Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/05/12-tahun-perjalananku-part-5-ada-suspense-di-tiap-ruangan/

“Kamu di mana? Saya sudah sampai di depan bioskop.” Pesan singkat itu tidak kubalas, melainkan kulangsung bergegas.

“Sudah sampai? Kok smsnya enggak dibalas?” tanyanya melihat kehadiranku tiba-tiba.

Aku menatap kedua mata di balik kacamata ini sambil lalu lantas menjawab, “tanggung.”

Kami berdua memasuki ruangan teater pintu satu dan mengambil tempat duduk sesuai yang tertera pada tiket. Baiklah, ini saatku menikmati “me time”, demi hilangkan penat karena bekerja.

“Me time”? bukannya nonton berdua. Hehe. Bagiku tetap saja ini namanya me time.

Pria berkacamata di sampingku menawarkan popcorn di tangannya.

“Makasih, Dok,” godaku.

“Belum dokter, masih dokter muda.”

Hiyaa. Tepat sekali. Aku mengenalnya sebagai coas yang kali itu berjaga di ruang kebidanan. Tidak ada yang istimewa. Pembicaraan kami juga awalnya seputar pekerjaan. Sampai satu saat ….

“Eh, film ini udah tayang, kita nonton, yuk,” ujar salah seorang temanku.

“Iya, nanti pas kita libur, ya.”

Sebuah rencana kosong, karena ketika hari libur tiba, teman-temanku tidak jadi menonton bersama. Haha. Padahal kebanyakan bidan angkatanku yang masuk sebagai cpns di ruangan ini, belum menikah. Termasuk aku, saat itu. Mestinya waktu luang kami lebih banyak. Tapi entahlah, waktu libur yang hanya sehari seminggu rasanya ingin dimanfaatkan dengan beristirahat di rumah saja.

“Ah, kalau aku nonton sendirian juga enggak masalah,” celetukku yang langsung disambut tawa.

“Emmy mah emang ke mana-mana sendirian. Ke gudang sendirian aja berani dia.”

Lha, memang betul, kan. Simple aja hidup itu. Kalau teman tidak bisa menemani, janjian ujungnya gagal, ya sudah jalan saja sendiri. Tapi sebenarnya bukan karena itu juga sih. Karena memang aku terbiasa ke mana-mana sendiri, sejak dulu. Aku adalah introvert yang paling introvert. Tak kusangka coas yang sedang menuliskan resume medis di meja VK mendengar kata-kataku.

Saat kami hanya berdua, lantas dia bertanya, “nonton sama aku, mau?”

What? Ini ajakan? Sama aku? Ya iyalah, karena tidak ada petugas lain yang sedang berada di sini. Tidak  mungkin dia mengajak ibu hamil yang sedang menunggu lahiran di bed pasien itu, kan?

“Kenapa gitu ngajak aku nonton?” tanyaku penuh curiga. Haha, namanya juga introvert paling introvert. Berada dalam kesendirian sudah penuh kenyamanan, kenapa pula perlu ditemani.

“Abis kasian kayaknya, nonton di bioskop masa sendirian.”

“Udah biasa.”

Pembicaraan itu berakhir begitu saja hingga coas tersebut tuntas menyelesaikan stase di ruang kebidanan. Kupikir enggak ada kelanjutannya. Nyatanya, dia menghubungiku dan beneran, ngajak nonton.

Fiuh, oke. Aku memerintahkan diri sendiri, jangan GR. Tidak hanya dia, sebelumnya juga pernah ada coas sekadar menggodaku. Mungkin karena dilihatnya aku yang paling pendiam di antara teman-teman, ya.

“May i?” sms coas itu secara tiba-tiba pada siang bolong. Sebut saja namanya Yudi (untuk membedakannya dengan pria berkacamata yang sedang menonton bersamaku).

“What?” tanyaku keheranan.

“May I kiss you?” sms selanjutnya membuatku membelalakkan mata.

Apa-apaan ini? “Aku orang ke berapa yang kau tanya begitu?” langsung saja kutodong demikian.

“Well, you will be the first, if you want to.” Yeah, macam aku percaya saja.

Yudi selama ini memang baik padaku. Kadang-kadang memberikan kami makanan. Ingat waktu tiba-tiba ada paket KFC dipegangnya, lalu diberikan pada kami, bidan jaga. Pernah juga dia membelikanku somay, khusus buatku. Yah, cukup segitu saja, sih.

Kemudian, beberapa hari setelah sms ngawur itu, aku akhirnya sadar, Yudi sudh punya pacar. Sama sepertinya, pacarnya juga coas yang sedang berpraktik di RS tempatku bekerja. Hanya mereka berbeda tim. Tahu enggak, paket KFC yang diberikannya pada kami, ternyata dibelikan oleh pacarnya itu. Wadaow. Dasar playboy mau coba-coba mempermainkanku, ya.

Lantas bagaimana dengan pria di sisiku ini? Hmm. Penasaran namanya? Panggil saja dia Widi.

“Aku izin ke belakang, ya,” ujar Widi.

Aku mengangguk dan mengambil popcorn yang disodorkannya padaku. Sudah lama rasanya tidak punya teman nonton. Lebih tepatnya, sudah lama aku tidak keluar rumah, selain untuk bekerja.

Selesai nonton, dia mengajakku ke parkiran. “Kuantar, ya.”

“Kamu bawa helm dua?” tanyaku. Aku tidak ingin dibonceng tanpa helm.

“Iya, sudah kusiapkan.”

Awalnya aku agak kesulitan menaiki motornya. Sebab tidak biasa dibonceng jenis motor semacam ini. Di perjalanan kupikir dia langsung mengantarku pulang, tapi ….

“Kita makan dulu, yuk, laper,” ajaknya.

Wah, udah dibayarin tiket nonton, sekarang mengajakku makan pula?

 “Emang enggak apa-apa?”

“Iya, kan aku yang ajak.”

Selanjutnya aku menurut saja waktu dia mengarahkan motornya ke sebuah rumah makan. Kebetulan aku belum pernah makan di sini.

“Pesanlah, jangan khawatir. Aku yang bayar.”

“Aku yang udah kerja kok aku yang ditraktir terus, ya?” iseng aku bertanya. Ya kali dia kapok gitu ngajak aku.

“Enggak apa-apa, lain kali kan bisa gantian.”

Eit, enak aja. Bisa keluar rumah seperti ini saja sudah bagus, pikirku. Belum tentu ada kesempatan selanjutnya.

Sambil makan, kadang-kadang kami membicarakan pekerjaan. Dia bilang sebentar lagi akan berjaga di ruangan bayi. Yang artinya, dia akan sekali-sekali berkunjung ke ruang kebidanan untuk visit bayi-bayi yang ada di rawat gabung.

“Ketemu lagi, dong.”

Waktu itu aku sama sekali tak memahami makna dari tatapannya. Daripada aku terkecoh lagi, kan.

Namun beberapa hari berikutnya, kembali berulang, dia mengajakku makan siang. Widi juga rajin menghubungi via sms, untuk menyemangatiku bekerja. Pernah juga karena aku merasa tidak enak, ditraktir mulu, aku membelikannya roti untuk menemaninya bertugas. Sengaja kubeli dalam jumlah banyak, siapa tahu teman-temannya mau juga. Hingga suatu saat ….

“Em, would you like to be my girl?

E, busyet. Ini sungguhan?

“Why me?” tanyaku memastikan. “Karena aku salah satu di antara tiga pilihan?”

Teringat salah satu ceritanya yang pernah disampaikan di sela pembicaraan tentang pekerjaan. Kata Widi, ada tiga perempuan tercantik menurutnya di ruang kebidanan. Ketiganya adalah teman seangkatanku yang diterima CPNS bersamaan. Aku mendengarnya seolah tak acuh. Walau sempat terkejut juga karena aku berada di nomor tiga. Haha, cuma nomor tiga.

“Aku suka kamu udah lama, Em.”

Nope. Kamu pernah bilang aku cuma salah satu.”

“Tapi kamu pemenangnya.”

“Memangnya ini perlombaan?”

“Kamu yang aku pilih. Kamu bidan, mandiri, tidak ketergantungan, ke manapun bisa jalan sendiri, selepas masa coasku, lalu aku menjadi dokter, aku akan lanjut mengambil spesialis dokter kandungan, dan kita bisa buka praktik bersama. Membangun RSIA.”

Wow. Mimpi yang begitu tinggi! Masalahnya bahkan aku enggak yakin kalau aku mau buka praktik. Dari awal kelulusanku dulu, aku hanya ingin bekerja saja, tidak ada keinginan buka praktik mandiri, seperti teman-temanku.

“Kamu suka karena aku bidan? Kamu ingin punya istri bidan?”

“Hmm, ya aku suka kamu. Kebetulan kamu bidan dan sesuai dengan visi misiku ke depan.”

Ini merupakan jawaban yang fatal dan tidak bisa diterima oleh egoku. Dari dulu aku paling tidak suka disukai karena embel-embel.

Pernah ada seseorang lelaki mendekati di awal kami diterima sebagai CPNS. Dia berusaha melakukan PDKT, dari satu teman ke temanku yang lain, semua yang didekati adalah yang bergelar bidan. Yeah, siapa yang tidak mau punya jodoh seorang bidan, kan?

Bahkan ada seorang temanku yang konyol, berkunjung ke rumah dengan membawa seorang teman untuk dikenalkan kepadaku. Kebetulan temannya bertugas sebagai polisi. Kujelaskan begini, “pekerjaanku kadang-kadang menyita waktu. Tidak hanya bekerja di pagi hari, kami juga berjaga shift-shiftan termasuk di malam hari.”

Yang kuingat, setelah kejadian hari itu, polisi itu tidak pernah lagi menghubungiku. Skakmat. Kamu mau denganku, berarti kamu harus terima caraku bekerja.

Tapi, jangan jadikan itu sebagai alasan. Ingin memperistri seorang bidan? Ada banyak perempuan bergelar bidan di luar sana. You can pick by random. Yang penting dianya mau sama kamu juga dan tidak keberatan.

Kalau aku? Maaf. Aku ingin dipilih oleh dia yang menerimaku apa adanya. Seseorang yang seandainya aku memilih resign sekalipun dia tetap akan bersamaku. Kamu ingin bersamaku karena gelarku? Then chose anyone else.

Fun fact: beberapa lelaki yang pernah dekat denganku pada akhirnya mempunyai istri seorang bidan. Yup. Termasuk Widi. Gladly, bukan sama aku. Karena aku yang sekarang sudah sedikit berbeda jalur. Hehe.

Bandar Lampung, 6 Juni 2020

p.s. Enggak apa-apa, kan, kali ini aku enggak cerita soal pasien? hehe

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

14 Comments

  1. Hmm.. jadi ingat tetangga sebelah rumah. Beliau bergantian mengasuh anak dengan suami. Kalau ada apa2, dia telepon saya yang hampir setiap saat ada di rumah.

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.