Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/16/12-tahun-perjalananku-part-15/

“Emmy sekarang, kok, tambah cerewet, ya?”

Aku terdiam mendengar komentar dari temanku. Wait, what? (Brasa Anna di film Frozen, hehe)

Mungkin ada benarnya yang disampaikan temanku. Sejak kehamilan ini aku menjadi semakin bunyi, alias cerewet. Maklum saja, sebagai introvert aku memang lebih nyaman berada dalam kesendirian. Ke mana-mana sendiri, sampai nonton di bioskop aja, berani-beraninya sendirian. Haha. (Masih ingat, enggak, ceritanya?)

Nah, saking pendiamnya aku, dan ke mana-mana sendirian itulah, bahkan aku pernah dibilang apatis. Untung bukan autis. Diamnya aku sering disalahartikan teman. Sampai-sampai aku tak pernah berani untuk menanyakan, “why they don’t like me?” dan cuma bisa pasrah menerima segala bentuk perlakuan orang padaku. Dari mulai pasrah bila tidak ada yang mau membantu tugasku, saat tahu teman-teman membicarakan perihal buruk di belakangku, pernah juga mengalami pelecehan di tempat kerja, dari mulai bentuk verbal sampai perbuatan, hingga dimutasi tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Perjalanan hidupku yang menjadikan diriku bagai seorang pengecut yang sekalinya mengungkapkan maksud hati justru dengan cara yang salah akibat penumpukan emosi, ujungnya menjadi bumerang bagi diri sendiri. Ujungnya karena kesal aku jadi sering praktik self injury. Satu hal yang tidak kubiarkan seorang pun tahu, termasuk orang-orang terdekatku.

Aku bersyukur, dengan kehamilan ini, aku bisa menghentikan tindakan berbahaya itu. Kemudian setelah melalui fase kesedihan akibat sepeninggal almarhum ayah, akhirnya aku bisa bertindak seperti biasa di hadapan teman-teman. Bahkan … tampil lebih cerewet.

“Anakmu perempuan, ya?”

Bukan sekali dua kali, aku mendengar pertanyaan itu. Di saat aku belum tahu jenis kelamin anakku, teman-temanku sendiri sudah bisa memastikannya. Biasanya kujawab saja dengan senyuman.

Hari-hari kehamilanku selanjutnya kujalani bukan tanpa hambatan. Tantangan pekerjaan harus terus kujalani. Termasuk mengurus perawatan jenazah. Kalau kata orang, ibu hamil enggak boleh dekat orang meninggal, nantinya bayinya sawan, atau malah “keikut”, lha, bagaimana bisa aku menghindari apa yang sudah menjadi tugasku?

Teman-teman sebenarnya sudah sangat membantu. Mereka sigap menggantikan tugas dan membiarkanku stay di kursi dan mengurusi bagian administrasi saja. Oleh kepala ruangan pun aku ditempatkan di HCU, biar lebih bisa sedikit bersantai dibandingkan UGD yang untuk meluangkan waktu duduk sejenak saja sulit. Tak hanya itu, aku juga diberi kemudahan untuk menjalani shift pagi terus-menerus. Walau tetap berfungsi sebagai cadangan yang akan menggantikan bila shift sore dan malam kekurangan tenaga. Kurasa itu sudah cukup membantu.

Namun, adakalanya tetap saja tak bisa menghindari. Di saat pasien UGD membludak, lalu teman sedinesanku di HCU harus ikut membantu di UGD, maka tinggallah aku sendiri melayani pasien-pasien kritis di sini. Seperti pengalamanku berikut ini:

“Sudah siap?”

“Iya,” jawabku singkat kepada suamiku sambil pelan-pelan mengambil posisi di belakangnya.

“Pegangan yang kuat, pakai jaketmu rapat-rapat.”

Aku tahu suamiku mengkhawatirkan kondisiku. Harus bekerja shift malam di usia kehamilan semakin membesar. Kira-kira baru memasuki 8 bulan, kalau ibu hamil bekerja lainnya mungkin sudah memikirkan cuti bekerja. Nah, jangankan mengurus cuti, bahkan untuk menggantikan temanku yang sedang cuti tahunan, terpaksa aku yang menggantikan.

Tak lama tiba juga di depan pintu UGD rumah sakit tempatku bekerja.

“Kamu pulanglah,” pintaku pada suami. Pernah ada beberapa kali suami menemani saat aku bertugas shift malam, karena beliau mengkhawatirkan kondisi istrinya. Tapi aku tak ingin hal ini menjadi komplain lagi bagi teman-teman.

“Tapi janji, ya, kamu usahakan tidur.”

“Iya, tenang saja.” Yang penting aku berjanji dulu, entah nanti bisa istirahat atau tidak tergantung situasi dan kondisi di tempat bekerja.

Dalam hati sebenarnya aku merasa iba, sudah jarang bertemu dengan suami, giliran dia ada di rumah, malah aku yang meninggalkannya.

Suara kembang api masih riuh mewarnai langit malam ketika aku berjalan memasuki UGD, lalu langsung menuju HCU, tempatku bekerja.

Jantungku berdetak lebih cepat saat melihat suasana di UGD. Pasien memenuhi ruangan, seperti suasana yang seringkali kami temui setiap malam tahun baru.

Iya, esok sudah saatnya meninggalkan tahun 2012. Dunia akan menyambut tahun 2013. Alasan yang sama kenapa suamiku bisa mengantarku bekerja, karena memang beliau sudah menjalani libur pergantian tahun.

“Em, aku pamit mau bantu UGD, ya,” pamit rekan kerjaku di HCU setelah dua jam kami menyelesaikan pekerjaan kami di sini. Sebagian besar pasien sudah beristirahat. Obat injeksi sudah kumasukkan, tinggal menunggu jadwal pemberian selanjutnya. Bisa dibilang situasi di HCU saat ini cukup aman. Aku mengiyakan saja temanku yang hendak ke UGD. Kasian di sana pasti membutuhkan tenaga.

Ah, kenapa juga sih, orang-orang itu suka sekali merayakan pergantian tahun yang notabene tak ada bedanya dengan hari-hari biasanya. Akibatnya? Banyak terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan, ujungnya lari ke tempat kami.

Aku hanya bicara fakta. Pasien biasa membludak ketika pergantian tahun, juga setiap menjelang lebaran.

Suara aiphone berbunyi mengejutkanku.

“Em, ada PB nanti, tolong siapkan kamar 2, ya,” suara temanku di seberang saat kumengangkat aiphone.

Aku mengambil kunci dan membuka kamar 2. Kuperiksa kelengkapan kamar ini dengan menahan degup jantung yang semakin kencang tiap kali melihat tempat terakhir ayahku menghembuskan napas. Sudahlah, Em, ayahmu sudah tenang sekarang. Pasti beliau tidak lagi merasakan kesakitan. Aku menghela napas.

Tak lama, pekarya mendorong brankar dan membantu perpindahan pasien menuju bed di kamar 2. Astagfirullah. Kali ini pasien adalah anak-anak berusia sekitar 10 tahun, dalam kondisi tidak sadarkan diri. Diagnosanya adalah meningitis. Kupasangkan sungkup oksigen dengan ukuran yang sesuai. Kuatur pula tetesan infus yang terpasang.

Sepertinya belum waktunya aku untuk beristirahat.

Benar saja, tak lama keluarga pasien di ruangan lainnya sudah memanggil, aku bergegas menuju tempat itu.

Sepanjang malam aku hanya bergeser dari kamar 2 ke kamar 6, begitu seterusnya. Kedua pasien itu yang membutuhkan perhatian lebih dariku. Temanku hanya sekali kembali ke ruang HCU, untuk memberikan beberapa penjelasan tentang pasien kamar 2.

“Maaf, ya, Em, pasien UGD rame banget. Tadi saja ada partus.”

“Ada partus di UGD?”

“Iya, belum turun dari mobil, bayinya udah lahir.”

Aku sering menemui kejadian persalinan yang tak sempat dibawa ke ruang Kebidanan, akibatnya terpaksa ditolong di UGD. Termasuk juga pasien yang telanjur lahiran di mobil, belum sempat sampai di pintu UGD.

“Kamu enggak apa-apa kutinggal lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Apa boleh buat. Ada kalanya teman-temanku yang biasanya membantu meringankan tugasku yang sedang hamil besar, namun mereka terkendala pekerjaan yang tiada habisnya.

“Sus, tolongin, Sus.” Rasanya tak lama sejak kepergian temanku ke UGD, pasien di kamar 2 sudah menunjukkan kondisi gawat. Kutolong sebisaku lalu bergegas menuju aiphone, “Dok, tolong ke HCU, pasienku apnoe,” sahutku nyaris berteriak di aiphone.

Ibu si pasien sudah meraung sejadi-jadinya melihat kondisi buah hatinya yang sudah mulai membiru. Untung saja tak lama, dokter UGD datang dan mendampingiku dalam usaha menyelamatkan pasien.

“Sus, tolong, Sus.” Padahal belum juga aku selesai menangani pasien di kamar 2, pasien di kamar 6 sudah memanggilku.

“Iya, Pak, nanti kami ke sana,” ujar dokter sambil terus melanjutkan pemberian RJP pada pasien anak-anak itu. Apa boleh buat. Aku pun mengikuti perintah dokter menyelesaikan tugasku di sini dulu.

“Maaf, Bu. Anaknya sudah enggak ada,” ujar sang dokter menutup usaha kami yang tidak membuahkan hasil.

Dokter sempat memberikan isyarat kepadaku bahwa dia akan memanggil petugas lain yang dapat membantuku di sini. Tak lama datanglah mahasiswa praktik yang langsung kuminta untuk merapikan pasien yang sudah menjadi jenazah.

“Ayo, kita tengok pasien satunya,” ajak sang dokter.

Benar saja, kondisi pasien di kamar 6 pun sudah apnoe. Maka kami lanjutkan usaha penyelamatan terakhir pada pasien tersebut sembari menjelaskan kepada keluarganya. Berbeda dengan keluarga pasien di kamar 2 tadi, keluarga pasien di sini tampaknya sudah lebih siap menerima kenyataan. Mungkin karena pasien di kamar 6 ini seorang bapak lansia yang sudah berkali-kali terkena serangan stroke.

Aku yang tak bisa berjalan cepat tak dipaksa keluarga pasien untuk bergegas. Malah kusempat melihat kilatan mata penuh kasihan saat mereka melihatku.

Saat kuregangkan kain kasa untuk mengikat jenazah, sesuai pedoman perawatan jenazah yang kupelajari, batinku berkata, “enggak apa-apa ya, Nak. Ibumu izin menyelesaikan tugas, ya. Ibu di sini untuk bekerja. Kamu kuat. Kita berdua kuat.”

Biasanya tak lama bayiku akan bergerak pelan di dalam perut setelah kuucapkan kalimat penguat batinku. Anakku memang sudah penuh pengertian sejak di dalam kandungan. Masya Allah.

Pun ketika aku melihat sekitar dan menyadari ternyata seluruh keluarga di kamar 6 telah pergi ke luar ruangan. Lho, dari tadi, hanya ada aku dan jenazah di sini?

Untung saja, tidak terjadi cerita bangkit kembali. Astagfirullah. Haha.

Bandar Lampung, 16 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.