Part sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/08/12-tahun-perjalananku-part-8-selamat-datang-di-ugd/

Sejak bekerja di UGD, aku banyak melihat saat-saat terakhir manusia meregang nyawa. Dari mulai pasien yang memang sudah sakit kritis maupun yang sampai dari rujukan hanya untuk mengantar nyawa.

Death on Arrival,” ucap seorang petugas UGD. Biasanya kami akan menulis diagnosis DOA, jika ada pasien yang begitu sampai di UGD, tak sempat ditangani sudah meregang nyawa. Biasanya faktor jauhnya asal rujukan ikut menentukan. Biasanya dari RS kabupaten yang berkilo-kilometer jauhnya dari sini.

“PB. PB.” Kusigap setengah berlari untuk membantu menyambut pasien baru dengan brankar. Bekerja di UGD, berarti harus siap untuk jarang sekali duduk. Siap stand-by aja berjalan ke sana kemari.

“Tolong, Sus. Tolongin, Sus,” ucapin seorang ibu separuh baya yang ikut turun dari mobil yang mengantarkan pasien itu. Pasien berupa seorang wanita muda berusia dua puluhan, kami bantu untuk menaiki brankar. Setelah anamnesa singkat dan pemeriksaan dokter, kami mengambil peralatan yang diperlukan untuk tindakan selanjutnya.

“Infus NaCl 2 kolf,” pintaku pada pihak depo farmasi di UGD.

“Beda sama infus set yang tadi ya, Mbak?” tanya mbak-mbak penjaga depo.

“Yang ini untuk kumbah lambung, Mbak,” ujarku.

Aku bergegas kenbali ke ruang tindakan tempat pasien itu dibaringkan. Kulihat kakak perawat sudah menyiapkan peralatan. Infus sudah terpasang di tubuh wanita muda itu.

“Tolongin, Sus. Aduuh, saya enggak tahu kalau dia serius. Saya tadinya heran, tiba-tiba dia datang ke saya, trus bilang titip anak-anak, ya, katanya.” Ibu separuh baya itu terus menerus menangis.

Begitu pula pasien yang sekarang sedang disiapkan untuk dipasang NGT (nasogastric tube).

“Tahan ya, Mbak,” perintah kakak perawat yang bersiap memasangkan NGT.

Baru sebentar selang memasuki hidung pasien, wanita itu sudah termuntah. Dalam sekejap aroma baygon menyeruak. Hal itu membuatku ingin ikut muntah tapi kutahan, setidaknya jangan sampai kumuntah di depan pasien.

Sebuah perjuangan bagiku pribadi yang mempunyai hidung cenderung sensitif. Kadang tugasku harus ikut membersihkan pasien. Aku bisa tahan dengan aroma darah, tapi aku tak tahan aroma feses dan muntahan. Tapi aku tak bisa menghindari karena itulah kewajibanku. Tak jarang setelah merapikan pasien, aku lantas bergegas ke toilet, lalu termuntah sampai lega. Setelahnya ya, lanjut makan minum lagi seperti biasa, karena petugas harus menjaga kesehatannya, kan.

“Jangan dilawan, Mbak. Lambung Mbak harus segera dibersihkan, ini perintah dokter.” Kakak perawat yang terkena sedikit muntahan pasien itu, terllihat sedikit kesal. “Ayo, kita coba lagi.”

Akhirnya pasien terlihat sedikit menurut waktu selang kembali dicoba dipasangkan melaui hidung. Tentu saja, proses itu menyakitkan. Bayangkan, hidung kita kemasukan air enggak sengaja saja, perihnya minta ampun, apalagi sengaja dimasukkan alat. Tapi prosedur kali ini dilakukan adalah karena ulah si pasien sendiri, jadi wajar saja kalau kakak perawat terlihat kesal.

Syukurlah, dalam percobaan selanjutnya akhirnya pasien tak melawan dan alat NGT bisa terpasang dengan sempurna. Segera aku menyiapkan infus NaCl dan melakukan kumbah lambung. Belum ada satu botol termasuki, pasien sudah bersiap-siap terduduk lalu …kembali memuntahkan semua isi perutnya.

Ah, makanya jangan lupa memakai masker kalau bekerja di UGD, karena kau tak tahu aroma macam apa yang akan kau terima. Haha.

“Lanjutkan, Em, sampai habis 2 kolf.” Kakak perawat itu lalu meninggalkanku bersama pasien.

“Siap, Kak.”

Mudah-mudahan untuk tahap selanjutnya si Mbak mau bekerja sama. Kami sudah berjuang sampai segini karena ulahnya.

Iya, pasien tadi memang sengaja ingin melakukan praktik suicide, alias bunuh diri. Dia sengaja minum baygon. Makanya sebelumnya dia sempat berpamitan pada ibunya, mengatakan mau nitip anak-anaknya. Dia punya satu orang anak berumur satu tahun. Entah apa yang dialaminya hingga memutuskan untuk minum baygon. Praktik suicide yang gagal lalu menjadikannya berakhir di UGD.

“Hah, ada-ada saja, orang-orang yang begitu bikin-bikin sakit sendiri. Pasien kita sudah banyak tanpa perlu ditambah orang-orang yang tidak menghargai hidupnya sendiri.”

Aku terdiam mendengar kata-kata kakak perawat tadi. Apa yang dikatakannya memang benar, tapi entah kenapa membuat jantungku sedikit tertohok.

Lain cerita di lain hari. Kali itu aku sedang shift malam. Seorang pasien tiba-tiba datang menjelang Subuh. Seorang pemuda sudah dalam keadaan tidak sadar terbaring di brankar.

Aku dan temanku bergegas mempersiapkan peralatan, infus set, kateter set, dan sebagainya. Dokter yang memeriksa juga sigap memberikan instruksi.

Laki-laki yang mengantarkan pasien kulihat sudah bersiap untuk pergi.

“Lho, ke mana, Mas?” tanyaku.

“Saya sudah hubungi keluarganya. Ada-ada saja, gara-gara mereka, saya yang punya kos jadi ketiban.”

“Ya sudah, Mas, di sini dulu, sampai keluarganya tiba.” Kali ini temanku yang bersuara.

“Saya tunggu di luar saja, terserah kalian mau diapakan anak ini,” lanjutnya tak acuh.

Kutatap tubuh pasien yang sudah membiru. Napasnya yang terengah-engah, kedua matanya yang melihat ke atas. Belum sempat infus terpasang, pasien sudah mengalami apnoe.

“Kak, apnoe!” seruku. Kami melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) sebuah usaha terakhir untuk menyelamatkan nyawa.

Sekali lagi, petugas hanya berusaha, Tuhan juga yang menentukan.

Tak lama datanglah seorang ibu dengan rambut yang sudah memutih di kepala berteriak dengan histeris.

“Anakku! Ya Allah, Nak. Kenapa begini, Nak? Tiga hari tak pulang ke rumah, kenapa sekarang malah begini?”

Dokter menjelaskan kepada sang ibu bahwa pasien sudah tidak ada. Akhirnya kami melanjutkan untuk perawatan jenazah, sesuai prosedur. Belum ada satu jam, hanya berselang sekian detik, semua terjadi begitu cepat.

Setelah perawatan jenazah selesai, kami biarkan si ibu menangis di sisi pasien. Bagaimanapun keluarga berhak berada di sisi pasien di saat-saat terakhirnya.

“Entah siapa yang memulai kegilaan.” Kudengar dokter berseru setelah aku kembali ke ruang jaga.

“Kenapa, Dok?”

“Iya, jadi mereka itu sengaja, niat mabuk-mabukan. Dengan cara minum alkohol 70% dicampur dengan fanta. Idenya siapa coba? Akhirnya? Tiga orang sudah meninggal di tempat, hanya pasien tadi yang sampai di UGD, itupun enggak lama sudah meninggal.”

Innalillahi, jadi kejadian kali ini juga disengaja oleh ulah pasien sendiri? Bedanya, yang ini terjadi karena kebodohan, kalau si Mbak kemarin memang sengaja mencelakakan diri.

“Saya kasian sama ibunya, anak lama enggak pulang ke rumah, giliran ketemu sudah enggak bernyawa,” lanjut dokter.

Begitulah, tak hanya di ruang kebidanan, di UGD pun banyak sekali kutemukan drama. Semua ini adalah untuk diambil hikmahnya. Mungkin karena itu juga akhirnya aku menjadi bagian yang menyaksikan semua drama ini, untuk pembelajaran.

Hal yang kukagumi adalah, dari sekian banyak manusia berkalar-kilir di UGD, Alhamdulillah Malaikat Izrail tidak pernah salah mencabut nyawa. Sebuah dedikasi yang pantas ditiru oleh kita, manusia. Kalau kerja, jangan salah-salah.

Kurasakan sebuah luka berdenyut, luka yang sudah tertutupi kulit dengan sempurna sehingga tidak akan ada orang yang memperhatikannya. Kuraba pergelangan tanganku, tempat luka itu berasal. Luka akibat ulahku sendiri.

Ya Allah, jangan sampai kulakukan hal itu lagi. Aku bukan pada posisi orang yang berhak men-judge mereka, pasien-pasien yang datang ke UGD karena ulah mereka sendiri, karena aku pun pernah melakukannya. Self injury akibat depresi.  

Bandar Lampung, 9 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.