Inilah perjalananku 12 tahun bekerja di RS pusat rujukan episode masa orientasi:

Pertengahan tahun 2008

Bismillah. Kali ini kumantapkan niatan hati sembari melangkah di koridor rumah sakit ini. Sebuah rumah sakit yang tak pernah sepi dari pengunjung. Maklum saja, kalau sepi dari pengunjung bukan rumah sakit pusat rujukan namanya. Apalagi rumah sakit ini berada di pusat kota dan merupakan rumah sakit milik pemerintah. Beruntungnya aku terpilih untuk ditempatkan di sini.

Berawal sebagai SK CPNS yang keluar beberapa hari lalu. Masih teringat jelas pelantikan yang langsung diadakan oleh gubernur provinsi Lampung pada kami, calon pegawai negeri sipil yang berhasil lulus tes melalui jalur reguler. Ah, bayangan raut wajah ayahku yang bangga menambah haru. Aku benar-benar bahagia.

Walaupun ada beberapa keraguan yang sempat melanda. Sanggupkah aku bekerja di sini? Bisakah kubekerja dengan baik? Pantaskah aku menjadi satu-satunya dalam angkatan yang ditempatkan di RS ini sementara aku lulusan dengan IPK terendah di angkatanku? Leganya menjadi CPNS tak memperhatikan berapa IPK-mu saat kelulusan, tapi lebih kepada hasil tes tertulis yang diadakan. Terbukti saat bekerja, tidak ada yang menanyakan IPK-ku berapa. Yang ada hanya seputar pertanyaan, lulusan dari kampus mana, angkatan berapa, serta masih jomlo atau tidak. Hihi.

“Kalian dibagi dalam beberapa kelompok, lalu harus menjalankan orientasi sesuai dengan yang ditempatkan. Ada beberapa ruangan, meski tidak semua, kalian tempati. Tapi bekerjalah yang baik, anggap kalian bagian dari pegawai rumah sakit ini. Pasien mana tahu apakah kalian pegawai baru atau bukan. Maka, bekerjalah secara profesional.”

Kudengarkan secara seksama arahan dari Bu Yus, Kepala Bidang Keperawatan. Baiklah, Bu, aku akan berusaha dengan segenap hati. Kulantunkan meski hanya sebatas suara dalam pikiranku.

***

“Kalian hari ini masuk shift pagi semua, tapi mulai besok dibagi mengikuti shift kakak-kakaknya, ya.”

Aku mengangguk patuh perintah koordinator ruangan Instalasi Gawat Darurat. Fiuh, hari pertama bekerja langsung ditempatkan di gawat darurat. Lekas kumenyesuaikan ritme kerja di sini.

“PB, PB, ambil brankar.”

“Ambil termometer, periksa TTV.”

“Cari selang oksigen.”

“Geret EKG.”

“Pasien apnoe, siapkan ambubag.”

So, here I am. Enggak ada waktu untuk mengobrol dan berkenalan panjang lebar dengan kakak-kakak di UGD. Kulakukan semampu yang kubisa untuk membantu mereka. Bagaimanapun basic-ku bukan perawat. Kalau sekadar TTV atau pasang infus, aku bisa. Tapi penatalaksanaannya harus lebih banyak belajar.

***

Aku melepas lelah sejenak untuk meneguk air putih dan meluruskan kaki sejenak. Baru hari pertama, kakiku sudah lelah luar biasa. Menjadi petugas UGD, berarti harus siapkan tenaga ekstra, yang artinya, tahan untuk jarang duduk. Pasien datang silih berganti, harus segera ditangani. Belum sebagian besar pasien datang dalam kondisi kritis. Resiko rumah sakit pusat rujukan ya seperti ini. Kadang kondisi diperparah, karena pasien sudah lama berada di perjalanan, dari RS kabupaten yang bermil jauhnya dari sini.

Setelah kusempatkan menunaikan ibadah Zuhur di musala UGD, tanpa berlama-lama, aku kembali ke triase.

“Em, tolong bantu Kak Aan di sana, ada pasien plus.”

Ini juga merupakan hal yang harus kubiasakan, melakukan perawatan jenazah. Kukenakan handscun lalu mulai meraih kasa perban untuk kuikatkan pada kaki pasien. Pasien merupakan seorang bapak yang sudah berusia tujuh puluhan. Diagnosanya Stroke. Dia datang sudah dalam kondisi tidak sadar dan baru saja menghembuskan napas terakhirnya. Ada seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan sedang menangis, mungkin keluarganya.

“Keluarga Pak Abdul, mari ke bagian administrasi.” Kulihat perempuan itu mengikuti langkah Mas Irfan, bagian administrasi UGD. Duh, aku tak hanya harus hafal pasien di sini, tapi juga keluarganya, nih. Kuteruskan mengurus perawatan jenazah, sambil mengucapkan doa dalam hati. Takut? Tentu saja, tidak sempat terpikirkan olehku. Yang ada, dari satu pekerjaan langsung beralih ke pekerjaan lainnya. Dari satu pasien lanjut ke pasien lainnya.

Kadang juga kutemukan drama di ruangan ini. Misalnya saat yang menjadi pasien adalah seorang tawanan polisi, atau korban kecelakaan lalu lintas, korban pemukulan yang hendak melakukan visum, anak jalanan tanpa identitas, orang gila, yang terparah adalah pasien yang hendak melakukan suicide.

Masih jelas dalam ingatanku, saat memberi injeksi antibiotik pada pasien yang separuh sadar karena percobaan menggantung diri yang gagal. Alasannya: karena keinginannya untuk memiliki motor tidak dituruti oleh orang tuanya. Astagfirullah.

Tapi aku bukan pada posisi yang berhak men-judge. Aku sendiri juga terkadang merasa hidupku kacau. Ah, kadang aku dan beberapa pemikiranku yang berbahaya ini merasa tak pantas jadi tenaga kesehatan, apalagi tenaga inti seperti petugas UGD ini.

Pokoknya aku salut, deh, dengan ketangguhan seluruh petugas UGD. Kalian benar-benar berjasa mulia.

“Em, tolong bantu, pasien bumil.” Kudengar namaku dipanggil lalu kuikuti langkah kakinya menuju pasien yang baru datang.

Nah, kalau yang ini baru bidangku. Segera kubergegas sambil membawa tensimeter, doppler, untuk persiapan pemeriksaan ANC.

Masa orientasiku di UGD  tak lama, hanya setengah bulan. Setelah itu, kami dirolling ke ruangan lain. Satu kelompok terdiri dari empat orang. Kebetulan dalam kelompokku terdiri dari tiga orang bidan dan satu perawat. Tidak ada bedanya bidan maupun perawat, kalau sudah di lapangan pekerjaan. Masing-masing dari kami harus lekas menyesuaikan diri, menolong pasien sesuai SPO. Bahkan perawat laki-lakipun kena rolling di bagian Kebidanan contohnya.

Selain UGD, kami juga harus menjalani orientasi di ruang kebidanan, ruang bedah, ruang paru-paru dan ruang perinatologi (bayi). Tampak seru sekali, ya. Pasti akan beragam ilmu yang akan kudapatkan di sini. Tidak terbatas pada pengetahuan ibu dan bayi baru lahir saja.

Seperti di ruangan bedah, aku bertemu pasien anak lelaki yang harus menjalani sirkumsisi di ruang operasi. Iya, sirkumsisi atau biasa disebut khitan. Bukankah hal itu merupakan hal lazim yang dialami setiap anak lelaki, terutama muslim? Nah, tapi dikarenakan si pasien merupakan penderita hemofili, jadi dia harus diopname sekaligus menerima transfusi darah. Luar biasa.

Lalu, di ruangan paru-paru, aku harus memberanikan diri menghadapi penderita TBC. Kusampaikan pada setiap pasien baru di sana untuk pengambilan sampel dahak SPS. Oya, tentu tidak semuanya. Ruangan paru-paru terbagi menjadi dua sisi, bagian penyakit menular dan tidak menular. Kalau TBC termasuk penyakit menular, yang tidak menular di antaranya sakit asma atau bronkhitis seperti yang kupunya. Kalau di sini aku bisa melihat seorang pasien yang dilakukan , sebuah tindakan untuk mengeluarkan cairan dari paru-parunya.

Kalau di ruangan perinatologi, kami harus punya keterampilan merawat bayi, eit, bukan bayi sehat. Di sini kebanyakan bayi prematur, bayi sakit hingga bayi dengan kelainan bawaan. Jadi selain pemberian susu kami juga harus memperhatikan pemberian obat-obatan injeksi kepada bayi, sesuai dengan kebutuhannya. Obatan injeksi tentu beda dengan yang didapatkan orang dewasa. Kami harus bisa menghitung dosis yang tepat sesuai dengan berat badan si bayi. Wah, luar biasa. Begitulah, berbeda ruangan, berbeda ilmu yang kudapatkan. Yang akhirnya tiap jalan orientasi ini semakin memperkaya pengetahuanku. Hingga tiba saatnya aku sampai di ruang kebidanan. Kebetulan sekali kelompokku merupakan kelompook terakhir yang harus menjalankan orientasi di ruang kebidanan. Baiklah, aku siap melanjutkan perjuangan. Semangat, Em!   

Bandar Lampung, 1 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

8 Comments

  1. Selamat berkarya ya Mbak Emmy, eh udah dari 2008 ya, saya lulus CPNS nya juga udah lama, 2005. Insyaallah bekerja selalu dimaknai ibadah ya Mbak, jadi hati senantiasa berbahagia

  2. Seru mbak, ditunggu lanjutan ceritanya. Kerja sebagai paramedis memang harus berhati kuat.

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.