Episode sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/11/12-tahun-perjalananku-part-10-masih-part-ugd/

“Sudah kubilang, kan, aku berperan lebih baik sebagai pasien, bukan sebagai yang merawat pasien.”

Kupejamkan mata untuk menahan agar air mata tak mengalir darinya. Kumenatap botol infus yang terpasang di tanganku. Kucoba untuk tegakkan tubuh, namun terlalu rapuh dan kembali kupilih untuk berbaring. Bagaimana ini? Untuk sementara izinkanku beristirahat sejenak.

Kubalikkan telapak tanganku. Bukan untuk melihatnya, melainkan bandingkan bekas-bekas luka tusukan infus dengan sayatan tidak beraturan. Sayatan karena satu kebiasaan burukku yang sangat berbahaya, self injury.

Aku mempunyai satu rahasia yang kupendam rapat. Bahwa aku tidak tahu bagaimana cara untuk mencintai diriku. Hal yang kemudian diperparah sejak menjalani kuliah diploma. Semakin akhir kelulusan semakin diri merasa tak pantas menjadi bagian dari tenaga kesehatan.

Sudah kusebutkan banyaknya luka tusukan infus di tanganku, bukan? Itu karena kebiasaanku bolak-balik opname di rumah sakit sejak kecil. Bagaimana mungkin seorang bertubuh ringkih sepertiku menjadi petugas kesehatan yang membutuhkan stamina luar biasa fit. Pagi ini buktinya, resmi aku ambruk.

Usai melaksanakan shift malam, kurasakan keletihan luar biasa. Suhu tubuhku meningkat. Lantas teman sejawatku memutuskan untuk memanggil dokter jaga dan memeriksaku. Kembali aku dirawat, kali ini di tempat kerjaku sendiri.

“Em, kayaknya thypusmu kambuh lagi.” Aku mengangguk lemah. Ya sudah, biar raga ini kuistirahatkan dulu, tak mungkin kupaksa menolong sesama.

Perasaan tak berguna itu kembali menguasai. Saat jemariku menyentuh bekas luka sayatan, air mataku menetes.

“Assalamualaikum.”

Lekas kuhapus air mata yang menitik sembarangan lalu menjawab salam.

“Em, kuinjeksi ya, Em.” Rupanya temanku yang bergiliran jaga di HCU ini. HCU kepanjangannya High Care Unit, merupakan tempat perawatan setingkat di bawah ICU. Ruang HCU ini merupakan bagian dari Instalasi Gawat Darurat. Petugas yang berjaga di IGD akan bergantian terkena giliran jaga di HCU juga, begitu juga sebaliknya.

Kebetulan bulan ini adalah giliranku jaga di HCU. Semoga tak terlalu merepotkan aku ambruk di saat berjaga di HCU, bukan di IGD. Selain typhus, aku juga mempunyai riwayat alergi, asma bronchitis. Pernah satu ketika asamaku kambuh saat berjaga shift malam, maka teman-temanku bergegas membantu. Kakak perawat yang baik hati menyiapkanku alat nebulizer beserta ventolinnya. Petugas bagian depo farmasi bahkan mengikhlaskan satu selang nebulizer untuk menjadi milikku pribadi.

“Biar enggak campur dengan selang pasien lain, Em. Kita kan enggak tahu, pasien lain yang pakai alat ini siapa tahu ada yang TBC.”

Aku sangat berterimakasih pada perhatian teman-temanku. Namun tak urung timbul merasa bersalah, kurasa aku tak bisa memberikan apa-apa untuk membalas kebaikan mereka. Tak usah muluk-muluk, dalam bekerja pun seringkali aku butuh bantuan mereka. Tak banyak pekerjaan yang bisa kulakukan sendiri.

Ah, mungkin ini juga yang menjadikanku akhirnya dikeluarkan dari ruang kebidanan. Seorang yang tak berguna untukku untuk apa ada?

Bahkan aku pernah menerima ucapan seperti ini dari mantan atasanku, waktu aku masih bekerja di sebuah klinik bersalin. “Ada enggak ada Emmy sama saja.” Sebuah pernyataan yang berhujung aku akhirnya dikeluarkan karena sakit bronkhitisku kambuh dalam waktu lama.

“Kutinggal ya, Em. Cepat sehat, ya.”

Kembali kuucapkan terimakasih kepada temanku yang baru saja memberikanku injeksi. Tanpa sadar pikiranku barusan terlalu jauh menerawang. Aku menghela napas setelah kembali menyadari aku sendirian di salah satu kamar HCU ini.

Ah, seharusnya pasien yang dirawat di HCU adalah pasien-pasien kritis yang membutuhkan monitor dan peralatan lengkap lainnya. Namun sebagai “orang dalam” aku bisa dirawat di sini. Biar yang mmerawat juga teman-temanku sendiri. Karena keluargaku tidak bisa 24 jam menungguku. Suamiku saja hanya mampir sejenak dan barusan berangkat ke kantornya. Orang tuaku mungkin bakda Asar baru mampir ke RS. Kalau malam suamiku akan menemaniku, tapi kubiarkan dia tetap bekerja di pagi hari. Aku tak ingin mengganggu jadwal kerjanya.

Sudahlah aku mengganggu ritme kerja kawan-kawanku, masa harus mengganggu ritme kerja suamiku sendiri pula. Aku benar-benar merasa tak berguna.

***

Hari berganti sore, orang tuaku menemaniku di sini. Barulah aku bisa membersihkan diri karena ada yang membantuku. Jadi, ketika pagi aku sendirian di kamar, terlalu lemah untuk mencoba ke kamar mandi sendiri. Walau sebenarnya toilet di sini berada di dalam kamar.

Sebenarnya aku juga masih ingat cerita-cerita temanku tentang toilet di ruang HCU yang sering terdengar suara aneh, termasuk kran yang mengalir sendiri. Tapi lagi-lagi itu hanyalah cerita-cerita yang kudengarkan dari temanku, tidak pernah kualami sendiri. Padahal ini sudah hari ketiga aku diopname.

Lega setelah berganti pakaian, kembali aku berbaring di kasur bersprei putih ini. Sampai jatah makanan sore didatangkan belum jua suamiku menampakkan batang hidungnya.

“Suamimu lembur, ya? Jam segini belum pulang?” tanya ibuku.

“Mungkin. Aku juga enggak tanya.” Sengaja aku tak menghubungi suamiku karena tak ingin mengganggunya. Aku juga bukan tipe istri yang sedikit-sedikit menghubungi suami karena khawatir. Tidak, karena aku juga tidak akan suka diperlakukan demikian.

Ibuku menawari untuk menyuapiku makan. Kembali aku mengiyakan.

Tak lama ayahku masuk ke kamar, “yuk, kita pulang. Sudah mau Magrib.”

Aku memahami, ayahku tak ingin ketinggalan salat berjamaah di masjid. “Ya sudah, pulang saja. Aku bisa makan sendiri, kok.”

Akhirnya mereka berdua pulang. Sudah cukup aku merepotkan kedua orang tuaku dengan bolak-balik opname sepanjang hidupku. Sekarang aku sudah menikah, harus bisa belajar mengatasi masalahku sendiri. Meski kadang tak tertampung dalam pikiranku, hingga aku merasa terpuruk dan mengambil jalan pintas. Ada suatu kelegaan setelah melukai diri, karena aku merasa memang pantas mendapatkannya.

Perasaan tak berdaya, tak berharga, membuatku pasrah dengan sebagian besar perlakuan orang padaku. Termasuk saat aku dimutasi atau diberhentikan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dalam benakku selalu saja terbersit suara, “aku memang pantas menerima ini, kalian berhak untuk tidak menyukaiku dan memperlakukanku begini.”

Kalau kuceritakan deretan trauma sejak kukecil hingga dewasa mungkin akan menghabiskan berlembar-lembar halaman. Yang tak mungkin kubongkar semuanya.

Menjelang jam tujuh malam, akhirnya suamiku tiba di ruangan ini.

“Sudah mampir ke rumah dulu, ya?” tanyaku melihatnya sudah memakai pakaian rumah.

“Iya, tapi kubawa baju seragam. Besok pagi langsung dari sini.”

“Sudah makan?” tanyaku, tak ingin dia mengabaikan dirinya.

“Sudah tadi, di rumah. Kamu juga sudah? Gimana tadi dicek lab lagi?”

Aku mengangguk. “Tapi aku belum tahu hasilnya, kamu tanya saja sama temanku. Aku memang belum tanya.”

Sudah tiga hari aku dirawat dan selalu petugas laboratorium datang setiap hari mengambil darahku. Ternyata sakitku ini bukan thypus biasa. Aku juga didiagnosis DBD (Demam Berdarah Dengue).

“Aku ada kabar untukmu,” ujar suamiku tiba-tiba.

“Ada apa?”

“Tadi di kantor aku menerima ini.” Suamiku mengeluarkan sebuah amplop panjang dari dalam tasnya.

Keningku berkerut saat membaca tulisan yang tertera.

“Aku dipindah.”

Aku membaca lembaran SK mutasi di tanganku tanpa suara. Sebuah kabar yang tidak kuharapkan untuk diterima di saat aku sakit.

“Yah, enggak apa-apa, ya. Siapa tahu memang rezekinya di sana.”

Suamiku akan dipindahtugaskan di sebuah kantor baru di kabupaten, kira-kira sekitar empat jam dari rumah. Bagaimana mungkin aku bisa berkata tidak apa-apa?

Bandar Lampung, 11 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

3 Comments

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.