Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/15/12-tahun-perjalananku-part-11-episode-ujian-beruntun/

Hampir dua minggu lamanya aku opname dengan diagnosa Typhus dan DBD. Kebetulan sakit itu pun bukannya hal terakhir. Di akhir bulan tubuhku kembali ambruk, kali ini karena bronchitis yang kuderita.

Semakin kumerasa bersalah terutama pada partner kerjaku, hingga akhirnya pasrah menjadi satu-satunya yang insentifnya dipotong. Seingatku bukan hanya aku yang pernah opname dan izin tidak bekerja pada saat itu. Tapi aku yang paling lama izin, maka kubiarkan saja. Alasan yang sama akhirnya aku tak berani mengambil cuti selama bekerja di UGD.

Selama menjalani Long Distance Relationship bersama sang suami, aku diantar jemput kerja oleh ayahku.  Rasanya tak jauh berbeda seperti saat gadis dulu. Apalagi saat itu memang aku bersama suami masih tinggal di tempat orang tuaku. Suamiku memang pulang seminggu sekali dan memilih untuk stay di tempat kerjanya untuk menghemat energi. Kupikir aku bisa menjalani ujian kalau hanya seperti ini, ternyata ada ujian yang lebih dari ini.

Ayahku mulai sakit-sakitan. Karena situasi di rumah yang jarang sekali mengobrol, aku sama sekali tidak tahu tentang penyakit ayahku. Beliau pun tidak pernah minta tolong kutemani kalau mau pergi ke dokter.  Sampai akhirnya sakitnya menjadi parah, tidak bisa bangun dari tempat tidur, aku pun mengambil langkah untuk membantunya. Masa iya, anaknya tenaga kesehatan tapi tidak tahu menahu tentang sakit yang diderita sang ayah.

Maka kumulai menemani pengobatan ayahku di poliklinik, masih di RS yang sama tempatku bekerja. Seiring dengan beratnya penyakit ayahku, maka beliau tidak bisa lagi mengantar jemputku. Terpaksa aku meminta bantuan pada teman kerja untuk mengantar pulang di malam hari. Jarak antara rumah ke rumah sakit harus dilalui dengan dua kali naik angkutan umum ketika itu.

Oya, aku memang tidak bisa mengendarai apapun. Jangankan motor, sepedapun tidak bisa. Semakin merasa sebagai manusia yang tidak berdaya. Sempat ada beberapa drama bersama rekan kerja yang mengantar jemputku, salah satunya adalah satu di antara mereka sampai menyatakan cinta padaku. Suatu hal yang mustahil dan menggelikan.

Hidupku sudah terlalu banyak. Ujian demi ujian kulalui. Kadang kurasakan nyata tidak bisa lagi berkonsentrasi saat bekerja. Antara pikiran dan kesedihan atas ketidaksembuhan ayahku juga memikirkan hidupku. Belum lagi kerinduan untuk segera memiliki momongan.

Suatu hari pernah kurasakan sakit yang menjadi ketika haid. Seumur hidup, dari gadis hingga menikah, belum pernah kurasakan nyeri sedahsyat ini. Biasanya dengan minum asam mefenamat saja sudah sembuh. Akhirnya aku memutuskan untuk ke dokter kandungan.

“Mau ke mana Emmy?” tanya ibuku melihatku sudah berganti pakaian bersiap-siap hendak pergi dengan wajah meringis.

“Sakit banget, Bunda. Emmy mau berobat.”

“Siapa yang antar kamu?” tanya ibuku memasang wajah khawatir.

Bukankah memang ayahku sudah lama tidak bisa mengantar jemputku? Kalau lagi bekerja mungkin ada teman yang bisa mengantarkan. Namun sekarang?

 “Ya sendirian. Enggak apa-apa, Emmy nanti naik becak saja.” Aku berusaha meyakinkan ibuku untuk tidak mengkhawatirkanku. “Kalau diam di rumah saja, enggak sembuh nanti. Emmy udah minum obat, tapi enggak mempan.”

Tidak pernah sakitku seperti ini. Biasanya kalau aku mengalami nyeri haid akan sembuh dengan meminum analgetik yaitu asam mefenamat. Atau setidaknya berbaring saja lalu tak lama juga akan sembuh, tapi kali ini berbeda. Setelah menikah tidak lagi kurasakan nyeri haid, namun kenapa sekarang datang kembali?

Akhirnya ibuku pun membolehkan dengan berat hati. Tidak ada jalan lain. Aku pun beranjak dan mencari becak di dekat rumahku. Karena kesakitan yang hebat, bahkan untuk berdiri saja sulit, aku memutuskan untuk ke dokter kandungan terdekat dengan rumahku. Aku memang belum mengenalnya. Tapi lumayanlah, daripada tidak berobat sama sekali.

“Bu Emmy,” panggil asisten dokter perempuan berhijab itu. Aku berdiri dan memasuki ruangan praktik.

“Kenapa ini, Bu?” tanya dokter kandungan wanita itu kepadaku. Saat itu hanya ada sedikit dokter kandungan wanita yang membuka praktik di Bandar Lampung.

“Ini aku nyeri haid, Dokter. Belum juga pulih, padahal sudah minum obat. Sebelumnya enggak pernah seperti ini,” jelasku, singkat, padat, jelas.

“Oke. Silakan masuk ke dalam,” tangannya mengarahkanku untuk beranjak ke ruangan sebelah.

Aku melangkah dan langsung disambut asistennya di dalam.

“Buka, Bu.”

Aku terpaku sejenak. Masih tidak mengerti maksud asisten itu.

“Celananya dibuka!” ujarnya sekali lagi.

Lambat-lambat aku pun menurut membuka celanaku. Masih bingung, karena setahuku biasanya kalau mau USG yang dibuka perut saja. Apa pengetahuanku yang masih cetek?

“Cepat,Bu. Pasiennya banyak!”

Ya ampun. Ini asistennya apa, sih? Perawat atau bidan? Dia enggak tau kalau aku teman sejawat. Meskipun tidak tahu sekalipun, tetap saja, tidak seharusnya memperlakukan pasien seperti itu. Aku pun menyegerakan gerakanku, kemudian naik ke atas tempat tidur. Asisten tadi meneyelimutiku.

“Ibu ini apa masih gadis ya?”

Waduh, lagi-lagi tuduhan itu, mentang-mentang aku datang sendirian.

“Enggak. Sudah dua tahun menikah,” ujarku sedikit tegas kali ini, “suami saya memang beda kota, Mbak!”

Asisten itu terdiam dan dokter pun datang untuk memeriksaku. Baru kali ini aku merasakan USG Transvaginal. Aku pun meringis nyeri. Tapi kenapa tidak ada penjelasan sebelumnya kalau pemeriksaan USG kali ini dari kemaluan, bukan USG di perut seperti biasanya? Masih heran dengan pelayanan pasien di tempat ini.

Tanpa banyak komentar, usai USG aku diminta memakai kembali celanaku. Kembali kududuk di hadapan dokter.

“Ini saya beri obat, ya. Sudah dua tahun belum punya anak, ya?” tanya dokter kembali.

Aku pun mengangguk. Tak banyak penjelasan yang kudapat. Lagipula aku sudah telanjur badmood karena perlakuan tadi.

“Ini resepnya, bayarnya di depan, ya.”

Aku langsung keluar setelah mengucapkan terima kasih.

“Berapa, Mbak?” tanyaku pada asisten dokter yang sama, yang telah duduk di luar ruangan.

“Tiga ratus ribu, Bu.”

Aku mengeluarkan uang pas lalu beranjak.

“Eh, Bu, Bu, ini kartunya” Dia menyerahkan sebuah kartu kecil bertuliskan namaku. “Nanti kalau berobat lagi, kartunya dibawa, ya!” ujarnya.

Aku menyeringai tanpa sadar. “Enggak bakal, Mbak. Saya balik ke sini lagi. Dokter kenalan saya banyak!” Tenang, aku menyuarakannya hanya di batin saja.

Aku tetap menebus resep yang kudapatkan dan meminum obatnya. Enggak ada pilihan lain. Besok pagi aku sudah harus bekerja, daripada belum sembuh juga sampai besok. Izinku sudah terlalu banyak. Mungkin teman-teman sudah muak karena dari dulu aku seringkali izin tidak masuk bekerja karena sakit.

Namun sudah kuniatkan akan kontrol ke dokter kandungan lagi karena tidak puas dengan pelayanan mereka. Dalam hati aku bercermin, semoga tidak pernah berbuat seperti dalam memperlakukan pasienku. Kali ini aku kembali ke dokter langgananku yang pertama, yang memang sudah mengenalku.

“Ini saya beri resep obat nyeri, ya. Sekalian untuk hormon,” ujar dokter kandungan langgananku yang memeriksaku sore itu.

“Iya, Dok!” Aku mengangguk. Lagi-lagi aku berobat sendirian, tanpa ada yang menemani.

“Mau sekalian untuk kesuburan? Sudah lama kan, belum punya momongan? Saya minta jadwal bulananmu,” ujar dokter membuyarkan lamunanku.

“Haid saya tidak teratur, Dok.” Memang haidku selama ini tidak teratur dan bodohnya aku tidak pernah mencatatnya.

“Kamu enggak punya catatannya?”

Aku menggelengkan kepala.

Dokter menghela napasnya lalu berkata, “ya sudah, kalau begitu. Bulan depan kamu balik lagi ke sini, ya. Pas hari pertama haid, ya!”

Aku mengangguk dan berterimakasih pada penjelasan dokter tersebut.

Bandar Lampung, 12 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.