Episode sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/03/12-tahun-perjalananku-part-3/

“Ayah, tolong aku, Ayah.”

“Iya, Bu. Iya.”

Aku menahan geli karena wajah pucat seorang coas lelaki yang tak bisa bergeming di samping bed pasien di VK.

“Ayah, sakit, Ayah.”

“Iya, Bu. Tahan ya, Bu.”

Lagi suara yang tadi terdengar, yang satu dari coas berwajah pucat tadi, satunya lagi dari ….

“Dek, minta ibunya melorot ke sini, cem mane pule, kite mau menolong die.” Kali ini dari dokter kandungan yang hendak menolong persalinan. Si coas tadi meminta pasien untuk pelan-pelan melorot ke bawah, agar bisa diposisikan untuk ditolong melahirkan. Benar saja, kepala bayinya bahkan sudah terlihat. Karena dari tadi ibunya sulit diajak kerjasama makanya kami kesulitan memeriksanya. Kalau bukan karena kehadiran sang coas penyelamat, alias “Ayah”.

Haha. Cerita bermula dari kehadiran pasien baru, seperti biasa diantar oleh pekarya UGD. Dari awal pasien sulit sekali untuk diajak pindah ke bed VK. Belum lagi kelakuan si ibu yang rada aneh. Setiap petugas yang mendekatinya langsung disalami lalu dia mengatakan, “saya ini lagi puasa.”

Pertama kali melihatnya juga keningku berkerut. Si pasien tampak sedikit berbeda dengan rambut yang menyerupai lelaki, alias dicukur gundul. Kira-kira ukuran rambutnya masing-masing hanya setengah sentimeter.

Keluarga yang mengantarkannya lalu membisikkan kepada kami, “maaf ya, Sus, dia ini memang agak kurang. Namanya juga pernah dirawat di RSJ.”

Mulut kami jadi membulat setelah mendengar keterangan dari keluarganya. Setidaknya ibu ini ada yang mengantarkan.

“Lalu suaminya, Bu?” tanya bidan senior dengan hati-hati.

Si ibu yang tadi menjelaskan kondisi pasien menggelengkan kepalanya. “Dia ini suaminya udah lama kabur, makanya jadi seperti ini. Bertahun-tahun stres sejak ditinggal suaminya. Sampai dirawat di rumah sakit jiwa.”

“Lho, suaminya sudah lama pergi? Lalu kenapa …?”

“Iya, itu ulah tukang-tukang bangunan yang tak jauh dari rumah. Saat itu kami lagi enggak awas, pas dia keluyuran sendiri.”

Astagfirullah. Siapa tega menodai orang sakit jiwa tentu saja dialah yang jiwanya lebih sakit.

Kami tak sempat meneruskan menanyai keluarga ibu tadi, karena kondisi pasien memerlukan pemeriksaan segera.

“Tekanan darahnya tinggi,” kata temanku yang berhasil memeriksa tekanan darahnya, setelah disalami ibu itu.

“Saya puasa, Bu,” ucap si pasien lagi.

“Iya, Bu,” jawab temanku sambil tersenyum.

“Kalau tidak bisa pindah ke bed VK, bagaimana?” tanyaku.

Sementara kulihat pekarya UGD akhirnya kembali tanpa membawa brankar. Dia bilang, nanti saja dibawanya, sekalian pas antar pasien kebidanan lainnya.

Tak lama datangnya dokter muda mendekat. Si pasien langsung berkata spontan, “Ayah!”

Lantas kami semua terkejut tak terkecuali si dokter muda.

Coas atau dokter muda adalah sarjana kedokteran yang harus menuntaskan periode menjadi dokter muda selama waktu yang ditentukan agar bisa meraih gelar dokter. Kalau sudah meraih gelar dokter, baru dia sah menjadi dokter dan boleh menjalankan praktik layaknya seorang dokter. Kalau belum? Ya, harus lulus coasnya. Artinya, tidak bisa tidak.

Lantas aku jadi sedikit kasihan sama si coas. Mereka masih muda, sebagian besar belum menikah. Masuk ke ruang kebidanan ini saja, sebagian sudah terkaget-kaget karena mendadak harus menolong persalinan. Ya, mungkin secara teori sudah matang. Tapi di sinilah praktik yang sebenarnya. Semua coas harus melalui stase kebidanan, dan ini adalah salah satu tahapan penting.

Coas yang dipanggil ayah tadi, sebut saja namanya Anton, tentu saja dia juga masih bujang. Tiba-tiba saja mendapat panggilan “Ayah”, hihi, bagaimana kami tidak tertawa.

Tapi kami bersyukur adanya kehadiran “sang Ayah” pasien jadi manut. Luar biasa. Si ibu akhirnya mau pindah ke bed pasien. Menurut waktu dipasang infus. Kini dia sudah dalam posisi siap untuk melahirkan.

“Dek, minta ibunya mengedan sedikit saja,” advis dokter.

Aku sampai terheran, bagaimana cara menginstruksikan pasien sakit jiwa untuk mengedan sedikit saja. Hanya sedikit, sebab kondisi tekanan darahnya tinggi. Walau kami sudah menyuntikkan obat untuk menurunkan tensinya, tapi tetap saja proses melahirkan pada pasien dengan tekanan darah tinggi sebaiknya tidak terlalu lama.

Untungnya memang tak perlu waktu lama, sebab dengan lancar bayi meluncur dan disambut oleh dokter yang menolongnya.

Masya Allah, Allah memang memberikan kemudahan dengan kondisi pasien yang demikian. Sang bayi pun langsung menangis kuat, tanpa perlu ada yang dikhawatirkan. Kalau saja kondisi ibu baik-baik saja, pasti sudah kuanjurkan untuk dilakukan Inisiasi Menyusui Dini. Ah, enggak usah muluk-muluk. Segala teori harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

“Ayah, sakit, Ayah.” Si ibu masih mengeluh.

Aku sudah merapikan bayi si ibu dan meletakkannya di bawah bed khusus dengan penghangat, istilahnya infant warmer.

“Masya Allah, ada bayi kedua,” seru dokter mengejutkan kami semua.

Masya Allah, si ibu hamil kembar? Allahu Akbar. Tentu saja kami tidak mengetahui hal ini sebelumnya karena pemeriksaan memang belum dilakukan maksimal akibat si ibu tidak kooperatif di awal tadi. Lagipula kalau pasien umumnya melampirkan buku hasil pemeriksaan selama kehamilan, normalnya minimal sekali (lebih baik dua kali), pernah diperiksa USG. Tapi yang ini boro-boro. Pasien mau melahirkan di RS saja sudah bagus.

Benar saja, kemunculan bayi berikutnya sudah terlihat. Semoga kali ini bayinya juga sehat. Tak lama terdengarlah suara tangisan yang tak kalah kencang dibandingkan yang tadi.

 Alhamdulillah. Tak henti aku mengucapkan syukur dalam hati sembari merapikan si bayi. Seperti asuhan neonatus yang biasa kulakukan. Keringkan, hangatkan, periksa kelengkapan bayi, lakukan rangsang taktil bila perlu, pakaikan bedong pada bayi, hal-hal seperti itu. Jangan lupa selalu berikan identitas bayi segera setelah dilahirkan. Identitas direkatkan pada bayi. Ini sangat penting agar bayi tidak tertukar.

Ah, kadang aku berpikir, beruntungnya menjadi seorang bidan, menjadi wajah pertama yang menyambut seorang bayi baru lahir, sebuah kehidupan baru di dunia. Sungguh mulia jasa bidan, tak hanya bagi sang ibu, tapi juga bagi kelangsungan hidup manusia. Aku jadi terharu.

“Ayah, jangan ke mana-mana, Ayah.”

Kasian juga aku sama si Anton. Boro-boro mau ikut menolong persalinan, adanya juga lengannya tak juga dilepaskan oleh ibu itu. Uh, kembali aku menyumpahi si pelaku pelecehan. Pasti keluarganya tak punya kuasa juga untuk menuntut pelakunya. Lagipula terkadang hukum dunia ini memihak. Orang lemah jadi mudah terlindas. Tapi ada hukum Allah yang Maha Adil. Ada yang namanya karma di dunia ini.

Dua bayi menjadi saksi kuasa Allah. Seorang ibu dengan penyakit mental dan kondisi tekanan darah tinggi bisa melahirkan dua bayi kembar sehat walafiat, bahkan secara normal dan tanpa bantuan alat. Semoga kedua anak ini tumbuh sehat dengan sempurna, dirawat dengan baik oleh keluarganya. Apapun latar belakangnya, mereka berhak mendapatkan penghidupan yang layak, seperti manusia pada umumnya.

Cerita saat berdinas hari ini benar-benar berkesan bagiku. Perempuan memang hebat!

Bandar Lampung, 4 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

17 Comments

  1. hhahahahhahaha bagus mba
    sambil ngebayangin si anton yang dipanggil ayah

    duh memang kok ya jahat banget
    org sakit jiwa kok dihamili

    bagus mba tulisannya … lanjutttt

  2. Masya Allah, di saat rekan sejawatku berjuang fisik, dana, untuk mendapatkan keturunan, pasien ini malah dapat anak kembar. Semoga anaknya sehat jiwa raganya. Terkutuk pelaku yang menyebabkan kehamilan pasien ini!

  3. Ceritanya menginspirasi mbak. Bahwa kehidupan di dunia ini kadang berupa misteri tapi betul kata mbak, bahwa setiap perbuatan ada karma yang akan diterima.

  4. Kok Umi nangis ya, bacanya. Cerita kehidupan yang sangat menyedihkan. Dan berapa banyak kasus serupa yang tidak terpublish.
    Subhanallah. Allah Maha Adil, tidak di dunia ya pasti di akhirat.

  5. MasyaAllah … Sedih deh bacanya. Prihatin sama nasib ibu tersebut. Semoga beliau kembali sehat dan bisa merawat kedua bayinya dengan penuh kasih sayang.

    Tapi sambil mesem juga, sih. Dokter Coas itu kira-kira ketemu lagi nggak ya sama si ibu? Jangan-jangan dipanggil ‘Ayah’ lagi, hahaha …

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.