12 Tahun Perjalananku (Part 5): Ada Suspense di Tiap Ruangan

Ada Suspense di Tiap Ruangan, termasuk Ruang Kebidanan

Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/04/12-tahun-perjalananku-part-4-episode-pasien-sakit-jiwa-dan-anak-kembarnya/

“Wadah plasentanya di mana?”

“Ada sih, tapi di Gudang, aku enggak mau ke sana, ah.”

Penasaran aku mendekati kedua temanku yang sedang mengobrol. “Ada apa?” tanyaku.

“Mau ambil kendi untuk wadah plasenta, lho. Masalahnya aku takut ke sananya.”

Seperti biasa setiap ibu yang habis melahirkan pasti sekaligus akan melahirkan plasentanya. Plasenta merupakan tempat cadangan makanan bagi janin di dalam kandungan. Setelah lahir, bayi tidak akan memerlukan plasenta lagi. Tali pusat yang menghubungkan dengan plasenta akan dipotong dan plasentanya akan dikuburkan. Sebelumnya tentu perlu dicuci bersih dan diberi wadah.

Di ruang kebidanan juga disediakan kendi sebagai wadah untuk plasenta ini. Meski pasien bebas memilih, kadang ada juga yang sudah menyiapkannya sendiri dari rumah. Nah, tempat penyimpanan kendi-kendi ini ada di gudang. Namanya juga gudang, penuh dengan perabotan. Belum lagi lampunya yang temaram semakin menambah suram. Temanku jadi enggan ke sana.

“Ya sudah, aku saja yang ambil.” Akhirnya kutawarkan bantuan.

“Serius, Em? Ini kuncinya.”

Aku meraih kunci gudang dan bergegas menuju gudang penyimpanan. Aku juga tak hendak berlama-lama di sana. Kerjaan masih banyak menanti.

Suasana suram langsung membuat bulu kuduk merinding. Segera kulancarkan doa dalam hati, “Ya Allah, lindungi aku.” Tak lupa kutambahkan doa paling ampuh kupanjatkan, setiap kali bekerja, “saya di sini karena niat bekerja, saya tidak mengganggu, jadi tolong jangan ganggu saya.”

Lepas dari suasana suram dengan kendi sudah di tangan akhirnya aku kembali mengunci pintu gudang. Aku baru bisa menarik napas lega setelah kembali ke ruangan VK.

“Wah, Emmy udah balik?”

“Enggak ketemu Mbak Kun?” tanya temanku menggoda.

“Ish, apaan sih?” Aku sudah tahu apa yang temanku maksudkan. Jadi tidak perlu dibahas siapa Mbak Kun yang dia maksud.

“Ih, gudang kita kan seram, tahu.”

“Iya, aku pernah lihat penampakan di sana.”

Nah, mulai, deh. Cerita-cerita semacam ini biasanya kuhindari meski kadang bikin penasaran juga.  Positive thinking saja, namanya juga rumah sakit, pasti adalah yang namanya makhluk halus. Apalagi di sini jelas-jelas tempat melahirkan. Yang tidak melulu semua melahirkan lalu sehat. Ada juga bayi yang meninggal kemudian, bahkan kadang ibunya yang meninggal, seperti yang pernah kuceritakan tentang ibu Lily.

Tak heran kadang teman-teman kalau mau ke toilet atau salat di musala sekalipun minta ditemani. Aku malah jojong sendirian. Soalnya sudah terbiasa dari dulu, aku sering ke mana-mana sendiri. Bahkan kadang aku duduk di ruang administrasi untuk menulisi setumpuk berkas pasien sendirian. Alhamdulillah enggak pernah ada kejadian apapun, walau bukan berarti aku enggak takut. Tapi kuniatkan semua untuk bekerja.

Sama halnya ketika aku masih bekerja di RS swasta sebelum diterima sebagai CPNS. Teman-teman sudah banyak cerita, ada yang lihat kursi roda jalan sendiri, atau dengar suara-suara aneh. Aku malah pernah berjaga sendirian, tidur biasa saja, dan syukurlah tidak terjadi apa-apa.

Nah, di ruang kebidanan ini temanku malah yang sering melihat. Kadang dia bilang seperti ada bayangan hitam besar di musala, menemani dia salat. Selain penampakan Mbak Kun di gudang, pernah juga terasa di toilet. Yang paling seru, ketika mendengar cerita itu dari pasien.

Jadi, waktu itu kebetulan saya bersama tim kebagian giliran shift malam. Kami yang bertugas di ruang perawatan, baik ruang kelas 3 maupun di paviliun pasti harus visit ke ruangan dulu, untuk melihat semua kondisi. Ada jadwal injeksi jam berapa, apakah infus sudah hendak diganti, pasien ada keluhan apa, dan sebagainya.

Jadi di ruang paviliun, teman sudah mencatat siapa pasien yang sudah mau habis infusnya. Lalu kami kembali ke ruang VK. Karena banyaknya tindakan di ruang VK, tak sengaja terlupakan oleh temanku itu. Seharusnya walaupun lupa, biasanya keluarga pasien akan ikut mengingatkan, soal infus habis. Yang penting bukan jadwal injeksi yang terlupa, karena catatann itu ada pada kami. Kalau infus kan bisa terlihat oleh keluarga kalau sudah habis. Biasanya kami ingatkan sebelum habis, silakan lapor ke ruang jaga perawat.

Setelah kesibukan di ruang VK, bergantianlah kami untuk beristirahat di kamar jaga. Tentu setelah yakin bahwa pasien semua sudah aman. Ada saat-saatnya di mana kami menjalani shift malam tanpa tidur sedetik pun, tapi sebisa mungkin kami akan meluangkan waktu untuk sekadar rebahan meluruskan kaki sejenak. Petugas juga harus menjaga kesehatannya kan, kalau pada sakit, nanti yang nolong pasien siapa?

Ketika terbangun menjelang subuh, temanku baru teringat soal infus tadi. Lekaslah dia menuju kamar pasien. Tak lama dia kembali dengan wajah bingung.

“Kenapa? Ada masalah pasiennya?”

Dia menggelengkan kepala. “Em, kita kan enggak ada yang pake baju putih-putih, kan?”

Biasanya kami memakai seragam putih-putih khas tenaga kesehatan itu hanya di saat berjaga pagi. Kalau sore dan malam, kami punya seragam sendiri. Kebetulan, malam itu kami semua memakai seragam warna merah marun.

“Emangnya kenapa?” tanyaku lagi penasaran.

“Kan aku lupa belum ganti infus pasien di sana, kok infusnya udah penuh lagi ya? Pas aku tanya, katanya yang ganti suster yang pake baju warna putih.”

“Nah, loh. Kita kan enggak ada yang pakai baju putih,” tegasku ikut kebingungan.

“Iya, katanya susternya pakai baju putih, enggak pakai jilbab.”

“Mana ada, kita semua kan, pakai jilbab.”

Waduh, apa lagi, nih.

Aku jadi ingat cerita masa lalu zaman masih menjadi mahasiswa praktik di ruang kebidanan ini. Dulu, ruangannya belum serapi sekarang. Dengan lampu dan suasana jauh lebih suram. Betapa mengerikannya masuk ke ruang kebidanan di zaman itu.

Nah, banyak terdengar cerita pasien kalau infusnya diganti sama suster berambut pirang. Namanya juga rumah sakit ini kan rumah sakit zaman penjajahan kolonial Belanda. Kalau dengar sejarah berdirinya RS ini sudah didirikan sejak 1929 lalu, jauh sebelum Indonesia merdeka, kan.

Belum lagi isunya dulunya di tanah berdirinya RS ini adalah bekas kuburan tawanan Belanda.

Jadi, memang yang bertugas jaga di sini pun juga banyak suster berkebangsaan Belanda, pada zaman itu. Tentu saja, sekarang sudah tidak ada suster berambut pirang, kecuali kalau kamu ketemu perawat yang rambutnya diwarnai, hehe.

Tapi masa-masa aku masih menjadi mahasiswa praktik, banyak pasien yang melaporkan tentang kehadiran suster bule yang baik hati karena membantu mengganti infus.

Nah, bagaimana dengan suster berbaju putih yang dimaksudkan pasien paviliun itu? Wallahualam. Bahkan temanku meminta kami semua, tim jaga malam berbaris di kamar pasien dan meyakinkan lagi, siapa di antara kami yang mengganti infus ibu itu semalam. Jawabannya: entah.

Biarkan saja tetap menjadi misteri. Yang penting jangan mengganggu kami, baik petugas maupun pasien di ruang kebidanan ini.

Bandar Lampung, 5 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 4): Episode Pasien Sakit Jiwa dan Anak Kembarnya

Episode sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/03/12-tahun-perjalananku-part-3/

“Ayah, tolong aku, Ayah.”

“Iya, Bu. Iya.”

Aku menahan geli karena wajah pucat seorang coas lelaki yang tak bisa bergeming di samping bed pasien di VK.

“Ayah, sakit, Ayah.”

“Iya, Bu. Tahan ya, Bu.”

Lagi suara yang tadi terdengar, yang satu dari coas berwajah pucat tadi, satunya lagi dari ….

“Dek, minta ibunya melorot ke sini, cem mane pule, kite mau menolong die.” Kali ini dari dokter kandungan yang hendak menolong persalinan. Si coas tadi meminta pasien untuk pelan-pelan melorot ke bawah, agar bisa diposisikan untuk ditolong melahirkan. Benar saja, kepala bayinya bahkan sudah terlihat. Karena dari tadi ibunya sulit diajak kerjasama makanya kami kesulitan memeriksanya. Kalau bukan karena kehadiran sang coas penyelamat, alias “Ayah”.

Haha. Cerita bermula dari kehadiran pasien baru, seperti biasa diantar oleh pekarya UGD. Dari awal pasien sulit sekali untuk diajak pindah ke bed VK. Belum lagi kelakuan si ibu yang rada aneh. Setiap petugas yang mendekatinya langsung disalami lalu dia mengatakan, “saya ini lagi puasa.”

Pertama kali melihatnya juga keningku berkerut. Si pasien tampak sedikit berbeda dengan rambut yang menyerupai lelaki, alias dicukur gundul. Kira-kira ukuran rambutnya masing-masing hanya setengah sentimeter.

Keluarga yang mengantarkannya lalu membisikkan kepada kami, “maaf ya, Sus, dia ini memang agak kurang. Namanya juga pernah dirawat di RSJ.”

Mulut kami jadi membulat setelah mendengar keterangan dari keluarganya. Setidaknya ibu ini ada yang mengantarkan.

“Lalu suaminya, Bu?” tanya bidan senior dengan hati-hati.

Si ibu yang tadi menjelaskan kondisi pasien menggelengkan kepalanya. “Dia ini suaminya udah lama kabur, makanya jadi seperti ini. Bertahun-tahun stres sejak ditinggal suaminya. Sampai dirawat di rumah sakit jiwa.”

“Lho, suaminya sudah lama pergi? Lalu kenapa …?”

“Iya, itu ulah tukang-tukang bangunan yang tak jauh dari rumah. Saat itu kami lagi enggak awas, pas dia keluyuran sendiri.”

Astagfirullah. Siapa tega menodai orang sakit jiwa tentu saja dialah yang jiwanya lebih sakit.

Kami tak sempat meneruskan menanyai keluarga ibu tadi, karena kondisi pasien memerlukan pemeriksaan segera.

“Tekanan darahnya tinggi,” kata temanku yang berhasil memeriksa tekanan darahnya, setelah disalami ibu itu.

“Saya puasa, Bu,” ucap si pasien lagi.

“Iya, Bu,” jawab temanku sambil tersenyum.

“Kalau tidak bisa pindah ke bed VK, bagaimana?” tanyaku.

Sementara kulihat pekarya UGD akhirnya kembali tanpa membawa brankar. Dia bilang, nanti saja dibawanya, sekalian pas antar pasien kebidanan lainnya.

Tak lama datangnya dokter muda mendekat. Si pasien langsung berkata spontan, “Ayah!”

Lantas kami semua terkejut tak terkecuali si dokter muda.

Coas atau dokter muda adalah sarjana kedokteran yang harus menuntaskan periode menjadi dokter muda selama waktu yang ditentukan agar bisa meraih gelar dokter. Kalau sudah meraih gelar dokter, baru dia sah menjadi dokter dan boleh menjalankan praktik layaknya seorang dokter. Kalau belum? Ya, harus lulus coasnya. Artinya, tidak bisa tidak.

Lantas aku jadi sedikit kasihan sama si coas. Mereka masih muda, sebagian besar belum menikah. Masuk ke ruang kebidanan ini saja, sebagian sudah terkaget-kaget karena mendadak harus menolong persalinan. Ya, mungkin secara teori sudah matang. Tapi di sinilah praktik yang sebenarnya. Semua coas harus melalui stase kebidanan, dan ini adalah salah satu tahapan penting.

Coas yang dipanggil ayah tadi, sebut saja namanya Anton, tentu saja dia juga masih bujang. Tiba-tiba saja mendapat panggilan “Ayah”, hihi, bagaimana kami tidak tertawa.

Tapi kami bersyukur adanya kehadiran “sang Ayah” pasien jadi manut. Luar biasa. Si ibu akhirnya mau pindah ke bed pasien. Menurut waktu dipasang infus. Kini dia sudah dalam posisi siap untuk melahirkan.

“Dek, minta ibunya mengedan sedikit saja,” advis dokter.

Aku sampai terheran, bagaimana cara menginstruksikan pasien sakit jiwa untuk mengedan sedikit saja. Hanya sedikit, sebab kondisi tekanan darahnya tinggi. Walau kami sudah menyuntikkan obat untuk menurunkan tensinya, tapi tetap saja proses melahirkan pada pasien dengan tekanan darah tinggi sebaiknya tidak terlalu lama.

Untungnya memang tak perlu waktu lama, sebab dengan lancar bayi meluncur dan disambut oleh dokter yang menolongnya.

Masya Allah, Allah memang memberikan kemudahan dengan kondisi pasien yang demikian. Sang bayi pun langsung menangis kuat, tanpa perlu ada yang dikhawatirkan. Kalau saja kondisi ibu baik-baik saja, pasti sudah kuanjurkan untuk dilakukan Inisiasi Menyusui Dini. Ah, enggak usah muluk-muluk. Segala teori harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

“Ayah, sakit, Ayah.” Si ibu masih mengeluh.

Aku sudah merapikan bayi si ibu dan meletakkannya di bawah bed khusus dengan penghangat, istilahnya infant warmer.

“Masya Allah, ada bayi kedua,” seru dokter mengejutkan kami semua.

Masya Allah, si ibu hamil kembar? Allahu Akbar. Tentu saja kami tidak mengetahui hal ini sebelumnya karena pemeriksaan memang belum dilakukan maksimal akibat si ibu tidak kooperatif di awal tadi. Lagipula kalau pasien umumnya melampirkan buku hasil pemeriksaan selama kehamilan, normalnya minimal sekali (lebih baik dua kali), pernah diperiksa USG. Tapi yang ini boro-boro. Pasien mau melahirkan di RS saja sudah bagus.

Benar saja, kemunculan bayi berikutnya sudah terlihat. Semoga kali ini bayinya juga sehat. Tak lama terdengarlah suara tangisan yang tak kalah kencang dibandingkan yang tadi.

 Alhamdulillah. Tak henti aku mengucapkan syukur dalam hati sembari merapikan si bayi. Seperti asuhan neonatus yang biasa kulakukan. Keringkan, hangatkan, periksa kelengkapan bayi, lakukan rangsang taktil bila perlu, pakaikan bedong pada bayi, hal-hal seperti itu. Jangan lupa selalu berikan identitas bayi segera setelah dilahirkan. Identitas direkatkan pada bayi. Ini sangat penting agar bayi tidak tertukar.

Ah, kadang aku berpikir, beruntungnya menjadi seorang bidan, menjadi wajah pertama yang menyambut seorang bayi baru lahir, sebuah kehidupan baru di dunia. Sungguh mulia jasa bidan, tak hanya bagi sang ibu, tapi juga bagi kelangsungan hidup manusia. Aku jadi terharu.

“Ayah, jangan ke mana-mana, Ayah.”

Kasian juga aku sama si Anton. Boro-boro mau ikut menolong persalinan, adanya juga lengannya tak juga dilepaskan oleh ibu itu. Uh, kembali aku menyumpahi si pelaku pelecehan. Pasti keluarganya tak punya kuasa juga untuk menuntut pelakunya. Lagipula terkadang hukum dunia ini memihak. Orang lemah jadi mudah terlindas. Tapi ada hukum Allah yang Maha Adil. Ada yang namanya karma di dunia ini.

Dua bayi menjadi saksi kuasa Allah. Seorang ibu dengan penyakit mental dan kondisi tekanan darah tinggi bisa melahirkan dua bayi kembar sehat walafiat, bahkan secara normal dan tanpa bantuan alat. Semoga kedua anak ini tumbuh sehat dengan sempurna, dirawat dengan baik oleh keluarganya. Apapun latar belakangnya, mereka berhak mendapatkan penghidupan yang layak, seperti manusia pada umumnya.

Cerita saat berdinas hari ini benar-benar berkesan bagiku. Perempuan memang hebat!

Bandar Lampung, 4 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 3): Episode Perdarahan Pasca Melahirkan

Part sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/02/12-tahun-perjalananku-part-2/

“Saya tidak terima ini! Brengsek!”

Aku terdiam saat melihat ember besar yang penuh berisi air kotor ditendang serta merta oleh bapak-bapak yang tadi berteriak. Awalnya kami sempat melarangnya masuk dikarenakan proses membersihkan belum selesai. Ember besar yang ditendangnya tadi adalah untuk kami gunakan membersihkan pasien usai melahirkan. Tentu saja airnya akan menjadi kotor kemudian, apalagi pasien kali ini mengalami perdarahan hebat. Aku baru hendak mengganti airnya, sebelum si bapak keburu datang dan menendang ember tersebut.

“Sabar, Pak. Kami sudah berusaha ….” Dokter kandungan yang tadi sudah berusaha menolong si pasien berusaha menengahi.

“Sabar apanyaaa!! Saya mengantar istri saya ke sini mengharapkan untuk dapat pertolongan, tapi apa yang saya dapatkan??”

“Baik, Pak. Akan saya jelaskan, mari kita ke luar dulu,” ajak dokter kepada bapak tadi.

Kubiarkan dokter, bersama bidan senior yang bertanggungjawab di VK, menemui keluarga pasien, mengajak bicara di ruang pertemuan. Aku biar tetap di sini, menyelesaikan tugas yang tersisa.

Kutatap sedih pada sosok ibu yang barusan berjuang melahirkan anaknya. Bukan lagi bertaruh nyawa, namun nyawanya justru tak bisa kami selamatkan, karena sang ibu mendadak mengalami perdarahan yang hebat. Dokter sudah menolong sebisanya. Si ibu sampai mendapatkan transfusi darah sebanyak dua kantong yang kami minta secara cito.

Saat melihat kondisi bayinya yang menangis kuat aku bisa menarik napas lega. Setidaknya kami sudah berjuang mempertahankan keselamatan sang bayi yang juga sempat tak bernapas beberapa detik setelah lahir ke dunia.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Ketika itu saat kami baru tiba lalu operan jaga dengan shift sebelumnya, kondisi di ruangan VK sudah tampak seperti pasar. Pasien begitu ramai sampai bed penuh dan beberapa ibu hamil masih di atas brankar. Tak lama satu per satu pembukaan lengkap. Satu, dua, dan pasien-pasien selanjutnya melahirkan dengan lancar. Lalu tiba saatnya si ibu tadi, kita sebut saja namanya ibu Lily.

Dia termasuk salah seorang pasien yang berada di atas brankar. Seiring banyaknya yang sudah melahirkan dan kami membutuhkan bed-bed VK, satu per satu pasien kami pindahkan ke ruang perawatan. Sehingga ibu Lily bisa menempati bed VK. Kubaca rekam medisnya, pasien G2P1A0 dengan KPD dan hasil pemeriksaan terakhir sudah pembukaan 8.  Terpasang infus RL di tangannya, tanpa tulisan apa-apa. Saya hanya membaca catatan pemeriksaan terakhir yang dilakukan oleh tim jaga sebelum kami.

Kontraksi bu Lily semakin menjadi. Tak lama pembukaannya sudah lengkap. Kami lekas mengabari anggota keluarga. Dengan kondisi suasana ruang melahirkan yang pasiennya melebihi kapasitas, akhirnya kepala tim VK mengambil kebijakan untuk mempersilakan keluarga pasien menunggu di luar, termasuk keluarga ibu Lily. Kami petugas yang bolak balik mengabari kondisi sang ibu pada keluarga masing-masing.

Persalinan berlangsung cepat, sekiranya tiada kendala. Aku yang membantu keselamatan bayinya, segera melakukan slim suction, rangsang taktil dan sebagainya sesuai prosedur yang ada. Tak lama, anak ibu Lily pun menangis. Karena fokus pada keselamatan bayinya, aku tak sempat perhatikan bahwa bu Lily mengalami kegawatan. Karena yang menolong si ibu sebelumnya juga bukan aku, sudah ada dokter kandungan langsung yang turun tangan dibantu kakak bidan senior.

Yang kulihat selanjutnya, ibu Lily diambil sample darah untuk permintaan transfusi. Ternyata, astagfirullah, ibu Lily mengalami perdarahan hebat.

Perdarahan pasca persalinan biasa terjadi pada ibu pasca melahirkan. Namun bila terjadi perdarahan hebat dengan perkiraan darah keluar melebihi 500 cc maka itu berarti sudah memasuki keadaan gawat. Perdarahan umumnya terjadi dalam 2 jam pertama pasca melahirkan, namun bisa saja terjadi beberapa jam setelahnya.

Ada beberapa penyebab terjadinya perdarahan pasca persalinan, antara lain: karena adanya sisa plasenta yang belum keluar sehingga menghalangi penyusutan rahim kembali seperti semula, karena luka jalan lahir yang belum dijahit atau dikarenakan kontraksi uterus yang tidak adekuat.

Keringat dingin menyelimutiku saat melihat banyaknya darah yang mengalir dari tubuh ibu Lily. Kulihat oksigen mulai dipasangkan untuk membantu pernapasannya. Sementara dokter tak henti memberikan instruksi memberikan obat injeksi untuk membantu perdarahan, serta memastikan tidak ada sisa-sisa plasenta yang kemungkinan menghalangi kontraksi rahim.

“Kontraksinya jelek,” ujar sang dokter. Kakak bidan senior kembali menyuntikkan oksitosin ke ibu Lily. Dalam infus RL yang terpasang pun sudah dibantu dengan obat yang sama.

“Dok, ini darahnya, tanpa pemeriksaan.” Teman sejawatku yang lain membawakan satu kantong transfusi darah. Yang kutahu untuk mendapatkan transfusi darah harus dilakukan pemeriksaan kecocokan darah terlebih dahulu. Bila dokter sudah memutuskan darah boleh diberikan tanpa pemeriksaan, artinya kondisi sudah sangat mendesak sehingga resiko ketidakcocokan darah dikesampingkan.

Aku membantu memasangkan infus di tangan ibu Lily yang masih bebas. Dia harus segera mendapatkan transfusi darah, sementara cairan infus berisikan obat oksitosin tak boleh pula dihentikan.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Mirisnya usaha keras kami tak banyak membuahkan hasil hingga berujung pada hembusan napas terakhir bu Lily. Jujur saja aku syok melihat pemandangan ini. Banyak kematian yang sudah kusaksikan di depan mata. Namun kali ini begitu mendadak.

Kondisi ibu Lily sebelum operan tidak menandakan adanya kegawatdaruratan. Namun mengapa bisa terjadi seperti ini? Terlebih ibu Lily sudah pernah melahirkan sebelumnya bahkan tanpa komplikasi.

Dokter ditemani salah satu bidan senior menjelaskan keadaan sebenarnya kepada keluarga pasien. Seorang temanku melihat kembali catatan pada berkas ibu Lily. Sementara aku melanjutkan menyelesaikan perawatan jenazah, satu hal yang tak kuduga sebelumnya akan kulakukan di ruang VK ini.

“Astagfirullah, pasien sudah diberi induksi sebelumnya dari rujukan?”

Aku mendengar temanku yang sedang memegang berkas ibu Lily berseru.

“Memangnya rujukan dari rumah sakit mana?”

“Bukan dari rumah sakit lain, pasien dirujuk dari bidan!”

“Ha? Bidan memberinya induksi?” tanyaku kembali tak percaya.

Setelah membereskan pekerjaanku aku mendekati temanku dan membaca sendiri berkas ibu Lily.

Induksi persalinan hanya boleh diinstruksikan oleh dokter kandungan, bidan tidak boleh melakukannya tanpa ada instruksi dan bimbingan dari dokter (seberapa banyak oksitosin yang diberikan dan berapa tetesan harus diatur).

“Bukannya tadi sebelum persalinan, infus pasien masih kosong?”

Infus kosong adalah istilah untuk botol infus yang murni berisi cairan, tanpa tambahan obat.

“Iya, sudah diganti sama yang menerima pasien di sini. Tapi sudah habis satu kolf infus dari tempat rujukan,” jawab temanku.

Astaghfirullah. Padahal tadi kondisi ibu Lily tidak menunjukkan kejanggalan, Detak jantung bayinya pun sudah kami periksa dan normal adanya. Apakah tim sebelumnya sudah melaporkan saat operan kepada petugas VK yang lain? Sebab aku tak tahu menahu karena langsung memegang pasien selain ibu Lily ketika operan.

Bagaimanapun inilah salah satu resiko bekerja di RS pusat rujukan. Kondisi pasien sebelum dirujuk seharusnya dijelaskan sedetik-detilnya oleh perujuk. Termasuk semua obat-obatan yang sudah diberikan. Kadang kami menerima kondisi pasien yang lebih parah dari ini, misalnya rujukan dari dukun yang tak kelar ditangani lalu dilarikan ke rumah sakit. Aduhh ….

Aku menghela napas. Ketegangan ini belum juga berlalu. Tangisan bayi ibu Lily membuatku tertegun. “Semoga Allah menerima syahidnya ibumu, Nak. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”

Bandar Lampung, 3 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part-2): Selamat Datang di Ruang Kebidanan

Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/01/12-tahun-perjalananku-part-1/

Welcome to Ruang Kebidanan

“Maaf, Bu, saya mau menyerahkan ini.”

Aku menyodorkan sebuah amplop berisikan lembaran surat penempatanku di sini yang ditandatangani direktur utama RS. Bu Yati, kepala ruang kebidanan menerimanya. Kami, semua bidan CPNS, ditempatkan di ruang kebidanan. Aku sih, sudah lama menduga hal ini. Kebetulan ruangan ini merupakan tempat terakhirku menjalani orientasi.

Ruang Kebidanan terdiri dari 3 bagian besar, VK/Verlos Kamer (bahasa Belanda) sebagai ruang melahirkan serta tindakan lainnya. Lalu ada ruang perawatan kelas 3, yang dibagi menjadi pasien Obstetri dan Ginekologi. Pasien Obstetri merupakan pasien habis melahirkan yang biasanya dirawat gabung bersama anaknya.

Ruangan berikutnya, masih berupa ruang perawatan, tapi spesial melayani pasien kelas 2, kelas 1, hingga VIP. Untuk pasien setelah melahirkan juga dirawat gabung bersama bayinya. Di tempat ini pun tersedia VK terpisah.

Tak hanya 3 ruangan itu, ada juga bagian neonatus (bertanggungjawab pendataan bayi dan segala keperluannya), ada recovery room, tempat khusus untuk pasien yang baru saja melaksanakan operasi. Di tempat ini akan dilakukan pemantauan TTV, sebelum akhirnya pasien dinyatakan aman untuk dipindahkan ke ruangan perawatan. Ada juga ruang pemeriksaan USG, yang digunakan jika ada pemeriksaan USG oleh dokter kandungan. Hanya dokter yang boleh melakukan pemeriksaan USG.

Biasanya saat melakukan orientasi aku ditempatkan di VK, karena di sinilah segala tindakan. Mulai dari menolong persalinan, tindakan kuretase, observasi pasien gawat (hamil dengan komplikasi), tindakan embriotomi, hingga visum et repertum. Visum yang dilakukan di ruang kebidanan hanya berupa visum untuk kasus pemerkosaan dan diperiksa oleh dokter spesialis obstetri ginekologi. Tentu saja diwajibkan melampirkan surat dari kepolisian dalam hal ini.

“Maaf sebelumnya, apakah Mbak ini sudah menikah?” tanyaku berhati-hati saat melakukan anamnesa.

“Dia ini masih gadis loh, Sus. Kok pake ditanya, sih,” ujar seorang ibu berambut putih yang duduk di sisi Mbak-mbak tadi. Si Mbak yang kutanya hanya tersenyum saja.

Mereka ada di ruang kebidanan ini dengan tujuan pemeriksaan lebih lanjut. Pasien datang dengan keluhan perdarahan atau menstruasi yang tidak sesuai siklus dan lebih deras dari biasanya. Tampak wajah si Mbak, sedikit pucat, seperti sedang anemis.

Aku melengkapi data pada berkas resume medis si Mbak, sebelum menyerahkannya kepada Kakak bidan senior yang lalu melanjutkannya kepada dokter konsulen, bersama berkas pasien lainnya yang hendak dilakukan pemeriksaan. Setelah itu, kulanjutkan melayani pasien lainnya setelah sebelumnya meminta si Mbak menunggu.

“Dia ini masih gadis, Dok. Masih gadis!”

Kepalaku menoleh mencari arah sumber suara. Rupanya si ibu beruban tadi yang berteriak ke arah dokter yang sedang memberikan penjelasan kepadanya. Sang dokter mengisyaratkan sesuatu kepada seorang bidan senior di VK.

“Mari, Bu, saya tunjukkan sesuatu,” ujar bidan itu kepada si ibu beruban.

Penasaran  kudekati mereka. Saat sang bidan senior menunjukkan wadah kom besar berisikan gumpalan darah, wajah si ibu tampak terkejut. Kuintip isi kom tersebut. Tampaklah gumpalan darah yang terlihat jelas berbentuk sesosok janin. Artinya? Yup. Pasien yang kuanamnesa tadi ternyata perdarahan karena mengalami keguguran. Si ibu beruban yang merupakan ibu kandung mbak tadi, pun menangis.

Ada banyak cerita yang kualami sejak pertama menginjakkan kaki di ruang kebidanan ini. Kadang layaknya menonton sebuah drama di televisi, tapi kali ini real.

Beberapa hari berikutnya datanglah seorang perempuan yang hendak melakukan visum. Kulihat parasnya cantik, tinggi semampai. Tampaknya berusia 20-an, mungkin lebih muda dariku yang ketika itu belum menikah.

Aku tak banyak membantu ketika dokter melakukan pemeriksaan. Karena proses anamnesa hingga penulisan laporan hasil pemeriksaan visum harus dilakukan oleh dokter yang bersangkutan. Bidan hanya melakukan pendataan, merekap dalam buku laporan khusus bahwa ada klien yang melakukan visum pada hari dan tanggal sekian, diperiksa oleh dokter siapa, dan hasil pemeriksaannya apa.

Kadangkala efek penasaran, kusempatkan diri membaca tulisan dari dokter tersebut.

“Kalau mau sama mau mbok ya, enggak usah pakai visum,” keluh si dokter sambil menorehkan tandatangannya.

“Kenapa, Dok?” tanyaku ingin tahu.

“Yah, seperti biasa. Hasilnya jelas menunjukkan kalau si Mbak tidak diperkosa.”

Deg. Jantungku terasa berhenti berdetak. Apalagi tadi sempat kubaca hasil anamnesa dari klien tadi.

“Kelihatan jelas, ya Dok?”

“Hasil visum mana bisa dibohongi, Em. Kami, dokter, hanya menuliskan apa adanya, sesuai dengan hasil pemeriksaan. Ada tandanya kalau klien mengalami pemaksaan. Bukan seperti ini.” Sang dokter menutup laporannya. “Kalau menurut saya, daripada yang begini jadi diketahui banyak orang, lebih baik tidak usah lapor polisi. Enggak bisa dipakai buat menuntut juga, kan. Kebanyakan klien minta visum, karena tujuannya agar si lelaki mau bertanggungjawab. Bukan karena ingin si lelaki dipenjara, awalnya juga melakukannya bukan karena dipaksa, toh,” lanjutnya.

Kutarik napas panjang setelah dokter meninggalkan ruangan VK. Apa yang dikatakannya barusan memang ada benarnya. Sangat disayangkan. Tapi pengalaman ini bukan hanya terjadi satu-dua kali.

Well, apapun itu, tetap saja, aku bukan di posisi berhak untuk men-judge. Semoga keputusan si Mbak melaporkannya pada polisi sudah dipertimbangkan resikonya secara matang. Setiap orang kurasa pernah melakukan kesalahan, tapi hanya yang sanggup menghadapi kesalahannya dan memperbaikinya, yang menunjukkan ketangguhannya menjalani hidup di dunia.

“PB, PB, pasien preeklampsi.”

Aku tertegun saat pekarya dari UGD mendorong brankar dengan seorang ibu hamil di atasnya.

“Maaf, keluarga cukup satu saja yang di dalam. Kalau bisa suaminya, ya, sandalnya mohon dibuka,” ujarku kepada keluarga yang mengiringi pasien tersebut. Aku membantu si ibu hamil bergeser di bed VK.

Baru selesai melakukan pemeriksaan TTV, sekaligus anamnesa dan ANC kilat, aku laporkan kepada kakak senior bidan di VK. Kullihat beliau melaporkannya kepada dokter yang kemudian menginstruksikan terapi pasien preeklampsia sesuai dengan protap.

Aku menyiapkan obat injeksi yang diperlukan untuk membantu menurunkan tensi pada ibu hamil tersebut. Kasian kalau ibu hamil mengalami kenaikan tensi saat hendak melahirkan. Bisa rawan menimbulkan kejang yang ujungnya akan berbahaya bagi nyawa ibu termasuk bayi di dalam kandungannya. Maka sebaiknya proses persalinan pun berjalan tidak terlalu lama. Kenaikan tensi saat kontraksi adalah hal yang wajar, tapi jangan sampai membahayakan bagi sang ibu sendiri.

“Darahnya sudah diambil untuk pemeriksaan laboratorium?” tanya Kak Nur, bidan senior VK, padaku.

“Sudah, Kak, tinggal pemeriksaan urinnya yang belum.”

Untuk pasien dengan preeklampsia harus dilakukan pemeriksaan laboratorium lengkap termasuk kadar protein urin. Semakin pekat kadar protein berarti menunjukkan semakin tinggi tingkat preeklampsianya. Makanya ada istilah PER dan PEB. PER berarti preeklampsia Ringan, PEB berarti sudah berat dan menuju eklampsia. Disebut eklampsia kalau pasien sudah kejang.

Tak lama, kudengarkan lagi bagai siaran ulang, “PB, PB, sekaligus dua.”

Pekarya UGD tadi tak lama sudah kembali lagi dengan membawa pasien lainnya ke ruang VK ini. Bidan yang berjaga di VK menyambutnya. “Masih ada, Mas?” tanyanya pada pekarya tadi.

“Masih ada tiga lagi,” jawab pekarya itu.

Haha. Namanya juga rumah sakit pusat rujukan. Pasien kami selalu ramai setiap harinya. Selamat bertugas di ruang kebidanan, Em.

Bandar Lampung, 2 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 1): Masa Orientasi

Inilah perjalananku 12 tahun bekerja di RS pusat rujukan episode masa orientasi:

Pertengahan tahun 2008

Bismillah. Kali ini kumantapkan niatan hati sembari melangkah di koridor rumah sakit ini. Sebuah rumah sakit yang tak pernah sepi dari pengunjung. Maklum saja, kalau sepi dari pengunjung bukan rumah sakit pusat rujukan namanya. Apalagi rumah sakit ini berada di pusat kota dan merupakan rumah sakit milik pemerintah. Beruntungnya aku terpilih untuk ditempatkan di sini.

Berawal sebagai SK CPNS yang keluar beberapa hari lalu. Masih teringat jelas pelantikan yang langsung diadakan oleh gubernur provinsi Lampung pada kami, calon pegawai negeri sipil yang berhasil lulus tes melalui jalur reguler. Ah, bayangan raut wajah ayahku yang bangga menambah haru. Aku benar-benar bahagia.

Walaupun ada beberapa keraguan yang sempat melanda. Sanggupkah aku bekerja di sini? Bisakah kubekerja dengan baik? Pantaskah aku menjadi satu-satunya dalam angkatan yang ditempatkan di RS ini sementara aku lulusan dengan IPK terendah di angkatanku? Leganya menjadi CPNS tak memperhatikan berapa IPK-mu saat kelulusan, tapi lebih kepada hasil tes tertulis yang diadakan. Terbukti saat bekerja, tidak ada yang menanyakan IPK-ku berapa. Yang ada hanya seputar pertanyaan, lulusan dari kampus mana, angkatan berapa, serta masih jomlo atau tidak. Hihi.

“Kalian dibagi dalam beberapa kelompok, lalu harus menjalankan orientasi sesuai dengan yang ditempatkan. Ada beberapa ruangan, meski tidak semua, kalian tempati. Tapi bekerjalah yang baik, anggap kalian bagian dari pegawai rumah sakit ini. Pasien mana tahu apakah kalian pegawai baru atau bukan. Maka, bekerjalah secara profesional.”

Kudengarkan secara seksama arahan dari Bu Yus, Kepala Bidang Keperawatan. Baiklah, Bu, aku akan berusaha dengan segenap hati. Kulantunkan meski hanya sebatas suara dalam pikiranku.

***

“Kalian hari ini masuk shift pagi semua, tapi mulai besok dibagi mengikuti shift kakak-kakaknya, ya.”

Aku mengangguk patuh perintah koordinator ruangan Instalasi Gawat Darurat. Fiuh, hari pertama bekerja langsung ditempatkan di gawat darurat. Lekas kumenyesuaikan ritme kerja di sini.

“PB, PB, ambil brankar.”

“Ambil termometer, periksa TTV.”

“Cari selang oksigen.”

“Geret EKG.”

“Pasien apnoe, siapkan ambubag.”

So, here I am. Enggak ada waktu untuk mengobrol dan berkenalan panjang lebar dengan kakak-kakak di UGD. Kulakukan semampu yang kubisa untuk membantu mereka. Bagaimanapun basic-ku bukan perawat. Kalau sekadar TTV atau pasang infus, aku bisa. Tapi penatalaksanaannya harus lebih banyak belajar.

***

Aku melepas lelah sejenak untuk meneguk air putih dan meluruskan kaki sejenak. Baru hari pertama, kakiku sudah lelah luar biasa. Menjadi petugas UGD, berarti harus siapkan tenaga ekstra, yang artinya, tahan untuk jarang duduk. Pasien datang silih berganti, harus segera ditangani. Belum sebagian besar pasien datang dalam kondisi kritis. Resiko rumah sakit pusat rujukan ya seperti ini. Kadang kondisi diperparah, karena pasien sudah lama berada di perjalanan, dari RS kabupaten yang bermil jauhnya dari sini.

Setelah kusempatkan menunaikan ibadah Zuhur di musala UGD, tanpa berlama-lama, aku kembali ke triase.

“Em, tolong bantu Kak Aan di sana, ada pasien plus.”

Ini juga merupakan hal yang harus kubiasakan, melakukan perawatan jenazah. Kukenakan handscun lalu mulai meraih kasa perban untuk kuikatkan pada kaki pasien. Pasien merupakan seorang bapak yang sudah berusia tujuh puluhan. Diagnosanya Stroke. Dia datang sudah dalam kondisi tidak sadar dan baru saja menghembuskan napas terakhirnya. Ada seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan sedang menangis, mungkin keluarganya.

“Keluarga Pak Abdul, mari ke bagian administrasi.” Kulihat perempuan itu mengikuti langkah Mas Irfan, bagian administrasi UGD. Duh, aku tak hanya harus hafal pasien di sini, tapi juga keluarganya, nih. Kuteruskan mengurus perawatan jenazah, sambil mengucapkan doa dalam hati. Takut? Tentu saja, tidak sempat terpikirkan olehku. Yang ada, dari satu pekerjaan langsung beralih ke pekerjaan lainnya. Dari satu pasien lanjut ke pasien lainnya.

Kadang juga kutemukan drama di ruangan ini. Misalnya saat yang menjadi pasien adalah seorang tawanan polisi, atau korban kecelakaan lalu lintas, korban pemukulan yang hendak melakukan visum, anak jalanan tanpa identitas, orang gila, yang terparah adalah pasien yang hendak melakukan suicide.

Masih jelas dalam ingatanku, saat memberi injeksi antibiotik pada pasien yang separuh sadar karena percobaan menggantung diri yang gagal. Alasannya: karena keinginannya untuk memiliki motor tidak dituruti oleh orang tuanya. Astagfirullah.

Tapi aku bukan pada posisi yang berhak men-judge. Aku sendiri juga terkadang merasa hidupku kacau. Ah, kadang aku dan beberapa pemikiranku yang berbahaya ini merasa tak pantas jadi tenaga kesehatan, apalagi tenaga inti seperti petugas UGD ini.

Pokoknya aku salut, deh, dengan ketangguhan seluruh petugas UGD. Kalian benar-benar berjasa mulia.

“Em, tolong bantu, pasien bumil.” Kudengar namaku dipanggil lalu kuikuti langkah kakinya menuju pasien yang baru datang.

Nah, kalau yang ini baru bidangku. Segera kubergegas sambil membawa tensimeter, doppler, untuk persiapan pemeriksaan ANC.

Masa orientasiku di UGD  tak lama, hanya setengah bulan. Setelah itu, kami dirolling ke ruangan lain. Satu kelompok terdiri dari empat orang. Kebetulan dalam kelompokku terdiri dari tiga orang bidan dan satu perawat. Tidak ada bedanya bidan maupun perawat, kalau sudah di lapangan pekerjaan. Masing-masing dari kami harus lekas menyesuaikan diri, menolong pasien sesuai SPO. Bahkan perawat laki-lakipun kena rolling di bagian Kebidanan contohnya.

Selain UGD, kami juga harus menjalani orientasi di ruang kebidanan, ruang bedah, ruang paru-paru dan ruang perinatologi (bayi). Tampak seru sekali, ya. Pasti akan beragam ilmu yang akan kudapatkan di sini. Tidak terbatas pada pengetahuan ibu dan bayi baru lahir saja.

Seperti di ruangan bedah, aku bertemu pasien anak lelaki yang harus menjalani sirkumsisi di ruang operasi. Iya, sirkumsisi atau biasa disebut khitan. Bukankah hal itu merupakan hal lazim yang dialami setiap anak lelaki, terutama muslim? Nah, tapi dikarenakan si pasien merupakan penderita hemofili, jadi dia harus diopname sekaligus menerima transfusi darah. Luar biasa.

Lalu, di ruangan paru-paru, aku harus memberanikan diri menghadapi penderita TBC. Kusampaikan pada setiap pasien baru di sana untuk pengambilan sampel dahak SPS. Oya, tentu tidak semuanya. Ruangan paru-paru terbagi menjadi dua sisi, bagian penyakit menular dan tidak menular. Kalau TBC termasuk penyakit menular, yang tidak menular di antaranya sakit asma atau bronkhitis seperti yang kupunya. Kalau di sini aku bisa melihat seorang pasien yang dilakukan , sebuah tindakan untuk mengeluarkan cairan dari paru-parunya.

Kalau di ruangan perinatologi, kami harus punya keterampilan merawat bayi, eit, bukan bayi sehat. Di sini kebanyakan bayi prematur, bayi sakit hingga bayi dengan kelainan bawaan. Jadi selain pemberian susu kami juga harus memperhatikan pemberian obat-obatan injeksi kepada bayi, sesuai dengan kebutuhannya. Obatan injeksi tentu beda dengan yang didapatkan orang dewasa. Kami harus bisa menghitung dosis yang tepat sesuai dengan berat badan si bayi. Wah, luar biasa. Begitulah, berbeda ruangan, berbeda ilmu yang kudapatkan. Yang akhirnya tiap jalan orientasi ini semakin memperkaya pengetahuanku. Hingga tiba saatnya aku sampai di ruang kebidanan. Kebetulan sekali kelompokku merupakan kelompook terakhir yang harus menjalankan orientasi di ruang kebidanan. Baiklah, aku siap melanjutkan perjuangan. Semangat, Em!   

Bandar Lampung, 1 Juni 2020

Sekilas tentang Acara Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bandung XIV

Wajah sumringah mewarnai suasana ruangan. Ada haru di tengah degup jantung yang berirama kencang. Tak lama lagi mereka akan melepas gelar mahasiswa.

Ya. Inilah suasana Wisuda Angkatan XIV yang digelar Sekolah Tinggi Teknologi Bandung pada hari Sabtu, tanggal 11 Januari 2020 lalu, di Harris Hotel & Conventions Hall. Meski tak bisa menghadiri langsung ke acara ini namun berkat sharing foto maupun video dari teman-teman Pasukan Blogger Joeragan Artikel, aku pun serasa mengikuti rangkaian acara syahdu yang digelar.

Pertama yang terlintas aku begitu terpesona dengan paduan warna yang dihadirkan. Sebagai penggemar ungu, tentu saja dekorasi ruangan bagiku begitu memanjakan mata. Sempat kumengira, jubah dan toga yang dikenakan peserta pun berwarna ungu, ternyata tidak. Justru dengan birunya toga mereka menjadi suatu paduan yang cantik dengan dekorasi ruangan.

Nah, bagaimana dengan rangkaian acaranya?

Acara dibuka dengan tarian tradisional Jaipong oleh Unit Seni Tari, berlanjut dengan menyanyikan lagu nasional “Indonesia Raya” bersama paduan suara dari STT Bandung. Setelah itu, para hadirin bersama mengheningkan cipta dan dilanjut bernyanyi “Mars STTB”.

Kemudian Bapak Muchammad Naseer, S.Kom., M.T, selaku Ketua STT Bandung memaparkan laporan dan prestasi dosen selama tahun 2019. Sambutan dilanjutkan oleh pembina yayasan yaitu Bapak Dr. Dadang Hermawan, dan sambutan dari Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi.

Memasuki acara yang ditunggu-tunggu, yaitu materi “Peranan Generasi Muda dalam Penerapan Teknologi dan Inovasi di Era 4.0.” oleh DR. Ing. Ilham Akbar Habibie, M.B.A., yang ternyata merupakan putra sulung dari Alm. BJ Habibie.

Bapak Ilham, putra Alm BJ Habibie, selaku Keynote Speaker Wisuda XIV STT Bandung

Wah, pas sekali materinya sebagai bekal bagi wisudawan/wisudawati menghadapi tantangan kehidupan mereka selanjutnya. Kucoba ringkas sedikit ilmu yang tentunya akan bermanfaat juga bagi kita semua, simak ya.

Perkembangan industri 4.0 telah di depan mata. Oleh karenanya, sangat penting peranan teknologi bagi perkembangan ekonomi di masa mendatang. Selain itu, perlu adanya inovasi dan kewirausahaan untuk menjawab kebutuhan akibat megatrends yang mengubah dunia, antara lain cepatnya urbanisasi, perubahan iklim, pergeseran kekuatan ekonomi global, perubahan demografi dan sosial serta gerakan teknologi.

Empat hal yang perlu diperhatikan oleh negara manapun di dunia untuk mencapai potensi maksimal untuk masa depan:

  1. Berinvestasi ke Human Capital
  2. Berinvestasi ke Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
  3. Membina dan mendukung inovasi dan Kewirausahaan.
  4. Meminimalkan kemiskinan

UKM Baru pun berperan di ekonomi inovasi di masa depan, yaitu sebagai:

  1. Penyedia lapangan pekerjaan
  2. Aktor dalam proses teknologi-Inovasi-Kewirausahaan
  3. Kontributor substantial terhadap peningkatan ekspor, daya saing dan produktivitas
  4. Agregator pemerataan kesejahteraan
  5. Stabilisator dan pendorong pertumbuhan.

Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa masyarakat, terutama yang berusia muda perlu diberdayakan hingga menjadi SDM unggul (terutama di bidang teknologi). Generasi muda ini juga sangat penting peranannya untuk dapat ikut serta aktif di UKM rintisan karena inovasi kewirausahaan adalah kunci untuk pengembangan negara dan bangsa di masa mendatang.

Lantas, berapakah jumlah wisudawan STT Bandung dan dari program studi apa sajakah?

Total wisudawan angkatan XIV berjumlah sekitar 209 orang, dengan komposisi sebagai berikut:

  1. Wisudawan Prodi Teknik Industri sebanyak 113 orang.
  2. Wisudawan Prodi Teknik Informatika sebanyak 70 orang.
  3. Wisudawan Prodi Desain Komunikasi Visual sebanyak 26 orang.

Dari masing-masing program studi, terpilihlah satu wisudawan terbaik maupun skripsi terbaik pilihan. Wah, jadi penasaran, siapa saja yang berhasil meraih gelar terbaik ini?

Program Studi Teknik Industri:

Wisudawan terbaik dari Prodi Teknik Industri diraih oleh Dheyu Laksmi Wulandari, S.T.

Sedangkan pemilik skripsi terbaik dari prodi TI ini adalah:
1. Virgiawan Candra Bhakti, S.T
Dengan judul: “Perancangan dan Pengembangan Hospital Transfer Bed Dengan Pendekatan Karakuri

2. Indra Rukmana, S.T
Dengan judul: “Optimasi Produksi Dyeing Finishing dengan Metode Integer Linea Programming

3. Zaenal Uyun, S.T
Dengan judul: “Perbaikan Produk Meja Belajar Lipat Multifungsi Ergonomis untuk Meningkatkan Motivasi dan Semangat Belajar Menggunakan Metode Kansei Engineering”

Program Studi Teknik Informatika:

Untuk Prodi Teknik Informatika, wisudawan terbaik diraih oleh Muhammad Rizal Mutaqin, S.Kom.

Untuk peraih skripsi terbaik diraih oleh:
1. Deri Hermawan, S.Kom.
Dengan judul: “Aplikasi 3D Virtual Reality sebagai Media Bantu Terapi Acrophobia Berbasis Android

2. Regina Sukma Citra, S.Kom.
Dengan judul: “Klasifikasi Ujaran Kebencian dengan Metode Naive Bayes Classification di Sosial Media Facebook Berbasis Web

3. Yasti Aisyah Primianjani, S.Kom.
Dengan judul: “Rancang Bangun Sistem Pemutus Aliran Listrik Kwh Meter Pascabayar Berbasis Web Menggunakan Mikrokontroller”

Intermezzo, dari sekian judul skripsi di atas, kenapa aku jadi sangat tertarik mengenai ujaran kebencian di sosial media, ya, jadi pingin baca skripsinya, hihihi.

Terakhir, bagaimana dengan Program Studi Desain Komunikasi Visual:

Ternyata, di Prodi ini wisudawan terbaik adalah Tiffani Zeta D, S.Ds.

Untuk peraih skripsi terbaik DKV adalah:

  1. Andri Setiawan, S.Ds. dengan judul “Perancangan Aplikasi Rencana Anggaran Biaya Membangun Rumah
  2. Bagus Arya Suseno, S.Ds. dengan judul “Perancangan Sistem Informasi Pelayanan Publik dan Peta Wilayah RT 07 RW 08 Baleendah Kab. Bandung
  3. Luthfi Alfaritzi, S.Ds. dengan judul “Perancangan Boardgame Pengenalan Permainan Tradisional Jawa Barat Untuk Anak (usia 8-12 tahun) di Kota Bandung
Foto oleh Vie PBJA

Selain itu diadakan juga penandatanganan Mou antara STT Bandung dengan PT. Dirgantara Indonesia, Jasa Marga dan Biofarma.

Baru kemudian di penghujung acara, dipersilakan kepada perwakilan wisudawan untuk memberikan kesan selama belajar di STT Bandung. Kemudian diikuti dengan pengucapan janji wisudawan. Juga episode yang paling mengharu biru saat pemberian apresiasi dan puisi untuk para orang tua. Masya Allah.

Terbayanglah semua rekam jejak momen masa laluku ketika menjalani wisuda. Huwaaa ….

Penutupan acara yaitu dengan menyanyikan bersama lagu kebangsaan “Bagimu Negeri“, “Syukur” kemudian diakhiri pembacaan doa.

Luar biasa, ya. Aku salut dengan susunan acaranya yang rapi, bukan sekedar wisuda, tapi terutama dengan materi yang diberikan special keynote speaker dapat bermanfaat untuk semua hadirin, juga kita semua sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Kuucapkan selamat untuk semua wisudawan. Selamat untuk rekan-rekan blogger yang turut hadir serta di sana. Selamat untuk para orang tua yang pastinya bangga dengan prestasi anandanya tercinta.

Kepada para wisudawan, Adik-Adikku tersayang: Manfaatkanlah ilmu yang telah didapat supaya bermanfaat bagi pribadi, masyarakat, bangsa dan negara serta agama. Di pundakmu masa depan bangsa ini, Adik-Adikku.

Liputan online: Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bandung XIV, Campus of Innovation, Campus of Technology, Campus of Design, Campus of Creativity, Campus of Future Leader.

#tulisanemmy

#STTBandung

#WisudaXIVSTTBandung

#CampusofInnovation

#CampusofTechnology

#CampusofDesign

#CampusofCreativity

#CampusofFutureLeader

Anti Sosial yang Sangat Berbeda dengan Asosial, Apalagi Introvert

Kembali saya akan membahas salah satu gangguan kejiwaan atau penyakit mental, yaitu anti sosial.

Anti sosial berbeda dengan fobia sosial. Anti sosial bukan pula dikarenakan kecanggungan dalam bersosialisasi.

Gangguan anti sosial yaitu gangguan dimana penderita takut pada sekelompok orang atau berinteraksi dengan orang lain. Gangguan kepribadian ini dikenal juga dengan sociopathy.

Penderita biasanya memiliki sifat tidak empati, suka menghina orang lain merasa orang lain dibawahnya, sinis, sifat acuh tak acuh, agresif, dan tidak bisa beradaptasi dalam masyarakat. Ada di antara temanmu seperti ini?

Seseorang bisa dikategorikan mengalami gangguan ini setelah berusia di atas 18 tahun. Namun, pemberian label gangguan kepribadian antisosial diberikan hanya jika gejala sudah muncul sebelum mereka berusia 15 tahun.

Memang sekarang, terjadi pergeseran makna tentang anti sosial. Anti sosial kerap disamakan juga dengan asosial, padahal keduanya tidak sama.

Jadi, jangan sembarang menyebut seseorang, “anti sosial” ya. Hanya pakar kejiwaan yang bisa mendiagnosa penyakit ini.

Perlu diingat, gangguan kepribadian antisosial ini bukan disebabkan oleh gangguan mental lain. Maka perlu diadakan beberapa tes untuk menentukan apakah seseorang bisa dikatakan anti sosial.

Di sisi lain, asosial adalah disfungsi kepribadian yang ditandai dengan menarik diri dan menghindar secara sukarela terhadap interaksi sosial apapun.

Asosial berbeda dari perilaku anti sosial, di mana antisosial menyiratkan perilaku membenci orang lain atau antagonisme terhadap orang lain maupun tatanan sosial umum. Sifat asosial sering terlihat pada beberapa orang introvert, namun asosialitas yang ekstrem biasanya timbul pada orang-orang yang mengalami berbagai kondisi klinis tertentu, seperti gangguan bipolar, autisme, skizofrenia, depresi, sindrom Asperger, dan social anxiety disorder.

Selain itu, orang introvert juga seringkali dituduh ansos atau anti sosial. Lebih baik, baca dulu
7 perbedaan antara anti sosial dan introvert, sebagai berikut:

1. Introvert lebih nyaman sendiri tapi sanggup memiliki hubungan baik dengan orang lain sedangkan ansos tidak mampu berhubungan dengan orang lain dalam cara yang sehat.

2. Introvert adalah kepribadian sedangkan ansos adalah masalah kesehatan mental.

3. Orang ansos bisa jadi sangat ekstrovert dan terbuka sedangkan introvert tidak bisa menjadi ekstrovert.
Tentu saja, anti sosial melakukan ini dengan tujuan.

4. Introvert menikmati hubungan dengan orang yang dekat dengannya, sedangkan ansos tidak punya rasa empati.

5. Introvert tidak perlu disembuhkan atau diubah sedangkan ansos butuh diobati.

6. Introvert bisa ramah dengan siapa saja sedangkan ansos menganggap semua orang adalah musuh.

7. Introvert menghabiskan waktu dengan melakukan apa yang dia suka sedangkan ansos menghabiskan waktunya untuk berpikir bagaimana caranya memanipulasi orang lain.

Penyebab seseorang menderita anti sosial ini seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor genetik dan interaksi dalam lingkungan, serta pola asuh yang salah.

Secara garis besar, faktor risiko yang mungkin bisa menyebabkan sikap anti sosial, yaitu:
1. Melewatkan masa kanak-kanak dengan ditelantarkan atau dieksploitasi.

2. Berasal dari keluarga yang mengalami gangguan kepribadian anti sosial. Tentu saja karena anak pertama kali belajar dari keluarganya sendiri.

3. Memiliki riwayat gangguan perilaku di masa kecilnya.

3. Masa kecil berada di lingkungan keluarga yang tidak harmonis. Hati-hati terhadap keluarga yang rawan terjadi broken-home. Masa depan sang anak bisa terancam.

Tingkat keparahan anti sosial dapat bervariasi. Pola perilaku yang terlihat sangat berbahaya, kejam dan mengerikan dapat mengacu pada gangguan psikopatik atau sosiopatik.

Bagaimana cara penanganan penyakit mental yang satu ini?
Tidak ada jalan lain selain dilakukan psikoterapi yang tepat. Ajaklah si penderita untuk berkonsultasi dengan psikolog atau spesialis kejiwaan. Melalui beberapa sesi konsultasi semoga bisa membantu penderita.

Tidak hanya sesi konsultasi, penderita juga selayaknya untuk diajak untuk belajar bersosialisasi. Dengan pengawasan dan bimbingan dari sang pakar, diharapkan penderita mampu membuka dirinya.

Langkah penanganan pada gangguan kepribadian antisosial bertujuan untuk mencegah perilaku atau perbuatan yang dapat membahayakan orang lain atau diri mereka sendiri, serta mendorong dan membimbing penderita anti sosial agar dapat hidup bermasyarakat dengan baik.

Ingat, kepedulianmu terhadap sesama akan menolong generasi bangsa ini. SALAM SEHAT JIWA!!

Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan yang Kerap Disepelekan

Gangguan kecemasan atau disebut juga anxiety disorder, ternyata merupakan salah satu penyakit mental yang kadang tidak diduga.

Bagaimana tidak? Memang wajar untuk merasa cemas sesekali karena hal tersebut merupakan bagian dari kehidupan setiap manusia. Namun, jika kecemasan yang Anda alami terjadi terlalu sering, berlebihan, dan tanpa alasan yang kuat, Anda mungkin mengidap gangguan kecemasan.

Kondisi ini tentu berbeda dengan cemas biasa. Orang dengan gangguan cemas akan merasa sangat khawatir terhadap berbagai hal, bahkan ketika dirinya sedang berada dalam situasi normal. Berbahaya sekali ya, ternyata?

Ada berbagai jenis anxiety disorder, yaitu:

1. Generalized anxiety disorder (GAD)

Generalized anxiety disorder adalah kecemasan kronis yang ditandai dengan rasa khawatir dan tegang yang berlebihan. Jenis gangguan kecemasan ini berlangsung secara persisten dan cenderung tidak terkendali.

Penderita GAD biasanya hanya bisa merasakan kecemasannya sendiri tanpa bisa mengungkapkannya pada siapapun.

2. Gangguan kecemasan sosial (Social anxiety disorder)

Social anxiety disorder, alias kecemasan sosial adalah rasa ketakutan ekstrem yang muncul ketika berada di tengah-tengah banyak orang. Saking gugupnya, penderita bisa berkeringat dan merasa mual ketika berada dalam situasi ini.

Berbeda dengan rasa malu atau gugup yang umumnya dialami hanya sebentar saja, kondisi ini justru berlangsung terus-menerus dalam waktu yang lama. Sumber dari kecemasan ini adalah karena mereka takut akan diamati, dihakimi, atau dinilai di depan orang lain.

Tanda dan gejala fobia sosial di antaranya:

  • Gugup berlebihan ketika melakukan interaksi sosial
  • Mengalami kecemasan intens selama berhari-hari, minggu, atau bahkan bulanan
  • Ketakutan yang amat sangat akan rasa diamati atau dinilai oleh orang lain, terutama orang-orang yang tidak Anda kenal
  • Menghindari tatap mata dengan lawan bicara
  • Memilih berdiam diri atau bersembunyi untuk menghindari orang lain
  • Menarik diri dari aktivitas sosial
  • Wajah memerah ketika diminta bicara di depan banyak orang
  • Napas pendek-pendek
  • Sakit perut
  • Mual
  • Gemetar, termasuk suara juga jadi gemetar
  • Jantung berdebar-debar atau dada terasa sesak
  • Berkeringat
  • Merasa pusing atau ingin pingsan

Hmm, kenapa saya jadi teringat masa lalu saya, ya.

3. Gangguan Panik (Panic Disorder)

Tidak seperti kecemasan biasa, gangguan panik bisa muncul secara tiba-tiba dan berulang kali tanpa adanya alasan yang jelas. Seseorang yang mengalami kondisi ini umumnya juga menunjukkan gejala-gejala fisik seperti keluar keringat berlebih, nyeri dada, sakit kepala, napas memburu, dan detak jantung yang tidak teratur. Kadangkala dia mengira dirinya terkena serangan jantung akibat panik yang berlebihan.

4. Fobia Spesifik

Fobia spesifik juga masuk dalam jenis anxiety disorder. Kondisi ini merupakan ketakutan yang berlebihan dan terus-terusan terhadap suatu objek, situasi, atau aktivitas tertentu yang umumnya tidak berbahaya.
Misalnya: takut darah atau takut jarum. Berbeda dengan ketakutan biasa, orang dengan fobia akan merasakan efek dahsyat akibat ketakutannya. Tidak hanya jantung yang berdetak lebih cepat. Dalam kondisi ini dia akan berkeringat hebat dan tidak sadarkan diri.

Umumnya penderita gangguan kecemasan ini mengalami beberapa gejala seperti:

  • Mudah merasa lelah
  • Gelisah terus-terusan
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Mudah tersinggung
  • Kesulitan mengendalikan perasaan khawatir
  • Kram otot
  • Mengalami gangguan tidur, termasuk kesulitan untuk tidur atau selalu merasa kurang tidur

Beberapa faktor risiko umum untuk semua jenis anxiety disorder meliputi:

Trauma. Anak-anak yang mengalami pelecehan seksual atau menyaksikan peristiwa traumatis di masa kecil berisiko lebih tinggi mengalami anxiety disorder ketika mereka dewasa.

Riwayat genetik. Memiliki kerabat sedarah, terutama orangtua dan saudara kandung, dapat meningkatkan risiko Anda terkena kondisi ini juga.

Kepribadian tertentu. Orang dengan tipe kepribadian tertentu lebih rentan terhadap gangguan kecemasan daripada yang lain.

Mengalami gangguan mental. Orang dengan gangguan mental, seperti depresi, sering kali juga mengalami gangguan kecemasan.

Penggunaan obat-obatan atau alkohol. Penyalahgunaan alkohol dan narkoba dapat menyebabkan atau bahkan memperburuk gangguan kecemasan yang Anda alami.

Stres karena suatu penyakit, masalah pekerjaan, kehilangan seseorang. Memiliki kondisi kesehatan atau penyakit serius dapat memicu perasaan takut dan cemas berlebih. Begitu pula menghadapi masalah hidup lainnya.

Dua perawatan utama untuk gangguan kecemasan adalah psikoterapi dan obat-obatan. Psikoterapi adalah berkonsultasi dengan pakar (psikolog atau dokter).

Dalam kondisi tertentu dokter bisa meresepkan beberapa obat apabila diperlukan.

Namun, Anda bisa mencoba untuk mengatasi sendiri dengan cara:

  • Beribadah
  • Melakukan hobi
  • Berolahraga
  • Memakai minyak esensial
  • Berendam air hangat
  • Beryoga
  • Bercerita dengan teman

Namun jangan ragu untuk segera temui dokter jika:

  1. Anda terus-terusan dirundung rasa khawatir hingga mengganggu aktivitas sehari-hari
  2. Rasa takut, khawatir, dan cemas yang Anda alami sulit untuk dikendalikan
  3. Mengalami stres kronis, kecanduan alkohol, menggunakan narkoba, atau memiliki masalah kesehatan mental lainnya
  4. Memiliki keinginan untuk melukai diri sendiri atau bahkan bunuh diri

SALAM SEHAT JIWA!

Merdeka Berarti Bukan Budak (Cinta)

Pada tanggal 17 Agustus 2019 lalu, negara Indonesia merayakan kemerdekaan-nya yang ke-74. Merdeka itu sebenarnya apa, sih? Ada yang bilang, merdeka itu adalah bebas melakukan sesuatu. Ada juga yang menyatakan kemerdekaan setelah berhasil melawan diri sendiri. Bagaimana menurut Anda?

Jika diartikan berdasarkan KBBI, merdeka bisa berarti:
1. bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri,
2. tidak terkena atau lepas dari tuntutan,
3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.
(sumber: KBBI)

Lantas bagaimana dengan “bucin”? Pernah dengar istilah “bucin”, nggak?

“Bucin” adalah bahasa anak jaman sekarang yang merupakan kepanjangan dari kata budak cinta. Dalam KBBI, istilah bucin ini tidak ada artinya, karena merupakan bahasa prokem saja, untuk arti bucin sendiri berarti orang yang tergila-gila akan cinta, orang tersebut mau melakukan apapun demi orang yang dia cinta. (Sumber: Kompasiana)

Saya runut dari beberapa tahun sebelum istilah ini ada. Dulu saya sudah mengenal istilah “Love Addicted“. Nah, apalagi tuh?

Bersumber dari seorang praktisi kesehatan mental, Bapak Supri Yatno, berikut ciri-ciri seorang yang terkena “Love Addicted“:

1. Tidak memiliki kekuatan dan pengendalian atas seseorang. Perasaan cinta terlalu menguasai dan mengendalikan hidup Anda sehingga Anda sulit sekali melepaskan diri darinya.

2. Sebagian besar waktu Anda diisi oleh pikiran-pikiran seputar seseorang yang menjadikan hidup Anda tidak seimbang dan di luar kendali. Aktivitas lainnya dalam kehidupan Anda seolah seperti di belakang layar.

3. Aktivitas berkaitan dengan seseorang menjadi sentral kehidupan Anda. Bahkan bisa jadi anak dan kebahagiaan Anda lainnya menjadi tidak penting karena Anda tetap berada dalam sebuah hubungan yang tidak sehat dengan resiko yang Anda sadari.

4. Anda sadar bahwa seseorang sedang memanfaatkan diri Anda tetapi Anda tidak bisa meninggalkannya sehingga dengan begitu Anda menyakiti diri sendiri. Nah lho!

5. Seiring berjalannya waktu, kecanduan Anda mengalami peningkatan dan kronis. Semakin lama Anda sangat bergantung pada pasangan. Ketergantungan Anda membuat Anda takut kehilangan dirinya.
Dengan kata lain, “aku tak dapat hidup tanpamu”.

Secara sederhana, seorang addict adalah orang yang tidak bisa mengatakan TIDAK pada hubungan yang tidak sehat. Bukankah berkaitan dengan istilah “bucin” yang saya singgung tadi?

Nah, coba deh dicermati ciri-cirinya. Apakah ada pada diri Anda? Semoga tidak, ya.

Apakah seseorang yang terkena Love Addicted sudah merdeka. Absolutely not!

Seorang yang merdeka bisa mengendalikan dirinya. Bukannya dikendalikan cinta, namun dia akan bisa mengendalikan cinta.

Seorang yang merdeka akan mampu melihat apakah hubungan yang sedang dijalaninya sehat atau tidak. Bila ditemukan bahwa ternyata hubungan yang dijalani tidak sehat, segera dia ambil langkah untuk meninggalkannya.

Ingat, mencintai diri sendiri harus lebih didahulukan sebelum mencintai orang lain.

Seorang yang merdeka mampu mencintai pasangannya dengan wajar, sesuai aturan. Dia tidak akan memaksakan kehendak dan tidak mengambil keputusan yang akan merugikan dirinya sendiri.

“Bucin” dari kepanjangannya saja sudah budak cinta. Bukankah budak adalah seseorang yang belum merdeka?

Jadi jelas sekali, Saudara-Saudara. Kalau gejala “bucin” ada pada Anda, maka berarti Anda belum merdeka.

Mari kita kembali pada makna kemerdekaan yang sesungguhnya.

“Me Time”-nya Sang Introvert

Me Time” itu sebenarnya apa sih?

Jika diartikan secara harfiah, “me” berarti diri sendiri, “time” artinya waktu. Me time berarti waktu yang dihabiskan hanya bersama diri sendiri.

Pertama kali saya mengetahui istilah ini, jujur saja sempat rancu. Karena bagi seorang introvert seperti saya, menghabiskan waktu dengan diri sendiri adalah suatu keharusan. Setiap harinya saya pasti meluangkan waktu untuk diri sendiri. Baik di tengah-tengah mengurus anak, maupun ketika bekerja.

Saat sedang mengasuh anak tentu saja me time bisa saya laksanakan setelah anak-anak tidur. Biasanya saya akan membuka laptop setelah anak tertidur lalu menarikan jemari di atas keyboard hingga membentuk suatu tulisan, entah naskah cerpen maupun tulisan dalam blog. Me time lainnya yang biasanya saya lakukan adalah membaca buku atau bernyanyi. (Untuk membaca buku bahkan dulu sering saya lakukan sambil menyusui anak, lho).

Nah, untuk bernyanyi, saya biasanya memanfaatkan aplikasi Smule. Zaman now mudah sekali yaa untuk melaksanakan hobi. Dengan bernyanyi melalui Smule saya bisa menjajal kemampuan suara selain untuk hiburan. Apalagi kadang ada artis yang buka OC (open collaboration), jadi siapapun bisa merasakan duet dengan artis tersebut.

Simak nyanyian saya yang banyak saya share di akun IG @emmy_emha maupun channel YouTube emmy herlina.

Lantas bagaimana me time di saat bekerja. Biasanya di waktu luang saya bisa berselancar di sosial media. Membaca buku pun juga sering saya lakukan. Kalau bernyanyi di Smule wah, sudah agak sulit dilakukan di tempat kerja. Meskipun dulu pernah sesekali saya lakukan juga, jika sikon memungkinkan. Hihihi.

Coba disimak dulu kata pakar tentang me time:
“Pada dasarnya manusia, meskipun dia bersosialisasi tapi tetap adalah makhluk individual. Butuh waktu buat sendiri. Manusia butuh menyenangkan diri sendiri tanpa harus melibatkan orang lain. Melakukan sesuatu sendiri bikin kita jadi orang yang lebih baik dan menyenangkan,” ujar Psikolog Ayoe Sutomo, M.Psi. (sumber: artikel detik)

Namun bagaimana dengan seorang yang memang terbiasa dengan kesendirian? Masihkah butuh me time? 😁😁

Introvert adalah satu dari tiga jenis kepribadian manusia. Mereka yang termasuk dalam kepribadian introversion adalah orang yang cenderung fokus kepada pikiran, perasaan, dan mood yang berasal dari dalam diri sendiri alias internal, dibandingkan dengan mencari stimulasi yang berasal dari luar. (sumber: google)

Seorang introvert akan membutuhkan me time untuk men-charge energinya. Jika dia terus menerus terlibat aktif dalam keramaian, akan terasa begitu melelahkan.

Bagi saya, intinya membiasakan hidup seimbang. Bekerja dibawa bahagia. Di sela bekerja pun perlu relaksasi. Bersama keluarga pastinya membahagiakan. Menghabiskan waktu dengan acara bersama blogger pun menyenangkan. Setuju?