Haruskah kuucapkan sayonara?

Episode sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/06/12-tahun-perjalananku-part-6-episode-romantika/

“Aku pergi dulu, ya.” Baru hendak kuanggukkan kepala, tiba-tiba lelaki di hadapanku mengecup keningku sebelum ia berbalik badan. Oh, my God! Yuhu, sepertinya aku benar-benar telah jatuh hati. Lalu kuberjalan kembali menuju ruang Kebidanan dengan hati berbunga-bunga. Tunggu, lelaki yang mengecup keningku tadi siapa? Widi?

No, salah besar! Dia bukan Widi, apalagi Yudi. Bukan pula salah satu petugas di RS ini. Dia mampir hanya untuk menemuiku sebentar saja, memberikan titipanku, sebelum mulai bekerja kembali. Dia adalah … calon suamiku.

Wah, akhirnya ….

Betul sekali. Akhirnya setelah lebih dari setahun menjalani kerja di ruang Kebidanan, aku dipersatukan lagi dengan jodohku. Dia adalah sosok yang sudah menyukaiku bahkan jauh sebelum aku bekerja di RS. Dia sudah menyukaiku jauh sebelum aku menjadi PNS. Dia menerima jadwal kerjaku yang shift-shiftan. Dia juga merupakan cinta pertamaku, sejak mengenakan seragam putih biru.

Anyway, bisa habis satu buku sendiri kalau membicarakan tentang dia. Singkat kata, akhirnya aku menikah, dan hidupku ke depan tak lagi sama. Alhamdulillah.

Berlanjut hari-hari selanjutnya di ruang Kebidanan. Bertemu drama dan kisah perjuangan perempuan lainnya. Dari mulai ibu pasca operasi sesar yang mengalami luka terbuka pada bekas operasinya, pasien kabur begitu saja sebelum melunasi pembayaran, pasien stress pasca keguguran, bahkan ada juga ibu yang kabur setelah melahirkan dan meninggalkan anaknya begitu saja di ruang kebidanan.

Yang menyedihkan, temanku sendiri, mengalami perdarahan dan kegawatdaruratan pasca operasi, sampai akhirnya dia menghembuskan napas terakhirnya di ruang ICU. Ini yang membuatku syok. Bagaimana tidak, aku bahkan sudah mempersiapkan kado untuk menyelamatinya. Ketika kuhendak menengoknya di ruang paviliyun kebidanan, “lho, di mana dia? Kok tidak ada?”

“Oh, yang perawat itu? Dia sudah masuk ICU.”

Aku yang baru saja masuk kerja kembali pasca libur akhirnya terkejut. Tak semuanya persalinan berjalan lancar, tapi aku tak menduga hal itu bisa terjadi juga pada orang yang kukenal.

Namanya Septi, teman seangkatanku di kampus yang sama, hanya berbeda jurusan. Kami pernah bersama dalam satu kepanitiaan mengadakan buka bersama dengan anak yatim. Dia lebih dulu keterima sebagai CPNS di RS ini. Dia juga lebih dulu menikah dan sudah punya satu anak lelaki, persalinan ini adalah untuk yang kedua.

Dia pernah mengalami ujian, pulang shift sore, lalu dibegal di jalan. Waktu itu aku sedang shift malam, dia datang sambil menangis, duduk di kursi roda, diantarkan keluarganya, ingin menumpang periksa USG di tempat kami. Kami terkejut mendengar ceritanya. Karena dia sempat terjatuh dari atas motor ketika dibegal. Kejadiannya pun baru saja, ketika dia pulang shift sore, sekitar pukul sepuluh malam, di daerah dekat rumahnya. Dia yang dalam kondisi hamil besar, dibonceng ayahnya ketika itu.

Uh, bedebah sekali pembegal itu. Untung saja hasil pemeriksaan USG menunjukkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Septi hanya diminta dokter untuk bedrest di rumah. Kegawatan itu justru datang setelah dia menjalankan operasi sesar. Tak lama dia mengalami pendarahan, harus transfusi darah dan karna kondisi tidak membaik dia akhirnya dirawat di ICU, sementara bayinya dalam kondisi sehat dirawat di ruang perinatologi (khusus bayi).

Aku sempat menjenguknya di ruang ICU. Menyaksikan sendiri bagaimana dia tetap mencoba tersenyum dan berwajah ceria seperti biasa. Perawat ICU tidak memperbolehkan kami melihat terlalu dekat, karena Septi akan senang hati mengajak mengobrol teman yang menjenguknya meski dalam keadaan sesak. Dia tak peduli dengan monitor dan alat lainnya yang menempel di tubuhnya. Septi, seorang perawat yang ramah, tetap ceria bahkan di hari-hari terakhirnya.

Sehari setelah aku menjenguknya, Septi akhirnya berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Bahkan kado yang sudah kusiapkan akhirnya tak sempat kuberikan.

Aku sama sekali tak menyadari segala pengalaman yang kulihat ternyata menimbulkan tumpukan trauma dalam diri. Hal yang baru kuketahui bertahun-tahun setelahnya, ini hal utama yang menjadikanku takut untuk melahirkan. Sehingga akhirnya aku tak jua dikaruniai keturunan meski telah menikah. Aku pun tak ambil pusing, meski banyak bidan senior yang menasihatiku bermacam-macam. Memberi saran tentang asupan maupun aktivitas yang harus kulakukan. Bahkan ada salah satu bidan yang naik haji lalu mendoakanku agar aku segera hamil. Masya Allah.

Di tengah kekosongan itu, masih ada beberapa yang berani menggodaku. Dari mulai sebatas candaan hingga mengatakan menyukaiku terang-terangan. Lagi-lagi dari coas, namanya Raka (lagi-lagi bukan nama sebenarnya). Yah, sebuah pernyataan yang tak perlu jawaban tentunya, sebab statusku sudah jelas.

“Saya memang menemui Mbak Emmy sudah seperti ini, sudah dalam keadaan sudah menikah. Jadi tidak ada yang perlu disalahkan. Tapi saya serius mengatakan saya menyukai Mbak Emmy. Saya hanya ingin jujur sama Mbak Emmy saja. Tidak perlu menjawab apa-apa, Mbak.”

Aku menghela napas. Juga saat mengetahui dia akhirnya putus dengan pacarnya, sesama coas, aku sempat bertanya-tanya. Iya, saat dia mengatakan suka padaku, Raka sudah punya pacar, aku pun mengenal siapa pacarnya.

“Tenang aja, Mbak. Saya putus bukan karena Mbak Emmy, kok. Sudah lama memang saya ingin putus,” ungkapnya setelah kutanya.

“Apapun itu, selesaikan masalah kalian dengan baik-baik, ya. Jaga hubungan baik dengannya.”

“Iya, Mbak.”

Pacarnya, adalah dokter muda yang cantik dan pintar. Kami belum pernah bertemu namun sudah mengobrol akrab karena berkenalan via Facebook. Sebut saja namanya Amel, yang berkata padaku, “tunggu aku di ruang kebidanan, ya Mbak.”

Pertama kali aku mengetahui perihal mereka putus adalah dari Amel sendiri. Aku jadi sempat merasa bersalah, kupikir ini ada kaitannya denganku. Apalagi pacarnya tidak tahu bahwa si lelaki ini pernah mengungkapkan perasaannya. Aku pikir nanti saja kalau kami sudah bertemu langsung, baru aku akan cerita pada Amel.

Saat Amel akhirnya tiba giliran coas di stase Kebidanan, dia langsung mengungkapkan, “ Mbak Emmy, tahu enggak, Raka sudah punya pacar lagiii.”

Haha. Tak butuh waktu lama bagi Raka untuk mempunyai pacar lagi ternyata. Baiklah. Mungkin yang pernah diungkapkannya padaku bukan hal yang serius. Entah apa tujuannya.

Yang penting aku senang bisa bertemu dengan Amel. Aku akhirnya menganggapnya seperti adik sendiri, kebetulan aku tidak punya adik. Walau sebenarnya ada juga coas lainnya yang juga ingin dianggap adik olehku. Itu cerita yang berbeda.

Hingga satu saat ….

“Akan ada tiga orang pegawai kebidanan yang menerima surat mutasi. Hal ini dikarenakan di tempat yang baru memang dibutuhkan tenaga bidan. Yang satu ruangan OK, satunya poliklinik, nah satunya lagi enggak tahu, antara UGD dengan perinatologi. Kepastiannya besok, di hari Senin.”

Aku terdiam saat mendengarkan pembicaraan antara teman-teman sejawatku. Aku tak mau ambil pusing dan terus melanjutkan pekerjaan.

Tibalah hari Senin pagi, aku dipanggil oleh kepala ruangan.

“Emmy, ini SK-mu.”

Bagai petir di siang bolong aku menerima sebuah amplop putih panjang dengan jemari gemetar. “Seperti yang Ibu sampaikan, kepindahan ini adalah hal yang biasa di rumah sakit ini. Kebetulan memang di tempat yang baru membutuhkan tenaga. Apalagi di UGD nanti akan dibuka PONEK. Mereka akan membutuhkan banyak bidan,” lanjut bu Har, kepala ruangan kebidanan saat itu.

Apakah ini berarti aku akan berpisah dengan teman-teman dan segala kisah di ruang kebidanan ini? Apakah berarti aku tidak akan lagi menjadi orang pertama yang menyaksikan kelahiran bayi di dunia? Haruskah aku mengucapkan sayonara?

Apapun itu kuharap hari-hari ke depanku akan baik-baik saja.

Bandar Lampung, 7 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

12 Comments

  1. Semangat mba, insyaallah ini yang terbaik, berpisah bukan berarti tidak bisa bertemu kembali bukan?

  2. Saya kl baca tentang persalinan rasanya gimanaa… Meski sudah punya 4 anak rasanya kok tetap ngilu membayangkan peristiwa melahirkan itu. Alhamdulillah proses kelahiran smua anak2 sy ada tulisannya. Buat kenang2an dan bs dibaca kpn saja.

  3. Wah memang berat ya mba Emmy, menjadi org yg pertama menyaksikan kelahiran bayi di dunia pasti punya kebahagiaan tersendiri. Namun, tetap Semangaaat… Insya Allah apapun itu yg terbaik dari Allah.

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.