Part sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/02/12-tahun-perjalananku-part-2/

“Saya tidak terima ini! Brengsek!”

Aku terdiam saat melihat ember besar yang penuh berisi air kotor ditendang serta merta oleh bapak-bapak yang tadi berteriak. Awalnya kami sempat melarangnya masuk dikarenakan proses membersihkan belum selesai. Ember besar yang ditendangnya tadi adalah untuk kami gunakan membersihkan pasien usai melahirkan. Tentu saja airnya akan menjadi kotor kemudian, apalagi pasien kali ini mengalami perdarahan hebat. Aku baru hendak mengganti airnya, sebelum si bapak keburu datang dan menendang ember tersebut.

“Sabar, Pak. Kami sudah berusaha ….” Dokter kandungan yang tadi sudah berusaha menolong si pasien berusaha menengahi.

“Sabar apanyaaa!! Saya mengantar istri saya ke sini mengharapkan untuk dapat pertolongan, tapi apa yang saya dapatkan??”

“Baik, Pak. Akan saya jelaskan, mari kita ke luar dulu,” ajak dokter kepada bapak tadi.

Kubiarkan dokter, bersama bidan senior yang bertanggungjawab di VK, menemui keluarga pasien, mengajak bicara di ruang pertemuan. Aku biar tetap di sini, menyelesaikan tugas yang tersisa.

Kutatap sedih pada sosok ibu yang barusan berjuang melahirkan anaknya. Bukan lagi bertaruh nyawa, namun nyawanya justru tak bisa kami selamatkan, karena sang ibu mendadak mengalami perdarahan yang hebat. Dokter sudah menolong sebisanya. Si ibu sampai mendapatkan transfusi darah sebanyak dua kantong yang kami minta secara cito.

Saat melihat kondisi bayinya yang menangis kuat aku bisa menarik napas lega. Setidaknya kami sudah berjuang mempertahankan keselamatan sang bayi yang juga sempat tak bernapas beberapa detik setelah lahir ke dunia.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Ketika itu saat kami baru tiba lalu operan jaga dengan shift sebelumnya, kondisi di ruangan VK sudah tampak seperti pasar. Pasien begitu ramai sampai bed penuh dan beberapa ibu hamil masih di atas brankar. Tak lama satu per satu pembukaan lengkap. Satu, dua, dan pasien-pasien selanjutnya melahirkan dengan lancar. Lalu tiba saatnya si ibu tadi, kita sebut saja namanya ibu Lily.

Dia termasuk salah seorang pasien yang berada di atas brankar. Seiring banyaknya yang sudah melahirkan dan kami membutuhkan bed-bed VK, satu per satu pasien kami pindahkan ke ruang perawatan. Sehingga ibu Lily bisa menempati bed VK. Kubaca rekam medisnya, pasien G2P1A0 dengan KPD dan hasil pemeriksaan terakhir sudah pembukaan 8.  Terpasang infus RL di tangannya, tanpa tulisan apa-apa. Saya hanya membaca catatan pemeriksaan terakhir yang dilakukan oleh tim jaga sebelum kami.

Kontraksi bu Lily semakin menjadi. Tak lama pembukaannya sudah lengkap. Kami lekas mengabari anggota keluarga. Dengan kondisi suasana ruang melahirkan yang pasiennya melebihi kapasitas, akhirnya kepala tim VK mengambil kebijakan untuk mempersilakan keluarga pasien menunggu di luar, termasuk keluarga ibu Lily. Kami petugas yang bolak balik mengabari kondisi sang ibu pada keluarga masing-masing.

Persalinan berlangsung cepat, sekiranya tiada kendala. Aku yang membantu keselamatan bayinya, segera melakukan slim suction, rangsang taktil dan sebagainya sesuai prosedur yang ada. Tak lama, anak ibu Lily pun menangis. Karena fokus pada keselamatan bayinya, aku tak sempat perhatikan bahwa bu Lily mengalami kegawatan. Karena yang menolong si ibu sebelumnya juga bukan aku, sudah ada dokter kandungan langsung yang turun tangan dibantu kakak bidan senior.

Yang kulihat selanjutnya, ibu Lily diambil sample darah untuk permintaan transfusi. Ternyata, astagfirullah, ibu Lily mengalami perdarahan hebat.

Perdarahan pasca persalinan biasa terjadi pada ibu pasca melahirkan. Namun bila terjadi perdarahan hebat dengan perkiraan darah keluar melebihi 500 cc maka itu berarti sudah memasuki keadaan gawat. Perdarahan umumnya terjadi dalam 2 jam pertama pasca melahirkan, namun bisa saja terjadi beberapa jam setelahnya.

Ada beberapa penyebab terjadinya perdarahan pasca persalinan, antara lain: karena adanya sisa plasenta yang belum keluar sehingga menghalangi penyusutan rahim kembali seperti semula, karena luka jalan lahir yang belum dijahit atau dikarenakan kontraksi uterus yang tidak adekuat.

Keringat dingin menyelimutiku saat melihat banyaknya darah yang mengalir dari tubuh ibu Lily. Kulihat oksigen mulai dipasangkan untuk membantu pernapasannya. Sementara dokter tak henti memberikan instruksi memberikan obat injeksi untuk membantu perdarahan, serta memastikan tidak ada sisa-sisa plasenta yang kemungkinan menghalangi kontraksi rahim.

“Kontraksinya jelek,” ujar sang dokter. Kakak bidan senior kembali menyuntikkan oksitosin ke ibu Lily. Dalam infus RL yang terpasang pun sudah dibantu dengan obat yang sama.

“Dok, ini darahnya, tanpa pemeriksaan.” Teman sejawatku yang lain membawakan satu kantong transfusi darah. Yang kutahu untuk mendapatkan transfusi darah harus dilakukan pemeriksaan kecocokan darah terlebih dahulu. Bila dokter sudah memutuskan darah boleh diberikan tanpa pemeriksaan, artinya kondisi sudah sangat mendesak sehingga resiko ketidakcocokan darah dikesampingkan.

Aku membantu memasangkan infus di tangan ibu Lily yang masih bebas. Dia harus segera mendapatkan transfusi darah, sementara cairan infus berisikan obat oksitosin tak boleh pula dihentikan.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Mirisnya usaha keras kami tak banyak membuahkan hasil hingga berujung pada hembusan napas terakhir bu Lily. Jujur saja aku syok melihat pemandangan ini. Banyak kematian yang sudah kusaksikan di depan mata. Namun kali ini begitu mendadak.

Kondisi ibu Lily sebelum operan tidak menandakan adanya kegawatdaruratan. Namun mengapa bisa terjadi seperti ini? Terlebih ibu Lily sudah pernah melahirkan sebelumnya bahkan tanpa komplikasi.

Dokter ditemani salah satu bidan senior menjelaskan keadaan sebenarnya kepada keluarga pasien. Seorang temanku melihat kembali catatan pada berkas ibu Lily. Sementara aku melanjutkan menyelesaikan perawatan jenazah, satu hal yang tak kuduga sebelumnya akan kulakukan di ruang VK ini.

“Astagfirullah, pasien sudah diberi induksi sebelumnya dari rujukan?”

Aku mendengar temanku yang sedang memegang berkas ibu Lily berseru.

“Memangnya rujukan dari rumah sakit mana?”

“Bukan dari rumah sakit lain, pasien dirujuk dari bidan!”

“Ha? Bidan memberinya induksi?” tanyaku kembali tak percaya.

Setelah membereskan pekerjaanku aku mendekati temanku dan membaca sendiri berkas ibu Lily.

Induksi persalinan hanya boleh diinstruksikan oleh dokter kandungan, bidan tidak boleh melakukannya tanpa ada instruksi dan bimbingan dari dokter (seberapa banyak oksitosin yang diberikan dan berapa tetesan harus diatur).

“Bukannya tadi sebelum persalinan, infus pasien masih kosong?”

Infus kosong adalah istilah untuk botol infus yang murni berisi cairan, tanpa tambahan obat.

“Iya, sudah diganti sama yang menerima pasien di sini. Tapi sudah habis satu kolf infus dari tempat rujukan,” jawab temanku.

Astaghfirullah. Padahal tadi kondisi ibu Lily tidak menunjukkan kejanggalan, Detak jantung bayinya pun sudah kami periksa dan normal adanya. Apakah tim sebelumnya sudah melaporkan saat operan kepada petugas VK yang lain? Sebab aku tak tahu menahu karena langsung memegang pasien selain ibu Lily ketika operan.

Bagaimanapun inilah salah satu resiko bekerja di RS pusat rujukan. Kondisi pasien sebelum dirujuk seharusnya dijelaskan sedetik-detilnya oleh perujuk. Termasuk semua obat-obatan yang sudah diberikan. Kadang kami menerima kondisi pasien yang lebih parah dari ini, misalnya rujukan dari dukun yang tak kelar ditangani lalu dilarikan ke rumah sakit. Aduhh ….

Aku menghela napas. Ketegangan ini belum juga berlalu. Tangisan bayi ibu Lily membuatku tertegun. “Semoga Allah menerima syahidnya ibumu, Nak. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”

Bandar Lampung, 3 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

14 Comments

  1. Benar2 mengisnpirasi cerita2nya. Lanjutkan mbak, saya tunggu cerita selanjutnya

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.