Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/20/12-tahun-perjalananku-part-16/

“Emmy, masak nasi sekarang, udah mau siang.”

Duh, pernahkah kusampaikan bahwa aku tak bisa memasak? Bergegas kumembawa tubuhku menuju pantry. Magic com ruangan kami memang berada di sana. Sementara kehamilanku sudah membesar dengan kedua kaki membengkak, aku memaksa tubuh untuk bergerak.

Gamis cokelatku khas seragam ASN melambai ketika kubergegas. Yup. Akhirnya aku punya kesempatan juga mengenakan seragam cokelat ini. Setelah bertahun-tahun banyak yang tidak mengira bahwa aku bagian dari staf pemerintah, karena hampir tidak pernah mengenakan seragam, bahkan bekerja shift-shiftan.

Haha, yang masyarakat tahu tentang PNS (yang sekarang lebih dikenal sebagai ASN) itu kan sesuai kepanjangannya; PNS: Pagi Nunggu Sore. Udah gitu, selama kerja, kebanyakan duduk, buka komputer bukannya ngetik laporan malah maen fesbuk, trus sambil berghibah, kadang diselang makan siang bersama di luar.

Ya, itu PNS mana dulu? Kami pekerja rumah sakit, mana ada yang begitu. Apalagi mereka yang di bagian pelayanan pasien.

“Emmy, kamu udah urus surat pembebasan fungsional?’ tanya bu Septi, seorang pejabat eselon 4 di ruangan ini.

“Sudah, Bu.” Aku menjawab singkat. Lalu kembali aku menunaikan tugasku beralih ke pantry, demi memasak nasi.

Apakah ada yang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi?

Jadi, dinas malam yang kujalani pada malam tahun baru yang waktu itu kami merawat dua pasien meninggal, berbarengan ada dua lahiran di UGD, merupakan dinas malamku yang terakhir.

Tak lama dari situ, sebuah SK mutasi kembali dialamatkan kepadaku. Namun sedikit berbeda. Karena kepindahan kali ini, aku yang menginginkannya.

“Tapi kamu siap dengan resiko yang harus kamu jalani? Bahwa insentif dan tunjanganmu akan dicabut?”

Sudah lama aku memikirkannya, dan sudah yakin akan jawabannya. Aku memutuskan untuk melepas jabatanku sebagai bidan, bukan tanpa alasan. Pekerjaan ini sangat mulia, menyelematkan nyawa orang seperti menyelamatkan satu kehidupan lagi di dunia, membangkitkan harapan pada manusia.

Namun, sedari dulu aku sudah merasa, tempatku bukan di sini. Saat aku diminta bantuan untuk menyelesaikan bagian administrasi pasien, aku sudah merasa, tempatku adalah di balik layar.

Adalah keinginan almarhum ayahku untuk menjadikanku seorang bidan, seorang bagian dari tenaga kesehatan, meskipun secara fisikku tak mampu menyamai kinerja teman-teman sejawat. Aku yang sakit-sakitan dan sering opname ini tidak mampu bekerja dengan maksimal. Yang ada malah selalu saja menuai protes dari teman-teman satu shift-an.

Makanya, setelah bertahun-tahun diam dan tidak dimengerti orang lain, sudah saatnya aku bertindak. Aku harus mengatakan sebenarnya, meski berkas resume medisku yang tebal melebihi ketebalan resume medis pasien-pasienku, sudah berbicara jelas.

Akhirnya SK mutasi memindahkanku ke bagian keperawatan, salah satu ruang di gedung administrasi, bagian yang bertanggungjawab ke seluruh ruangan perawatan di rumah sakit ini. Bagian yang bertanggungjawab terhadap kinerja seluruh tenaga kesehatan, khususnya perawat dan bidan.

Di gedung administrasi berarti bekerja selayaknya PNS dong, Pagi Nunggu Sore? Oh, ternyata sama sekali tidak. Bayangkan satu ruangan dengan sedikit orang, bertanggungjawab ke seluruh ruangan pelayanan pasien di rumah sakit ini.

Sebagai contoh, setiap hari libur tiba, kami harus meminta jadwal jaga seluruh tenaga kesehatan. Bisa juga melakukan sidak sekali-kali, yang dilakukan langsung oleh pejabat eselon. Kurangnya peralatan, termasuk brankar dan alkes lainnya, juga merupakan tanggungjawab kami. Ada komplain dari pasien mengenai salah seorang perawat, laporannya harus masuk ke keperawatan.

Padahal rutinitas lainnya sudah begitu menyibukkan. Seperti laporan jumlah pasien per harinya, laporan jumlah dan diagnosa pasien per minggunya, laporan bulanan, bagian cuti yang menyesuaikan jadwal cuti semua perawat dan bidan, belum lagi bagian penilaian angka kredit bagi ASN perawat dan bidan yang memerlukan untuk naik pangkat. Ah, bahkan untuk mengurus naik pangkatku sendiri pun belum sempat-sempat.

“Ini, Bu, sudah jadi nasinya.” Aku menggotong magic com berisi nasi ke ruangan atasan kami, kepala bidang keperawatan, eselon tingkat 3.

Tak cukup sampai di situ, aku juga harus menghidangkan sayur dan lauk pauk yang telah kami beli, lalu menata piring dan sendok garpu di meja yang sama.

Sudahkah kubilang aku belum terbiasa melakukan hal seperti ini?

Banyak hal yang kupelajari di ruang keperawatan, namun hal yang paling berkesan adalah bagian belajar menjadi perempuan. Iya, aku yang notabene tidak pernah masak, masih canggung melakukan bagian penataan meja seperti ini, tapi akhirnya mempelajarinya dari memperhatikan teman-teman.

Ah, bagaimana mau belajar menata dan merapikan meja, di rumahku sendiri kami terbiasa makan masing-masing, bukan makan bersama dalam suasana kekeluargaan. Setelah mengambil makanan, kami akan membawa piring, lalu makan di depan televisi. Aku dan kakak-kakakku terbiasa melakukan itu. Kakakku yang biasa sibuk beraktivitas di luar, berarti baru bisa makan setelah dia pulang, itu berarti terakhir.

Hanya almarhum ayah yang biasa makan di meja makan. Kami akan berada dalam suasana tegang bila makan bersama, makanya lebih baik membawa piring kami ke depan televisi. Selesai makan, ya kami letakkan di bagian piring kotor, lebih bagus bila langsung mencucinya. Urusan membersihkan meja makan, biasanya sudah dikerjakan ibuku. Karena hanya ayahku yang makan di sana. Ibuku meski makan di waktu bersamaan dengan ayah, namun akan membawa piring makannya ke ruangan yang berbeda. Pemandangan ini yang biasa kusaksikan sedari kecil.

“Emmy, nasinya keras,” ujar temanku yang memakannya dengan susah payah. Waduh, tampaknya aku masih belum bisa menakar air dengan pas.

“Em, sini,” perintah bu Ida, salah seorang pejabat eselon 4 lainnya. “Kamu kalau mau menakar air di magic com, pakai jemarimu seperti ini.”

Haha, ketahuan deh, sama teman-teman, masak nasi pakai magic com saja tidak bisa. Waduh.

Aku mencerna dalam hati penjelasan dari bu Ida. Keesokan harinya langsung kupraktikkan.

“Nah, ini Emmy sudah bisa masak nasi. Takarannya pas, nasinya pulen,” puji bu Ida padaku.

Bahkan pekarya di bagian pantry juga mengatakan demikian. “Saya enggak biasa masak nasi pakai magic com, Dek. Di rumah masaknya nasi liwet. Duh, masakan mbak Emmy bagus banget nasinya, pulen. Enggak keras dan enggak benyek. Pas.”

Haha, sudah saatnya aku belajar menjadi seorang perempuan, pada saat sebentar lagi aku menjadi seorang ibu. Baru ada sebulan aku masuk kerja, lalu sudah harus cuti tidak bekerja karena kelahiran anakku yang tiga minggu lebih cepat dari perkiraan. Untung saja, aku sudah selesai mengurus surat cuti karena aku juga yang memegang bagian cuti tenaga perawat dan bidan, jadi sekalian.

Aku ingat keterkejutan temanku waktu aku menghubunginya di Senin pagi.

“Mbak, aku izin enggak masuk kerja, aku udah ngelahirin.”

“Haa, udah ngelahirin? Sabtu kemarin kan, kamu masih masuk kerja.”

Bagian administrasi di rumah sakit memang jadwal kerjanya sampai hari Sabtu. Sesuai dengan jadwal poliklinik yang juga buka sampai hari Sabtu. Namanya juga berurusan dengan pelayanan pasien. Jika kami mengikuti jadwal ASN bekerja lima hari, maka pasien yang memerlukan legalisir rumah sakit, atau urusan surat-menyurat lainnya jadi tidak bisa mengurus. Benar yang dibilang temanku, hari Sabtu kemarin aku masih masuk kerja. Pulang dari bekerja, sorenya aku kontrol ke dokter. Lalu malamnya aku sudah pecah ketuban. Kata dokter, mungkin pengaruh kelelahan bekerja makanya aku cepat lahiran. Walau tetap tidak selelah waktu aku masih bekerja di UGD.

Anakku juga pintar memilih lahir ketika ada papanya di rumah. Aku sebelumnya tidak bisa membayangkan bila kontraksi datang ketika papanya masih di kabupaten. Perlu waktu beberapa jam hingga sampai ke karang, dan itu berarti bisa saja papanya anak-anak akan kehilangan kesempatan menyaksikan lahiran anak pertamanya. Untungnya itu tidak terjadi.

Begitulah, akhirnya belum sampai setahun aku menjalani hari-hariku di keperawatan. Kekompakan dan keseriusan mereka dalam bekerja sangat patut ditiru. Terimakasih banyak telah mengajarkanku banyak hal, termasuk untuk menjadi perempuan. Meski akhirnya tak lama, aku kembali dihadapkan satu SK mutasi lagi ke ruangan yang berbeda.

Bandar Lampung, 17 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

9 Comments

  1. Makasih udh sharing ttg ASN kesehatan. Aku juga ASN tenaga edukatif. Masing² ada suka dukanya yah…Semoga sehat selalu…

  2. Kita sama ASN tapi di bidang yang berbeda. Pada dasarnya tenaga kesehatan dengan tenaga pendidikan berhubungan dengan kemanusiaan. Sukses ya mbak

  3. Kalau ASN kesehatan saya paham banget pekerjaannya tidak ringan karena berhubungan langsung dengan pelayanan dan kemanusiaan. Itulah sebabnya banyak teman2 saya yang telat nikah, susah punya momongan karena lelah atau enggak tidak cukup waktu bersosialisasi. Ya tapi balik lagi semua tergantung kondisi dan rejeki setiap orang ya Mbak. Tapi saya selalu salut sama ASN kesehatan apalagi di masa pandemi seperti ini.

  4. Seru ya mba jadi ASN Kesehatan. Dituntut bekerja profesional dan melayani masyarakat. Sementara untuk kepentingan pribadi kadang dinomorduakan. Salut mbak Emmy..

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.