Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/01/12-tahun-perjalananku-part-1/

Welcome to Ruang Kebidanan

“Maaf, Bu, saya mau menyerahkan ini.”

Aku menyodorkan sebuah amplop berisikan lembaran surat penempatanku di sini yang ditandatangani direktur utama RS. Bu Yati, kepala ruang kebidanan menerimanya. Kami, semua bidan CPNS, ditempatkan di ruang kebidanan. Aku sih, sudah lama menduga hal ini. Kebetulan ruangan ini merupakan tempat terakhirku menjalani orientasi.

Ruang Kebidanan terdiri dari 3 bagian besar, VK/Verlos Kamer (bahasa Belanda) sebagai ruang melahirkan serta tindakan lainnya. Lalu ada ruang perawatan kelas 3, yang dibagi menjadi pasien Obstetri dan Ginekologi. Pasien Obstetri merupakan pasien habis melahirkan yang biasanya dirawat gabung bersama anaknya.

Ruangan berikutnya, masih berupa ruang perawatan, tapi spesial melayani pasien kelas 2, kelas 1, hingga VIP. Untuk pasien setelah melahirkan juga dirawat gabung bersama bayinya. Di tempat ini pun tersedia VK terpisah.

Tak hanya 3 ruangan itu, ada juga bagian neonatus (bertanggungjawab pendataan bayi dan segala keperluannya), ada recovery room, tempat khusus untuk pasien yang baru saja melaksanakan operasi. Di tempat ini akan dilakukan pemantauan TTV, sebelum akhirnya pasien dinyatakan aman untuk dipindahkan ke ruangan perawatan. Ada juga ruang pemeriksaan USG, yang digunakan jika ada pemeriksaan USG oleh dokter kandungan. Hanya dokter yang boleh melakukan pemeriksaan USG.

Biasanya saat melakukan orientasi aku ditempatkan di VK, karena di sinilah segala tindakan. Mulai dari menolong persalinan, tindakan kuretase, observasi pasien gawat (hamil dengan komplikasi), tindakan embriotomi, hingga visum et repertum. Visum yang dilakukan di ruang kebidanan hanya berupa visum untuk kasus pemerkosaan dan diperiksa oleh dokter spesialis obstetri ginekologi. Tentu saja diwajibkan melampirkan surat dari kepolisian dalam hal ini.

“Maaf sebelumnya, apakah Mbak ini sudah menikah?” tanyaku berhati-hati saat melakukan anamnesa.

“Dia ini masih gadis loh, Sus. Kok pake ditanya, sih,” ujar seorang ibu berambut putih yang duduk di sisi Mbak-mbak tadi. Si Mbak yang kutanya hanya tersenyum saja.

Mereka ada di ruang kebidanan ini dengan tujuan pemeriksaan lebih lanjut. Pasien datang dengan keluhan perdarahan atau menstruasi yang tidak sesuai siklus dan lebih deras dari biasanya. Tampak wajah si Mbak, sedikit pucat, seperti sedang anemis.

Aku melengkapi data pada berkas resume medis si Mbak, sebelum menyerahkannya kepada Kakak bidan senior yang lalu melanjutkannya kepada dokter konsulen, bersama berkas pasien lainnya yang hendak dilakukan pemeriksaan. Setelah itu, kulanjutkan melayani pasien lainnya setelah sebelumnya meminta si Mbak menunggu.

“Dia ini masih gadis, Dok. Masih gadis!”

Kepalaku menoleh mencari arah sumber suara. Rupanya si ibu beruban tadi yang berteriak ke arah dokter yang sedang memberikan penjelasan kepadanya. Sang dokter mengisyaratkan sesuatu kepada seorang bidan senior di VK.

“Mari, Bu, saya tunjukkan sesuatu,” ujar bidan itu kepada si ibu beruban.

Penasaran  kudekati mereka. Saat sang bidan senior menunjukkan wadah kom besar berisikan gumpalan darah, wajah si ibu tampak terkejut. Kuintip isi kom tersebut. Tampaklah gumpalan darah yang terlihat jelas berbentuk sesosok janin. Artinya? Yup. Pasien yang kuanamnesa tadi ternyata perdarahan karena mengalami keguguran. Si ibu beruban yang merupakan ibu kandung mbak tadi, pun menangis.

Ada banyak cerita yang kualami sejak pertama menginjakkan kaki di ruang kebidanan ini. Kadang layaknya menonton sebuah drama di televisi, tapi kali ini real.

Beberapa hari berikutnya datanglah seorang perempuan yang hendak melakukan visum. Kulihat parasnya cantik, tinggi semampai. Tampaknya berusia 20-an, mungkin lebih muda dariku yang ketika itu belum menikah.

Aku tak banyak membantu ketika dokter melakukan pemeriksaan. Karena proses anamnesa hingga penulisan laporan hasil pemeriksaan visum harus dilakukan oleh dokter yang bersangkutan. Bidan hanya melakukan pendataan, merekap dalam buku laporan khusus bahwa ada klien yang melakukan visum pada hari dan tanggal sekian, diperiksa oleh dokter siapa, dan hasil pemeriksaannya apa.

Kadangkala efek penasaran, kusempatkan diri membaca tulisan dari dokter tersebut.

“Kalau mau sama mau mbok ya, enggak usah pakai visum,” keluh si dokter sambil menorehkan tandatangannya.

“Kenapa, Dok?” tanyaku ingin tahu.

“Yah, seperti biasa. Hasilnya jelas menunjukkan kalau si Mbak tidak diperkosa.”

Deg. Jantungku terasa berhenti berdetak. Apalagi tadi sempat kubaca hasil anamnesa dari klien tadi.

“Kelihatan jelas, ya Dok?”

“Hasil visum mana bisa dibohongi, Em. Kami, dokter, hanya menuliskan apa adanya, sesuai dengan hasil pemeriksaan. Ada tandanya kalau klien mengalami pemaksaan. Bukan seperti ini.” Sang dokter menutup laporannya. “Kalau menurut saya, daripada yang begini jadi diketahui banyak orang, lebih baik tidak usah lapor polisi. Enggak bisa dipakai buat menuntut juga, kan. Kebanyakan klien minta visum, karena tujuannya agar si lelaki mau bertanggungjawab. Bukan karena ingin si lelaki dipenjara, awalnya juga melakukannya bukan karena dipaksa, toh,” lanjutnya.

Kutarik napas panjang setelah dokter meninggalkan ruangan VK. Apa yang dikatakannya barusan memang ada benarnya. Sangat disayangkan. Tapi pengalaman ini bukan hanya terjadi satu-dua kali.

Well, apapun itu, tetap saja, aku bukan di posisi berhak untuk men-judge. Semoga keputusan si Mbak melaporkannya pada polisi sudah dipertimbangkan resikonya secara matang. Setiap orang kurasa pernah melakukan kesalahan, tapi hanya yang sanggup menghadapi kesalahannya dan memperbaikinya, yang menunjukkan ketangguhannya menjalani hidup di dunia.

“PB, PB, pasien preeklampsi.”

Aku tertegun saat pekarya dari UGD mendorong brankar dengan seorang ibu hamil di atasnya.

“Maaf, keluarga cukup satu saja yang di dalam. Kalau bisa suaminya, ya, sandalnya mohon dibuka,” ujarku kepada keluarga yang mengiringi pasien tersebut. Aku membantu si ibu hamil bergeser di bed VK.

Baru selesai melakukan pemeriksaan TTV, sekaligus anamnesa dan ANC kilat, aku laporkan kepada kakak senior bidan di VK. Kullihat beliau melaporkannya kepada dokter yang kemudian menginstruksikan terapi pasien preeklampsia sesuai dengan protap.

Aku menyiapkan obat injeksi yang diperlukan untuk membantu menurunkan tensi pada ibu hamil tersebut. Kasian kalau ibu hamil mengalami kenaikan tensi saat hendak melahirkan. Bisa rawan menimbulkan kejang yang ujungnya akan berbahaya bagi nyawa ibu termasuk bayi di dalam kandungannya. Maka sebaiknya proses persalinan pun berjalan tidak terlalu lama. Kenaikan tensi saat kontraksi adalah hal yang wajar, tapi jangan sampai membahayakan bagi sang ibu sendiri.

“Darahnya sudah diambil untuk pemeriksaan laboratorium?” tanya Kak Nur, bidan senior VK, padaku.

“Sudah, Kak, tinggal pemeriksaan urinnya yang belum.”

Untuk pasien dengan preeklampsia harus dilakukan pemeriksaan laboratorium lengkap termasuk kadar protein urin. Semakin pekat kadar protein berarti menunjukkan semakin tinggi tingkat preeklampsianya. Makanya ada istilah PER dan PEB. PER berarti preeklampsia Ringan, PEB berarti sudah berat dan menuju eklampsia. Disebut eklampsia kalau pasien sudah kejang.

Tak lama, kudengarkan lagi bagai siaran ulang, “PB, PB, sekaligus dua.”

Pekarya UGD tadi tak lama sudah kembali lagi dengan membawa pasien lainnya ke ruang VK ini. Bidan yang berjaga di VK menyambutnya. “Masih ada, Mas?” tanyanya pada pekarya tadi.

“Masih ada tiga lagi,” jawab pekarya itu.

Haha. Namanya juga rumah sakit pusat rujukan. Pasien kami selalu ramai setiap harinya. Selamat bertugas di ruang kebidanan, Em.

Bandar Lampung, 2 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

31 Comments

  1. Hihi… Begitulah kalau RS rujukan ya mba Em, pasien tiada henti. Makanya aku lebih suka pelayanan yg santai kaya konselor laktasi, hihii… Mainnya sama bayi2 lucu

  2. Banyak kasus yg akan ditemui ya Mbak. Dengan begitu kita bisa ambil hikmah dari semua kejadian. Semakin memperbaiki diri Dr tiap apa yg kita dengar dan lihat..Semoga makin sukses ya Mbak, salam utk Pak Dokter, eh.

      1. Wah bagus artikelnya membahas kasus di rumah sakit. Bacanya terharu. Lanjutkan mba dengen kasus-kasus lainnya dan cara penanganannya
        Terimakasih

  3. Wah asyik bacanya, nambah wawasan saya tentang istilah kesehatan dalam bentuk cerita kasus seperti ini.

  4. Dulu, yuni pernah punya cita-cita menjadi tenaga medis. Entah dokter, suster atau pun bidan. Tapi sayang, kondisi keuangan keluarga nggak memungkinkan untuk itu. Lagi pula, ternyata aku nggak sanggup melihat luka yang terlalu besar dan darah yang bgitu banyak. Kebayang betapa akan melelahkan jika yuni memaksa.

    😁😁

  5. MasyaAlloh saya jadi teringat betapa sigapnya para bidan membantu saya di kehamilan kedua yang preeklamsia.
    Saat bulan bulan akhir kehamilan, saya tidak nyadar kalo saya beresiko, walaupyn jelas kaki saya bengkak dan tekanan darah 160 per 110. Waduuh, waktu itu saya tidak sadar akan bahanyanya eklamsia karena saya merasa baik baik saja, tidak pusing banget.
    Saya memang berbakat darah tinggi keturunan dari almarhum ayah saya.
    Pokoknya saluut untuk semua bidan dan tenaga medis.. Apalagi bekerja di tengah pandemi ini pasti lebih berat. Sehat selaluu mbak emmy.

    1. Iya Mbak. Makanya penting ibu hamil untuk rutin kontrol. Hanya kalau lagi masa wabah memang sulit juga. Harus dibatasi

  6. Suka Mbak baca tulisannya, saya jadi ngebayangin di posisi Mbak Emmy. Oh iya, saat hamil anak pertama pun setelah rutin periksa beberapa bulan di Dokter akhirnya saya pindah ke bidan, meskipun tetap di RS yang sama. Soalnya konsulnya lebih enak, nyaman, secara kehamilan pertama banyak hal yang ingin ditanyakan. Sementara Pak dokter menjawabnya singkat-singkat aja. Heuheu… akhirnya kehamilan ke-2 cari dokter perempuan.

    1. Iya Mbak. Karna memang beda juga. Dokter jam terbangnya tinggi dan waktunya terbatas

  7. Jadi kembali pada masa-msa preeklampsia. Mana nggak ketahuan [ula. Pas hari H kelahiran tensi naik terus trus bukaan macet. Untungnya bidanku sabar Mbak. Meskipun pada akhirnya cesar, beliau mendampingi sampai selesai semua. Semoga tenaga medis seperti Mbak Emmy selalu diberikan sabar ya Mbak

  8. Subhanallah salut untuk perjuangan para tenaga medis dengan segala kisah inspiratif nya

  9. Aku merinding ngeri baca cerita keguguran yang pertama Mba. Kebayang jadi ib kandungnya bakal sekecewa apa.

    Aku suka cerita-cerita seperti ini Mba. Secara ga langsung ngasih gambaran seperti apa keseharian dan perjuangan tenaga medis itu

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.