Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/10/12-tahun-perjalananku-part-9-akibat-perilaku-sendiri/

Part UGD: Dari korban kecelakaan hingga menyendiri di negeri orang

“PB. KLL.”

Aku bergegas membantu mengarahkan agar pasien segera memasuki ruang tindakan. Ada dua pasien pagi ini. Yang satu seorang laki-laki mengenakan seragam PNS, yang satunya hmm, ini orang? Baru kemudian kulihat sosok hitam itu bergerak aku tersadar bahwa dia manusia. “Sus, cepat kasih obat, Sus,” ujarnya sambil lalu. Sementara aroma alkohol menyeruak seketika.

Lelaki berkulit hitam itu mengenakan pakaian yang lusuh. Tak hanya aroma alkohol yang tercium tapi juga bau yang sangat amis. Lukanya tak seberapa tapi dia bersuara mengaduh yang membahana.

“Suntik mati aja, Sus.” Aku menoleh pada lelaki yang mengenakan seragam sama dengan pasien yang terbaring di brankar. Pasien itu memerlukan jahitan untuk lukanya. Aku lega dia sudah ditangani oleh kakak perawat.  Aku hanya tersenyum tipis mendengar pernyataan itu, sebab aku sudah paham apa yang sebenarnya terjadi.

Pasien berseragam PNS itu berangkat kerja di suatu pagi. Tiba-tiba melintaslah lelaki berkulit hitam berjalan terhuyung-huyung dan lari mendadak, membuat bapak berseragam PNS itu tak sengaja menabraknya. Dia sudah berusaha menghindar, dan itu hanya menjadikannya terbentur pohon dan mengalami luka parah. Luka yang tak sebanding dengan luka si lelaki berkulit hitam.

Dua pasien KLL (Kecelakaan Lalu Lintas) yang bertolak belakang. Dari aroma saja sudah berbeda. Luka yang dialami lebih parah si PNS, meskipun semua karena kesalahan lelaki berkulit hitam itu yang berjalan sembarangan. Diketahui dia adalah seorang anak jalanan yang sering mabuk-mabukan tanpa arah. Uh, sayangnya, sesuai etika, kami tetap harus merawat keduanya.

Teman si PNS geram dan menyumpahi anak jalanan itu, hanya sebatas ucapan untungnya. Tidak ada gunanya juga berdebat, bukan. Kata pepatah, sebelum kita memutuskan berdebat dengan seseorang, lebih baik pastikan dulu bahwa kecerdasan dan kemampuan berpikirnya setidaknya setara dengan kita, jika tidak, untuk apa dilanjutkan?

Di RS ini sudah banyak kejadian, termasuk di UGD. Kadang tidak semua pasien memiliki identitas dan keluarga, ada juga anak jalanan, gelandangan bahkan orang gila. Makanya memang sepatutnya banyak kakak laki-laki perawat di sini.

Pernah kami layani seorang pasien yang ternyata sakit jiwa, dengan semaunya dia membuka celana lalu pup dalam sebuah ember besar di kamar tindakan. Nah, bagaimana bidan-bidan bisa mengatasi yang seperti itu? Hadeuh.

“PB. KLL.” Lagii?

Memang biasanya ada momen di mana  kecelakaan lalu lintas banyak terjadi. Biasanya menjelang malam tahun baru dan lebaran. Apalagi masa lebaran banyak orang-orang mudik dan bepergian. Tentu harus diimbangi dengan memperhatikan keselamatan diri sendiri. Kalau tidak mau berakhir menjadi pasien di UGD.

Pasien kali ini seorang perempuan. Serombongan warga yang mengantarnya. Salah satu di antara mereka menggendong seorang anak kecil perempuan berusia sekitar setahun, dan terus menerus menangis.

Karena kondisi tak sadarkan diri, maka pasien lekas kami berikan tindakan. Infus, oksigen sudah terpasang, disertai monitor dan alat lainnya.

“Keluarganya siapa? Ada obat yang harus ditebus,” panggilku.

“Enggak ada keluarganya, Sus,” jelas bapak-bapak yang menggendong anak perempuan itu.

“Lho, sekian banyak orang ini tidak ada keluarganya?”

“Jadi, mbak ini kan naik motor, terus nggak sengaja ketabrak sama saya. Saya bawa ke RS, ini banyak yang ikut menyaksikan juga. Si mbak yang kebut dan enggak denger waktu saya klakson. Untung anaknya ini enggak apa-apa.”

Lantas aku jadi melongo mendengar penuturan bapak itu. “Anak kecil ini anaknya mbak itu?”

Si bapak mengiyakan. “Si mbaknya juga enggak bawa apa-apa. Tidak ada KTP dan semacamnya. Warga tidak ada yang kenal dia juga. Jadi saya juga bingung.”

Aku semakin termangu. Kulirik si anak yang tangisnya mulai mereda. Ternyata … anak kecil itu merupakan anak si pasien, tentu saja karena dia terlalu kecil tak mungkin ditanyai. Sementara si mbak masih dalam kondisi tak sadarkan diri.

Pikirankupun menerawang. Entah apa yang terjadi pada pasien itu sebenarnya. Kenapa dia bepergian tidak bawa identitas diri? Apakah dia kabur? Mengingat seperti yang disebutkan dia mengendarai motor terlalu cepat. Apakah kondisi pikirannya sedang kalut? Apakah dia bertengkar dengan suaminya?

Berjuta tanda tanya yang tak pula terjawab. Karena kami harus menunggu kondisi pasien membaik terlebih dulu. Menyedihkan sekali jika kita ditemukan dalam kondisi kritis, sementara keluarga tak tahu menahu. Innalillahi.

Kadang juga hal ini terjadi karena pasien merupakan warga asing yang bepergian sendirian. Sepertinya kisah selanjutnya yang kutemui selama bekerja di UGD. Ceritanya waktu aku sedang shift malam, sekitar jam enam pagi, datanglah seorang bapak tua, bertubuh tinggi dibopong oleh tukang ojek memasuki UGD. Ketika itu kondisi si bapak seperti sesak, lantas kami cepat memberi tindakan, memasang oksigen dan sebagainya. Tak disangka, bahkan ketika pemeriksaan belum selesai dilakukan, bapak tersebut sudah meregang nyawa.

Tukang ojek yang hendak beranjak pergi kami panggil kembali.

“Mas, kok ditinggal? Mas, pasiennya udah enggak ada!”

“Mbak, saya enggak kenal pasiennya, saya cuma tukang ojek,” jelas mamas tukang ojek dengan raut wajah ketakutan.

“Dia naik dari mana, Mas? Gimana ceritanya?”

“Saya lagi mangkal dekat hotel, lantas bapak itu naik, dan minta tolong ke RS terdekat. Biar sajalah, saya belum dibayar. Tapi saya enggak mau ketempuhan.”

Kami saling berpandangan dan meminta pendapat dokter jaga di UGD.

Si bapak membawa tas yang diserahkan tukang ojek tadi kepada kami. Kami buka untuk mencari identitasnya. Kami temukan paspor, KTP warga negara India, serta beberapa uang dollar di dompetnya. Tidak ada uang rupiah.

“Mas, bisa bantu hubungi pihak hotel?” tanya dokter pada tukang ojek tersebut.

Untungnya kami berhasil meyakinkan tukang ojek untuk menghubungi hotel tempat si bapak menginap. Kami menyampaikan bahwa selaku tukang ojek dia tak perlu khawatir, karena kematian pasien memang bukan tanggungjawabnya, kan.

Tak lama, manajer pemilik hotel datang ke UGD. Selanjutnya kami serahkan pada kepala ruangan, koordinator dan lainnya. Yang kutahu, kami juga menghubungi pihak imigrasi karena hal ini menyangkut pendataan mengenai warga asing yang berkunjung ke kota kami.

Paspor pasien menunjukkan banyaknya negara yang sudah dikunjungi. Dugaan dari dokter yang memeriksa sepertinya pasien mempunyai penyakit jantung, karena jantungnya terhenti padahal belum juga selesai kami beri tindakan. Mungkin dia kelelahan karena terlalu sering bepergian, kami juga tidak tahu. Kata pihak hotel dia datang dengan urusan bisnis di kota ini. Tentu mereka yang harus menjelaskan apa adanya kepada polisi dan pihak imigrasi.

Tak urung aku merasa kasihan dengan bapak berkewarganegaraan asing itu, harus menghabiskan hari-hari terakhirnya di negeri orang, jauh dari keluarga maupun saudara yang mengenalnya. Bagaimana jika kamu ada di posisi seperti itu? Atau seperti emak-emak yang pergi tanpa identitas tadi? Hatiku jadi merasa tertohok.

Uh, ada-ada saja cerita di UGD. Di tempat ini aku bisa kenal nama-nama penyakit serta penanganan pertamanya. Keterampilanku memasang infus juga teruji, dari mulai infus dewasa biasa, orang usia lanjut, hingga anak-anak dan bayi. Di UGD juga aku belajar pemasangan intubasi. Sampai bisa mengenal macam-macam dokter spesialis tempat kami berkonsultasi serta perawat-perawat dari ruangan lain.

Kupikir itulah hikmahnya aku dimutasi ke UGD. Tapi hal itu merupakan segelintir saja, karena ternyata ada sebuah hikmah yang lebih besar setelah ini.

Bandar Lampung, 10 Juni 2020

PB = Pasien Baru

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

3 Comments

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.