Ada Suspense di Tiap Ruangan, termasuk Ruang Kebidanan

Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/04/12-tahun-perjalananku-part-4-episode-pasien-sakit-jiwa-dan-anak-kembarnya/

“Wadah plasentanya di mana?”

“Ada sih, tapi di Gudang, aku enggak mau ke sana, ah.”

Penasaran aku mendekati kedua temanku yang sedang mengobrol. “Ada apa?” tanyaku.

“Mau ambil kendi untuk wadah plasenta, lho. Masalahnya aku takut ke sananya.”

Seperti biasa setiap ibu yang habis melahirkan pasti sekaligus akan melahirkan plasentanya. Plasenta merupakan tempat cadangan makanan bagi janin di dalam kandungan. Setelah lahir, bayi tidak akan memerlukan plasenta lagi. Tali pusat yang menghubungkan dengan plasenta akan dipotong dan plasentanya akan dikuburkan. Sebelumnya tentu perlu dicuci bersih dan diberi wadah.

Di ruang kebidanan juga disediakan kendi sebagai wadah untuk plasenta ini. Meski pasien bebas memilih, kadang ada juga yang sudah menyiapkannya sendiri dari rumah. Nah, tempat penyimpanan kendi-kendi ini ada di gudang. Namanya juga gudang, penuh dengan perabotan. Belum lagi lampunya yang temaram semakin menambah suram. Temanku jadi enggan ke sana.

“Ya sudah, aku saja yang ambil.” Akhirnya kutawarkan bantuan.

“Serius, Em? Ini kuncinya.”

Aku meraih kunci gudang dan bergegas menuju gudang penyimpanan. Aku juga tak hendak berlama-lama di sana. Kerjaan masih banyak menanti.

Suasana suram langsung membuat bulu kuduk merinding. Segera kulancarkan doa dalam hati, “Ya Allah, lindungi aku.” Tak lupa kutambahkan doa paling ampuh kupanjatkan, setiap kali bekerja, “saya di sini karena niat bekerja, saya tidak mengganggu, jadi tolong jangan ganggu saya.”

Lepas dari suasana suram dengan kendi sudah di tangan akhirnya aku kembali mengunci pintu gudang. Aku baru bisa menarik napas lega setelah kembali ke ruangan VK.

“Wah, Emmy udah balik?”

“Enggak ketemu Mbak Kun?” tanya temanku menggoda.

“Ish, apaan sih?” Aku sudah tahu apa yang temanku maksudkan. Jadi tidak perlu dibahas siapa Mbak Kun yang dia maksud.

“Ih, gudang kita kan seram, tahu.”

“Iya, aku pernah lihat penampakan di sana.”

Nah, mulai, deh. Cerita-cerita semacam ini biasanya kuhindari meski kadang bikin penasaran juga.  Positive thinking saja, namanya juga rumah sakit, pasti adalah yang namanya makhluk halus. Apalagi di sini jelas-jelas tempat melahirkan. Yang tidak melulu semua melahirkan lalu sehat. Ada juga bayi yang meninggal kemudian, bahkan kadang ibunya yang meninggal, seperti yang pernah kuceritakan tentang ibu Lily.

Tak heran kadang teman-teman kalau mau ke toilet atau salat di musala sekalipun minta ditemani. Aku malah jojong sendirian. Soalnya sudah terbiasa dari dulu, aku sering ke mana-mana sendiri. Bahkan kadang aku duduk di ruang administrasi untuk menulisi setumpuk berkas pasien sendirian. Alhamdulillah enggak pernah ada kejadian apapun, walau bukan berarti aku enggak takut. Tapi kuniatkan semua untuk bekerja.

Sama halnya ketika aku masih bekerja di RS swasta sebelum diterima sebagai CPNS. Teman-teman sudah banyak cerita, ada yang lihat kursi roda jalan sendiri, atau dengar suara-suara aneh. Aku malah pernah berjaga sendirian, tidur biasa saja, dan syukurlah tidak terjadi apa-apa.

Nah, di ruang kebidanan ini temanku malah yang sering melihat. Kadang dia bilang seperti ada bayangan hitam besar di musala, menemani dia salat. Selain penampakan Mbak Kun di gudang, pernah juga terasa di toilet. Yang paling seru, ketika mendengar cerita itu dari pasien.

Jadi, waktu itu kebetulan saya bersama tim kebagian giliran shift malam. Kami yang bertugas di ruang perawatan, baik ruang kelas 3 maupun di paviliun pasti harus visit ke ruangan dulu, untuk melihat semua kondisi. Ada jadwal injeksi jam berapa, apakah infus sudah hendak diganti, pasien ada keluhan apa, dan sebagainya.

Jadi di ruang paviliun, teman sudah mencatat siapa pasien yang sudah mau habis infusnya. Lalu kami kembali ke ruang VK. Karena banyaknya tindakan di ruang VK, tak sengaja terlupakan oleh temanku itu. Seharusnya walaupun lupa, biasanya keluarga pasien akan ikut mengingatkan, soal infus habis. Yang penting bukan jadwal injeksi yang terlupa, karena catatann itu ada pada kami. Kalau infus kan bisa terlihat oleh keluarga kalau sudah habis. Biasanya kami ingatkan sebelum habis, silakan lapor ke ruang jaga perawat.

Setelah kesibukan di ruang VK, bergantianlah kami untuk beristirahat di kamar jaga. Tentu setelah yakin bahwa pasien semua sudah aman. Ada saat-saatnya di mana kami menjalani shift malam tanpa tidur sedetik pun, tapi sebisa mungkin kami akan meluangkan waktu untuk sekadar rebahan meluruskan kaki sejenak. Petugas juga harus menjaga kesehatannya kan, kalau pada sakit, nanti yang nolong pasien siapa?

Ketika terbangun menjelang subuh, temanku baru teringat soal infus tadi. Lekaslah dia menuju kamar pasien. Tak lama dia kembali dengan wajah bingung.

“Kenapa? Ada masalah pasiennya?”

Dia menggelengkan kepala. “Em, kita kan enggak ada yang pake baju putih-putih, kan?”

Biasanya kami memakai seragam putih-putih khas tenaga kesehatan itu hanya di saat berjaga pagi. Kalau sore dan malam, kami punya seragam sendiri. Kebetulan, malam itu kami semua memakai seragam warna merah marun.

“Emangnya kenapa?” tanyaku lagi penasaran.

“Kan aku lupa belum ganti infus pasien di sana, kok infusnya udah penuh lagi ya? Pas aku tanya, katanya yang ganti suster yang pake baju warna putih.”

“Nah, loh. Kita kan enggak ada yang pakai baju putih,” tegasku ikut kebingungan.

“Iya, katanya susternya pakai baju putih, enggak pakai jilbab.”

“Mana ada, kita semua kan, pakai jilbab.”

Waduh, apa lagi, nih.

Aku jadi ingat cerita masa lalu zaman masih menjadi mahasiswa praktik di ruang kebidanan ini. Dulu, ruangannya belum serapi sekarang. Dengan lampu dan suasana jauh lebih suram. Betapa mengerikannya masuk ke ruang kebidanan di zaman itu.

Nah, banyak terdengar cerita pasien kalau infusnya diganti sama suster berambut pirang. Namanya juga rumah sakit ini kan rumah sakit zaman penjajahan kolonial Belanda. Kalau dengar sejarah berdirinya RS ini sudah didirikan sejak 1929 lalu, jauh sebelum Indonesia merdeka, kan.

Belum lagi isunya dulunya di tanah berdirinya RS ini adalah bekas kuburan tawanan Belanda.

Jadi, memang yang bertugas jaga di sini pun juga banyak suster berkebangsaan Belanda, pada zaman itu. Tentu saja, sekarang sudah tidak ada suster berambut pirang, kecuali kalau kamu ketemu perawat yang rambutnya diwarnai, hehe.

Tapi masa-masa aku masih menjadi mahasiswa praktik, banyak pasien yang melaporkan tentang kehadiran suster bule yang baik hati karena membantu mengganti infus.

Nah, bagaimana dengan suster berbaju putih yang dimaksudkan pasien paviliun itu? Wallahualam. Bahkan temanku meminta kami semua, tim jaga malam berbaris di kamar pasien dan meyakinkan lagi, siapa di antara kami yang mengganti infus ibu itu semalam. Jawabannya: entah.

Biarkan saja tetap menjadi misteri. Yang penting jangan mengganggu kami, baik petugas maupun pasien di ruang kebidanan ini.

Bandar Lampung, 5 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

8 Comments

  1. Wah seru juga yaa pengalaman kerjanya. Tetap semangat dan sehat selalu ya mbak.

  2. Selalu ada cerita serem ya mba di setiap rumah sakit, keren bikin merinding seketika

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.