Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/16/12-tahun-perjalananku-part-12/

Baiklah. Sepertinya memang aku sudah harus berkonsentrasi untuk segera punya momongan. Terlebih seperti yang disampaikan dokter juga, bahwa dengan kehamilan akan membantu menstabilkan kondisi rahimku. Sekalipun memang tak pernah satupun janin singgah di kandungan.

Selain itu, dokter menyarankanku juga untuk menurunkan berat badan. Dengan sistem kerja shift-shiftan selama ini aku makan tidak teratur. Saat shift malam pun, untuk membunuh rasa kantuk sering kumakan cemilan di sela-sela bekerja. Karenanya berat badanku tanpa sadar bertambah.

Bagaimana ini? Tenaga kesehatan namun dengan perilaku tidak sehat. Makanya sampai bolak-balik terkena typhus. Aku menepuk jidat. Kuinfokan hasil pemeriksaan pada suamiku tercinta. Dia meminta maaf karena tidak bisa mengantarku saat kuperlukan. Sudahlah, aku berusaha menegarkan diri dan tidak menunjukkan kesedihan di depannya.

Aku berusaha membagi konsentrasiku antara bekerja dan berusaha untuk hamil. Hmm, mungkin ada baiknya juga mencoba tukang urut yang disarankan temanku. Tapi, sebagai orang kesehatan aku hendak memilih usaha dokter terlebih dahulu. Karena aku lebih percaya orang yang pintar, daripada “orang pinter”.

Hanya saja adakalanya usaha terasa begitu melelahkan dan ingin menyerah saja. Di sisi lain, aku juga masih membantu pengobatan ayahku yang bolak-balik ke rumah sakit. Sebuah hikmah yang terasa setelah pindah ke UGD. Bahwa aku punya banyak kenalan dokter dan petugas lainnya, hingga memudahkanku menolong ayahku, yang akan kuceritakan selanjutnya.

Malam ketika berjaga shift di rumah sakit, aku merasakan tidak enak badan. Aku pun meminum tolak angin sachetan yang kubeli di warung sebelum berangkat kerja tadi. Sudah hal biasa bagiku menjalani shift malam dengan perlengkapan tempur yang maksimal. Baju didobel supaya tidak kedinginan, minyak kayu putih dan tolak angin yang tidak pernah absen di tasku.

“Kenapa, My?” tanya Mbak Susi, partner kerjaku di HCU malam itu.

“Enggak enak badan, Mbak. Gregesan,” jawabku melanjutkan minum tolak angin.

“Eh, kamu enggak test pack?” tanyanya lagi. “Seingatku biasanya kita barengan kan, haidnya? Habis aku, kamu. Kok, ini kamu udah lama enggak haid kayaknya ?”

Aku tertegun sesaat namun langsung kutepis. Teringat saatku menjalani opname di awal 2012 lalu, banyak yang menyaranku untuk periksa urin. Tapi bukannya dua garis biru yang kudapatkan, melainkan hanya kekecewaan.

“Halah, Mbak. Paling negatif lagi. Sudah lagilah. Gue enggak mau di-PHP.” Itu saja yang kusampaikan.

Akhir-akhir ini aku memang sering berpartner dengan Mbak Susi, salah satu perawat di UGD. Makanya akhirnya dia ingat waktu datang bulanku.

Entahlah, aku tak mau terlalu berharap banyak. Yang penting kuikuti saran dokter kandungan yang menganjurkanku kembali kontrol saat datang haid pertama nanti. Ketika itu sudah menjelang Ramadan. Aku masih dipusingkan juga oleh kondisi ayahku yang semakin memburuk.

“Seharusnya dengan terapi yang didapatkan, kondisi ayahmu membaik. Namun tidak kali ini. Dia harus dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut di Jakarta.”

Suatu hari dokter spesialis syaraf mengatakn hal itu. Ayahku sudah berpindah-pindah dokter, dari spesialis tulang (Orthopedi) lalu ke dokter spesialis syaraf. Sakit yang dirasakannya awalnya di tulang, menjadikannya sulit berjalan, sehingga didiagnosa tulang keropos (osteoporosis). Setelah terapi untuk tulangnya malah sakit menjadi syaraf kejepit. Awalnya ayahku masih bisa duduk, namun lama-lama, duduk pun beliau tidak mampu.

Beliau sempat merasakan sekali dirujuk ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut, namun aku tak dapat menemani. Selain jadwal kerjaku, juga tidak diizinkan oleh suami. Kata suami, tahun ini saja aku sudah sering opname, harus lebih memperhatikan diri.

Sebenarnya setelah rujukan yang pertama, ayahku harus menjalani rujukan selanjutnya namun beliau sudah tidak tahan. Pengalaman buruk selama di Jakarta membuatnya pasrah.

“Sudahlah, obati sebisanya di Bandar Lampung saja.”

Aku bertambah sedih mendengar perkataan ayahku. Ya Allah, sebenarnya ayahku kenapa? Dokter juga tak banyak memberikan penjelasan.

Pada pengobatan selanjutnya, kuputuskan untuk mengganti dokter konsulen. Kali ini seorang dokter spesialis syaraf perempuan yang sangat aware terhadap kebutuhan pasien. Apalagi dia mengenaliku sebagai petugas UGD.

“Kamu anaknya?” tanya dokter saat mengajakku ke ruang jaga, terpisah jauh dari kamar pasien. Saat itu lagi-lagi ayahku diopname karena kesakitan yang tak mampu ditahannya. Memang seharusnya kali itu jadwal beliau kembali ke Jakarta, namun ayahku sudah menolaknya.

“Iya, Dok,” sahutku.

“Kamu paham penyakit apa yang diderita ayahmu?”

Aku menghela napas. Dari yang sebelumnya ayahku tak pernah minta ditemani, lalu saat kutemani, bertemu dokter yang lebih banyak diam. Akhirnya harus kuakui aku tak terlalu paham mengenai sakit yang diderita ayahku.

“Kalau boleh, saya minta penjelasan, Dok.”

Dokter mengambil sebuah kertas dan pena. Beliau menjelaskan dengan detil mengenai ayahku. “Jadi, ini yang menyebabkan sakit di area pinggang beliau. Ini yang dinamakan syaraf kejepit,” ujarnya sambil terus menorehkan pena di atas kerta, menggambarkan sebuah bentuk pinggul.

“Makanya kemarin ayahmu dirujuk ke Jakarta, itu untuk pemeriksaan lebih lanjut yang alatnya belum ada di sini. Namanya MRI. Nanti ayahmu akan masuk ke dalam sebuah tabung, supaya bisa mengetahui diagnosa sebenarnya yang diderita beliau.”

MRI (Magnetic Resonance Imaging) adalah pemeriksaan dengan teknik pengambilan gambar detail organ dari berbagai sudut yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio. Ketika itu pemeriksaan MRI belum tersedia di rumah sakit tempatku bekerja. Berbeda dengan sekarang apalagi sudah mencapai akreditasi A, semakin lengkap peralatan, termasuk dokter spesialis yang tersedia.

“Jadi dirujuk itu hanya untuk pemeriksaan, Dok?” tanyaku.

“Iya, Em. Supaya lebih menegaskan kembali sakit beliau. Bila memang memungkinkan baru kemudian lanjut terapi di Jakarta. Karena kecurigaan sakit ayahmu sudah menuju ke sana.”

Aku terdiam dan mengerutkan dahi berusaha mencerna perkataan dokter cantik ini.

“Sakit ayahmu kalau dilihat dari hasil radiologi, sudah menunjukkan metastase hingga ke syaraf dan tulang belakang. Kamu tahu kan, sakit apa yang menyebabkan metastase? Ayahmu positif kanker, Em.”

Berita ini bagaikan petir di siang bolong. Sebenarnya aku pribadi sudah ada kecurigaan ke sana, namun dari dokter sebelumnya tidak mendetil dalam memberikan penjelasan. Menurutnya justru karena aku tenaga kesehatan, diharapkan untuk sudah tahu tentang penyakit. Padahal kan, bidan tidak terlalu detil mendalami ini. Hiks.

“Kamu tahu apa akibatnya dari penyakit kanker yang sudah metastase? Kecil kemungkinan ayahmu bisa kembali pulih seperti sedia kala. Yang bisa kita lakukan hanya meringankan gejalanya. Nanti saya minta kolaborasi dengan dokter spesialis onkologi juga.”

Masih merasa syok, akhirnya aku berterimakasih pada penjelasan dokter. Sekembalinya aku di kamar tempat menginap ayahku, aku sudah menemukan sampel darah untuk diantarkan ke bank darah. Ayahku memerlukan transfusi darah karena anemianya.

Ada sisi hikmah yang kutemukan saat mengurus pengobatan ayahku di sini. Bahwa aku bersyukur telah dimutasi ke UGD, dengan demikian aku banyak mengenal dokter dan mudah mendapatkan kamar untuk perawatan inap ayahku. Ayahku bisa dengan mudah mendapatkan kamar VIP. Perawat di sana tidak perlu panjang lebar menjelaskan mengenai biaya tambahan, karena sebagai orang dalem, aku sudah paham. Dengan bantuan teman-teman di tempat kerjaku-lah, aku bisa berusaha maksimal menolong ayahku. Sebuah pembaktian yang jujur saja, seumur hidup tak pernah kulakukan untuk beliau, karena renggangnya hubungan orang tua-anak di antara kami.

Bandar Lampung, 13 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.