Seorang Bidan Belajar Hukum

Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/21/12-tahun-perjalananku-part-17-belajar-jadi-perempuan/

“Apa saja, nih, yang kira-kira akan ditanyakan selama proses sidang?”

“Biasanya, Dok, intinya itu mereka ingin tahu apakah Dokter punya hubungan dengan terdakwa sebelumnya. Sekadar kenalan atau apa, supaya mereka tahu, apakah Dokter bisa berlaku obyektif dalam memberikan diagnosa. Intinya seperti itu. Tidak perlu dibawa tegang, Dok.”

Aku hanya terdiam mendengar percakapan antara kedua kakak ini dengan tiga orang dokter yang berkunjung ke ruanganku siang itu. Ada dokter spesialis syaraf, spesialis penyakit dalam, serta dokter spesialis THT.

Cerita dimulai ketika datang surat pemanggilan kepada ketiga dokter yang pernah memeriksa seorang pasien di rumah sakit kami. Ternyata pasien yang juga merupakan mantan pejabat di kabupaten tersebut telah menjadi tersangka kasus korupsi sehingga harus menjalani sidang demi sidang. Dikarenakan kondisi tersangka juga menderita stroke berat, sehingga memperburuk keadaannya, termasuk mengganggu pendengaran, makanya pasien pernah diperiksa dokter THT juga. Ada permintaan keringanan hukuman, tapi harus dibuktikan dengan kesaksian dari para dokter yang telah memeriksa beliau.

Seorang bidan yang sedang belajar ilmu hukum, itulah posisiku saat ini. Pada akhir tahun 2013 aku kembali menerima SK mutasi. Atasanku mengatakan, sub bagian hukum memerlukan tambahan tenaga kerja yang pernah bekerja di pelayanan pasien, sehingga mengerti kondisi pelayanan. Memang meski hanya berupa tenaga administrasi sekalipun, sebaiknya semua petugas RS mempunyai latar belakang kesehatan. Meskipun banyak juga pekerja dengan latar belakang umum, meski beberapa sudah dipindahkan ke pemerintahan provinsi.

“Gue juga mau urus pindah, ah,” sahut PLH kasubbag Hukum, pada suatu hari.

Disebut PLH, karena memang Dimas, begitu biasa kumemanggilnya belum diangkat menjadi eselon. Namun hanya menggantikan sementara, dikarenakan posisi Kasubbag masih kosong ketika aku dimutasi ke sana.

Aku jarang melihat sosok ini, namun baru kuketahui kemudian, ternyata dia seusia denganku. Tepatnya setahun di atas suamiku, karena ultah mereka berdua sama percis. Luar biasa.

“Kamu mau pindah juga?” tanyaku.

“Iyalah, males gue. Masa di sini hari Sabtu kerja.”

Haha, luar biasa. Tapi wajar juga, sih. Bapaknya Dimas juga merupakan seorang pejabat, jadi memang namanya banyak dikenal di kalangan eselon. Selain itu, dia memang sudah lulusan S2 Hukum dan berotak cerdas. Wajar saja terpilih jadi PLH. Wajar saja dia bisa merencanakan untuk mutasi dengan mudahnya.

Dulu staf hukum memang tidak terlalu banyak. Hanya Dimas, ditemani oleh seorang teman lagi. Banyak pegawainya yang sudah pindah, ada juga yang sudah pension, termasuk pejabat eselonnya. Mungkin dinilai tidak terlalu banyak tugas, ya. Ah, padahal tidak juga.

Kerjaan dan tanggungjawab di subbag hukum bukan main-main. Urusan menghadiri sidang memang datang tak pasti. Sekali-sekali saja bila kami menerima undangan dari kepolisian. Atau bila ada kasus yang melibatkan pelayanan dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Biasanya aduan itu akan masuk ke bagian kami, bila sudah melibatkan aduan hukum. Jika keluarga pasien hanya komplain melalui omongan, masih merupakan urusan bidang keperawatan, atau bidang pelayanan (untuk dokter). Adakalanya keluarga pasien tidak puas sampai mengadukan atas nama malpraktik.

Nah, makanya bukan main-main, kan. Urusan perjanjian kerja sama dengan pihak ketiga juga merupakan tanggungjawab kami, sub bagian hukum. Makanya akhirnya aku belajar cara membuat kontrak kerjasama, termasuk juga surat keputusan atau SK. Luar biasa.

Berbarengan dengan kepindahanku, juga ada petugas lainnya di sini, seorang perawat senior yang sedang mengambil S2 di bidang hukum. Wah, apa aku harus ambil S2 hukum juga, ya. Haha. Ngawur. Bukannya S1 pun aku belum.

Tapi menjadi pegawai struktural memang seharusnya mempunyai gelar minimal dari strata 1, bahkan kalau bisa S2. Kalau tidak, sama saja nanti kami jatuhnya seperti pekarya yang kebanyakan hanya tamat SMA. Iya, pekarya yang kalau di UGD, tugasnya mendorong brankar sana-sini. Kalau perempuan, tugasnya ambil nasi jatah pasien ke instalasi gizi.

Pikiranku jadi menerawang. Sebenarnya ada seorang bidan yang kukenal mengambil S2 hukum. Bahkan dia bekerja di kantor wilayah hukum, tempat suamiku dulu sebelum dipindahkan ke kabupaten. Wah, aku kagum sekali padanya. Di rumah dia masih buka praktik, sementara bekerja sebagai staf hukum. Jadi kedua ilmunya seiring sejalan. Setahuku dia juga menjadi satu-satunya tempat konsultasi bidang hukum di IBI (Ikatan Bidan Indonesia) provinsi Lampung.

Aku iri pada teman sejawat yang punya keahlian lebih dari sekadar satu bidang saja. Semoga satu saat aku juga bisa mempunyai keahlian lebih dari aku yang sekarang ini.

Bila kami sedang bersantai dan tidak terlalu banyak pekerjaan yang dikejar deadline, biasanya kami akan menyempatkan diri makan siang di luar. Berbeda dengan di bagian keperawatan, di mana pejabat eselon lebih suka bila makan siang, masak nasi sendiri. Di sub bagian hukum, urusan perut urusan masing-masing. Makanya pernah juga waktu kerjaan lagi banyak-banyaknya, aku tak sampai tak sempat makan siang, parahnya lagi tak sempat memompa ASI. Huhu, bagiku itu sangat menyiksa.

Setelah Dimas akhirnya jadi dipindahkan ke kantor pemerintahan provinsi, tak lama, akhirnya kami mendapatkan atasan pejabat eselon 4. Alhamdulillah. Apalagi atasanku juga seorang yang baik dan memahami anak buahnya.

Selama di sub bagian hukum berat badanku semakin bertambah. Haha. Mungkin karena kami jadi banyak makan siang di luar, ya. Sebenarnya kadang-kadang waktu di keperawatan juga kami diajak makan siang bahkan karaoke. Sayangnya, aku jarang bisa ikutan, dikarenakan anakku tidak ada yang menjaga. Kalau sekarang, alhamdulillah aku sudah dibantu oleh asisten rumah tangga yang menginap di rumah.

Ah iya, akhirnya aku bisa menempati rumah sendiri, setelah anakku berusia setahun. Sebelumnya kadang-kadang aku izin tidak bekerja di hari Sabtu, untuk menengok rumah baru yang sedang dibangun bersama dengan suamiku. Iya, namanya juga suami baru ada di rumah setiap hari Sabtu dan Minggu saja.

Hal tak terduga yang berikutnya terjadi, aku diberikan kehamilan kedua. Haha, ini termasuk kehamilan yang tidak direncanakan, karena aku masih dalam proses menyusui anak pertama yang belum genap berusia dua tahun. Masih kuingat, waktu itu, aku sengaja memeriksakan diri di rumah sakit lain, agar tidak ketahuan oleh teman-temanku. Aku bilang saja aku tidak enak badan dan harus berobat.

Lama kelamaan, apalagi mualku menjadi sampai tak bisa minum air putih, akhirnya aku putuskan harus memberitahu temanku. Bukan apa-apa, kalau sampai terjadi aku diopname lagi izin kerjanya bagaimana, kalau temanku tidak tahu kondisiku.

Masa kehamilan kulalui dengan lebih nyaman, tanpa harus berhadapan langsung dengan pasien, tanpa pernah melakukan perawatan jenazah, seperti pada kehamilan pertama. Aku juga bisa mengikuti seperti orang-orang, ibu hamil enggak boleh keluar malam. Kalau kehamilan pertama mana bisa aku seperti itu, kan.

Ujian yang kujalani selama bekerja paling hanya seputar membawa berkas fotokopian yang cukup tebal bolak-balik, sambil hamil. Yah, memang sudah menjadi tugasku. Tetap ujian ini belum seberapa dibandingkan saat masih bekerja di UGD.

Hanya saja, karena kondisi masih berjauhan dengan suami, beberapa kali aku terpaksa pergi ke dokter kandungan seorang diri. Untuk pulang pergi juga aku masih naik angkutan umum. Tapi kujalani saja semuanya. Memang sudah menjadi resiko apalagi aku belum bisa bawa kendaraan sendiri. Di rumah juga tidak ada kendaraan. Hanya ada motor yang dibawa suami bekerja.

Baru setelah kelahiran anakku yang kedua, tak lama kemudian kami akhirnya memiliki mobil. Dobel rezeki di tahun 2015. Kelahiran anak kedua, seorang lelaki lalu di akhir tahun punya mobil. Alhamdulillah.

Kurasa aku sudah menemukan zona nyamanku di sini. Kalau aku punya kesempatan untuk meraih S1, mungkin aku bisa mengambil S2 hukum juga. Ah, siapa tahu aku bisa menjadi penerus almarhum ayahku yang seorang SH. Di saat aku sudah menikmati pekerjaanku di sini, tak lama datanglah sebuah surat mutasi lagi.

Bandar Lampung, 18 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.