Selamat Datang di UGD

Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/07/12-tahun-perjalananku-part-7-haruskah-kuucapkan-sayonara/

So, here I am.

“PB. PB. Ambil brankar.”

Fiuh, sudah lama tak bertemu suasana seperti ini. Mengingatkan saya akan hari-hari pertama orientasi dulu. Sebenarnya sih, riwehnya sama. Di Kebidanan juga pasien selalu ramai. Hanya saja, di sini kan, pasien beragam. Namanya juga pintu gerbang rumah sakit. Bukan sembarang RS lagi, melainkan RS pusat rujukan.

Aku sigap menyiapkan infus set untuk pasien baru. Kuberikan injeksi sesuai instruksi dokter baru kemudian berpindah mengurusi pasien lain. Di UGD kami tak mungkin berlama-lama. Lakukan anamnesa seperlunya, tindakan sesuai advis dokter lalu pekerjaan lain sudah siap menanti.

Terbukti pasien baru datang silih berganti. Kadang ada yang perlu tindakan agak lama, kadang ada yang gawat darurat sehingga perlu lebih diperhatikan.

“Em, pasien bumil.”

Saat ada pasien ibu hamil biasanya kakak-kakak perawat langsung menyodorkanku. Dengan senang hati aku menerima meski tetap saja, tak bisa berlama-lama. Pertolongan pasien sebisa mungkin dilakukan di ruang kebidanan.

“Klaimnya tidak bisa kalau di UGD, Em. Namanya pasien Kebidanan ya tindakannya harus di Kebidanan. Mungkin nanti ya, kalau PONEK sudah dibuka,” jelas Kak Riska, kakak bidan senior di UGD.

Tentu saja seperti itu ya. Yang dimaksud Kak Riska adalah klaim Jamkesmas atau Askes (sekarang dikenal dengan BPJS). Rata-rata pasien di RS ini adalah dengan jaminan, bukan membayar secara umum. Seandainya pun pasien melahirkan ditolong di UGD, maka tetap saja hitungannya masuk paket, dijadikan satu dengan ruang kebidanan.

Ah, tentu saja beberapa petugas UGD ternyata adalah bidan. Sesuai dengan yang dikatakan bu Har kemarin, bahwa UGD akan dipersiapkan untuk pembukaan PONEK.

PONEK itu kepanjangannya adalah Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif. Jadi nanti penanganan ibu hamil, bayi, nantinya akan terpusat di PONEK ini, sehingga sebagai pintu gerbang utama RS, akan lebih cepat terlayani. Hanya untuk sekarang, masih belum diaktifkan. Masih perlu diadakan beberapa penambahan alat seperti misalnya inkubator, doppler, dan lainnya.

“Oo, jadi ini yang namanya Emmy,” ujar seorang perawat senior di UGD.

Aku tersenyum ke arahnya.

“Dulu, pernah di UGD, kan?”

“Iya, Kak. Kan masuk Tim Kakak.”

Kak Wahyu adalah salah satu anggota tim yang kuikuti waktu orientasi di UGD. Sama halnya dengan Kebidanan, di sini juga berlaku aturan Tim. Masing-masing tim punya ketua dan beberapa anggota, dengan jadwal kerja yang sama, pagi, sore, malem.

Bisa dibilang temannya itu-itu saja. Kecuali misal ada yang tukaran shift jaga. Hihi. Tapi justru itu yang akan menjadikan kami lebih akrab.

Tak seperti Kebidanan yang memang isinya semua perempuan (berhubung memang yang hamil itu perempuan tidak ada laki-laki), di UGD kebanyakan perawat laki-laki. Hal yang seru saat berjaga di shift malam. Kamar jaga perawat yang hanya satu saja tapi harus ditempati berbagi dengan lainnya.

Tentu saja kami bisa istirahat di malam hari. Secara bergantian pastinya karena tetap harus ada yang menjaga pasien. Biasanya petugas perempuan akan diminta untuk beristirahat lebih dulu.

“Geser, Em.”

Aku menggeser posisi baringku di malam itu. Waktu sudah menunjukkan jam satu malam, aku harus cepat terlelap.

Kak Rahmat meluruskan kakinya di sisiku. Iya. Betul sekali. Karena keterbatasan kamar jaga, beginilah kami, berbagi satu ruangan dengan laki-laki. Kadang karena keterpaksaan kami akan tidur bersebelahan.

Eit, jangan dikira macam-macam ya. Kelelahan saat bekerja membuat kami jauh-jauh dari pikiran tidak senonoh. Lagipula kebanyakan sudah punya pasangan masing-masing. Aku sendiri kalau sudah posisi seperti itu biasanya akan memilih berbaring tanpa berpindah posisi, tetap pada posisi yang sama dari awal sampai akhirnya terbangun. Bagaimana tidak, waktu istirahat saat berjaga shift malam sangat mahal. Jadi, daripada tidak bisa beristirahat, lebih baik, apa adanya seperti ini. Ada untungnya postur tubuhku masih slim. Tak seperti sekarang, hihi.

Makanya seperti yang kupernah bilang, pasanganku harus mau memahami kondisi ini. Soalan menjaga diri itu, Insya Allah, semua tergantung pada diri masing-masing. Kalau mau niat nakal sih, bisa saja. Tapi untuk apa? Aku juga bukannya se-desperate itu belum punya anak. Justru sebaliknya, aku merasa bebas. Biar kunikmati masa-masa pacaran sah dengan suami, hahay.

“Rahmat, lu tidur di samping Emmy lagi semalam?” tanya kakak perawat lainnya.

Yang ditanya malah senyum-senyum. “Ah, enggak apa-apa, ya Em. Nyenyak kan, semalam?”

Aku tersenyum melihat Kak Rahmat mengedipkan mata padaku. Aku tahu dia sengaja, bukan untuk menggodaku tapi temannya tadi yang bertanya.

“Hati-hati lu. Anak gadis orang bisa-bisa hamil. Dasar bapak anak tiga.”

“Siapa yang gadis, Kak?” tanyaku polos.

“Lha, kamu kan gadis tho?”

Mendengar itu tawaku meledak. Mereka berdua sampai keheranan melihat orang paling introvert sepertiku tertawa seperti itu.

“Gadis udah dol, Kakak.” Aku masih belum bisa menahan tawa.

“Ha? Maksud Emmy?” Kak Rahmat bertanya meyakinkan lagi.

Aku menunjukkan cincin emas yang melingkar di jari manis kananku sambil berkata, “aku tu udah menikah.”

Akhirnya kedua kakak itu kompak membentuk huruf O di mulut mereka.

Haha. Ternyata aku masih pantas disebut gadis. Karena aku belum punya anak dan tubuhku masih terbilang ramping ada saja yang tertipu.

Ada juga ibu perawat senior yang mengira aku masih gadis. Saat kujawab dengan jawaban yang sama, dia terkejut. Yang paling seru saat ada seseorang menyatakan perasaan sukanya padaku. What?

Tentunya tidak perlu kujawab lagi, karena ketika suatu waktu aku dijemput oleh suamiku, hal itu sudah menjawab semuanya. Semestinya sih, begitu.

“Em, kamu nikah sama brondong?” Nah, ada juga hal yang menyebalkan. Kali ini dari Pak Mul yang menjabat sebagai koordinator di UGD. Selain tubuhku masih ramping, suamiku pun masih bisa dibilang kinyis-kinyis. Sama sekali tidak mengembang seperti kebanyakan teman yang sudah tampang bapak-bapak meski belum menjadi bapak-bapak. Padahal kami sepantaran, teman seangkatan di sekolah yang akhirnya berjodoh.

Walau jujur saja, kalau secara usia, lebih tuaan aku, karena suamiku sudah masuk sekolah setahun lebih awal dibandingkan yang lain, dan berkat kepintarannya dia bisa cepat lulus, termasuk saat kuliah.

“Trus, kenapa kamu belum hamil-hamil, Em? Ngadonnya kurang pas apa gimana?”

“Alah, paling juga si Emmy keseringan. Pagi bikin, siang bikin, malam bikin lagi.”

Ada-ada saja. Bagaimana aku enggak lantas terbahak mendengar bercandaan kakak-kakak perawat itu. Walau kadang ada yang menyebalkan juga. Apalagi pas icak-icak nawarin bantuan.

“Apa mau dibantu, Em? Sini, sama gue. Gue mah lempar kolor juga jadi anak, Em.”

Huuu. Dasar.

Pengalaman ini baru ini kualami sejak bekerja di UGD. Akhirnya suasana yang selayaknya tegang karena pekerjaanku banyak menyaksikan pasien meregang nyawa, namun bisa dibuat jangan stres. Bagaimanapun juga, hidup harus terus berjalan, tugas-tugas harus diselesaikan. Enggak boleh baperan kalau mau jadi nakes, apalagi tugas banyak resiko seperti ini.

Itu hanya sepenggal cerita awalku di UGD. Masih ada kelanjutannya.

Bandar Lampung, 8 Juni

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

9 Comments

  1. Masih menunggu lanjutannya, makin penasaran kisah dibalik kehidupan tenaga medis terutama bidan

  2. Baca ini jadi tau tentang PONEK alias Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif ya. Btw seneng banget ya Mbak dikira masih gadis aja hehe

  3. Lanjut ceritanya Mbak … Semua pekerjaan meski ada yg seru-serunya, jangan sampai dibikin setres, ya. Jalani krn Allah, jaga diri agar suami semakin sayang dg kita. Salam sehat ya bu bidan.

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.