Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/22/12-tahun-perjalananku-part-18-seorang-bidan-belajar-hukum/

Pada akhir tahun 2016 adalah awal mulaku ikut training kepenulisan secara online. Dimulai dari hari-hari berat yang kulalui sebagai orang tua dari dua anak. Lalu kutemukan training Mindfulness Parenting untuk para orang tua, yang dimentori Bapak Supri Yatno, seorang praktisi kesehatan mental.

Hanya sebuah training saja yang bisa mengubah segalanya. Di sana aku baru beranikan membuka diri. Bercerita tentang semua trauma yang pernah kualami sepanjang hidupku termasuk praktik self injury yang selama ini tiada seorang pun tahu.

Karena training itu juga aku jadi paham harus membahagiakan diri sendiri. Berlanjut training Self Parenting dan Writing for Healing, akhirnya kutemukan apa yang menjadi passionku: menulis.

Barulah kuberanikan diri untuk ikuti beberapa training kepenulisan. Jalanku tak mudah. Tadinya suami ikut protes ketika aku berlama-lama di depan laptop. Sempat juga merasa down dan berharap bisa lebih memanajemen waktu dengan tepat. Di saat itulah sebuah SK mutasi kuterima.

“Assalamualaikum,” sahutku memasuki ruangan penuh buku yang tampak lengang. Tidak ada seorang pun di sana.

“Waalaikumussalam.” Barulah keluar seorang perempuan yang sudah renta dari dalam, sedang memegang kain pel.

“Bu, saya pindahan dari sub bag hukum, mulai hari ini pindah ke sini,” jelasku yang langsung disambut ucapan Hamdalah oleh Bu Jo, begitu aku memanggilnya.

Namanya juga perpustakaan, ruangan ini penuh dengan buku. Karena bingung harus mengerjakan apa, kuamati buku-buku yang tersusun rapi di rak. Aku merasakan di sinilah tempatku, berada di antara tumpukan buku. Masya Allah.

“Emmy, tolong, ya. Bantu di perpustakaan.” Terngiang ucapan atasanku saat aku berpamitan.

Bagian perpustakaan ini bisa dibilang masih berada di bawah naungan sub bag Pengembangan Sumber Daya Manusia. Berada di bawah pejabat eselon 4 yang berbeda, namun masih satu naungan di bawah pejabat eselon 3 yang sama dengan sub bagian hukum. Jadi, kali ini mutasiku tak terlalu jauh.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa di rumah sakit ini tersedia perpustakaan. Biasanya yang berkunjung ini seputar mahasiswa baik perawat maupun coas yang sedang praktik di sini, maupun pegawai yang sedang menjalani kuliah lagi. Tapi pengunjungnya masih terbilang jarang. Koleksi bukunya juga masih belum terlalu banyak.

Hal itu juga menjadikan kami, pegawai perpustakaan, tak terlalu banyak kegiatan. Akhirnya aku jadi punya lebih banyak waktu untuk … menulis. Awalnya aku dibuatkan blog oleh suamiku, dan setiap pagi sambil mengisi waktu kutuliskan apa saja yang terlintas di kepala pada blog tersebut. Dari situ aku sudah mengalami keasyikan tersendiri.

Apalagi setelah ikuti training kepenulisan dan ada tugas-tugas yang diberikan. Masya Allah. Tugas-tugas itu kukerjakan dengan semangat. Pada awal 2017 akhirnya aku beranikan mengirimkan naskahku untuk dimasukkan dalam sebuah buku antologi bersama. Ini merupakan terobosan baru bagiku, yang meski pernah menulis cerpen waktu SMA, tapi tak pernah mengirimkannya di media manapun.

Lalu, tak diduga aku kembali jatuh sakit. Typhoidku kambuh dan aku terpaksa opname. Padahal baru saja aku merasakan semangat hidupku kembali berkat menulis. Kesakitan itu juga yang akhirnya membuatku gagal mengikuti sebuah lomba kepenulisan. Padahal aku sudah menjalani syarat-syaratnya.

Selepas opname, tepatnya ketika kontrol ke dokter spesialis, aku menemukan ide sebuah cerita fiksi ketika sedang mengantri berobat. Lagi-lagi ide kutemukan di tempat dan waktu yang tidak terduga. Untung saat itu aku membawa blocknote dan pena. Kutuliskan ide-ide itu di sana. Kadang aku juga menuliskan pada sebuah aplikasi notepad di HP. Namun kendala kalau HP-nya lowbet, jadi aku usahakan sedia note mini di tas.

Saat buku perdanaku launching, betapa bangganya hati. Aku minta difotokan oleh temanku di perpustakaan, poseku sedang menandatangani buku ini. Meski ini merupakan antologi bersama, alias ditulis bersama-sama penulis lainnya, aku sudah merasa bangga. Pas banget settingnya tempat kerjaku sendiri, yaitu perpustakaan. Jadi background fotonya penuh buku-buku.

Tak hanya menulis, kutemukan hobi lain yaitu bernyanyi melalui aplikasi Smule. Kalau dipikir-pikir malah aku yang menularkan virus Smule pada teman-teman, hihi. Bisa dibilang aku merasa jauh lebih hidup saat ini. Aku juga sudah lama jauh-jauh dari keinginan self injury tepatnya setelah menjadi seorang ibu. Sudah ada buah hati yang menjadi fokus utamaku saat ini.

Kalaupun ada kesibukan di tempat kerja, itu adalah waktu hendak dilaksanakan sidak oleh tim akreditasi. Memiliki perpustakaan adalah suatu syarat bagi rumah sakit ini supaya bisa disebut juga rumah sakit pendidikan. Pada saat itu, sistem perpustakaan kami sudah terhubung secara online, namun kebetulan komputer sedang dalam perbaikan.

Setelah tahu akan ada sidak yang diadakan besok, akhirnya sore itu juga aku bersama temanku datang menuju perpustakaan untuk mengambil komputer kami, memintanya cepat diperbaiki.

“Jadi, bagaimana? Bisakah komputernya diperbaiki sekarang?”

“Tolonglah, kami perlu komputernya, besok. Bisa mampus kami kalau enggak ada komputernya pas sidak.” Temanku mulai bersuara pada pihak SIM-RS yang bertugas memperbaiki komputer.

Untung akhirnya kami menerima jawaban iya. Komputer akan diusahakan pagi-pagi sekali bisa diambil, sebelum tim sidak datang. Finally. Lalu kami juga membeli beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk mempercantik perpustakaan ini.

Pada hari Jumat pagi, kami sudah memulai kesibukan dengan merapikan detil di perpustakaan. Kalau buku-buku sudah tersusun rapi di rak buku sesuai dengan kodenya. Lalu kami mempercantik tampilan dua meja yang ada di perpustakaan. Yang satu diberikan taplak meja, yang merupakan meja tamu, tersedia buku daftar pengunjung perpustakaan. Satunya lagi sebagai meja untuk komputer. Alhamdulillah, pagi tadi komputer sudah diambil. Lekas kami hidupkan termasuk dengan sistem onlinenya, yang sudah lama tidak diaktifkan dikarenakan sepi pengunjung.

Sekitar jam 10, tim sidak datang, ada dari pihak kementerian, universitas, serta beberapa dokter yang bertugas di rumah sakit. Kami menyambut dan menjawab setiap pertanyaan. Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti. Perpustakaan dinyatakan lulus dan layak. Hore.

Baru setelah mereka pergi akhirnya aku bisa membuka laptopku kembali. Tiada hari tanpa mengerjakan naskah, selama aku bekerja di perpustakaan ini.

Beberapa bulan kemudian, Ramadan akhirnya datang. Saat ini tim perpustakaan terdiri dari lima orang. Aku sebagai koordinatornya, sebagai satu-satunya ASN yang ditugaskan di sini. Bu Jo sudah pensiun dan tak lagi bertugas. Lalu ada tambahan tiga orang baru. Salah satunya, seorang lelaki, lumayan bisa membantu bila ada masalah di bidang komputer.

Dia juga banyak membantuku secara pribadi, misalnya saat tiba-tiba, beberapa bulan sebelumnya, aku dipanggil ke BKD (Badan Kepegawaian Daerah) untuk mengurus ujian naik pangkat. Masya Allah, panggilan yang begitu mendadak dan baru kuketahui dari seorang teman, sesama yang mengikuti ujian kenaikan pangkat. Aku benar-benar sudah terlambat mengurus kenaikan ke golongan 3A. Setelah sebelumnya, naik pangkat ke 2D juga terlambat. Kalah jauh dibandingkan teman-teman seangkatanku, para bidan yang masih setia bertugas di ruang kebidanan.

Inilah alur hidupku, sepanjang perjalanan di rumah sakit pusat rujukan ini. Akhirnya aku mengikuti tes ujian tertulis dan harus menunggu hasilnya sebelum mengurus naik pangkat.

Hingga di pertengahan Syawal, teman lelakiku itu mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

“Mbak Em, aku mau memberitahu sesuatu, tapi jangan marah, ya.”

“Ada apa, sih? Ya, tergantung, lu mau ngomong apaan dulu?” jawabku sekenanya.

“Ih, beneran, Mbak, pokoknya jangan marah, ya.”

“Emang apaan sih, udah, ngomong aja.” Lama-lama sebal juga aku, nih, orang, bikin kepo aja.

“Jadi, Mbak, kan, tahu. Aku tuh, sering dapat petunjuk dari mimpi.”

“Nah, terus?” Apa hubungannya mimpi dia sama aku, pikirku sambil mengerutkan dahi.

“Ya, aku mimpiin Mbak. Dalam mimpiku, Mbak pindah ke pelayanan pasien.”

“Ah, yang bener. Gue apa elu yang pindah?”

“Dalam mimpiku, Mbak yang pindah. Jujur aja, mimpi semalam yang kedua kalinya. Sebelumnya pas bulan Ramadan, aku pernah mimpi hal yang sama.”

“Hmm …. Begitu, ya.”

Awalnya pembicaraan itu tak menjadi pikiran buatku. Aku masih fokus pada tugas-tugas menulis, keranjingan dari satu antologi ke antologi lainnya, dari satu lomba menulis ke lomba lainnya. Hingga tiba-tiba, kami dihubungi oleh seorang teman.

“Mbak Emmy dan Bu Rina, dipanggil ke kepegawaian, ya. Sekarang.”

Bu Rina adalah satu pegawai perpustakaan kami yang memang sudah disampaikan akan dikembalikan ke tempat asalnya di ruang farmasi. Sementara aku? Apakah ini berarti aku akan dimutasi? LAGI?

Bandar Lampung, 19 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.