Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/16/12-tahun-perjalananku-part-13/

Tidak hanya kemudahan saat pengobatan ayahku di ruangan VIP, aku juga merasa terbantu saat harus memeriksakan ayahkku ke dokter onkologi. Saat itu rawat inap beliau sudah berakhir, seiring anemianya yang pulih. Aku harus segera memeriksakan ayahku ke dokter onkologi. Meski tanpa pemeriksaan MRI, kata dokter spesialis syaraf, gejala yang ada sudah cukup untuk ayahku dinyatakan sakit kanker. Berlandaskan dari rontgen dan CT scan lumbar (panggul).

Aku ingat, karena bantuan dari perawat senior UGD, akhirnya aku dikenalkan dengan perawat yang menjadi asisten dokter onkologi. Saat itu di Bandar Lampung baru ada satu dokter spesialis onkologi. Terbayang betapa padatnya jadwal beliau. Pemeriksaan di poliklinik saja dibatasi hanya dua hari setiap minggunya.

Namun berkat bantuan asisten dokter tersebut aku mendapatkan kemudahan, bahkan ayahku bisa diperiksa beliau tanpa turun dari mobil. Kondisi ayah yang tidak bisa lagi duduk di kursi roda menjadikannya hanya mampu terbaring. Aku sudah menanyakan apa harus meminjam brankar ke ruang dokter, namun asisten tersebut mengatakan tidak perlu.

Tak cukup sampai di situ, bahkan pemeriksaan ayahku pun digratiskan oleh dokternya. Masya Allah. Semoga bertambahlah rezeki dokter tersebut, beserta semua pihak yang telah membantuku.

Akhirnya ayahku harus menjalani kemoterapi, kembali diopname di kamar VIP rumah sakit tempatku berada. Selama menjalani opname aku masih terus melanjutkan bekerja di UGD. Jika aku menjalani shift pagi, maka selesai bekerja aku langsung menuju ruang VIP tempat ayahku berada. Aku mandi dan menyiapkan baju ganti di sana. Aku ikut menginap bersama ibuku, menunggui ayahku opname. Pun setelah tiba bulan Ramadan, bersama sebuah berita mengejutkan lainnya.

Saat itu, selain ayahku yang tak diduga didiagnosa kanker juga ada berita dari keluarga suami, bahwa adik iparku akan melangsungkan pernikahan setelah lebaran nanti. Lamarannya sudah dari berbulan-bulan lalu, sebelum ayahku sakit-sakitan. Saat itu, aku berkunjung dengan senyum dipaksakan, menahan perihnya hati dengan pertanyaan “Kamu belum ‘isi’ juga? Positif, bakal kebalap adikmu yang bentar lagi married.

Bagaimana dengan hidupku setelah menolak pemeriksaan test pack yang disarankan Mbak Susi tempo hari?

Jadi, dua minggu setelah shift malam lalu, kondisiku belum juga membaik. Kali ini memang aku memutuskan untuk tidak berobat ke dokter karena aku sudah jenuh. Toh, dokter kandungan juga sebelumnya menyarankan untukku kembali kalau sudah datang haid, namun belum juga tamu bulananku muncul.

Lama kelamaan aku mulai merasa mual-mual. “Hmm, kenapa aku jadi begini ya?” pikirku dalam hati. “Apa mungkin aku hamil?”

Bimbang akhirnya aku memutuskan untuk memeriksa urinku. Aku beli test pack di apotek dekat rumah, tanpa terlalu berharap, aku menguji urin pertamaku setelah bangun pagi keesokan harinya. Dua garis kemerahan yang muncul, namun yang satu terlihat samar. Aku tak mempercayai penglihatanku.

Aku mengulangi pemeriksaan sampai ketiga kalinya, dengan hasil yang tetap sama. Benarkah ini terjadi? Bukan sekadar sebuah lelucon?

Baiklah, aku memutuskan untuk ke dokter kandungan untuk lebih meyakinkan. Tak ingin terburu-buru, aku menunggu supaya suamiku dapat menemani.

“Selamat, My, kamu positif hamil. Sudah terbentuk kantung kehamilan, usianya 8 minggu.”

Rasanya tak percaya mendengar penjelasan dokter. Seiring dengan banyaknya ujian yang kualami tahun ini, berita ini bagaikan oase di tengah gurun sahara.

Padahal dokter sudah memintaku kembali setelah haid kembali, untuk dilakukan terapi kesuburan, namun aku justru kembali pada saat sudah berbadan dua. Masya Allah.

Ramadan itu kujalani dengan dua sisi perasaan berbeda. Satu bahagia karena kehamilanku, satu bersedih karena harus menyaksikan proses kemoterapi ayahku. Satu lega karena akhirnya aku bisa mendapatkan hasil test pack positif setelah lebih dari dua tahun menanti, satu sisi sedih karena aku tak bisa menjalankan ibadah puasa.

Awalnya aku masih memaksakan diri untuk berpuasa, sampai akhirnya berat badanku malah turun dan dokter kandungan memarahiku.

“Jaga baik-baik kandunganmu. Tidak usah memaksakan diri berpuasa. Ini saya berikan penguat,” perintah dokter pada kunjunganku berikutnya sehingga aku memutuskan untuk menurutinya. Suami juga sempat protes kenapa aku memaksakan diri untuk berpuasa. Padahal dia tahu kondisiku yang sakit-sakitan.

Pada pertengahan Ramadan akhirnya suami memintaku untuk tinggal di rumah mertua.

“Supaya ada yang menjagamu sekalian mengantar-jemputmu saat bekerja.”

Memang ini yang menjadi pikiranku setelah dinyatakan hamil. Apa tidak apa-apa meminta teman mengantar jemputku dengan kondisi ini? Mereka juga akan khawatir membonceng ibu hamil, kan. Enggak mau ketempuhan. Tapi bukankah di rumahku, ayah masih membutuhkan bantuanku? Aku harus bagaimana?

Akhirnya aku mengambil jalan tengah, kadang menginap di rumah orang tua, kadang di rumah mertua. Sebagian bajuku kini ada di rumah mertua, sebagian lagi masih kutinggalkan di rumah, termasuk juga pakaian suami.

Dua kali ayahku opname selama bulan Ramadan, bahkan kami nyaris saja merayakan idul fitri di RS. Untung saja, dokter membolehkan ayahku pulang, sehari sebelum lebaran. Setelah idul fitri aku harus bersiap acara besar di rumah mertua, yaitu pernikahan adik dari suami. Hal ini juga yang menjadi pertimbangan ayahku akhirnya membolehkanku menginap di rumah mertua. Bagaimanapun aku juga punya tanggungjawab di sana.

***

Aku beristirahat sejenak usai memuntahkan isi makananku. Kuambil permen jahe dan mengemutnya untuk meredakan gejolak asam lambungku. Tidak ada orang yang memerhatikan di rumah mertuaku saat ini karena begitu banyak saudara berkunjung namun dengan kesibukannya masing-masing. Esok adik iparku akan melangsungkan pernikahannya. Aku dan suami menginap sementara di sini. Ayahku sudah sedikit baikan meski masih di pembaringan, dirawat oleh ibuku.

“Emmy! Kenapa? Abis muntah ya?” tanya adik dari ibu mertuaku.

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Selamat ya, My! Akhirnya ‘ngisi’ juga!”

Aku menyambut uluran tangan tanteku. “Makasih ya, Tante.”

“Udah berapa bulan?”

“Delapan minggu, Tante.”

Alhamdulillah, aku merasa Allah menyelamatkanku dari rasa malu saat harus berhadapan dengan keluarga besar suami di acara pernikahan adik iparku. Momen lebaran yang biasanya begitu menakutkan dengan pertanyaan, “kapan hamil?” kali itu bisa kulalui dengan baik.

Hidup memang seperti itu, kan. Tak lepas dari pertanyaan, “kapan nikah?” “kapan hamil?”, sampai “kapan nambah momongan?” Kadang-kadang pertanyaan yang tak sadar dilontarkan lalu menyinggung perasaan orang lain. Makanya ada peribahasa, “diam itu emas.” Mulut kita tercipta satu dengan dua telinga, tapi kebanyakan orang lebih suka didengarkan daripada mendengarkan.

Aku sendiri juga seringkali khilaf. Meski lebih banyak diam karena merasa tak nyaman, termasuk dengan diri sendiri. Well, dengan adanya kehamilan dan perhatian lebih ini aku merasa lebih dilihat dan dianggap.

Tak hanya itu yang membuatmu berlega hati, namun juga karena prasangka bahwa adik iparku akan membalapku juga sudah tergeser. Hanya saja dalam hatiku berdoa, semoga ayahku bisa bertahan lebih lama sampai kelahiran cucu dariku.

Bandar Lampung, 14 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.