Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/22/12-tahun-perjalananku-part-19-finding-my-passion/

“Saya izin menyampaikan surat ini, Bu,” ujarku seraya menyerahkan sebuah amplop kepada perempuan berhijab yang merupakan kepala ruangan di salah satu rumah sakit ini. Sebenarnya bukan ruang perawatan pasien, namun ….

“Wah, iya. Selamat datang, ya. Suratnya bisa langsung disampaikan saja di ruangan. Tahu, kan, ruangannya di mana?”

Saat itu memang aku masih  berada di gedung administrasi. Kebetulan saja bertemu beliau di sini. Masih teringat ketika terakhir aku menemuinya saat mengurus perjanjian kerjasama. Waktu itu aku masih bertugas di sub bagian hukum.

Baiklah. Aku mengangguk patuh dan segera mendatangi ruangan yang dimaksudkan.

“Emmy, kamu dapat SK juga?” Tiba-tiba seorang teman mengenakan seragam cokelat khas ASN menemuiku dalam perjalanan ke ruangan.

“Iya.”

“Kita sama, kan, tujuannya. Yuk, barengan.”

Dia mengajakku untuk mampir ke laboratorium untuk menemui kepala instalasi yang masih satu atasan dengan tempat tujuan pindahku.

“Dokternya enggak ada, Mbak. Suratnya langsung ke ruangan saja.” Seorang yang mengenakan jubah putih dan masker menjawab saat kami menanyakan ruangan kepala instalasi.

“Ngomong-ngomong, kalian pindah ke bank darah, ya? Hati-hati ya, di sana.”

Nah, ada apa, nih? Kenapa tiba-tiiba dia berkata seperti itu. Aku manggut-manggut saja mendengar ceritanya. Temanku yang lebih banyak menanggapi.

Ah, sudah biasa kualami, selama perjalananku bekerja di rumah sakit. Satu ruangan menjelekkan ruangan yang lain. Entah karena faktor iri, atau bisa juga dikarenakan tidak tahu menahu pasti kerjaan di sana seperti apa. Nanti kuceritakan tentang hal ini.

Tak lama, kami sampai di bank darah. Beruntung ada temanku yang sudah mengenal petugas di sana, karena aku tak melihat teman yang kukenal di sini. Ah, ada sedikit nama yang kukenal di sini. Karena pernah satu angkatan waktu kuliah dulu, dan satunya lagi karena pernah bertemu di tempat bekerja sebelumnya sebelum diterima CPNS.

“Baik, kami tinggal, ya. Izin kembali ke ruangan kami dulu. Masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan.”

Temanku sepertinya sengaja mengajak untuk tidak berlama-lama di tempat ini. “Sudah, Em. Saya balik dulu ke ruangan. Mau menikmati hari-hari terakhir kebebasan dulu.” Wah, kenapa, sih?

Aku tak banyak bertanya dan akhirnya kembali ke ruang perpustakaan. Sebenarnya hal yang wajar merasa cemas dan khawatir saat dimutasi. Perasaan yang sama seperti yang kurasakan selama ini selama berpindah-pindah tempat. Apalagi mutasi yang tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Yah, wajar, sih. Kita soalnya belum tahu, di tempat baru nanti pekerjaannya seperti apa. Teman-temannya juga bagaimana. Apakah kita akan diterima dengan baik di tempat baru? Apakah kita akan merindukan teman-teman di tempat yang lama?

Ada satu hal yang menjadi prinsipku saat bertugas. Aku mengupayakan untuk menghindari kelekatan dengan orang tertentu. Dari dulu, di semua tempat kerja, meski kutemui beberapa orang baik dan berkesan sebagai teman, namun belum ada yang begitu dekat hingga tahu semua rahasiaku.

Barangkali kalau ada yang dibilang teman terdekat, ya di perpustakaan ini. Sampai-sampai aku nulis status apa di sosial media, mereka sampai komentar. Pernah aku sebutkan, “lapar, belum sarapan,” tiba-tiba tak lama didatangkan sebuah menu sarapan spesial untukku, nasi uduk. Haha. Baik sekali.

Tetap saja. Aku tak suka kemelekatan, karena aku tak suka merasa terlalu sedih saat perpisahan tiba. Teman datang dan pergi begitu saja. Waktu di sub bagian hukum juga seperti itu. Teman dekatku malah mengurus kepindahan ke luar kabupaten. Aku harus tetap baik-baik saja, bukan. Baik saat ditinggalkan maupun meninggalkan.

Sedih memang, apalagi sebelum menerima SK mutasi, aku sudah diingatkan oleh teman lelaki di perpustakaan ini. Bisa-bisanya dia mimpiin aku, dan mimpinya tak lama menjadi nyata. Luar biasa.

Lebih baik, jangan terlalu dekat dengan siapapun di lingkungan kerja. Kau tak tahu ke mana arah angin membawa. Slama masih sebagai kroco, hanya bisa manut. Bahkan pejabat setinggi apapun, tetap saja judulnya bawahan, sebab di atas langit masih ada langit. Yup. Tak hanya anak buah yang sering mengalami mutasi, pejabat pun demikian. Tiba-tiba dimutasi, tiba-tiba non job, enggak ada yang abadi.

“Jadi, ada lima orang yang dimutasi ke sini, tiga untuk tenaga administrasi, dua orang analis.” Dokter selaku kepala instalasi yang mengepalai bank darah dan laboratorium, memulai rapat kecil kami.

Kami diminta memperkenalkan diri, asal ruangan sebelumnya juga lulusan terakhir sebagai apa. Masih ada yang bertanya-tanya saat melihat lulusan terakhirku.

“Aku sudah lama bertugas di sebagai administrasi, Dok,” jawabku. Haha, judulnya tetap bidan. Tapi multitalent dong. Bidan mana coba, yang mengetahui cara buat SK, mengatur kode buku-buku sekaligus aturan cuti dan amprah alat untuk seluruh ruangan? Mulai sekarang, bidan ini juga yang akan mengetahui dalamnya bank darah seperti apa? Waktu di kebidanan maupun di UGD kan, bisanya, minta kantong darah, trus mengeluh kalau permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi, enggak tahu dalamnya alurnya seperti apa, kan.

“Nah, karena sebagai tenaga administrasi, di sini adalah admin teknis, jadi berlaku jadwal shift-shiftan.”

Itu dia. Salah satu yang kutakutkan adalah menjalani shift-shiftan. Ada ketakutan aku akan kembali sakit-sakitan seperti waktu bertugas di pelayanan. Apalagi ruangan bank darah memang AC-nya sangat dingin. Sesuai kebutuhan, karena kantong darah harus dijaga suhunya agar darah tidak rusak.

“Saya punya alergi dingin dan mengidap bronkhitis.” Lebih baik kusampaikan itu sejak awal, kan. “Tapi, akan saya coba untuk bekerja sesuai jadwal, seandainya berat akan saya sampaikan, untuk dicari jadwal keluar win win solution.”

Bismillah, aku bukan lagi Emmy yang memendam semua perasaan sendirian. Lebih baik, jujur dari awal daripada menimbulkan kesalahpahaman. Seperti pada tugas-tugas sebelumnya, sebenarnya aku tahu berat bagiku hanya saja aku tidak pernah jujur. Ujungnya karena seringkali izin tidak bekerja dan bolak-balik opname, teman-teman malah protes. Pada akhirnya insentifku dipotong sepihak sekalipun aku tidak protes, karena merasa tidak berhak. Tapi, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk berusaha berubah. Semua bisa dibicarakan dengan baik-baik, kan.

Tak lama kami sudah mengikuti alur bekerja di sana. Karena status sebagai tenaga administrasi, setidaknya tugas kami membuat laporan harian serta melakukan input tindakan ke komputer. Pelan-pelan kami mempelajarinya.

Ternyata seperti ini perlakuan kantong darah sebelum bisa ditransfusikan ke pasien. Selama ini aku mengira, setelah menyerahkan lembar blanko permintaan darah, dicek golongan darahnya, langsung bisa dapat darahnya. Ah, pantas yang didapatkan baru tiket darah, karena harus dilakukan uji silang darah, atau disebut crossmatch. Darah dari donor dan sample darah pasien harus diuji dulu, cocok atau tidak. Jika tidak, maka petugas analis yang memeriksanya akan menyerahkan surat hasil pemeriksaan untuk diketahui dokter penanggungjawab di ruangan.

Tiap satu kantong darah, dilakukan crossmatch. Makanya permintaan sampel darah bisa berulang kali. Apalagi kalau darah pasien yang diambil memang tidak memenuhi standar. Kalau yang kuketahui minimal diambil 3 cc untuk permintaan kantong darah. Kadang perlakuan sampel darah yang salah juga membuat darah sampel jadi rusak dan akhirnya lisis, berarti tidak bisa diperiksa.

Baru ketika bertugas di bank darah ini, aku tahu bahwa menempatkan darah dari jarum ke tabung edta, tidak boleh disuntikkan melalui ujung spuit. Kadang malah disuntikkan dari tutup, alias tabung EDTA tidak dibuka sama sekali. Itu yang buat darah jadi cepat lisis. Haha, sepertinya aku juga pernah melakukan hal itu di ruangan.

Tugas di UTD lumayan banyak. Buku laporan yang harus diisi banyak sekali. Sudah itu, pemeriksaan pun harus dilakukan dengan teliti. “Waktu kalian cuma bertugas dua orang sekali shift, seperti apa?”

Pernah aku menanyakan hal itu yang dijawab dengan tawa. “Yah, gitu, deh, Mbak. Kerjanya kadabukan.”

Kukira hanya petugas di kebidanan dan UGD saja yang pontang-panting, ternyata sebagai penunjang medis pun demikian. Aku tak menyangka.

“Padahal ini baru bank darah, belum tahu nanti kalau sudah buka UTD seperti apa jadinya.”

Ini alasan kenapa banyak tambahan tenaga ditugaskan di bank darah. Sebab ada wacana bank darah akan dijadikan UTD, atau Unit Transfusi Darah, yang setara dengan PMI. Jadi, nantinya, di tempat kami bisa menerima donor darah dari keluarga pasien. Jadi tidak melulu ketergantungan pada PMI.

Pastinya enggak mungkin UTD dijalankan hanya dengan dua petugas tiap shift-nya.

Dokter juga sudah menginfokan hal ini dalam rapat kecil kami. Baiklah, ikuti saja alurnya nanti seperti apa.

Begitulah, pengalamanku berpindah-pindah selama 12 tahun ini mengajarkanku banyak hal. Meski ada perasaan sedih karena merasa tidak diinginkan di tempat yang lama, namun selalu ada hikmah yang bisa kuambil dari kejadian ini. Banyak ilmu yang telah kupelajari.

Pada akhirnya kita tidak bisa menilai sepatu orang lain. Kita hanya melihat di permukaan, tanpa menjalani sendiri seperti apa kejadian sebenarnya. Perjalananku selama 12 tahun mengajarkan jangan mudah meremehkan pekerjaan orang lain. Kalau kamu yang melakukan tugas itu belum tentu bisa sebaik mereka.

Bandar Lampung, 20 Juni 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.