in Uncategorized

Like Water for Chocolate, Dongeng Cinta Ala Meksiko yang Tragis Namun Mempesona

Judul: Like Water for Chocolate

Diterjemahkan dari: Como Agua para Chocolate

Karya: Laura Esquivel

Penerbit: Bentang (PT. Bentang Pustaka)

Cetakan pertama: Agustus 2018

Copyright Laura Esquivel 1989

Penerjemah: Yunita Candra

ISBN: 978-602-291-496-9

Sinopsis:

Terlahir sebagai putri bungsu keluarga La Garza, Tita harus mematuhi tradisi untuk tidak pernah menikah demi merawat orangtua. Namun, Tita justru jatuh cinta kepada Pedro. Mama Elena, ibunya, berang dan justru menikahkan Pedro dengan kakak Tita. Wanita itu bahkan memaksa Tita menyiapkan jamuan pesta pernikahan mereka.

Pertama saya membuka novel ini, saya langsung mengira ini buku resep. Soalnya setiap babnya dibuka dengan resep makanan khas Meksiko, dari mulai bahan-bahan hingga cara membuatnya.

Karena semua adalah bagian hidup Tita, sebagai putri bungsu keluarga La Garza, sekaligus koki di dapur mereka. Iyalah, sebab dari kecil dia memang lebih dekat dengan dapur dan juru masaknya daripada ibu kandungnya sendiri yang pernah mencoba menyingkirkan Tita waktu masih bayi.

Saya tak habis pikir setelah mengetahui tradisi di sana. Alangkah tidak adilnya menjadi anak bungsu perempuan kalau tidak diperbolehkan menikah karena harus merawat ibunya. Apalagi Mama Elena di sini sangat memperlakukan Tita dengan tidak adil.

Namun dengan gaya bahasanya yg nyastra dan memikat, novel ini benar-benar layak dinikmati. Di pertengahan cerita pembaca dibuat memahami apa latar belakang Mama Elena mempunyai karakter demikian.

Semua karakter di buku ini begitu hidup, meski kadang beberapa adegan tampak kurang masuk akal bagi saya.

Anyway, setelah membaca profil penulis di akhir buku saya baru menyadari bahwa novel ini merupakan salah satu yang difilmkan di Meksiko, bahkan berhasil menyabet Ariel Award pada tahun 1992. Buku ini juga sudah terbit dalam 35 bahasa dan menjadi film asing paling laris di Amerika pada tahun 1993. Wah, ada yg belum lahir umur segitu?

Setelah saya begitu terhibur dengan jalan cerita yang tidak bisa diduga akhirnya. Novel ini mengajarkan bahwa, setiap luka nantinya akan tersembuhkan. Namun jangan lupa bahwa kitalah yang bertanggungjawab untuk menyalakan lilin semangat pada diri sendiri. Asal kita percaya, ada akhir yg indah dari setiap cerita.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.