hari berkubang dalam tangisan, sekarang sudah bisa berduka beberapa menit saja. Dari yang dulu cepat sekali melukai diri sendiri, sekarang sy bisa mengalihkan pikiran ke hal-hal lain yg membahagiakan. Saya merasa lebih kuat.

Memasuki Dunia Literasi

Kemudian, saya menemukan passion saya. Saya menenggelamkan diri dalam tulisan-tulisan saya, mengikuti berbagai training, komunitas, beberapa event, mencoba menjadi blogger, vlogger, PJ antologi, menulis resensi buku, macam-macam-lah pokoknya.

Menjadi penulis seakan menjadi suatu kebanggaan, apalagi saat membaca satu quotes:

“Berhati-hatilah menyakiti seorang penulis jika kamu tak ingin namamu abadi dalam karyanya.”

Terkadang permasalahan masih terasa bagaikan tamparan. Di tengah kenyamanan hidup, dia datang tak peduli situasi. Saya yang sudah merasa lebih kuat mengira sanggup mengatasi semua. Ternyata ….

Bahkan masalah di dunia literasi pun tak urung membuatku berpikir, “mengapa saya tak mampu sebaik yang lain?”

Saya lupa dengan beberapa ilmu yang saya dapatkan dari terapi. Saya lupa untuk acceptance. Saya lupa niatan awal melakukan passion karena saya suka dan bukan untuk bersaing dengan siapapun.

Saat Nada Sumbang Terdengar di Telinga

Apalagi ditambah pada awal Januari sebuah rahasia terkuak, bahwa ada beberapa teman yang hanya mengenalku dari sosial media, menarik kesimpulan sendiri, lalu membenciku. Parahnya lagi mengadu domba dengan menceritakan keburukanku pada seorang sahabat.

Untung saja, sahabatku itu masih bertahan berteman denganku. Memang betul kan, istilah:

“Tidak perlu menjelaskan dirimu pada dunia, yang menyukaimu tak butuh itu dan yang tidak menyukaimu takkan percaya itu.”

Saya mencoba untuk menepis perasaan tidak nyaman yang saya rasakan pada beberapa hari pertama di awal 2019. Namun tak bisa dibohongi, bahkan terbukti ketika diadakan Challenge 30 Hari Bercerita saya langsung memilih tema: Mencintai Diri Sendiri.

Hasil dari Challenge 30 Hari Bercerita selama Januari 2019

Ternyata, saya belum pulih total. Ternyata masih banyak hal yang perlu saya perbaiki. Ternyata ilmu yang saya dapatkan dari terapi online belum semua bisa saya serap sempurna. Bahkan masih ada beberapa kesalahan yang kerap saya lakukan berulang-ulang.

Saya mulai membuka diri pada metode baru. Saya mulai mengosongkan gelas supaya bisa terisi ilmu baru. Saya mulai mencari tahu alasan kenapa saya belum bisa berbahagia dengan sempurna, alasan apa adanya tanpa ditutup-tutupi.

Perkenalan dengan Program “de Most”

Awalnya, di sekolah anak saya dulu ada program penilaian bakat anak dari sidik jari. Program ini dinamakan de Most (Mitra Observation Sinergi Talenta). Saya penasaran ingin mencobanya untuk mengetahui bakat anak-anak saya.

Saya puas mengetahui hasil yang saya terima pada anak saya yang pertama, saya cobakan lagi mengikutkan anak saya yang kedua dalam program de Most. Apalagi kebetulan anak saya yang kedua ini speech delay. Saya ingin mempunyai ilmu lebih untuk memahaminya.

Saya mengantongi hasil yang sangat berbeda untuk kedua anak saya. Kami yang pernah ikut serta program de Most, dimasukkan dalam sebuah grup wa, oleh Bapak Eko Chrismiyanto, seorang konsultan keluarga dan pakar analisis sidik jari. Di grup ini Pak Eko seringkali berbagi ilmu2 parenting sebagai pengingat bagi kami semua.

Di acara ini pertama kalinya saya mengenal Pak Eko dan program de Most

Ternyata tak hanya untuk orangtua, ada juga program untuk pasangan dan untuk diri sendiri. Wait. Bukankah sudah terlalu tua mengetahui kepribadian sendiri?

Tapi saya mencoba untuk jujur. Saya ingin menjadi pribadi lebih baik setiap harinya. Apapun jenisnya, baik terapi online maupun offline bila bertujuan untuk peningkatan kualitas diri, saya akan mengikutinya.

Rata-rata anggota grup wa de Most mengikuti program de Most intimate, saya rasa mungkin hanya saya yang akhirnya memilih de Most personal. Dan begitu saya mengetahui hasilnya saya sangat terkejut.

Scan Sidik Jari bersama de Most

Hasil Scan Sidik Jari yang Jauh dari Prediksi

Saya merasa sudah mengenali diri dengan baik nyatanya banyak hal tak terduga dari hasil scan sidik jari saya. Saya mengira saya dominan otak kanan karena terlalu mengutamakan perasaan dibandingkan logika tapi ternyata sebaliknya. Terbukti imajinasi saya terbatas sehingga lebih mudah bagi saya menuliskan non fiksi dibandingkan fiksi.

Contoh lainnya, saya mengira saya dominan auditorial ternyata saya seorang visual dengan hasil auditorial yg juga cukup tinggi. Bahkan hasil kinestetik saya juga cukup tinggi meski menempati urutan ketiga.

Di saat saya mengira saya tak cukup baik mengatur waktu ternyata justru yang paling tinggi adalah bagian manajerial. Hal ini yang menyebabkan beberapa orang menilai saya berbakat menjadi leader. Saya bisa memilah mana yg prioritas untuk terlebih dulu dilakukan.

Di sini saya mengungkapkan perjalanan saya juga dari seorang manajer di MLM hingga menjadi Manajer di dunia literasi nulis bareng (NuBar)

Sejak mengikutsertakan anak saya pada analisis sidik jari, saya mengetahui bahwa ada 9 jenis kecerdasan manusia, yaitu kecerdasan intrapersonal, interpersonal, naturalis, musik, body kinestetik, verbal, visual spasial, dan logika matematika.

Dan dari 9 jenis kecerdasan, yang tertinggi bagi saya adalah kecerdasan intrapersonal diikuti kecerdasan interpersonal. Gak bisa dipungkiri, meski saya berempati tinggi, saya tetap mengutamakan diri sendiri. Saya hanya bisa mendengarkan orang lain di saat mood saya baik. Saya hanya bisa menolong orang lain jika saya sendiri sudah beres terlebih dulu.

Buku ini juga membahas macam-macam kecerdasan manusia, selain pengetahuan tentang dunia literasi.

Meski saya sempat berminat untuk menjadi psikolog, bahkan minimal menjadi terapis spti Bapak Supri, masih ada hal yang mengganjal di hati saya dan ini jawabannya.

Begitupula terhadap pasangan. Meski setelah mengikuti terapi online saya bisa lebih memahami pasangan namun di sudut hati saya tetap berharap ada saatnya saya ingin dipahami.

Saya butuh eksistensi. Saya butuh untuk dilihat. Saya butuh pengakuan orang terhadap bakat saya. Ini berhubungan erat dengan masa lalu saya yang seringkali tak dianggap, baik di keluarga, di lingkungan sampai dunia kerja.

Untuk pertama kalinya terungkap satu sisi yang tersembunyi dalam diri. Saya hampir menangis saat diam-diam mengakuinya. Saya, seorang melankolis tertutup yang tidak nyaman dilihat orang ternyata haus perhatian.

Bukan. Ini bukan hal menyedihkan. Interpersonal adalah salah satu jenis kecerdasan. Sejajar pentingnya dengan kecerdasan logika Matematika maupun kecerdasan musikal.

Saya merasa lega sekali mengetahui hal ini. Saya merasa lega sekali memberanikan diri ikutan program sidik jari dan mengabaikan kata orang, “dah ketuaan lu umur segini baru tahu minat”.

Belum terlambat. Selagi Alloh masih memberimu napas masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan hidup lebih berbahagia dari sebelumnya. Hal kemudian saya lakukan adalah mengungkap satu trauma saya yang masih mengganggu pada Pak Eko, dan berharap untuk menuntaskannya kemudian hari.

Saya percaya saya pasti bisa. Selagi saya jujur pada diri sendiri. Dan semua bisa terjadi dengan izin-Nya.

P.S. untuk berkonsultasi dengan pakar terapis yang saya sebutkan bisa melalui saya wa 085273642724

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.