Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/16/12-tahun-perjalananku-part-14/

Dua bulan berlalu setelah pernikahan adik iparku, tiba saatnya ayahku menjalani kemoterapi yang kedua. Terapi yang selama ini tertunda karena beliau terus menerus anemia sepanjang perawatan. Hingga berkantung-kantung transfusi darah yang sudah diterimanya. Aku pun tak mungkin bisa mendonorkan darahku dalam kondisi hamil begini, meski golongan darah kami sama. Tepatnya kami sekeluarga mempunyai golongan darah yang sama. Namun tidak ada satupun dari kami bisa membantu mendonorkan darah karena kondisi.

Sama sepertiku, kakak-kakakku juga sering sekali hipotensi. Bahkan ada salah satu kakak perempuanku yang selalu mengalami nyeri haid hebat setiap bulannya, sampai-sampai pernah menerima transfusi darah. Meski tetap, akulah yang paling sering opname di antara lima bersaudara ini. Aku sebagai anak paling terakhir.

Selain itu, ayahku juga harus dikonsultasikan ke dokter urologi. Sama seperti dokter onkologi, dokter urologi merupakan satu-satunya di kotaku. Lagi-lagi aku bersyukur karena tugasku di UGD, memudahkanku mendapat perhatian dari dokter urologi. Sampai-sampai kepala ruanganku ikut membantu, “Dok, tolong dulu tengoklah bapaknya Emmy. Sudah lama perawat VIP menghubungi, Dokternya tidak datang-datang juga.”

Satu hal yang kuherankan adalah perbedaan pendapat antara dokter urologi dan dokter onkologi. Dokter onkologi sudah menduga bahwa ayahku terkena kanker prostat, itu yang menyebabkan semua penyakit beliau, mulai dari syaraf kejepit sampai tulang keroposnya.

Sementara itu, dokter urologi mempunyai pendapat yang berbeda. Hasil pemeriksaan menurutnya tidak menunjukkan kanker prostat.

Akhirnya dokter menorehkan sebuah diagnosa pada lembar resume ayahku: Unknown Cancer.

Bisa jadi hal ini dikarenakan ayahku tidak sempat dilakukan pemeriksaan MRI sebelumnya. Apapun itu, kondisi sakitnya sudah parah dan telanjur menyebar ke seluruh tubuhnya.

“Mbak Emmy, bapak harus dipindah ke ICU,” kata seorang perawat di ruang VIP, meneruskan perintah dari dokter.

Semua terasa berjalan begitu cepat. Pada saat seharusnya ayahku diopname untuk kemoterapi kedua, setelah beberapa kantung darah transfusi, beliau mengalami penurunan kesadaran.

Sayang sekali ruang ICU saat itu masih penuh. Aku bahkan mendatangi langsung dan menemui perawat di sana.

“Bagaimana kalau bapakmu dirawat di HCU saja? Daripada dibiarkan di ruang VIP.”

Saran yang sama diberikan oleh kepala ruangan UGD waktu kuceritakan perkembangan ayahku.

Akhrinya, di sinilah aku, berada di tempat kerjaku sendiri. Tapi keberadaanku sebagai keluarga pasien sekarang. Aku membantu kakak-kakak perawat yang memasangkan beberapa alat pada tubuh bapakku yang sudah tidak sadarkan diri. Berkat keahlian mereka, bapakku bisa dipasangkan alat NGT (nasogastric tube), yang sebelumnya sudah pernah dicoba pasang oleh perawat VIP, namun gagal.

Aku yang saat itu ditugaskan di UGD, akhirnya diminta kepala ruangan kembali berjaga di ruang HCU. Katanya supaya aku bisa bekerja sambil mengawasi ayahku sendiri.

Hari ketiga ayahku diopname di HCU, kesadarannya belum juga membaik. Kebetulan saat itu aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah mertuaku, untuk menginap di HCU meski tidak sedang shift malam. Lagipula aku juga tidur sendirian, dengan suamiku masih berada di kabupaten. Adik iparku yang tadinya menemaniku, sudah menikah dan pindah diboyong suaminya.

Kuminta ibuku untuk pulang dan beristirahat. Waktu itu ada kakak laki-laki dan ipar yang menemani. Karena kamar di HCU tidak terlalu besar, aku memilih beristirahat di kamar yang lain, setelah menitipkan pada temanku yang sedang berjaga.

Malamnya, seorang teman membangunkanku yang jatuh tertidur. “Em, bapakmu ….”

Langsung kubergegas menuju kamar tempat ayahku berada. Kakak dan iparku sudah tidak ada di sana, hanya tertinggal saudara dari ibuku yang menunggui.

“Emmy, tolong hubungi ibumu cepat. Astaghfirullah. Saya mana tahu akan begini jadinya. Saya hanya berniat untuk menjenguk, saya pikir sakit biasa.” Saudara dari ibuku memang tinggal di kabupaten lain dan belum tahu diagnosa ayahku. Baru kali itu beliau akhirnya berkesempatan datang menjenguk.

Aku terpaku saat melihat pemandangan yang biasa kusaksikan selama bekerja. Perawat yang sedang berusaha menyelamatkan pasien didampingi seorang dokter jaga. Bedanya, kali ini, pasiennya adalah ayahku sendiri. Aku hanya bisa terpaku dengan air mata mengaliri pipiku.

“Emmy …. Maaf. Yang sabar, ya.”

Aku memejamkan mata menahan tangis. Ayahku tlah menghembuskan napas terakhirnya. Ikhlaskan, Em. Ikhlaskan kepergian ayahmu untuk selamanya. Kuraih ponsel dan mencari nomor kontak ayukku. Kukatakan dengan suara bergetar setelah suara kakak perempuanku itu terdengar di seberang, “Yuk, ayah … Ayah sudah enggak ada.”

Usai menelepon kakak perempuanku aku kembali mencari daftar kontak yang lain. Kali itu kuhubungi suamiku untuk memberitahukannya. Baru kemudian aku memberitahukan mertuaku.

Tanggal 19 September 2012, tepat jam 4 dini hari, adalah hari di mana aku kehilangan ayahku untuk selama-lamanya. Seorang bapak yang menginginkanku menjadi bidan. Berkat perjalanan hidup ini, aku bisa berbakti pada bapak di hari-hari terakhirnya. Meski akhirnya beliau tak sampai usia untuk melihat cucu dariku.

Wajahnya yang tenang saat menghembuskan napas terakhir, diiringi lantunan suara tilawah, menjelang Subuh, dari masjid yang terdengar jelas. Mertuaku dengan lekas datang untuk menemaniku.

“Kamu yang kuat, Em. Jangan nangis. Kasian bayimu,” ujar salah seorang kakak bidan yang bertugas di UGD.

Kuhapus air mata yang mengalir. Aku berusaha untuk menegarkan diri menghadapi ujian ini. Aku menaiki mobil jenazah, duduk di samping bapak supir ditemani oleh ibu mertuaku yang terus memegang tanganku.

Di belakang jenazah ayah ditemani oleh kakakku yang dengan lekas sudah tiba. Ternyata kakak dan iparku baru saja pulang sesaat sebelum hembusan napas terakhir ayahku. Hanya sekejap, sepertinya almarhum ayah sengaja tidak ingin ada anak kandungnya yang menyaksikan. Hanya aku, itupun terbaring di lain kamar.

Kakakku menyampaikan agar aku tidak ada penyesalan. Semua sudah menjadi takdir-Nya. Aku kembali ke rumah orang tuaku bersama suami. Kami berdua sama-sama izin untuk tidak bekerja selama masa berduka. Banyak rekan kerja mengunjungi rumahku, termasuk teman-teman dari ruang kebidanan.

“Yang sabar, ya. Ingat bayimu.” Nasihat yang terus menerus kuterima dari semua yang datang. Inilah takdirku, inilah ketentuan Illahi. Seperti ada hikmah yang tersimpan di balik mutasiku ke UGD, pasti juga ada hikmah di balik ini. Mungkin sudah jalannya, aku harus kehilangan sesuatu di saat mendapatkan sesuatu. Aku harus kehilangan ayahku, di saat akhirnya mendapatkan bayi pertamaku.

***

Tak lama setelah kepergian ayahku terakhir kali, ibu mengingatkanku untuk tetap mengadakan acara empat bulanan.

“Tapi, jangan di sini, Em. Kembalilah ke rumah mertuamu.”

Aku memahami hal itu. Setidaknya di rumahku masih banyak saudara ibuku dari kabupaten yang menginap. Selain itu sebenarnya ada kakakku sekeluarga yang tinggal di rumah satunya. Ada dua rumah milik orang tuaku, berhadapan satu sama lain.

Akhirnya terwujud juga keinginan mengadakan empat bulanan secara sederhana, di musala tak jauh dari rumah mertua. Aku sudah kembali di sana.

Beberapa hari setelah empat bulanan itu aku mengalami mual muntah hebat yang mengharuskanku kembali diopname. Kali itu, di ruang kerjaku sebelumnya, ruang kebidanan.

Teman-temanku di kebidanan banyak yang mengucapkan selamat atas kehamilanku. Kali itu aku tidak ditemani suami yang sudah terlalu banyak izin tidak bekerja. Hanya ibuku yang menemani.

Beliau berkata, “untung saja kamu tidak menginap di ruangan ayahmu dulu.”

Aku tertegun.

Ah, sepertinya sudah lama aku tak bercerita tentang pengalamanku di dunia kerja, dan hanya terpusat pada cerita tentang diriku sendiri. Semoga pembaca tidak bosan, hehe.

Bandar Lampung, 15 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

3 Comments

  1. Sama sekali gak bosan mba Em… Banyak orang ingin tahu lho bagaimana dunia medis sesungguhnya itu. Aku pun kemarin sempat nulis naskah ttg jurusan kedokteran dan masih di penerbit. Mohon doanya ya semoga dimudahkan penerbitannya.

    Oya turut berduka ya mba Em atas kepergian ayahnya. Insya Allah husnul Khotimah. Al fatihah untuk beliau.

    1. Justru karena kali ini saya bukan cerita ttg dunia kerja, tapi lebih ke kehidupan pribadi.

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.