Bulan Juli ini ternyata aku mengalami fluktuasi hati dan pikiran. Bagaimana tidak? Sepertinya aku mulai keranjingan mencari ilmu. Dimulai dari mengikuti beberapa webinar yang diperlukan untuk kenaikan SKP (tenaga kesehatan pasti paham bagaimana perasaan hati saat mengejar angka kredit pada SKP yang ditujukan sebagai perpanjangan STR), hingga mengejar investasi ilmu yang berhubungan dengan passion-ku: literasi.

Namun, berhubung yang ingin kubicarakan seputar literasi, maka tak usah kuceritakan mengenai webinar seputar kesehatan dan psikologi yang kuikuti. Kita langsung saja menuju kegiatan seputar literasi yang kujalani sepanjang bulan Juli ini. Kepo, nggak?

  1. Mengikuti kelas layout bersama Pak Ilham Alfafa, direktur Nubar-Nulis Bareng, CV Rumah Media. Kelas ini memberikan ilmu mengenai editing layout yang akan menjadi cover buku. Tentunya layout merupakan salah satu ilmu yang juga wajib diketahui penulis. Ya, dong. Seorang penulis harus tahu proses pengerjaan buku di balik layar, seperti apa. Jadi tak cukup sekadar setor tulisan, dan belajar editing yang baik, jika penulis turut menguasai desain cover buku, tentu akan menjadi nilai plus buatnya. Siapa tahu, kelak malah mempunyai penerbitan sendiri, kan.
  2. Mengikuti challenge blog jadi buku. Kalau ini adalah tantangan menulis selama 20 hari dengan minimal kata 1000 per harinya, di blog masing-masing. Tantangan yang diselenggarakan Joeragan Artikel sudah pernah kuikuti pada batch 1 lalu, sayangnya gagal dan mandeg hanya di dua postingan saja. Kali ini akhirnya kutuliskan pengalamanku berpindah-pindah tempat kerja selama 12 tahun bekerja di rumah sakit pusat rujukan. Alhamdulillah, karena menceritakan pengalaman sendiri, bisa lebih mengalir dan akhirnya berhasil kutamatkan meskipun tidak ontime. Tapi naskahnya sudah kukirimkan dan insya Allah akan menjadi calon buku solo berikutnya.
  3. Mengikuti rangkaian kelas online bersama Achi TM. Tahukah kamu penulis “Insya Allah Sah” yang sudah difilmkan itu? Ini dia, Mbak Achi TM. Kali ini beliau meluncurkan satu novel terbarunya dengan judul sangat menarik; “Belok Kiri Langsing”. Wah, siapa yang nggak mau langsing? Saya duluan tunjuk tangan tinggi-tinggi! Hehe. Dari mengikuti pre-order bukunya, akhirnya berhak mengikuti rangkaian kelas bersama beliau. Bayangiiin. Rangkaian kelas, artinya nggak cuma satu. Memangnya ada kelas apa saja, sih? Ada kelas menulis fiksi, kelas skenario bersama Mas Agung Arpopo, kelas penulisan biografi bersama Mbak Laura, juga sharing bersama Mbak Rayya, editor GPU langsung. Wah, deg-degan yaa. Pengampu kelas juga merupakan mastah di bidang masing-masing! Masya Allah. Yang paling menarik saat menghadiri kelas penutup, yaitu webinar via zoom bersama Mbak Rayya, aku sempat keder, soalnya kebetulan aku masuk bersama kelompok mereka yang sudah menerbitkan novel. Ada beberapa nama lainnya yang kukenal, novelnya sudah nangkring di Gramedia bahkan difilmkan juga. Kukira dengan begitu nyaliku ciut. Ternyata kata-kata Mbak Rayya selanjutnya sangat menghibur. Semakin memberanikan diri untuk menunjukkan karya pada dunia. Masya Allah. Jangan takut untuk terus mencoba ya, Em.
  4. Mengikuti kelas sharing Cabaca. Aku mengikuti kelas ini awalnya tergoda dengan event kepenulisan cerita tentang kesehatan mental yang diselenggarakan Cabaca. Meskipun belum tentu jadi ikutan, tapi dengan mengikuti kelas ini setidaknya ada gambaran. Lagi-lagi, ilmunya sangat menarik.
  5. Mengikuti lomba GWP. You know, GWP? Singkatan dari Gramedia Writing Project. Yes, siapa yang tak kenal Gramedia? Tahun ini adalah pertama kalinya kuberanikan diri untuk mengikuti challengenya. Itupun saja, yang kuikutkan adalah karya yang sudah pernah kutamatkan dalam hitungan tahun. Haha. Ada untungnya tulisan satu ini memang tak pernah publish di platform manapun. Akhirnya kupilih platform GWP, sekalian mengikutkannya. Yah, meski tak berharap apa-apa. Cuma ngarep yang penting selesai. Bukan apa-apa, lihat dulu siapa pesertanya. Banyak penulis senior yang sudah malang melintang, ikut serta di sini. Hihi.
  6. Mengikuti webinar otak atik kata bersama Ivan Lanin. Ini apa lagi, Em? Hehe. Jadi berawal dari melihat-lihat iklan kelas di suatu komunitas. Kali ini dari komunitas Nulis Aja Dulu. Lho, memangnya aku anggota di sana? Singkat kata, aku bahkan tak pernah sekalipun posting tulisanku di komunitas tersebut. Sama halnya aku tak pernah posting tulisan apapun di KBM (Komunitas Belajar Menulis besutan Pak Isa Alamsyah). Yang menjadikanku tertarik ikut kelas ini adalah, pembicaranya itu lho. Seorang penulis senior yang terkenal sebagai penulis di Wikipedia. Kelasnya asyik, bikin semangat membara. Masing-masing peserta harus membuat tugas membuat satu wacana. Yang kukira gampang, nyatanya banyak sekali susunan kata terbolak-balik dan tidak seharusnya. Ternyata, aku masih harus belajar banyak tentang bahasa Indonesia itu sendiri. Luar biasa.
  7. Mengikuti lomba cerita anak. Diawali adanya mention di Instagram, untuk mengikuti lomba menulis cerita anak. Bukan karena tertarik dengan hadiah uangnya. Tapi aku berharap bisa menjadi salah satu yang naskahnya diikutkan dalam buku yang akan mejeng di Gramedia. Itu dia, goalku. Sayang sekali, tak perlu menunggu lama-lama, dalam dua hari, sudah ada pengumuman yang disiarkan live. Separuh berharap aku menyaksikan dengan seksama, nyatanya, lagi-lagi aku gagal. Hiks. Bayangkan saja, aku baru tahu ada event itu dua hari sebelumnya, menyelesaikan naskah dalam tiga jam menjelang deadline, lalu, saat mendengar pengumumannya, ternyata nama-nama ternama yang menjadi pemenang. Salah satunya, juara harapan, adalah mbak Achi TM sendiri.
  8. Mengikuti kelas skenario bersama Hengki. Tahu serial Tukang Ojek Pengkolan? Nah, Mas Hengki inilah penulis skenarionya! Kelas ini bukan baru saja kuikuti bulan Juli, namun jauh berbulan-bulan sebelumnya. Bahkan sepanjang bulan Ramadan kuikuti pelajaran dengan khusyuk. Ada tugas-tugas yang diberikan yang semakin mengasah kemampuan. Dalam kelas ini berlaku sistem gugur, dan aku sudah pernah sekali dikeluarkan karena tidak mengumpulkan tugas. Qadarullah, kesempatan kedua datang kembali. Hal menarik lainnya, saat tugas akhir diberikan itu berbarengan dengan akan diadakan UAS, sehingga lagi-lagi aku harus berbagi konsentrasi. Hingga saat akhirnya kubisa menyelesaikan tugas, aku hanya bisa mengucap, “finally.” Kelas ini belum usai. Itu berarti aku juga belum boleh membuang harapanku di sini. Masih berharap tugasku dapat diterima dengan baik. Amiiinn.
  9. Mengikuti give away buku yang mengharuskan menulis review. Kali ini, berupa give away buku. Mengapa kucantumkan juga di sini, karena siapapun pemenangnya harus menuliskan review. Dan alhamdulillah, aku terpilih! Yeayy! Kapan lagi punya kesempatan baca gratis buku hasil karya pemenang juara satu lomba karya tulis Indiva. Lomba yang selama ini hanya kubaca infonya tanpa ada keberanian mencoba ikutan. Yup, Indiva salah satu penerbit yang sering mengadakan kompetisi menulis juga. Jangan bilang nggak kenal dengan Indiva. Buku-buku yang tertata rapi dalam perpustakaan pribadiku, kebanyakan dari Indiva. Bagaimana tidak, karena memang novel yang kumiliki mayoritas hasil karya penulis yang tulisannya seringkali menghiasi Annida, majalah Islami yang rajin kubaca ketika SMA dulu. Jadi novel-novelnya bersifat religi dengan tetap kaya diksi. Sebut saja, karya penulis favoritku yang juga ketua umum Forum Lingkar Pena, Mbak Afifah Afra. Semoga aku juga bisa mengikuti jejak beliau.
  10. Last but not least, adalah masih lanjut mengikuti challenge menulis dari Rumedia. Bisa dibilang, bulan Juli adalah bulan ketiga challenge ini dilaksanakan. Haa? Bulan ketiga? Yup, karena challenge ini diadakan selama 4 bulan. Bulan Agustus ini akan menjadi bulan terakhir dan aku adalah satu di antara mereka yang bertahan. Apa prestasiku di dalam challenge ini? Sekali terpilih menjadi pemenang mingguan, masya Allah. Tiap minggu memang selalu ada pemenang pilihan. Walau aku hanya sekali terpillih, rasanya sudah luar biasa. Apalagi saat ada challenge dadakan diminta membuat puisi, dan aku beranikan posting sejak sebelum deadline, kemudian tak diduga puisiku terpilih! Masya Allah.

Itulah dia, teman-teman, perjalananku selama bulan Juli. Kelas menulis apa dan tantangan menulis apa saja yang sudah saya ikuti. Mungkin tak semuanya bisa kumenangi, namun ketahuilah, bahwasanya sejatinya aku sedang bertarung melawan kemalasan diri. Aku sudah mengazamkan “Writing is my Passion”, maka aku juga yang bisa membuktikan bahwa benar menulis adalah passionku, sesuatu yang aku begitu berenergi dalam menjalaninya.

Tidak lupa, kamu yang sekarang adalah hasil dari kamu di masa lalu. Jika ada di suatu titik aku keranjingan menulis, maka gak heran kan, di suatu titik berikutnya, aku tinggal menikmati hasilnya? Bisa berupa banyaknya buku terbit atau nama yang semakin dikenal masyarakat luas, sebagai seorang penulis.

So, goodbye fly in July. Hope everything will run better next day.

Bandar Lampung, 1 Agustus 2020

Published by emmy

Seorang working mom yang juga mempunyai hobi menulis. Anggota Pasukan Blogger Joeragan Artikel, Tapis Blogger dan komunitas menulis lainnya.

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.