Goodbye Fly in July

Bulan Juli ini ternyata aku mengalami fluktuasi hati dan pikiran. Bagaimana tidak? Sepertinya aku mulai keranjingan mencari ilmu. Dimulai dari mengikuti beberapa webinar yang diperlukan untuk kenaikan SKP (tenaga kesehatan pasti paham bagaimana perasaan hati saat mengejar angka kredit pada SKP yang ditujukan sebagai perpanjangan STR), hingga mengejar investasi ilmu yang berhubungan dengan passion-ku: literasi.

Namun, berhubung yang ingin kubicarakan seputar literasi, maka tak usah kuceritakan mengenai webinar seputar kesehatan dan psikologi yang kuikuti. Kita langsung saja menuju kegiatan seputar literasi yang kujalani sepanjang bulan Juli ini. Kepo, nggak?

  1. Mengikuti kelas layout bersama Pak Ilham Alfafa, direktur Nubar-Nulis Bareng, CV Rumah Media. Kelas ini memberikan ilmu mengenai editing layout yang akan menjadi cover buku. Tentunya layout merupakan salah satu ilmu yang juga wajib diketahui penulis. Ya, dong. Seorang penulis harus tahu proses pengerjaan buku di balik layar, seperti apa. Jadi tak cukup sekadar setor tulisan, dan belajar editing yang baik, jika penulis turut menguasai desain cover buku, tentu akan menjadi nilai plus buatnya. Siapa tahu, kelak malah mempunyai penerbitan sendiri, kan.
  2. Mengikuti challenge blog jadi buku. Kalau ini adalah tantangan menulis selama 20 hari dengan minimal kata 1000 per harinya, di blog masing-masing. Tantangan yang diselenggarakan Joeragan Artikel sudah pernah kuikuti pada batch 1 lalu, sayangnya gagal dan mandeg hanya di dua postingan saja. Kali ini akhirnya kutuliskan pengalamanku berpindah-pindah tempat kerja selama 12 tahun bekerja di rumah sakit pusat rujukan. Alhamdulillah, karena menceritakan pengalaman sendiri, bisa lebih mengalir dan akhirnya berhasil kutamatkan meskipun tidak ontime. Tapi naskahnya sudah kukirimkan dan insya Allah akan menjadi calon buku solo berikutnya.
  3. Mengikuti rangkaian kelas online bersama Achi TM. Tahukah kamu penulis “Insya Allah Sah” yang sudah difilmkan itu? Ini dia, Mbak Achi TM. Kali ini beliau meluncurkan satu novel terbarunya dengan judul sangat menarik; “Belok Kiri Langsing”. Wah, siapa yang nggak mau langsing? Saya duluan tunjuk tangan tinggi-tinggi! Hehe. Dari mengikuti pre-order bukunya, akhirnya berhak mengikuti rangkaian kelas bersama beliau. Bayangiiin. Rangkaian kelas, artinya nggak cuma satu. Memangnya ada kelas apa saja, sih? Ada kelas menulis fiksi, kelas skenario bersama Mas Agung Arpopo, kelas penulisan biografi bersama Mbak Laura, juga sharing bersama Mbak Rayya, editor GPU langsung. Wah, deg-degan yaa. Pengampu kelas juga merupakan mastah di bidang masing-masing! Masya Allah. Yang paling menarik saat menghadiri kelas penutup, yaitu webinar via zoom bersama Mbak Rayya, aku sempat keder, soalnya kebetulan aku masuk bersama kelompok mereka yang sudah menerbitkan novel. Ada beberapa nama lainnya yang kukenal, novelnya sudah nangkring di Gramedia bahkan difilmkan juga. Kukira dengan begitu nyaliku ciut. Ternyata kata-kata Mbak Rayya selanjutnya sangat menghibur. Semakin memberanikan diri untuk menunjukkan karya pada dunia. Masya Allah. Jangan takut untuk terus mencoba ya, Em.
  4. Mengikuti kelas sharing Cabaca. Aku mengikuti kelas ini awalnya tergoda dengan event kepenulisan cerita tentang kesehatan mental yang diselenggarakan Cabaca. Meskipun belum tentu jadi ikutan, tapi dengan mengikuti kelas ini setidaknya ada gambaran. Lagi-lagi, ilmunya sangat menarik.
  5. Mengikuti lomba GWP. You know, GWP? Singkatan dari Gramedia Writing Project. Yes, siapa yang tak kenal Gramedia? Tahun ini adalah pertama kalinya kuberanikan diri untuk mengikuti challengenya. Itupun saja, yang kuikutkan adalah karya yang sudah pernah kutamatkan dalam hitungan tahun. Haha. Ada untungnya tulisan satu ini memang tak pernah publish di platform manapun. Akhirnya kupilih platform GWP, sekalian mengikutkannya. Yah, meski tak berharap apa-apa. Cuma ngarep yang penting selesai. Bukan apa-apa, lihat dulu siapa pesertanya. Banyak penulis senior yang sudah malang melintang, ikut serta di sini. Hihi.
  6. Mengikuti webinar otak atik kata bersama Ivan Lanin. Ini apa lagi, Em? Hehe. Jadi berawal dari melihat-lihat iklan kelas di suatu komunitas. Kali ini dari komunitas Nulis Aja Dulu. Lho, memangnya aku anggota di sana? Singkat kata, aku bahkan tak pernah sekalipun posting tulisanku di komunitas tersebut. Sama halnya aku tak pernah posting tulisan apapun di KBM (Komunitas Belajar Menulis besutan Pak Isa Alamsyah). Yang menjadikanku tertarik ikut kelas ini adalah, pembicaranya itu lho. Seorang penulis senior yang terkenal sebagai penulis di Wikipedia. Kelasnya asyik, bikin semangat membara. Masing-masing peserta harus membuat tugas membuat satu wacana. Yang kukira gampang, nyatanya banyak sekali susunan kata terbolak-balik dan tidak seharusnya. Ternyata, aku masih harus belajar banyak tentang bahasa Indonesia itu sendiri. Luar biasa.
  7. Mengikuti lomba cerita anak. Diawali adanya mention di Instagram, untuk mengikuti lomba menulis cerita anak. Bukan karena tertarik dengan hadiah uangnya. Tapi aku berharap bisa menjadi salah satu yang naskahnya diikutkan dalam buku yang akan mejeng di Gramedia. Itu dia, goalku. Sayang sekali, tak perlu menunggu lama-lama, dalam dua hari, sudah ada pengumuman yang disiarkan live. Separuh berharap aku menyaksikan dengan seksama, nyatanya, lagi-lagi aku gagal. Hiks. Bayangkan saja, aku baru tahu ada event itu dua hari sebelumnya, menyelesaikan naskah dalam tiga jam menjelang deadline, lalu, saat mendengar pengumumannya, ternyata nama-nama ternama yang menjadi pemenang. Salah satunya, juara harapan, adalah mbak Achi TM sendiri.
  8. Mengikuti kelas skenario bersama Hengki. Tahu serial Tukang Ojek Pengkolan? Nah, Mas Hengki inilah penulis skenarionya! Kelas ini bukan baru saja kuikuti bulan Juli, namun jauh berbulan-bulan sebelumnya. Bahkan sepanjang bulan Ramadan kuikuti pelajaran dengan khusyuk. Ada tugas-tugas yang diberikan yang semakin mengasah kemampuan. Dalam kelas ini berlaku sistem gugur, dan aku sudah pernah sekali dikeluarkan karena tidak mengumpulkan tugas. Qadarullah, kesempatan kedua datang kembali. Hal menarik lainnya, saat tugas akhir diberikan itu berbarengan dengan akan diadakan UAS, sehingga lagi-lagi aku harus berbagi konsentrasi. Hingga saat akhirnya kubisa menyelesaikan tugas, aku hanya bisa mengucap, “finally.” Kelas ini belum usai. Itu berarti aku juga belum boleh membuang harapanku di sini. Masih berharap tugasku dapat diterima dengan baik. Amiiinn.
  9. Mengikuti give away buku yang mengharuskan menulis review. Kali ini, berupa give away buku. Mengapa kucantumkan juga di sini, karena siapapun pemenangnya harus menuliskan review. Dan alhamdulillah, aku terpilih! Yeayy! Kapan lagi punya kesempatan baca gratis buku hasil karya pemenang juara satu lomba karya tulis Indiva. Lomba yang selama ini hanya kubaca infonya tanpa ada keberanian mencoba ikutan. Yup, Indiva salah satu penerbit yang sering mengadakan kompetisi menulis juga. Jangan bilang nggak kenal dengan Indiva. Buku-buku yang tertata rapi dalam perpustakaan pribadiku, kebanyakan dari Indiva. Bagaimana tidak, karena memang novel yang kumiliki mayoritas hasil karya penulis yang tulisannya seringkali menghiasi Annida, majalah Islami yang rajin kubaca ketika SMA dulu. Jadi novel-novelnya bersifat religi dengan tetap kaya diksi. Sebut saja, karya penulis favoritku yang juga ketua umum Forum Lingkar Pena, Mbak Afifah Afra. Semoga aku juga bisa mengikuti jejak beliau.
  10. Last but not least, adalah masih lanjut mengikuti challenge menulis dari Rumedia. Bisa dibilang, bulan Juli adalah bulan ketiga challenge ini dilaksanakan. Haa? Bulan ketiga? Yup, karena challenge ini diadakan selama 4 bulan. Bulan Agustus ini akan menjadi bulan terakhir dan aku adalah satu di antara mereka yang bertahan. Apa prestasiku di dalam challenge ini? Sekali terpilih menjadi pemenang mingguan, masya Allah. Tiap minggu memang selalu ada pemenang pilihan. Walau aku hanya sekali terpillih, rasanya sudah luar biasa. Apalagi saat ada challenge dadakan diminta membuat puisi, dan aku beranikan posting sejak sebelum deadline, kemudian tak diduga puisiku terpilih! Masya Allah.

Itulah dia, teman-teman, perjalananku selama bulan Juli. Kelas menulis apa dan tantangan menulis apa saja yang sudah saya ikuti. Mungkin tak semuanya bisa kumenangi, namun ketahuilah, bahwasanya sejatinya aku sedang bertarung melawan kemalasan diri. Aku sudah mengazamkan “Writing is my Passion”, maka aku juga yang bisa membuktikan bahwa benar menulis adalah passionku, sesuatu yang aku begitu berenergi dalam menjalaninya.

Tidak lupa, kamu yang sekarang adalah hasil dari kamu di masa lalu. Jika ada di suatu titik aku keranjingan menulis, maka gak heran kan, di suatu titik berikutnya, aku tinggal menikmati hasilnya? Bisa berupa banyaknya buku terbit atau nama yang semakin dikenal masyarakat luas, sebagai seorang penulis.

So, goodbye fly in July. Hope everything will run better next day.

Bandar Lampung, 1 Agustus 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 20): Selamat Datang di Bank Darah

Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/22/12-tahun-perjalananku-part-19-finding-my-passion/

“Saya izin menyampaikan surat ini, Bu,” ujarku seraya menyerahkan sebuah amplop kepada perempuan berhijab yang merupakan kepala ruangan di salah satu rumah sakit ini. Sebenarnya bukan ruang perawatan pasien, namun ….

“Wah, iya. Selamat datang, ya. Suratnya bisa langsung disampaikan saja di ruangan. Tahu, kan, ruangannya di mana?”

Saat itu memang aku masih  berada di gedung administrasi. Kebetulan saja bertemu beliau di sini. Masih teringat ketika terakhir aku menemuinya saat mengurus perjanjian kerjasama. Waktu itu aku masih bertugas di sub bagian hukum.

Baiklah. Aku mengangguk patuh dan segera mendatangi ruangan yang dimaksudkan.

“Emmy, kamu dapat SK juga?” Tiba-tiba seorang teman mengenakan seragam cokelat khas ASN menemuiku dalam perjalanan ke ruangan.

“Iya.”

“Kita sama, kan, tujuannya. Yuk, barengan.”

Dia mengajakku untuk mampir ke laboratorium untuk menemui kepala instalasi yang masih satu atasan dengan tempat tujuan pindahku.

“Dokternya enggak ada, Mbak. Suratnya langsung ke ruangan saja.” Seorang yang mengenakan jubah putih dan masker menjawab saat kami menanyakan ruangan kepala instalasi.

“Ngomong-ngomong, kalian pindah ke bank darah, ya? Hati-hati ya, di sana.”

Nah, ada apa, nih? Kenapa tiba-tiiba dia berkata seperti itu. Aku manggut-manggut saja mendengar ceritanya. Temanku yang lebih banyak menanggapi.

Ah, sudah biasa kualami, selama perjalananku bekerja di rumah sakit. Satu ruangan menjelekkan ruangan yang lain. Entah karena faktor iri, atau bisa juga dikarenakan tidak tahu menahu pasti kerjaan di sana seperti apa. Nanti kuceritakan tentang hal ini.

Tak lama, kami sampai di bank darah. Beruntung ada temanku yang sudah mengenal petugas di sana, karena aku tak melihat teman yang kukenal di sini. Ah, ada sedikit nama yang kukenal di sini. Karena pernah satu angkatan waktu kuliah dulu, dan satunya lagi karena pernah bertemu di tempat bekerja sebelumnya sebelum diterima CPNS.

“Baik, kami tinggal, ya. Izin kembali ke ruangan kami dulu. Masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan.”

Temanku sepertinya sengaja mengajak untuk tidak berlama-lama di tempat ini. “Sudah, Em. Saya balik dulu ke ruangan. Mau menikmati hari-hari terakhir kebebasan dulu.” Wah, kenapa, sih?

Aku tak banyak bertanya dan akhirnya kembali ke ruang perpustakaan. Sebenarnya hal yang wajar merasa cemas dan khawatir saat dimutasi. Perasaan yang sama seperti yang kurasakan selama ini selama berpindah-pindah tempat. Apalagi mutasi yang tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Yah, wajar, sih. Kita soalnya belum tahu, di tempat baru nanti pekerjaannya seperti apa. Teman-temannya juga bagaimana. Apakah kita akan diterima dengan baik di tempat baru? Apakah kita akan merindukan teman-teman di tempat yang lama?

Ada satu hal yang menjadi prinsipku saat bertugas. Aku mengupayakan untuk menghindari kelekatan dengan orang tertentu. Dari dulu, di semua tempat kerja, meski kutemui beberapa orang baik dan berkesan sebagai teman, namun belum ada yang begitu dekat hingga tahu semua rahasiaku.

Barangkali kalau ada yang dibilang teman terdekat, ya di perpustakaan ini. Sampai-sampai aku nulis status apa di sosial media, mereka sampai komentar. Pernah aku sebutkan, “lapar, belum sarapan,” tiba-tiba tak lama didatangkan sebuah menu sarapan spesial untukku, nasi uduk. Haha. Baik sekali.

Tetap saja. Aku tak suka kemelekatan, karena aku tak suka merasa terlalu sedih saat perpisahan tiba. Teman datang dan pergi begitu saja. Waktu di sub bagian hukum juga seperti itu. Teman dekatku malah mengurus kepindahan ke luar kabupaten. Aku harus tetap baik-baik saja, bukan. Baik saat ditinggalkan maupun meninggalkan.

Sedih memang, apalagi sebelum menerima SK mutasi, aku sudah diingatkan oleh teman lelaki di perpustakaan ini. Bisa-bisanya dia mimpiin aku, dan mimpinya tak lama menjadi nyata. Luar biasa.

Lebih baik, jangan terlalu dekat dengan siapapun di lingkungan kerja. Kau tak tahu ke mana arah angin membawa. Slama masih sebagai kroco, hanya bisa manut. Bahkan pejabat setinggi apapun, tetap saja judulnya bawahan, sebab di atas langit masih ada langit. Yup. Tak hanya anak buah yang sering mengalami mutasi, pejabat pun demikian. Tiba-tiba dimutasi, tiba-tiba non job, enggak ada yang abadi.

“Jadi, ada lima orang yang dimutasi ke sini, tiga untuk tenaga administrasi, dua orang analis.” Dokter selaku kepala instalasi yang mengepalai bank darah dan laboratorium, memulai rapat kecil kami.

Kami diminta memperkenalkan diri, asal ruangan sebelumnya juga lulusan terakhir sebagai apa. Masih ada yang bertanya-tanya saat melihat lulusan terakhirku.

“Aku sudah lama bertugas di sebagai administrasi, Dok,” jawabku. Haha, judulnya tetap bidan. Tapi multitalent dong. Bidan mana coba, yang mengetahui cara buat SK, mengatur kode buku-buku sekaligus aturan cuti dan amprah alat untuk seluruh ruangan? Mulai sekarang, bidan ini juga yang akan mengetahui dalamnya bank darah seperti apa? Waktu di kebidanan maupun di UGD kan, bisanya, minta kantong darah, trus mengeluh kalau permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi, enggak tahu dalamnya alurnya seperti apa, kan.

“Nah, karena sebagai tenaga administrasi, di sini adalah admin teknis, jadi berlaku jadwal shift-shiftan.”

Itu dia. Salah satu yang kutakutkan adalah menjalani shift-shiftan. Ada ketakutan aku akan kembali sakit-sakitan seperti waktu bertugas di pelayanan. Apalagi ruangan bank darah memang AC-nya sangat dingin. Sesuai kebutuhan, karena kantong darah harus dijaga suhunya agar darah tidak rusak.

“Saya punya alergi dingin dan mengidap bronkhitis.” Lebih baik kusampaikan itu sejak awal, kan. “Tapi, akan saya coba untuk bekerja sesuai jadwal, seandainya berat akan saya sampaikan, untuk dicari jadwal keluar win win solution.”

Bismillah, aku bukan lagi Emmy yang memendam semua perasaan sendirian. Lebih baik, jujur dari awal daripada menimbulkan kesalahpahaman. Seperti pada tugas-tugas sebelumnya, sebenarnya aku tahu berat bagiku hanya saja aku tidak pernah jujur. Ujungnya karena seringkali izin tidak bekerja dan bolak-balik opname, teman-teman malah protes. Pada akhirnya insentifku dipotong sepihak sekalipun aku tidak protes, karena merasa tidak berhak. Tapi, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk berusaha berubah. Semua bisa dibicarakan dengan baik-baik, kan.

Tak lama kami sudah mengikuti alur bekerja di sana. Karena status sebagai tenaga administrasi, setidaknya tugas kami membuat laporan harian serta melakukan input tindakan ke komputer. Pelan-pelan kami mempelajarinya.

Ternyata seperti ini perlakuan kantong darah sebelum bisa ditransfusikan ke pasien. Selama ini aku mengira, setelah menyerahkan lembar blanko permintaan darah, dicek golongan darahnya, langsung bisa dapat darahnya. Ah, pantas yang didapatkan baru tiket darah, karena harus dilakukan uji silang darah, atau disebut crossmatch. Darah dari donor dan sample darah pasien harus diuji dulu, cocok atau tidak. Jika tidak, maka petugas analis yang memeriksanya akan menyerahkan surat hasil pemeriksaan untuk diketahui dokter penanggungjawab di ruangan.

Tiap satu kantong darah, dilakukan crossmatch. Makanya permintaan sampel darah bisa berulang kali. Apalagi kalau darah pasien yang diambil memang tidak memenuhi standar. Kalau yang kuketahui minimal diambil 3 cc untuk permintaan kantong darah. Kadang perlakuan sampel darah yang salah juga membuat darah sampel jadi rusak dan akhirnya lisis, berarti tidak bisa diperiksa.

Baru ketika bertugas di bank darah ini, aku tahu bahwa menempatkan darah dari jarum ke tabung edta, tidak boleh disuntikkan melalui ujung spuit. Kadang malah disuntikkan dari tutup, alias tabung EDTA tidak dibuka sama sekali. Itu yang buat darah jadi cepat lisis. Haha, sepertinya aku juga pernah melakukan hal itu di ruangan.

Tugas di UTD lumayan banyak. Buku laporan yang harus diisi banyak sekali. Sudah itu, pemeriksaan pun harus dilakukan dengan teliti. “Waktu kalian cuma bertugas dua orang sekali shift, seperti apa?”

Pernah aku menanyakan hal itu yang dijawab dengan tawa. “Yah, gitu, deh, Mbak. Kerjanya kadabukan.”

Kukira hanya petugas di kebidanan dan UGD saja yang pontang-panting, ternyata sebagai penunjang medis pun demikian. Aku tak menyangka.

“Padahal ini baru bank darah, belum tahu nanti kalau sudah buka UTD seperti apa jadinya.”

Ini alasan kenapa banyak tambahan tenaga ditugaskan di bank darah. Sebab ada wacana bank darah akan dijadikan UTD, atau Unit Transfusi Darah, yang setara dengan PMI. Jadi, nantinya, di tempat kami bisa menerima donor darah dari keluarga pasien. Jadi tidak melulu ketergantungan pada PMI.

Pastinya enggak mungkin UTD dijalankan hanya dengan dua petugas tiap shift-nya.

Dokter juga sudah menginfokan hal ini dalam rapat kecil kami. Baiklah, ikuti saja alurnya nanti seperti apa.

Begitulah, pengalamanku berpindah-pindah selama 12 tahun ini mengajarkanku banyak hal. Meski ada perasaan sedih karena merasa tidak diinginkan di tempat yang lama, namun selalu ada hikmah yang bisa kuambil dari kejadian ini. Banyak ilmu yang telah kupelajari.

Pada akhirnya kita tidak bisa menilai sepatu orang lain. Kita hanya melihat di permukaan, tanpa menjalani sendiri seperti apa kejadian sebenarnya. Perjalananku selama 12 tahun mengajarkan jangan mudah meremehkan pekerjaan orang lain. Kalau kamu yang melakukan tugas itu belum tentu bisa sebaik mereka.

Bandar Lampung, 20 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 19): Finding My Passion

Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/22/12-tahun-perjalananku-part-18-seorang-bidan-belajar-hukum/

Pada akhir tahun 2016 adalah awal mulaku ikut training kepenulisan secara online. Dimulai dari hari-hari berat yang kulalui sebagai orang tua dari dua anak. Lalu kutemukan training Mindfulness Parenting untuk para orang tua, yang dimentori Bapak Supri Yatno, seorang praktisi kesehatan mental.

Hanya sebuah training saja yang bisa mengubah segalanya. Di sana aku baru beranikan membuka diri. Bercerita tentang semua trauma yang pernah kualami sepanjang hidupku termasuk praktik self injury yang selama ini tiada seorang pun tahu.

Karena training itu juga aku jadi paham harus membahagiakan diri sendiri. Berlanjut training Self Parenting dan Writing for Healing, akhirnya kutemukan apa yang menjadi passionku: menulis.

Barulah kuberanikan diri untuk ikuti beberapa training kepenulisan. Jalanku tak mudah. Tadinya suami ikut protes ketika aku berlama-lama di depan laptop. Sempat juga merasa down dan berharap bisa lebih memanajemen waktu dengan tepat. Di saat itulah sebuah SK mutasi kuterima.

“Assalamualaikum,” sahutku memasuki ruangan penuh buku yang tampak lengang. Tidak ada seorang pun di sana.

“Waalaikumussalam.” Barulah keluar seorang perempuan yang sudah renta dari dalam, sedang memegang kain pel.

“Bu, saya pindahan dari sub bag hukum, mulai hari ini pindah ke sini,” jelasku yang langsung disambut ucapan Hamdalah oleh Bu Jo, begitu aku memanggilnya.

Namanya juga perpustakaan, ruangan ini penuh dengan buku. Karena bingung harus mengerjakan apa, kuamati buku-buku yang tersusun rapi di rak. Aku merasakan di sinilah tempatku, berada di antara tumpukan buku. Masya Allah.

“Emmy, tolong, ya. Bantu di perpustakaan.” Terngiang ucapan atasanku saat aku berpamitan.

Bagian perpustakaan ini bisa dibilang masih berada di bawah naungan sub bag Pengembangan Sumber Daya Manusia. Berada di bawah pejabat eselon 4 yang berbeda, namun masih satu naungan di bawah pejabat eselon 3 yang sama dengan sub bagian hukum. Jadi, kali ini mutasiku tak terlalu jauh.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa di rumah sakit ini tersedia perpustakaan. Biasanya yang berkunjung ini seputar mahasiswa baik perawat maupun coas yang sedang praktik di sini, maupun pegawai yang sedang menjalani kuliah lagi. Tapi pengunjungnya masih terbilang jarang. Koleksi bukunya juga masih belum terlalu banyak.

Hal itu juga menjadikan kami, pegawai perpustakaan, tak terlalu banyak kegiatan. Akhirnya aku jadi punya lebih banyak waktu untuk … menulis. Awalnya aku dibuatkan blog oleh suamiku, dan setiap pagi sambil mengisi waktu kutuliskan apa saja yang terlintas di kepala pada blog tersebut. Dari situ aku sudah mengalami keasyikan tersendiri.

Apalagi setelah ikuti training kepenulisan dan ada tugas-tugas yang diberikan. Masya Allah. Tugas-tugas itu kukerjakan dengan semangat. Pada awal 2017 akhirnya aku beranikan mengirimkan naskahku untuk dimasukkan dalam sebuah buku antologi bersama. Ini merupakan terobosan baru bagiku, yang meski pernah menulis cerpen waktu SMA, tapi tak pernah mengirimkannya di media manapun.

Lalu, tak diduga aku kembali jatuh sakit. Typhoidku kambuh dan aku terpaksa opname. Padahal baru saja aku merasakan semangat hidupku kembali berkat menulis. Kesakitan itu juga yang akhirnya membuatku gagal mengikuti sebuah lomba kepenulisan. Padahal aku sudah menjalani syarat-syaratnya.

Selepas opname, tepatnya ketika kontrol ke dokter spesialis, aku menemukan ide sebuah cerita fiksi ketika sedang mengantri berobat. Lagi-lagi ide kutemukan di tempat dan waktu yang tidak terduga. Untung saat itu aku membawa blocknote dan pena. Kutuliskan ide-ide itu di sana. Kadang aku juga menuliskan pada sebuah aplikasi notepad di HP. Namun kendala kalau HP-nya lowbet, jadi aku usahakan sedia note mini di tas.

Saat buku perdanaku launching, betapa bangganya hati. Aku minta difotokan oleh temanku di perpustakaan, poseku sedang menandatangani buku ini. Meski ini merupakan antologi bersama, alias ditulis bersama-sama penulis lainnya, aku sudah merasa bangga. Pas banget settingnya tempat kerjaku sendiri, yaitu perpustakaan. Jadi background fotonya penuh buku-buku.

Tak hanya menulis, kutemukan hobi lain yaitu bernyanyi melalui aplikasi Smule. Kalau dipikir-pikir malah aku yang menularkan virus Smule pada teman-teman, hihi. Bisa dibilang aku merasa jauh lebih hidup saat ini. Aku juga sudah lama jauh-jauh dari keinginan self injury tepatnya setelah menjadi seorang ibu. Sudah ada buah hati yang menjadi fokus utamaku saat ini.

Kalaupun ada kesibukan di tempat kerja, itu adalah waktu hendak dilaksanakan sidak oleh tim akreditasi. Memiliki perpustakaan adalah suatu syarat bagi rumah sakit ini supaya bisa disebut juga rumah sakit pendidikan. Pada saat itu, sistem perpustakaan kami sudah terhubung secara online, namun kebetulan komputer sedang dalam perbaikan.

Setelah tahu akan ada sidak yang diadakan besok, akhirnya sore itu juga aku bersama temanku datang menuju perpustakaan untuk mengambil komputer kami, memintanya cepat diperbaiki.

“Jadi, bagaimana? Bisakah komputernya diperbaiki sekarang?”

“Tolonglah, kami perlu komputernya, besok. Bisa mampus kami kalau enggak ada komputernya pas sidak.” Temanku mulai bersuara pada pihak SIM-RS yang bertugas memperbaiki komputer.

Untung akhirnya kami menerima jawaban iya. Komputer akan diusahakan pagi-pagi sekali bisa diambil, sebelum tim sidak datang. Finally. Lalu kami juga membeli beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk mempercantik perpustakaan ini.

Pada hari Jumat pagi, kami sudah memulai kesibukan dengan merapikan detil di perpustakaan. Kalau buku-buku sudah tersusun rapi di rak buku sesuai dengan kodenya. Lalu kami mempercantik tampilan dua meja yang ada di perpustakaan. Yang satu diberikan taplak meja, yang merupakan meja tamu, tersedia buku daftar pengunjung perpustakaan. Satunya lagi sebagai meja untuk komputer. Alhamdulillah, pagi tadi komputer sudah diambil. Lekas kami hidupkan termasuk dengan sistem onlinenya, yang sudah lama tidak diaktifkan dikarenakan sepi pengunjung.

Sekitar jam 10, tim sidak datang, ada dari pihak kementerian, universitas, serta beberapa dokter yang bertugas di rumah sakit. Kami menyambut dan menjawab setiap pertanyaan. Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti. Perpustakaan dinyatakan lulus dan layak. Hore.

Baru setelah mereka pergi akhirnya aku bisa membuka laptopku kembali. Tiada hari tanpa mengerjakan naskah, selama aku bekerja di perpustakaan ini.

Beberapa bulan kemudian, Ramadan akhirnya datang. Saat ini tim perpustakaan terdiri dari lima orang. Aku sebagai koordinatornya, sebagai satu-satunya ASN yang ditugaskan di sini. Bu Jo sudah pensiun dan tak lagi bertugas. Lalu ada tambahan tiga orang baru. Salah satunya, seorang lelaki, lumayan bisa membantu bila ada masalah di bidang komputer.

Dia juga banyak membantuku secara pribadi, misalnya saat tiba-tiba, beberapa bulan sebelumnya, aku dipanggil ke BKD (Badan Kepegawaian Daerah) untuk mengurus ujian naik pangkat. Masya Allah, panggilan yang begitu mendadak dan baru kuketahui dari seorang teman, sesama yang mengikuti ujian kenaikan pangkat. Aku benar-benar sudah terlambat mengurus kenaikan ke golongan 3A. Setelah sebelumnya, naik pangkat ke 2D juga terlambat. Kalah jauh dibandingkan teman-teman seangkatanku, para bidan yang masih setia bertugas di ruang kebidanan.

Inilah alur hidupku, sepanjang perjalanan di rumah sakit pusat rujukan ini. Akhirnya aku mengikuti tes ujian tertulis dan harus menunggu hasilnya sebelum mengurus naik pangkat.

Hingga di pertengahan Syawal, teman lelakiku itu mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

“Mbak Em, aku mau memberitahu sesuatu, tapi jangan marah, ya.”

“Ada apa, sih? Ya, tergantung, lu mau ngomong apaan dulu?” jawabku sekenanya.

“Ih, beneran, Mbak, pokoknya jangan marah, ya.”

“Emang apaan sih, udah, ngomong aja.” Lama-lama sebal juga aku, nih, orang, bikin kepo aja.

“Jadi, Mbak, kan, tahu. Aku tuh, sering dapat petunjuk dari mimpi.”

“Nah, terus?” Apa hubungannya mimpi dia sama aku, pikirku sambil mengerutkan dahi.

“Ya, aku mimpiin Mbak. Dalam mimpiku, Mbak pindah ke pelayanan pasien.”

“Ah, yang bener. Gue apa elu yang pindah?”

“Dalam mimpiku, Mbak yang pindah. Jujur aja, mimpi semalam yang kedua kalinya. Sebelumnya pas bulan Ramadan, aku pernah mimpi hal yang sama.”

“Hmm …. Begitu, ya.”

Awalnya pembicaraan itu tak menjadi pikiran buatku. Aku masih fokus pada tugas-tugas menulis, keranjingan dari satu antologi ke antologi lainnya, dari satu lomba menulis ke lomba lainnya. Hingga tiba-tiba, kami dihubungi oleh seorang teman.

“Mbak Emmy dan Bu Rina, dipanggil ke kepegawaian, ya. Sekarang.”

Bu Rina adalah satu pegawai perpustakaan kami yang memang sudah disampaikan akan dikembalikan ke tempat asalnya di ruang farmasi. Sementara aku? Apakah ini berarti aku akan dimutasi? LAGI?

Bandar Lampung, 19 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 18): Seorang Bidan Belajar Hukum

Seorang Bidan Belajar Hukum

Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/21/12-tahun-perjalananku-part-17-belajar-jadi-perempuan/

“Apa saja, nih, yang kira-kira akan ditanyakan selama proses sidang?”

“Biasanya, Dok, intinya itu mereka ingin tahu apakah Dokter punya hubungan dengan terdakwa sebelumnya. Sekadar kenalan atau apa, supaya mereka tahu, apakah Dokter bisa berlaku obyektif dalam memberikan diagnosa. Intinya seperti itu. Tidak perlu dibawa tegang, Dok.”

Aku hanya terdiam mendengar percakapan antara kedua kakak ini dengan tiga orang dokter yang berkunjung ke ruanganku siang itu. Ada dokter spesialis syaraf, spesialis penyakit dalam, serta dokter spesialis THT.

Cerita dimulai ketika datang surat pemanggilan kepada ketiga dokter yang pernah memeriksa seorang pasien di rumah sakit kami. Ternyata pasien yang juga merupakan mantan pejabat di kabupaten tersebut telah menjadi tersangka kasus korupsi sehingga harus menjalani sidang demi sidang. Dikarenakan kondisi tersangka juga menderita stroke berat, sehingga memperburuk keadaannya, termasuk mengganggu pendengaran, makanya pasien pernah diperiksa dokter THT juga. Ada permintaan keringanan hukuman, tapi harus dibuktikan dengan kesaksian dari para dokter yang telah memeriksa beliau.

Seorang bidan yang sedang belajar ilmu hukum, itulah posisiku saat ini. Pada akhir tahun 2013 aku kembali menerima SK mutasi. Atasanku mengatakan, sub bagian hukum memerlukan tambahan tenaga kerja yang pernah bekerja di pelayanan pasien, sehingga mengerti kondisi pelayanan. Memang meski hanya berupa tenaga administrasi sekalipun, sebaiknya semua petugas RS mempunyai latar belakang kesehatan. Meskipun banyak juga pekerja dengan latar belakang umum, meski beberapa sudah dipindahkan ke pemerintahan provinsi.

“Gue juga mau urus pindah, ah,” sahut PLH kasubbag Hukum, pada suatu hari.

Disebut PLH, karena memang Dimas, begitu biasa kumemanggilnya belum diangkat menjadi eselon. Namun hanya menggantikan sementara, dikarenakan posisi Kasubbag masih kosong ketika aku dimutasi ke sana.

Aku jarang melihat sosok ini, namun baru kuketahui kemudian, ternyata dia seusia denganku. Tepatnya setahun di atas suamiku, karena ultah mereka berdua sama percis. Luar biasa.

“Kamu mau pindah juga?” tanyaku.

“Iyalah, males gue. Masa di sini hari Sabtu kerja.”

Haha, luar biasa. Tapi wajar juga, sih. Bapaknya Dimas juga merupakan seorang pejabat, jadi memang namanya banyak dikenal di kalangan eselon. Selain itu, dia memang sudah lulusan S2 Hukum dan berotak cerdas. Wajar saja terpilih jadi PLH. Wajar saja dia bisa merencanakan untuk mutasi dengan mudahnya.

Dulu staf hukum memang tidak terlalu banyak. Hanya Dimas, ditemani oleh seorang teman lagi. Banyak pegawainya yang sudah pindah, ada juga yang sudah pension, termasuk pejabat eselonnya. Mungkin dinilai tidak terlalu banyak tugas, ya. Ah, padahal tidak juga.

Kerjaan dan tanggungjawab di subbag hukum bukan main-main. Urusan menghadiri sidang memang datang tak pasti. Sekali-sekali saja bila kami menerima undangan dari kepolisian. Atau bila ada kasus yang melibatkan pelayanan dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Biasanya aduan itu akan masuk ke bagian kami, bila sudah melibatkan aduan hukum. Jika keluarga pasien hanya komplain melalui omongan, masih merupakan urusan bidang keperawatan, atau bidang pelayanan (untuk dokter). Adakalanya keluarga pasien tidak puas sampai mengadukan atas nama malpraktik.

Nah, makanya bukan main-main, kan. Urusan perjanjian kerja sama dengan pihak ketiga juga merupakan tanggungjawab kami, sub bagian hukum. Makanya akhirnya aku belajar cara membuat kontrak kerjasama, termasuk juga surat keputusan atau SK. Luar biasa.

Berbarengan dengan kepindahanku, juga ada petugas lainnya di sini, seorang perawat senior yang sedang mengambil S2 di bidang hukum. Wah, apa aku harus ambil S2 hukum juga, ya. Haha. Ngawur. Bukannya S1 pun aku belum.

Tapi menjadi pegawai struktural memang seharusnya mempunyai gelar minimal dari strata 1, bahkan kalau bisa S2. Kalau tidak, sama saja nanti kami jatuhnya seperti pekarya yang kebanyakan hanya tamat SMA. Iya, pekarya yang kalau di UGD, tugasnya mendorong brankar sana-sini. Kalau perempuan, tugasnya ambil nasi jatah pasien ke instalasi gizi.

Pikiranku jadi menerawang. Sebenarnya ada seorang bidan yang kukenal mengambil S2 hukum. Bahkan dia bekerja di kantor wilayah hukum, tempat suamiku dulu sebelum dipindahkan ke kabupaten. Wah, aku kagum sekali padanya. Di rumah dia masih buka praktik, sementara bekerja sebagai staf hukum. Jadi kedua ilmunya seiring sejalan. Setahuku dia juga menjadi satu-satunya tempat konsultasi bidang hukum di IBI (Ikatan Bidan Indonesia) provinsi Lampung.

Aku iri pada teman sejawat yang punya keahlian lebih dari sekadar satu bidang saja. Semoga satu saat aku juga bisa mempunyai keahlian lebih dari aku yang sekarang ini.

Bila kami sedang bersantai dan tidak terlalu banyak pekerjaan yang dikejar deadline, biasanya kami akan menyempatkan diri makan siang di luar. Berbeda dengan di bagian keperawatan, di mana pejabat eselon lebih suka bila makan siang, masak nasi sendiri. Di sub bagian hukum, urusan perut urusan masing-masing. Makanya pernah juga waktu kerjaan lagi banyak-banyaknya, aku tak sampai tak sempat makan siang, parahnya lagi tak sempat memompa ASI. Huhu, bagiku itu sangat menyiksa.

Setelah Dimas akhirnya jadi dipindahkan ke kantor pemerintahan provinsi, tak lama, akhirnya kami mendapatkan atasan pejabat eselon 4. Alhamdulillah. Apalagi atasanku juga seorang yang baik dan memahami anak buahnya.

Selama di sub bagian hukum berat badanku semakin bertambah. Haha. Mungkin karena kami jadi banyak makan siang di luar, ya. Sebenarnya kadang-kadang waktu di keperawatan juga kami diajak makan siang bahkan karaoke. Sayangnya, aku jarang bisa ikutan, dikarenakan anakku tidak ada yang menjaga. Kalau sekarang, alhamdulillah aku sudah dibantu oleh asisten rumah tangga yang menginap di rumah.

Ah iya, akhirnya aku bisa menempati rumah sendiri, setelah anakku berusia setahun. Sebelumnya kadang-kadang aku izin tidak bekerja di hari Sabtu, untuk menengok rumah baru yang sedang dibangun bersama dengan suamiku. Iya, namanya juga suami baru ada di rumah setiap hari Sabtu dan Minggu saja.

Hal tak terduga yang berikutnya terjadi, aku diberikan kehamilan kedua. Haha, ini termasuk kehamilan yang tidak direncanakan, karena aku masih dalam proses menyusui anak pertama yang belum genap berusia dua tahun. Masih kuingat, waktu itu, aku sengaja memeriksakan diri di rumah sakit lain, agar tidak ketahuan oleh teman-temanku. Aku bilang saja aku tidak enak badan dan harus berobat.

Lama kelamaan, apalagi mualku menjadi sampai tak bisa minum air putih, akhirnya aku putuskan harus memberitahu temanku. Bukan apa-apa, kalau sampai terjadi aku diopname lagi izin kerjanya bagaimana, kalau temanku tidak tahu kondisiku.

Masa kehamilan kulalui dengan lebih nyaman, tanpa harus berhadapan langsung dengan pasien, tanpa pernah melakukan perawatan jenazah, seperti pada kehamilan pertama. Aku juga bisa mengikuti seperti orang-orang, ibu hamil enggak boleh keluar malam. Kalau kehamilan pertama mana bisa aku seperti itu, kan.

Ujian yang kujalani selama bekerja paling hanya seputar membawa berkas fotokopian yang cukup tebal bolak-balik, sambil hamil. Yah, memang sudah menjadi tugasku. Tetap ujian ini belum seberapa dibandingkan saat masih bekerja di UGD.

Hanya saja, karena kondisi masih berjauhan dengan suami, beberapa kali aku terpaksa pergi ke dokter kandungan seorang diri. Untuk pulang pergi juga aku masih naik angkutan umum. Tapi kujalani saja semuanya. Memang sudah menjadi resiko apalagi aku belum bisa bawa kendaraan sendiri. Di rumah juga tidak ada kendaraan. Hanya ada motor yang dibawa suami bekerja.

Baru setelah kelahiran anakku yang kedua, tak lama kemudian kami akhirnya memiliki mobil. Dobel rezeki di tahun 2015. Kelahiran anak kedua, seorang lelaki lalu di akhir tahun punya mobil. Alhamdulillah.

Kurasa aku sudah menemukan zona nyamanku di sini. Kalau aku punya kesempatan untuk meraih S1, mungkin aku bisa mengambil S2 hukum juga. Ah, siapa tahu aku bisa menjadi penerus almarhum ayahku yang seorang SH. Di saat aku sudah menikmati pekerjaanku di sini, tak lama datanglah sebuah surat mutasi lagi.

Bandar Lampung, 18 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 17): Belajar Jadi Perempuan

Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/20/12-tahun-perjalananku-part-16/

“Emmy, masak nasi sekarang, udah mau siang.”

Duh, pernahkah kusampaikan bahwa aku tak bisa memasak? Bergegas kumembawa tubuhku menuju pantry. Magic com ruangan kami memang berada di sana. Sementara kehamilanku sudah membesar dengan kedua kaki membengkak, aku memaksa tubuh untuk bergerak.

Gamis cokelatku khas seragam ASN melambai ketika kubergegas. Yup. Akhirnya aku punya kesempatan juga mengenakan seragam cokelat ini. Setelah bertahun-tahun banyak yang tidak mengira bahwa aku bagian dari staf pemerintah, karena hampir tidak pernah mengenakan seragam, bahkan bekerja shift-shiftan.

Haha, yang masyarakat tahu tentang PNS (yang sekarang lebih dikenal sebagai ASN) itu kan sesuai kepanjangannya; PNS: Pagi Nunggu Sore. Udah gitu, selama kerja, kebanyakan duduk, buka komputer bukannya ngetik laporan malah maen fesbuk, trus sambil berghibah, kadang diselang makan siang bersama di luar.

Ya, itu PNS mana dulu? Kami pekerja rumah sakit, mana ada yang begitu. Apalagi mereka yang di bagian pelayanan pasien.

“Emmy, kamu udah urus surat pembebasan fungsional?’ tanya bu Septi, seorang pejabat eselon 4 di ruangan ini.

“Sudah, Bu.” Aku menjawab singkat. Lalu kembali aku menunaikan tugasku beralih ke pantry, demi memasak nasi.

Apakah ada yang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi?

Jadi, dinas malam yang kujalani pada malam tahun baru yang waktu itu kami merawat dua pasien meninggal, berbarengan ada dua lahiran di UGD, merupakan dinas malamku yang terakhir.

Tak lama dari situ, sebuah SK mutasi kembali dialamatkan kepadaku. Namun sedikit berbeda. Karena kepindahan kali ini, aku yang menginginkannya.

“Tapi kamu siap dengan resiko yang harus kamu jalani? Bahwa insentif dan tunjanganmu akan dicabut?”

Sudah lama aku memikirkannya, dan sudah yakin akan jawabannya. Aku memutuskan untuk melepas jabatanku sebagai bidan, bukan tanpa alasan. Pekerjaan ini sangat mulia, menyelematkan nyawa orang seperti menyelamatkan satu kehidupan lagi di dunia, membangkitkan harapan pada manusia.

Namun, sedari dulu aku sudah merasa, tempatku bukan di sini. Saat aku diminta bantuan untuk menyelesaikan bagian administrasi pasien, aku sudah merasa, tempatku adalah di balik layar.

Adalah keinginan almarhum ayahku untuk menjadikanku seorang bidan, seorang bagian dari tenaga kesehatan, meskipun secara fisikku tak mampu menyamai kinerja teman-teman sejawat. Aku yang sakit-sakitan dan sering opname ini tidak mampu bekerja dengan maksimal. Yang ada malah selalu saja menuai protes dari teman-teman satu shift-an.

Makanya, setelah bertahun-tahun diam dan tidak dimengerti orang lain, sudah saatnya aku bertindak. Aku harus mengatakan sebenarnya, meski berkas resume medisku yang tebal melebihi ketebalan resume medis pasien-pasienku, sudah berbicara jelas.

Akhirnya SK mutasi memindahkanku ke bagian keperawatan, salah satu ruang di gedung administrasi, bagian yang bertanggungjawab ke seluruh ruangan perawatan di rumah sakit ini. Bagian yang bertanggungjawab terhadap kinerja seluruh tenaga kesehatan, khususnya perawat dan bidan.

Di gedung administrasi berarti bekerja selayaknya PNS dong, Pagi Nunggu Sore? Oh, ternyata sama sekali tidak. Bayangkan satu ruangan dengan sedikit orang, bertanggungjawab ke seluruh ruangan pelayanan pasien di rumah sakit ini.

Sebagai contoh, setiap hari libur tiba, kami harus meminta jadwal jaga seluruh tenaga kesehatan. Bisa juga melakukan sidak sekali-kali, yang dilakukan langsung oleh pejabat eselon. Kurangnya peralatan, termasuk brankar dan alkes lainnya, juga merupakan tanggungjawab kami. Ada komplain dari pasien mengenai salah seorang perawat, laporannya harus masuk ke keperawatan.

Padahal rutinitas lainnya sudah begitu menyibukkan. Seperti laporan jumlah pasien per harinya, laporan jumlah dan diagnosa pasien per minggunya, laporan bulanan, bagian cuti yang menyesuaikan jadwal cuti semua perawat dan bidan, belum lagi bagian penilaian angka kredit bagi ASN perawat dan bidan yang memerlukan untuk naik pangkat. Ah, bahkan untuk mengurus naik pangkatku sendiri pun belum sempat-sempat.

“Ini, Bu, sudah jadi nasinya.” Aku menggotong magic com berisi nasi ke ruangan atasan kami, kepala bidang keperawatan, eselon tingkat 3.

Tak cukup sampai di situ, aku juga harus menghidangkan sayur dan lauk pauk yang telah kami beli, lalu menata piring dan sendok garpu di meja yang sama.

Sudahkah kubilang aku belum terbiasa melakukan hal seperti ini?

Banyak hal yang kupelajari di ruang keperawatan, namun hal yang paling berkesan adalah bagian belajar menjadi perempuan. Iya, aku yang notabene tidak pernah masak, masih canggung melakukan bagian penataan meja seperti ini, tapi akhirnya mempelajarinya dari memperhatikan teman-teman.

Ah, bagaimana mau belajar menata dan merapikan meja, di rumahku sendiri kami terbiasa makan masing-masing, bukan makan bersama dalam suasana kekeluargaan. Setelah mengambil makanan, kami akan membawa piring, lalu makan di depan televisi. Aku dan kakak-kakakku terbiasa melakukan itu. Kakakku yang biasa sibuk beraktivitas di luar, berarti baru bisa makan setelah dia pulang, itu berarti terakhir.

Hanya almarhum ayah yang biasa makan di meja makan. Kami akan berada dalam suasana tegang bila makan bersama, makanya lebih baik membawa piring kami ke depan televisi. Selesai makan, ya kami letakkan di bagian piring kotor, lebih bagus bila langsung mencucinya. Urusan membersihkan meja makan, biasanya sudah dikerjakan ibuku. Karena hanya ayahku yang makan di sana. Ibuku meski makan di waktu bersamaan dengan ayah, namun akan membawa piring makannya ke ruangan yang berbeda. Pemandangan ini yang biasa kusaksikan sedari kecil.

“Emmy, nasinya keras,” ujar temanku yang memakannya dengan susah payah. Waduh, tampaknya aku masih belum bisa menakar air dengan pas.

“Em, sini,” perintah bu Ida, salah seorang pejabat eselon 4 lainnya. “Kamu kalau mau menakar air di magic com, pakai jemarimu seperti ini.”

Haha, ketahuan deh, sama teman-teman, masak nasi pakai magic com saja tidak bisa. Waduh.

Aku mencerna dalam hati penjelasan dari bu Ida. Keesokan harinya langsung kupraktikkan.

“Nah, ini Emmy sudah bisa masak nasi. Takarannya pas, nasinya pulen,” puji bu Ida padaku.

Bahkan pekarya di bagian pantry juga mengatakan demikian. “Saya enggak biasa masak nasi pakai magic com, Dek. Di rumah masaknya nasi liwet. Duh, masakan mbak Emmy bagus banget nasinya, pulen. Enggak keras dan enggak benyek. Pas.”

Haha, sudah saatnya aku belajar menjadi seorang perempuan, pada saat sebentar lagi aku menjadi seorang ibu. Baru ada sebulan aku masuk kerja, lalu sudah harus cuti tidak bekerja karena kelahiran anakku yang tiga minggu lebih cepat dari perkiraan. Untung saja, aku sudah selesai mengurus surat cuti karena aku juga yang memegang bagian cuti tenaga perawat dan bidan, jadi sekalian.

Aku ingat keterkejutan temanku waktu aku menghubunginya di Senin pagi.

“Mbak, aku izin enggak masuk kerja, aku udah ngelahirin.”

“Haa, udah ngelahirin? Sabtu kemarin kan, kamu masih masuk kerja.”

Bagian administrasi di rumah sakit memang jadwal kerjanya sampai hari Sabtu. Sesuai dengan jadwal poliklinik yang juga buka sampai hari Sabtu. Namanya juga berurusan dengan pelayanan pasien. Jika kami mengikuti jadwal ASN bekerja lima hari, maka pasien yang memerlukan legalisir rumah sakit, atau urusan surat-menyurat lainnya jadi tidak bisa mengurus. Benar yang dibilang temanku, hari Sabtu kemarin aku masih masuk kerja. Pulang dari bekerja, sorenya aku kontrol ke dokter. Lalu malamnya aku sudah pecah ketuban. Kata dokter, mungkin pengaruh kelelahan bekerja makanya aku cepat lahiran. Walau tetap tidak selelah waktu aku masih bekerja di UGD.

Anakku juga pintar memilih lahir ketika ada papanya di rumah. Aku sebelumnya tidak bisa membayangkan bila kontraksi datang ketika papanya masih di kabupaten. Perlu waktu beberapa jam hingga sampai ke karang, dan itu berarti bisa saja papanya anak-anak akan kehilangan kesempatan menyaksikan lahiran anak pertamanya. Untungnya itu tidak terjadi.

Begitulah, akhirnya belum sampai setahun aku menjalani hari-hariku di keperawatan. Kekompakan dan keseriusan mereka dalam bekerja sangat patut ditiru. Terimakasih banyak telah mengajarkanku banyak hal, termasuk untuk menjadi perempuan. Meski akhirnya tak lama, aku kembali dihadapkan satu SK mutasi lagi ke ruangan yang berbeda.

Bandar Lampung, 17 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 16)

Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/16/12-tahun-perjalananku-part-15/

“Emmy sekarang, kok, tambah cerewet, ya?”

Aku terdiam mendengar komentar dari temanku. Wait, what? (Brasa Anna di film Frozen, hehe)

Mungkin ada benarnya yang disampaikan temanku. Sejak kehamilan ini aku menjadi semakin bunyi, alias cerewet. Maklum saja, sebagai introvert aku memang lebih nyaman berada dalam kesendirian. Ke mana-mana sendiri, sampai nonton di bioskop aja, berani-beraninya sendirian. Haha. (Masih ingat, enggak, ceritanya?)

Nah, saking pendiamnya aku, dan ke mana-mana sendirian itulah, bahkan aku pernah dibilang apatis. Untung bukan autis. Diamnya aku sering disalahartikan teman. Sampai-sampai aku tak pernah berani untuk menanyakan, “why they don’t like me?” dan cuma bisa pasrah menerima segala bentuk perlakuan orang padaku. Dari mulai pasrah bila tidak ada yang mau membantu tugasku, saat tahu teman-teman membicarakan perihal buruk di belakangku, pernah juga mengalami pelecehan di tempat kerja, dari mulai bentuk verbal sampai perbuatan, hingga dimutasi tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Perjalanan hidupku yang menjadikan diriku bagai seorang pengecut yang sekalinya mengungkapkan maksud hati justru dengan cara yang salah akibat penumpukan emosi, ujungnya menjadi bumerang bagi diri sendiri. Ujungnya karena kesal aku jadi sering praktik self injury. Satu hal yang tidak kubiarkan seorang pun tahu, termasuk orang-orang terdekatku.

Aku bersyukur, dengan kehamilan ini, aku bisa menghentikan tindakan berbahaya itu. Kemudian setelah melalui fase kesedihan akibat sepeninggal almarhum ayah, akhirnya aku bisa bertindak seperti biasa di hadapan teman-teman. Bahkan … tampil lebih cerewet.

“Anakmu perempuan, ya?”

Bukan sekali dua kali, aku mendengar pertanyaan itu. Di saat aku belum tahu jenis kelamin anakku, teman-temanku sendiri sudah bisa memastikannya. Biasanya kujawab saja dengan senyuman.

Hari-hari kehamilanku selanjutnya kujalani bukan tanpa hambatan. Tantangan pekerjaan harus terus kujalani. Termasuk mengurus perawatan jenazah. Kalau kata orang, ibu hamil enggak boleh dekat orang meninggal, nantinya bayinya sawan, atau malah “keikut”, lha, bagaimana bisa aku menghindari apa yang sudah menjadi tugasku?

Teman-teman sebenarnya sudah sangat membantu. Mereka sigap menggantikan tugas dan membiarkanku stay di kursi dan mengurusi bagian administrasi saja. Oleh kepala ruangan pun aku ditempatkan di HCU, biar lebih bisa sedikit bersantai dibandingkan UGD yang untuk meluangkan waktu duduk sejenak saja sulit. Tak hanya itu, aku juga diberi kemudahan untuk menjalani shift pagi terus-menerus. Walau tetap berfungsi sebagai cadangan yang akan menggantikan bila shift sore dan malam kekurangan tenaga. Kurasa itu sudah cukup membantu.

Namun, adakalanya tetap saja tak bisa menghindari. Di saat pasien UGD membludak, lalu teman sedinesanku di HCU harus ikut membantu di UGD, maka tinggallah aku sendiri melayani pasien-pasien kritis di sini. Seperti pengalamanku berikut ini:

“Sudah siap?”

“Iya,” jawabku singkat kepada suamiku sambil pelan-pelan mengambil posisi di belakangnya.

“Pegangan yang kuat, pakai jaketmu rapat-rapat.”

Aku tahu suamiku mengkhawatirkan kondisiku. Harus bekerja shift malam di usia kehamilan semakin membesar. Kira-kira baru memasuki 8 bulan, kalau ibu hamil bekerja lainnya mungkin sudah memikirkan cuti bekerja. Nah, jangankan mengurus cuti, bahkan untuk menggantikan temanku yang sedang cuti tahunan, terpaksa aku yang menggantikan.

Tak lama tiba juga di depan pintu UGD rumah sakit tempatku bekerja.

“Kamu pulanglah,” pintaku pada suami. Pernah ada beberapa kali suami menemani saat aku bertugas shift malam, karena beliau mengkhawatirkan kondisi istrinya. Tapi aku tak ingin hal ini menjadi komplain lagi bagi teman-teman.

“Tapi janji, ya, kamu usahakan tidur.”

“Iya, tenang saja.” Yang penting aku berjanji dulu, entah nanti bisa istirahat atau tidak tergantung situasi dan kondisi di tempat bekerja.

Dalam hati sebenarnya aku merasa iba, sudah jarang bertemu dengan suami, giliran dia ada di rumah, malah aku yang meninggalkannya.

Suara kembang api masih riuh mewarnai langit malam ketika aku berjalan memasuki UGD, lalu langsung menuju HCU, tempatku bekerja.

Jantungku berdetak lebih cepat saat melihat suasana di UGD. Pasien memenuhi ruangan, seperti suasana yang seringkali kami temui setiap malam tahun baru.

Iya, esok sudah saatnya meninggalkan tahun 2012. Dunia akan menyambut tahun 2013. Alasan yang sama kenapa suamiku bisa mengantarku bekerja, karena memang beliau sudah menjalani libur pergantian tahun.

“Em, aku pamit mau bantu UGD, ya,” pamit rekan kerjaku di HCU setelah dua jam kami menyelesaikan pekerjaan kami di sini. Sebagian besar pasien sudah beristirahat. Obat injeksi sudah kumasukkan, tinggal menunggu jadwal pemberian selanjutnya. Bisa dibilang situasi di HCU saat ini cukup aman. Aku mengiyakan saja temanku yang hendak ke UGD. Kasian di sana pasti membutuhkan tenaga.

Ah, kenapa juga sih, orang-orang itu suka sekali merayakan pergantian tahun yang notabene tak ada bedanya dengan hari-hari biasanya. Akibatnya? Banyak terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan, ujungnya lari ke tempat kami.

Aku hanya bicara fakta. Pasien biasa membludak ketika pergantian tahun, juga setiap menjelang lebaran.

Suara aiphone berbunyi mengejutkanku.

“Em, ada PB nanti, tolong siapkan kamar 2, ya,” suara temanku di seberang saat kumengangkat aiphone.

Aku mengambil kunci dan membuka kamar 2. Kuperiksa kelengkapan kamar ini dengan menahan degup jantung yang semakin kencang tiap kali melihat tempat terakhir ayahku menghembuskan napas. Sudahlah, Em, ayahmu sudah tenang sekarang. Pasti beliau tidak lagi merasakan kesakitan. Aku menghela napas.

Tak lama, pekarya mendorong brankar dan membantu perpindahan pasien menuju bed di kamar 2. Astagfirullah. Kali ini pasien adalah anak-anak berusia sekitar 10 tahun, dalam kondisi tidak sadarkan diri. Diagnosanya adalah meningitis. Kupasangkan sungkup oksigen dengan ukuran yang sesuai. Kuatur pula tetesan infus yang terpasang.

Sepertinya belum waktunya aku untuk beristirahat.

Benar saja, tak lama keluarga pasien di ruangan lainnya sudah memanggil, aku bergegas menuju tempat itu.

Sepanjang malam aku hanya bergeser dari kamar 2 ke kamar 6, begitu seterusnya. Kedua pasien itu yang membutuhkan perhatian lebih dariku. Temanku hanya sekali kembali ke ruang HCU, untuk memberikan beberapa penjelasan tentang pasien kamar 2.

“Maaf, ya, Em, pasien UGD rame banget. Tadi saja ada partus.”

“Ada partus di UGD?”

“Iya, belum turun dari mobil, bayinya udah lahir.”

Aku sering menemui kejadian persalinan yang tak sempat dibawa ke ruang Kebidanan, akibatnya terpaksa ditolong di UGD. Termasuk juga pasien yang telanjur lahiran di mobil, belum sempat sampai di pintu UGD.

“Kamu enggak apa-apa kutinggal lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Apa boleh buat. Ada kalanya teman-temanku yang biasanya membantu meringankan tugasku yang sedang hamil besar, namun mereka terkendala pekerjaan yang tiada habisnya.

“Sus, tolongin, Sus.” Rasanya tak lama sejak kepergian temanku ke UGD, pasien di kamar 2 sudah menunjukkan kondisi gawat. Kutolong sebisaku lalu bergegas menuju aiphone, “Dok, tolong ke HCU, pasienku apnoe,” sahutku nyaris berteriak di aiphone.

Ibu si pasien sudah meraung sejadi-jadinya melihat kondisi buah hatinya yang sudah mulai membiru. Untung saja tak lama, dokter UGD datang dan mendampingiku dalam usaha menyelamatkan pasien.

“Sus, tolong, Sus.” Padahal belum juga aku selesai menangani pasien di kamar 2, pasien di kamar 6 sudah memanggilku.

“Iya, Pak, nanti kami ke sana,” ujar dokter sambil terus melanjutkan pemberian RJP pada pasien anak-anak itu. Apa boleh buat. Aku pun mengikuti perintah dokter menyelesaikan tugasku di sini dulu.

“Maaf, Bu. Anaknya sudah enggak ada,” ujar sang dokter menutup usaha kami yang tidak membuahkan hasil.

Dokter sempat memberikan isyarat kepadaku bahwa dia akan memanggil petugas lain yang dapat membantuku di sini. Tak lama datanglah mahasiswa praktik yang langsung kuminta untuk merapikan pasien yang sudah menjadi jenazah.

“Ayo, kita tengok pasien satunya,” ajak sang dokter.

Benar saja, kondisi pasien di kamar 6 pun sudah apnoe. Maka kami lanjutkan usaha penyelamatan terakhir pada pasien tersebut sembari menjelaskan kepada keluarganya. Berbeda dengan keluarga pasien di kamar 2 tadi, keluarga pasien di sini tampaknya sudah lebih siap menerima kenyataan. Mungkin karena pasien di kamar 6 ini seorang bapak lansia yang sudah berkali-kali terkena serangan stroke.

Aku yang tak bisa berjalan cepat tak dipaksa keluarga pasien untuk bergegas. Malah kusempat melihat kilatan mata penuh kasihan saat mereka melihatku.

Saat kuregangkan kain kasa untuk mengikat jenazah, sesuai pedoman perawatan jenazah yang kupelajari, batinku berkata, “enggak apa-apa ya, Nak. Ibumu izin menyelesaikan tugas, ya. Ibu di sini untuk bekerja. Kamu kuat. Kita berdua kuat.”

Biasanya tak lama bayiku akan bergerak pelan di dalam perut setelah kuucapkan kalimat penguat batinku. Anakku memang sudah penuh pengertian sejak di dalam kandungan. Masya Allah.

Pun ketika aku melihat sekitar dan menyadari ternyata seluruh keluarga di kamar 6 telah pergi ke luar ruangan. Lho, dari tadi, hanya ada aku dan jenazah di sini?

Untung saja, tidak terjadi cerita bangkit kembali. Astagfirullah. Haha.

Bandar Lampung, 16 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 15)

Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/16/12-tahun-perjalananku-part-14/

Dua bulan berlalu setelah pernikahan adik iparku, tiba saatnya ayahku menjalani kemoterapi yang kedua. Terapi yang selama ini tertunda karena beliau terus menerus anemia sepanjang perawatan. Hingga berkantung-kantung transfusi darah yang sudah diterimanya. Aku pun tak mungkin bisa mendonorkan darahku dalam kondisi hamil begini, meski golongan darah kami sama. Tepatnya kami sekeluarga mempunyai golongan darah yang sama. Namun tidak ada satupun dari kami bisa membantu mendonorkan darah karena kondisi.

Sama sepertiku, kakak-kakakku juga sering sekali hipotensi. Bahkan ada salah satu kakak perempuanku yang selalu mengalami nyeri haid hebat setiap bulannya, sampai-sampai pernah menerima transfusi darah. Meski tetap, akulah yang paling sering opname di antara lima bersaudara ini. Aku sebagai anak paling terakhir.

Selain itu, ayahku juga harus dikonsultasikan ke dokter urologi. Sama seperti dokter onkologi, dokter urologi merupakan satu-satunya di kotaku. Lagi-lagi aku bersyukur karena tugasku di UGD, memudahkanku mendapat perhatian dari dokter urologi. Sampai-sampai kepala ruanganku ikut membantu, “Dok, tolong dulu tengoklah bapaknya Emmy. Sudah lama perawat VIP menghubungi, Dokternya tidak datang-datang juga.”

Satu hal yang kuherankan adalah perbedaan pendapat antara dokter urologi dan dokter onkologi. Dokter onkologi sudah menduga bahwa ayahku terkena kanker prostat, itu yang menyebabkan semua penyakit beliau, mulai dari syaraf kejepit sampai tulang keroposnya.

Sementara itu, dokter urologi mempunyai pendapat yang berbeda. Hasil pemeriksaan menurutnya tidak menunjukkan kanker prostat.

Akhirnya dokter menorehkan sebuah diagnosa pada lembar resume ayahku: Unknown Cancer.

Bisa jadi hal ini dikarenakan ayahku tidak sempat dilakukan pemeriksaan MRI sebelumnya. Apapun itu, kondisi sakitnya sudah parah dan telanjur menyebar ke seluruh tubuhnya.

“Mbak Emmy, bapak harus dipindah ke ICU,” kata seorang perawat di ruang VIP, meneruskan perintah dari dokter.

Semua terasa berjalan begitu cepat. Pada saat seharusnya ayahku diopname untuk kemoterapi kedua, setelah beberapa kantung darah transfusi, beliau mengalami penurunan kesadaran.

Sayang sekali ruang ICU saat itu masih penuh. Aku bahkan mendatangi langsung dan menemui perawat di sana.

“Bagaimana kalau bapakmu dirawat di HCU saja? Daripada dibiarkan di ruang VIP.”

Saran yang sama diberikan oleh kepala ruangan UGD waktu kuceritakan perkembangan ayahku.

Akhrinya, di sinilah aku, berada di tempat kerjaku sendiri. Tapi keberadaanku sebagai keluarga pasien sekarang. Aku membantu kakak-kakak perawat yang memasangkan beberapa alat pada tubuh bapakku yang sudah tidak sadarkan diri. Berkat keahlian mereka, bapakku bisa dipasangkan alat NGT (nasogastric tube), yang sebelumnya sudah pernah dicoba pasang oleh perawat VIP, namun gagal.

Aku yang saat itu ditugaskan di UGD, akhirnya diminta kepala ruangan kembali berjaga di ruang HCU. Katanya supaya aku bisa bekerja sambil mengawasi ayahku sendiri.

Hari ketiga ayahku diopname di HCU, kesadarannya belum juga membaik. Kebetulan saat itu aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah mertuaku, untuk menginap di HCU meski tidak sedang shift malam. Lagipula aku juga tidur sendirian, dengan suamiku masih berada di kabupaten. Adik iparku yang tadinya menemaniku, sudah menikah dan pindah diboyong suaminya.

Kuminta ibuku untuk pulang dan beristirahat. Waktu itu ada kakak laki-laki dan ipar yang menemani. Karena kamar di HCU tidak terlalu besar, aku memilih beristirahat di kamar yang lain, setelah menitipkan pada temanku yang sedang berjaga.

Malamnya, seorang teman membangunkanku yang jatuh tertidur. “Em, bapakmu ….”

Langsung kubergegas menuju kamar tempat ayahku berada. Kakak dan iparku sudah tidak ada di sana, hanya tertinggal saudara dari ibuku yang menunggui.

“Emmy, tolong hubungi ibumu cepat. Astaghfirullah. Saya mana tahu akan begini jadinya. Saya hanya berniat untuk menjenguk, saya pikir sakit biasa.” Saudara dari ibuku memang tinggal di kabupaten lain dan belum tahu diagnosa ayahku. Baru kali itu beliau akhirnya berkesempatan datang menjenguk.

Aku terpaku saat melihat pemandangan yang biasa kusaksikan selama bekerja. Perawat yang sedang berusaha menyelamatkan pasien didampingi seorang dokter jaga. Bedanya, kali ini, pasiennya adalah ayahku sendiri. Aku hanya bisa terpaku dengan air mata mengaliri pipiku.

“Emmy …. Maaf. Yang sabar, ya.”

Aku memejamkan mata menahan tangis. Ayahku tlah menghembuskan napas terakhirnya. Ikhlaskan, Em. Ikhlaskan kepergian ayahmu untuk selamanya. Kuraih ponsel dan mencari nomor kontak ayukku. Kukatakan dengan suara bergetar setelah suara kakak perempuanku itu terdengar di seberang, “Yuk, ayah … Ayah sudah enggak ada.”

Usai menelepon kakak perempuanku aku kembali mencari daftar kontak yang lain. Kali itu kuhubungi suamiku untuk memberitahukannya. Baru kemudian aku memberitahukan mertuaku.

Tanggal 19 September 2012, tepat jam 4 dini hari, adalah hari di mana aku kehilangan ayahku untuk selama-lamanya. Seorang bapak yang menginginkanku menjadi bidan. Berkat perjalanan hidup ini, aku bisa berbakti pada bapak di hari-hari terakhirnya. Meski akhirnya beliau tak sampai usia untuk melihat cucu dariku.

Wajahnya yang tenang saat menghembuskan napas terakhir, diiringi lantunan suara tilawah, menjelang Subuh, dari masjid yang terdengar jelas. Mertuaku dengan lekas datang untuk menemaniku.

“Kamu yang kuat, Em. Jangan nangis. Kasian bayimu,” ujar salah seorang kakak bidan yang bertugas di UGD.

Kuhapus air mata yang mengalir. Aku berusaha untuk menegarkan diri menghadapi ujian ini. Aku menaiki mobil jenazah, duduk di samping bapak supir ditemani oleh ibu mertuaku yang terus memegang tanganku.

Di belakang jenazah ayah ditemani oleh kakakku yang dengan lekas sudah tiba. Ternyata kakak dan iparku baru saja pulang sesaat sebelum hembusan napas terakhir ayahku. Hanya sekejap, sepertinya almarhum ayah sengaja tidak ingin ada anak kandungnya yang menyaksikan. Hanya aku, itupun terbaring di lain kamar.

Kakakku menyampaikan agar aku tidak ada penyesalan. Semua sudah menjadi takdir-Nya. Aku kembali ke rumah orang tuaku bersama suami. Kami berdua sama-sama izin untuk tidak bekerja selama masa berduka. Banyak rekan kerja mengunjungi rumahku, termasuk teman-teman dari ruang kebidanan.

“Yang sabar, ya. Ingat bayimu.” Nasihat yang terus menerus kuterima dari semua yang datang. Inilah takdirku, inilah ketentuan Illahi. Seperti ada hikmah yang tersimpan di balik mutasiku ke UGD, pasti juga ada hikmah di balik ini. Mungkin sudah jalannya, aku harus kehilangan sesuatu di saat mendapatkan sesuatu. Aku harus kehilangan ayahku, di saat akhirnya mendapatkan bayi pertamaku.

***

Tak lama setelah kepergian ayahku terakhir kali, ibu mengingatkanku untuk tetap mengadakan acara empat bulanan.

“Tapi, jangan di sini, Em. Kembalilah ke rumah mertuamu.”

Aku memahami hal itu. Setidaknya di rumahku masih banyak saudara ibuku dari kabupaten yang menginap. Selain itu sebenarnya ada kakakku sekeluarga yang tinggal di rumah satunya. Ada dua rumah milik orang tuaku, berhadapan satu sama lain.

Akhirnya terwujud juga keinginan mengadakan empat bulanan secara sederhana, di musala tak jauh dari rumah mertua. Aku sudah kembali di sana.

Beberapa hari setelah empat bulanan itu aku mengalami mual muntah hebat yang mengharuskanku kembali diopname. Kali itu, di ruang kerjaku sebelumnya, ruang kebidanan.

Teman-temanku di kebidanan banyak yang mengucapkan selamat atas kehamilanku. Kali itu aku tidak ditemani suami yang sudah terlalu banyak izin tidak bekerja. Hanya ibuku yang menemani.

Beliau berkata, “untung saja kamu tidak menginap di ruangan ayahmu dulu.”

Aku tertegun.

Ah, sepertinya sudah lama aku tak bercerita tentang pengalamanku di dunia kerja, dan hanya terpusat pada cerita tentang diriku sendiri. Semoga pembaca tidak bosan, hehe.

Bandar Lampung, 15 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 14)

Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/16/12-tahun-perjalananku-part-13/

Tidak hanya kemudahan saat pengobatan ayahku di ruangan VIP, aku juga merasa terbantu saat harus memeriksakan ayahkku ke dokter onkologi. Saat itu rawat inap beliau sudah berakhir, seiring anemianya yang pulih. Aku harus segera memeriksakan ayahku ke dokter onkologi. Meski tanpa pemeriksaan MRI, kata dokter spesialis syaraf, gejala yang ada sudah cukup untuk ayahku dinyatakan sakit kanker. Berlandaskan dari rontgen dan CT scan lumbar (panggul).

Aku ingat, karena bantuan dari perawat senior UGD, akhirnya aku dikenalkan dengan perawat yang menjadi asisten dokter onkologi. Saat itu di Bandar Lampung baru ada satu dokter spesialis onkologi. Terbayang betapa padatnya jadwal beliau. Pemeriksaan di poliklinik saja dibatasi hanya dua hari setiap minggunya.

Namun berkat bantuan asisten dokter tersebut aku mendapatkan kemudahan, bahkan ayahku bisa diperiksa beliau tanpa turun dari mobil. Kondisi ayah yang tidak bisa lagi duduk di kursi roda menjadikannya hanya mampu terbaring. Aku sudah menanyakan apa harus meminjam brankar ke ruang dokter, namun asisten tersebut mengatakan tidak perlu.

Tak cukup sampai di situ, bahkan pemeriksaan ayahku pun digratiskan oleh dokternya. Masya Allah. Semoga bertambahlah rezeki dokter tersebut, beserta semua pihak yang telah membantuku.

Akhirnya ayahku harus menjalani kemoterapi, kembali diopname di kamar VIP rumah sakit tempatku berada. Selama menjalani opname aku masih terus melanjutkan bekerja di UGD. Jika aku menjalani shift pagi, maka selesai bekerja aku langsung menuju ruang VIP tempat ayahku berada. Aku mandi dan menyiapkan baju ganti di sana. Aku ikut menginap bersama ibuku, menunggui ayahku opname. Pun setelah tiba bulan Ramadan, bersama sebuah berita mengejutkan lainnya.

Saat itu, selain ayahku yang tak diduga didiagnosa kanker juga ada berita dari keluarga suami, bahwa adik iparku akan melangsungkan pernikahan setelah lebaran nanti. Lamarannya sudah dari berbulan-bulan lalu, sebelum ayahku sakit-sakitan. Saat itu, aku berkunjung dengan senyum dipaksakan, menahan perihnya hati dengan pertanyaan “Kamu belum ‘isi’ juga? Positif, bakal kebalap adikmu yang bentar lagi married.

Bagaimana dengan hidupku setelah menolak pemeriksaan test pack yang disarankan Mbak Susi tempo hari?

Jadi, dua minggu setelah shift malam lalu, kondisiku belum juga membaik. Kali ini memang aku memutuskan untuk tidak berobat ke dokter karena aku sudah jenuh. Toh, dokter kandungan juga sebelumnya menyarankan untukku kembali kalau sudah datang haid, namun belum juga tamu bulananku muncul.

Lama kelamaan aku mulai merasa mual-mual. “Hmm, kenapa aku jadi begini ya?” pikirku dalam hati. “Apa mungkin aku hamil?”

Bimbang akhirnya aku memutuskan untuk memeriksa urinku. Aku beli test pack di apotek dekat rumah, tanpa terlalu berharap, aku menguji urin pertamaku setelah bangun pagi keesokan harinya. Dua garis kemerahan yang muncul, namun yang satu terlihat samar. Aku tak mempercayai penglihatanku.

Aku mengulangi pemeriksaan sampai ketiga kalinya, dengan hasil yang tetap sama. Benarkah ini terjadi? Bukan sekadar sebuah lelucon?

Baiklah, aku memutuskan untuk ke dokter kandungan untuk lebih meyakinkan. Tak ingin terburu-buru, aku menunggu supaya suamiku dapat menemani.

“Selamat, My, kamu positif hamil. Sudah terbentuk kantung kehamilan, usianya 8 minggu.”

Rasanya tak percaya mendengar penjelasan dokter. Seiring dengan banyaknya ujian yang kualami tahun ini, berita ini bagaikan oase di tengah gurun sahara.

Padahal dokter sudah memintaku kembali setelah haid kembali, untuk dilakukan terapi kesuburan, namun aku justru kembali pada saat sudah berbadan dua. Masya Allah.

Ramadan itu kujalani dengan dua sisi perasaan berbeda. Satu bahagia karena kehamilanku, satu bersedih karena harus menyaksikan proses kemoterapi ayahku. Satu lega karena akhirnya aku bisa mendapatkan hasil test pack positif setelah lebih dari dua tahun menanti, satu sisi sedih karena aku tak bisa menjalankan ibadah puasa.

Awalnya aku masih memaksakan diri untuk berpuasa, sampai akhirnya berat badanku malah turun dan dokter kandungan memarahiku.

“Jaga baik-baik kandunganmu. Tidak usah memaksakan diri berpuasa. Ini saya berikan penguat,” perintah dokter pada kunjunganku berikutnya sehingga aku memutuskan untuk menurutinya. Suami juga sempat protes kenapa aku memaksakan diri untuk berpuasa. Padahal dia tahu kondisiku yang sakit-sakitan.

Pada pertengahan Ramadan akhirnya suami memintaku untuk tinggal di rumah mertua.

“Supaya ada yang menjagamu sekalian mengantar-jemputmu saat bekerja.”

Memang ini yang menjadi pikiranku setelah dinyatakan hamil. Apa tidak apa-apa meminta teman mengantar jemputku dengan kondisi ini? Mereka juga akan khawatir membonceng ibu hamil, kan. Enggak mau ketempuhan. Tapi bukankah di rumahku, ayah masih membutuhkan bantuanku? Aku harus bagaimana?

Akhirnya aku mengambil jalan tengah, kadang menginap di rumah orang tua, kadang di rumah mertua. Sebagian bajuku kini ada di rumah mertua, sebagian lagi masih kutinggalkan di rumah, termasuk juga pakaian suami.

Dua kali ayahku opname selama bulan Ramadan, bahkan kami nyaris saja merayakan idul fitri di RS. Untung saja, dokter membolehkan ayahku pulang, sehari sebelum lebaran. Setelah idul fitri aku harus bersiap acara besar di rumah mertua, yaitu pernikahan adik dari suami. Hal ini juga yang menjadi pertimbangan ayahku akhirnya membolehkanku menginap di rumah mertua. Bagaimanapun aku juga punya tanggungjawab di sana.

***

Aku beristirahat sejenak usai memuntahkan isi makananku. Kuambil permen jahe dan mengemutnya untuk meredakan gejolak asam lambungku. Tidak ada orang yang memerhatikan di rumah mertuaku saat ini karena begitu banyak saudara berkunjung namun dengan kesibukannya masing-masing. Esok adik iparku akan melangsungkan pernikahannya. Aku dan suami menginap sementara di sini. Ayahku sudah sedikit baikan meski masih di pembaringan, dirawat oleh ibuku.

“Emmy! Kenapa? Abis muntah ya?” tanya adik dari ibu mertuaku.

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Selamat ya, My! Akhirnya ‘ngisi’ juga!”

Aku menyambut uluran tangan tanteku. “Makasih ya, Tante.”

“Udah berapa bulan?”

“Delapan minggu, Tante.”

Alhamdulillah, aku merasa Allah menyelamatkanku dari rasa malu saat harus berhadapan dengan keluarga besar suami di acara pernikahan adik iparku. Momen lebaran yang biasanya begitu menakutkan dengan pertanyaan, “kapan hamil?” kali itu bisa kulalui dengan baik.

Hidup memang seperti itu, kan. Tak lepas dari pertanyaan, “kapan nikah?” “kapan hamil?”, sampai “kapan nambah momongan?” Kadang-kadang pertanyaan yang tak sadar dilontarkan lalu menyinggung perasaan orang lain. Makanya ada peribahasa, “diam itu emas.” Mulut kita tercipta satu dengan dua telinga, tapi kebanyakan orang lebih suka didengarkan daripada mendengarkan.

Aku sendiri juga seringkali khilaf. Meski lebih banyak diam karena merasa tak nyaman, termasuk dengan diri sendiri. Well, dengan adanya kehamilan dan perhatian lebih ini aku merasa lebih dilihat dan dianggap.

Tak hanya itu yang membuatmu berlega hati, namun juga karena prasangka bahwa adik iparku akan membalapku juga sudah tergeser. Hanya saja dalam hatiku berdoa, semoga ayahku bisa bertahan lebih lama sampai kelahiran cucu dariku.

Bandar Lampung, 14 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 13)

Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/16/12-tahun-perjalananku-part-12/

Baiklah. Sepertinya memang aku sudah harus berkonsentrasi untuk segera punya momongan. Terlebih seperti yang disampaikan dokter juga, bahwa dengan kehamilan akan membantu menstabilkan kondisi rahimku. Sekalipun memang tak pernah satupun janin singgah di kandungan.

Selain itu, dokter menyarankanku juga untuk menurunkan berat badan. Dengan sistem kerja shift-shiftan selama ini aku makan tidak teratur. Saat shift malam pun, untuk membunuh rasa kantuk sering kumakan cemilan di sela-sela bekerja. Karenanya berat badanku tanpa sadar bertambah.

Bagaimana ini? Tenaga kesehatan namun dengan perilaku tidak sehat. Makanya sampai bolak-balik terkena typhus. Aku menepuk jidat. Kuinfokan hasil pemeriksaan pada suamiku tercinta. Dia meminta maaf karena tidak bisa mengantarku saat kuperlukan. Sudahlah, aku berusaha menegarkan diri dan tidak menunjukkan kesedihan di depannya.

Aku berusaha membagi konsentrasiku antara bekerja dan berusaha untuk hamil. Hmm, mungkin ada baiknya juga mencoba tukang urut yang disarankan temanku. Tapi, sebagai orang kesehatan aku hendak memilih usaha dokter terlebih dahulu. Karena aku lebih percaya orang yang pintar, daripada “orang pinter”.

Hanya saja adakalanya usaha terasa begitu melelahkan dan ingin menyerah saja. Di sisi lain, aku juga masih membantu pengobatan ayahku yang bolak-balik ke rumah sakit. Sebuah hikmah yang terasa setelah pindah ke UGD. Bahwa aku punya banyak kenalan dokter dan petugas lainnya, hingga memudahkanku menolong ayahku, yang akan kuceritakan selanjutnya.

Malam ketika berjaga shift di rumah sakit, aku merasakan tidak enak badan. Aku pun meminum tolak angin sachetan yang kubeli di warung sebelum berangkat kerja tadi. Sudah hal biasa bagiku menjalani shift malam dengan perlengkapan tempur yang maksimal. Baju didobel supaya tidak kedinginan, minyak kayu putih dan tolak angin yang tidak pernah absen di tasku.

“Kenapa, My?” tanya Mbak Susi, partner kerjaku di HCU malam itu.

“Enggak enak badan, Mbak. Gregesan,” jawabku melanjutkan minum tolak angin.

“Eh, kamu enggak test pack?” tanyanya lagi. “Seingatku biasanya kita barengan kan, haidnya? Habis aku, kamu. Kok, ini kamu udah lama enggak haid kayaknya ?”

Aku tertegun sesaat namun langsung kutepis. Teringat saatku menjalani opname di awal 2012 lalu, banyak yang menyaranku untuk periksa urin. Tapi bukannya dua garis biru yang kudapatkan, melainkan hanya kekecewaan.

“Halah, Mbak. Paling negatif lagi. Sudah lagilah. Gue enggak mau di-PHP.” Itu saja yang kusampaikan.

Akhir-akhir ini aku memang sering berpartner dengan Mbak Susi, salah satu perawat di UGD. Makanya akhirnya dia ingat waktu datang bulanku.

Entahlah, aku tak mau terlalu berharap banyak. Yang penting kuikuti saran dokter kandungan yang menganjurkanku kembali kontrol saat datang haid pertama nanti. Ketika itu sudah menjelang Ramadan. Aku masih dipusingkan juga oleh kondisi ayahku yang semakin memburuk.

“Seharusnya dengan terapi yang didapatkan, kondisi ayahmu membaik. Namun tidak kali ini. Dia harus dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut di Jakarta.”

Suatu hari dokter spesialis syaraf mengatakn hal itu. Ayahku sudah berpindah-pindah dokter, dari spesialis tulang (Orthopedi) lalu ke dokter spesialis syaraf. Sakit yang dirasakannya awalnya di tulang, menjadikannya sulit berjalan, sehingga didiagnosa tulang keropos (osteoporosis). Setelah terapi untuk tulangnya malah sakit menjadi syaraf kejepit. Awalnya ayahku masih bisa duduk, namun lama-lama, duduk pun beliau tidak mampu.

Beliau sempat merasakan sekali dirujuk ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut, namun aku tak dapat menemani. Selain jadwal kerjaku, juga tidak diizinkan oleh suami. Kata suami, tahun ini saja aku sudah sering opname, harus lebih memperhatikan diri.

Sebenarnya setelah rujukan yang pertama, ayahku harus menjalani rujukan selanjutnya namun beliau sudah tidak tahan. Pengalaman buruk selama di Jakarta membuatnya pasrah.

“Sudahlah, obati sebisanya di Bandar Lampung saja.”

Aku bertambah sedih mendengar perkataan ayahku. Ya Allah, sebenarnya ayahku kenapa? Dokter juga tak banyak memberikan penjelasan.

Pada pengobatan selanjutnya, kuputuskan untuk mengganti dokter konsulen. Kali ini seorang dokter spesialis syaraf perempuan yang sangat aware terhadap kebutuhan pasien. Apalagi dia mengenaliku sebagai petugas UGD.

“Kamu anaknya?” tanya dokter saat mengajakku ke ruang jaga, terpisah jauh dari kamar pasien. Saat itu lagi-lagi ayahku diopname karena kesakitan yang tak mampu ditahannya. Memang seharusnya kali itu jadwal beliau kembali ke Jakarta, namun ayahku sudah menolaknya.

“Iya, Dok,” sahutku.

“Kamu paham penyakit apa yang diderita ayahmu?”

Aku menghela napas. Dari yang sebelumnya ayahku tak pernah minta ditemani, lalu saat kutemani, bertemu dokter yang lebih banyak diam. Akhirnya harus kuakui aku tak terlalu paham mengenai sakit yang diderita ayahku.

“Kalau boleh, saya minta penjelasan, Dok.”

Dokter mengambil sebuah kertas dan pena. Beliau menjelaskan dengan detil mengenai ayahku. “Jadi, ini yang menyebabkan sakit di area pinggang beliau. Ini yang dinamakan syaraf kejepit,” ujarnya sambil terus menorehkan pena di atas kerta, menggambarkan sebuah bentuk pinggul.

“Makanya kemarin ayahmu dirujuk ke Jakarta, itu untuk pemeriksaan lebih lanjut yang alatnya belum ada di sini. Namanya MRI. Nanti ayahmu akan masuk ke dalam sebuah tabung, supaya bisa mengetahui diagnosa sebenarnya yang diderita beliau.”

MRI (Magnetic Resonance Imaging) adalah pemeriksaan dengan teknik pengambilan gambar detail organ dari berbagai sudut yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio. Ketika itu pemeriksaan MRI belum tersedia di rumah sakit tempatku bekerja. Berbeda dengan sekarang apalagi sudah mencapai akreditasi A, semakin lengkap peralatan, termasuk dokter spesialis yang tersedia.

“Jadi dirujuk itu hanya untuk pemeriksaan, Dok?” tanyaku.

“Iya, Em. Supaya lebih menegaskan kembali sakit beliau. Bila memang memungkinkan baru kemudian lanjut terapi di Jakarta. Karena kecurigaan sakit ayahmu sudah menuju ke sana.”

Aku terdiam dan mengerutkan dahi berusaha mencerna perkataan dokter cantik ini.

“Sakit ayahmu kalau dilihat dari hasil radiologi, sudah menunjukkan metastase hingga ke syaraf dan tulang belakang. Kamu tahu kan, sakit apa yang menyebabkan metastase? Ayahmu positif kanker, Em.”

Berita ini bagaikan petir di siang bolong. Sebenarnya aku pribadi sudah ada kecurigaan ke sana, namun dari dokter sebelumnya tidak mendetil dalam memberikan penjelasan. Menurutnya justru karena aku tenaga kesehatan, diharapkan untuk sudah tahu tentang penyakit. Padahal kan, bidan tidak terlalu detil mendalami ini. Hiks.

“Kamu tahu apa akibatnya dari penyakit kanker yang sudah metastase? Kecil kemungkinan ayahmu bisa kembali pulih seperti sedia kala. Yang bisa kita lakukan hanya meringankan gejalanya. Nanti saya minta kolaborasi dengan dokter spesialis onkologi juga.”

Masih merasa syok, akhirnya aku berterimakasih pada penjelasan dokter. Sekembalinya aku di kamar tempat menginap ayahku, aku sudah menemukan sampel darah untuk diantarkan ke bank darah. Ayahku memerlukan transfusi darah karena anemianya.

Ada sisi hikmah yang kutemukan saat mengurus pengobatan ayahku di sini. Bahwa aku bersyukur telah dimutasi ke UGD, dengan demikian aku banyak mengenal dokter dan mudah mendapatkan kamar untuk perawatan inap ayahku. Ayahku bisa dengan mudah mendapatkan kamar VIP. Perawat di sana tidak perlu panjang lebar menjelaskan mengenai biaya tambahan, karena sebagai orang dalem, aku sudah paham. Dengan bantuan teman-teman di tempat kerjaku-lah, aku bisa berusaha maksimal menolong ayahku. Sebuah pembaktian yang jujur saja, seumur hidup tak pernah kulakukan untuk beliau, karena renggangnya hubungan orang tua-anak di antara kami.

Bandar Lampung, 13 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 12)

Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/15/12-tahun-perjalananku-part-11-episode-ujian-beruntun/

Hampir dua minggu lamanya aku opname dengan diagnosa Typhus dan DBD. Kebetulan sakit itu pun bukannya hal terakhir. Di akhir bulan tubuhku kembali ambruk, kali ini karena bronchitis yang kuderita.

Semakin kumerasa bersalah terutama pada partner kerjaku, hingga akhirnya pasrah menjadi satu-satunya yang insentifnya dipotong. Seingatku bukan hanya aku yang pernah opname dan izin tidak bekerja pada saat itu. Tapi aku yang paling lama izin, maka kubiarkan saja. Alasan yang sama akhirnya aku tak berani mengambil cuti selama bekerja di UGD.

Selama menjalani Long Distance Relationship bersama sang suami, aku diantar jemput kerja oleh ayahku.  Rasanya tak jauh berbeda seperti saat gadis dulu. Apalagi saat itu memang aku bersama suami masih tinggal di tempat orang tuaku. Suamiku memang pulang seminggu sekali dan memilih untuk stay di tempat kerjanya untuk menghemat energi. Kupikir aku bisa menjalani ujian kalau hanya seperti ini, ternyata ada ujian yang lebih dari ini.

Ayahku mulai sakit-sakitan. Karena situasi di rumah yang jarang sekali mengobrol, aku sama sekali tidak tahu tentang penyakit ayahku. Beliau pun tidak pernah minta tolong kutemani kalau mau pergi ke dokter.  Sampai akhirnya sakitnya menjadi parah, tidak bisa bangun dari tempat tidur, aku pun mengambil langkah untuk membantunya. Masa iya, anaknya tenaga kesehatan tapi tidak tahu menahu tentang sakit yang diderita sang ayah.

Maka kumulai menemani pengobatan ayahku di poliklinik, masih di RS yang sama tempatku bekerja. Seiring dengan beratnya penyakit ayahku, maka beliau tidak bisa lagi mengantar jemputku. Terpaksa aku meminta bantuan pada teman kerja untuk mengantar pulang di malam hari. Jarak antara rumah ke rumah sakit harus dilalui dengan dua kali naik angkutan umum ketika itu.

Oya, aku memang tidak bisa mengendarai apapun. Jangankan motor, sepedapun tidak bisa. Semakin merasa sebagai manusia yang tidak berdaya. Sempat ada beberapa drama bersama rekan kerja yang mengantar jemputku, salah satunya adalah satu di antara mereka sampai menyatakan cinta padaku. Suatu hal yang mustahil dan menggelikan.

Hidupku sudah terlalu banyak. Ujian demi ujian kulalui. Kadang kurasakan nyata tidak bisa lagi berkonsentrasi saat bekerja. Antara pikiran dan kesedihan atas ketidaksembuhan ayahku juga memikirkan hidupku. Belum lagi kerinduan untuk segera memiliki momongan.

Suatu hari pernah kurasakan sakit yang menjadi ketika haid. Seumur hidup, dari gadis hingga menikah, belum pernah kurasakan nyeri sedahsyat ini. Biasanya dengan minum asam mefenamat saja sudah sembuh. Akhirnya aku memutuskan untuk ke dokter kandungan.

“Mau ke mana Emmy?” tanya ibuku melihatku sudah berganti pakaian bersiap-siap hendak pergi dengan wajah meringis.

“Sakit banget, Bunda. Emmy mau berobat.”

“Siapa yang antar kamu?” tanya ibuku memasang wajah khawatir.

Bukankah memang ayahku sudah lama tidak bisa mengantar jemputku? Kalau lagi bekerja mungkin ada teman yang bisa mengantarkan. Namun sekarang?

 “Ya sendirian. Enggak apa-apa, Emmy nanti naik becak saja.” Aku berusaha meyakinkan ibuku untuk tidak mengkhawatirkanku. “Kalau diam di rumah saja, enggak sembuh nanti. Emmy udah minum obat, tapi enggak mempan.”

Tidak pernah sakitku seperti ini. Biasanya kalau aku mengalami nyeri haid akan sembuh dengan meminum analgetik yaitu asam mefenamat. Atau setidaknya berbaring saja lalu tak lama juga akan sembuh, tapi kali ini berbeda. Setelah menikah tidak lagi kurasakan nyeri haid, namun kenapa sekarang datang kembali?

Akhirnya ibuku pun membolehkan dengan berat hati. Tidak ada jalan lain. Aku pun beranjak dan mencari becak di dekat rumahku. Karena kesakitan yang hebat, bahkan untuk berdiri saja sulit, aku memutuskan untuk ke dokter kandungan terdekat dengan rumahku. Aku memang belum mengenalnya. Tapi lumayanlah, daripada tidak berobat sama sekali.

“Bu Emmy,” panggil asisten dokter perempuan berhijab itu. Aku berdiri dan memasuki ruangan praktik.

“Kenapa ini, Bu?” tanya dokter kandungan wanita itu kepadaku. Saat itu hanya ada sedikit dokter kandungan wanita yang membuka praktik di Bandar Lampung.

“Ini aku nyeri haid, Dokter. Belum juga pulih, padahal sudah minum obat. Sebelumnya enggak pernah seperti ini,” jelasku, singkat, padat, jelas.

“Oke. Silakan masuk ke dalam,” tangannya mengarahkanku untuk beranjak ke ruangan sebelah.

Aku melangkah dan langsung disambut asistennya di dalam.

“Buka, Bu.”

Aku terpaku sejenak. Masih tidak mengerti maksud asisten itu.

“Celananya dibuka!” ujarnya sekali lagi.

Lambat-lambat aku pun menurut membuka celanaku. Masih bingung, karena setahuku biasanya kalau mau USG yang dibuka perut saja. Apa pengetahuanku yang masih cetek?

“Cepat,Bu. Pasiennya banyak!”

Ya ampun. Ini asistennya apa, sih? Perawat atau bidan? Dia enggak tau kalau aku teman sejawat. Meskipun tidak tahu sekalipun, tetap saja, tidak seharusnya memperlakukan pasien seperti itu. Aku pun menyegerakan gerakanku, kemudian naik ke atas tempat tidur. Asisten tadi meneyelimutiku.

“Ibu ini apa masih gadis ya?”

Waduh, lagi-lagi tuduhan itu, mentang-mentang aku datang sendirian.

“Enggak. Sudah dua tahun menikah,” ujarku sedikit tegas kali ini, “suami saya memang beda kota, Mbak!”

Asisten itu terdiam dan dokter pun datang untuk memeriksaku. Baru kali ini aku merasakan USG Transvaginal. Aku pun meringis nyeri. Tapi kenapa tidak ada penjelasan sebelumnya kalau pemeriksaan USG kali ini dari kemaluan, bukan USG di perut seperti biasanya? Masih heran dengan pelayanan pasien di tempat ini.

Tanpa banyak komentar, usai USG aku diminta memakai kembali celanaku. Kembali kududuk di hadapan dokter.

“Ini saya beri obat, ya. Sudah dua tahun belum punya anak, ya?” tanya dokter kembali.

Aku pun mengangguk. Tak banyak penjelasan yang kudapat. Lagipula aku sudah telanjur badmood karena perlakuan tadi.

“Ini resepnya, bayarnya di depan, ya.”

Aku langsung keluar setelah mengucapkan terima kasih.

“Berapa, Mbak?” tanyaku pada asisten dokter yang sama, yang telah duduk di luar ruangan.

“Tiga ratus ribu, Bu.”

Aku mengeluarkan uang pas lalu beranjak.

“Eh, Bu, Bu, ini kartunya” Dia menyerahkan sebuah kartu kecil bertuliskan namaku. “Nanti kalau berobat lagi, kartunya dibawa, ya!” ujarnya.

Aku menyeringai tanpa sadar. “Enggak bakal, Mbak. Saya balik ke sini lagi. Dokter kenalan saya banyak!” Tenang, aku menyuarakannya hanya di batin saja.

Aku tetap menebus resep yang kudapatkan dan meminum obatnya. Enggak ada pilihan lain. Besok pagi aku sudah harus bekerja, daripada belum sembuh juga sampai besok. Izinku sudah terlalu banyak. Mungkin teman-teman sudah muak karena dari dulu aku seringkali izin tidak masuk bekerja karena sakit.

Namun sudah kuniatkan akan kontrol ke dokter kandungan lagi karena tidak puas dengan pelayanan mereka. Dalam hati aku bercermin, semoga tidak pernah berbuat seperti dalam memperlakukan pasienku. Kali ini aku kembali ke dokter langgananku yang pertama, yang memang sudah mengenalku.

“Ini saya beri resep obat nyeri, ya. Sekalian untuk hormon,” ujar dokter kandungan langgananku yang memeriksaku sore itu.

“Iya, Dok!” Aku mengangguk. Lagi-lagi aku berobat sendirian, tanpa ada yang menemani.

“Mau sekalian untuk kesuburan? Sudah lama kan, belum punya momongan? Saya minta jadwal bulananmu,” ujar dokter membuyarkan lamunanku.

“Haid saya tidak teratur, Dok.” Memang haidku selama ini tidak teratur dan bodohnya aku tidak pernah mencatatnya.

“Kamu enggak punya catatannya?”

Aku menggelengkan kepala.

Dokter menghela napasnya lalu berkata, “ya sudah, kalau begitu. Bulan depan kamu balik lagi ke sini, ya. Pas hari pertama haid, ya!”

Aku mengangguk dan berterimakasih pada penjelasan dokter tersebut.

Bandar Lampung, 12 Juni 2020