in Uncategorized

Anti Sosial yang Sangat Berbeda dengan Asosial, Apalagi Introvert

Kembali saya akan membahas salah satu gangguan kejiwaan atau penyakit mental, yaitu anti sosial.

Anti sosial berbeda dengan fobia sosial. Anti sosial bukan pula dikarenakan kecanggungan dalam bersosialisasi.

Gangguan anti sosial yaitu gangguan dimana penderita takut pada sekelompok orang atau berinteraksi dengan orang lain. Gangguan kepribadian ini dikenal juga dengan sociopathy.

Penderita biasanya memiliki sifat tidak empati, suka menghina orang lain merasa orang lain dibawahnya, sinis, sifat acuh tak acuh, agresif, dan tidak bisa beradaptasi dalam masyarakat. Ada di antara temanmu seperti ini?

Seseorang bisa dikategorikan mengalami gangguan ini setelah berusia di atas 18 tahun. Namun, pemberian label gangguan kepribadian antisosial diberikan hanya jika gejala sudah muncul sebelum mereka berusia 15 tahun.

Memang sekarang, terjadi pergeseran makna tentang anti sosial. Anti sosial kerap disamakan juga dengan asosial, padahal keduanya tidak sama.

Jadi, jangan sembarang menyebut seseorang, “anti sosial” ya. Hanya pakar kejiwaan yang bisa mendiagnosa penyakit ini.

Perlu diingat, gangguan kepribadian antisosial ini bukan disebabkan oleh gangguan mental lain. Maka perlu diadakan beberapa tes untuk menentukan apakah seseorang bisa dikatakan anti sosial.

Di sisi lain, asosial adalah disfungsi kepribadian yang ditandai dengan menarik diri dan menghindar secara sukarela terhadap interaksi sosial apapun.

Asosial berbeda dari perilaku anti sosial, di mana antisosial menyiratkan perilaku membenci orang lain atau antagonisme terhadap orang lain maupun tatanan sosial umum. Sifat asosial sering terlihat pada beberapa orang introvert, namun asosialitas yang ekstrem biasanya timbul pada orang-orang yang mengalami berbagai kondisi klinis tertentu, seperti gangguan bipolar, autisme, skizofrenia, depresi, sindrom Asperger, dan social anxiety disorder.

Selain itu, orang introvert juga seringkali dituduh ansos atau anti sosial. Lebih baik, baca dulu
7 perbedaan antara anti sosial dan introvert, sebagai berikut:

1. Introvert lebih nyaman sendiri tapi sanggup memiliki hubungan baik dengan orang lain sedangkan ansos tidak mampu berhubungan dengan orang lain dalam cara yang sehat.

2. Introvert adalah kepribadian sedangkan ansos adalah masalah kesehatan mental.

3. Orang ansos bisa jadi sangat ekstrovert dan terbuka sedangkan introvert tidak bisa menjadi ekstrovert.
Tentu saja, anti sosial melakukan ini dengan tujuan.

4. Introvert menikmati hubungan dengan orang yang dekat dengannya, sedangkan ansos tidak punya rasa empati.

5. Introvert tidak perlu disembuhkan atau diubah sedangkan ansos butuh diobati.

6. Introvert bisa ramah dengan siapa saja sedangkan ansos menganggap semua orang adalah musuh.

7. Introvert menghabiskan waktu dengan melakukan apa yang dia suka sedangkan ansos menghabiskan waktunya untuk berpikir bagaimana caranya memanipulasi orang lain.

Penyebab seseorang menderita anti sosial ini seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor genetik dan interaksi dalam lingkungan, serta pola asuh yang salah.

Secara garis besar, faktor risiko yang mungkin bisa menyebabkan sikap anti sosial, yaitu:
1. Melewatkan masa kanak-kanak dengan ditelantarkan atau dieksploitasi.

2. Berasal dari keluarga yang mengalami gangguan kepribadian anti sosial. Tentu saja karena anak pertama kali belajar dari keluarganya sendiri.

3. Memiliki riwayat gangguan perilaku di masa kecilnya.

3. Masa kecil berada di lingkungan keluarga yang tidak harmonis. Hati-hati terhadap keluarga yang rawan terjadi broken-home. Masa depan sang anak bisa terancam.

Tingkat keparahan anti sosial dapat bervariasi. Pola perilaku yang terlihat sangat berbahaya, kejam dan mengerikan dapat mengacu pada gangguan psikopatik atau sosiopatik.

Bagaimana cara penanganan penyakit mental yang satu ini?
Tidak ada jalan lain selain dilakukan psikoterapi yang tepat. Ajaklah si penderita untuk berkonsultasi dengan psikolog atau spesialis kejiwaan. Melalui beberapa sesi konsultasi semoga bisa membantu penderita.

Tidak hanya sesi konsultasi, penderita juga selayaknya untuk diajak untuk belajar bersosialisasi. Dengan pengawasan dan bimbingan dari sang pakar, diharapkan penderita mampu membuka dirinya.

Langkah penanganan pada gangguan kepribadian antisosial bertujuan untuk mencegah perilaku atau perbuatan yang dapat membahayakan orang lain atau diri mereka sendiri, serta mendorong dan membimbing penderita anti sosial agar dapat hidup bermasyarakat dengan baik.

Ingat, kepedulianmu terhadap sesama akan menolong generasi bangsa ini. SALAM SEHAT JIWA!!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.