Siti Hajar, Sosok Ibu Luar Biasa di Balik Keluarga Hafidz/Hafidzhoh

Judul: Hafidz Rumahan

Penulis: Neny Suswati

Editor: Rosidin

Penerbit: AURA CV. Anugrah Utama Raharja

Cetakan: Februari 2019

ISBN: 978-623-211-033-5

Harga: Rp. 65.000

Hafidz Rumahan

Sinopsis:

Hasan Basri, hafidz cilik dari pulau Nias. Semakin sering disebut dan sangat mudah menelusuri untuk mendapatkan informasi tentangnya di internet, terutama youtube yang banyak menayangkan video saat dia melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan suara merdunya. Sebuah fenomena yang amazing, tentu menimbulkan rasa ingin tahu yang mendalam. Bagaimana bisa jadi seperti itu?

Buku ini bercerita, bagaimana seorang ibu, dengan kegigihan dan kesabarannya, membimbing sendiri anak-anaknya yang 9 orang untuk menjadi hafidz Quran! Saat ditulisnya buku ini, 7 orang anaknya sudah hafal 30 juz Al-Quran di usia 6 sampai dengan 12 tahun, 1 orang meninggal dunia di usia hampir 2 tahun dan 1 orang sedang menghafal.

Masya Allah! Bagaimana bisa? Sehebat apa beliau? Setinggi apa pendidikannya? Selengkap apa sarana hidupnya? Di mana suaminya? Bisakah kita seperti dia?

Sejak mengikuti acara launching buku “Hafidz Rumahan”, pada Kamis lalu, tanggal 7 Maret 2019, saya sudah sangat penasaran dengan kisah keluarga Ustadz Abdurrahim. Bagaimana seorang yang dulunya sangat awam agama, kemudian bisa mendapatkan hidayah dan mengubah hidupnya 180 derajat.

Begitu juga dengan sang istri, Siti Hajar. Seorang ibu tanpa pernah mengenyam pendidikan  di pesantren, telah berhasil mendidik putra-putrinya hingga menjadi hafidz/hafidzhoh. Luar biasa. Bahkan keluarga ini tinggal di pulau dengan penduduk muslim hanya sekitar 5%. Bagaimana bisa?

Saya menikmati lembar demi lembar kisah keluarga dalam buku ini. Diawali dengan latar belakang bapak Ramlan Dalimunthe, sebelum ia menjadi ustadz Abdurrahim. Lalu profil istrinya, Sri Maharani Hasibuan, yang tadinya sempat menolak untuk menikah dengan Bapak Ramlan. Qodarulloh, mereka akhirnya menikah, berhijrah, hingga menjadi seperti sekarang. Penggambaran masa lalu mereka terbayang jelas karena penulis menggunakan teknik showing yang mantap.

Kemudian yang terpenting bagaimana sang ibu mendidik anak-anaknya. Bab inilah yang merupakan favorit saya. Dimulai dari halaman 107, bagian 0-3-7-10, diceritakan bagaimana memperlakukan anak-anaknya berdasarkan tahapan umur mereka. Fase lahir sampai usia 3 tahun, usia 3-7 tahun, usia 7-10 tahun.

Cerita berlanjut hingga saat mereka pertama kalinya mendapat hidayah. Alasan ustadz Abdurrahim memutuskan untuk mengundurkan diri dari statusnya sebagai PNS dan fokus di jalan dakwah. Kehidupan keluarga ini yang berubah 180 derajat. Terjadinya gempa Nias yang semakin mengingatkan betapa dunia begitu mudah porak poranda oleh kekuasaan Alloh SWT. Lalu cara mereka menghadapi cibiran dari keluarga dan lingkungan sekitar terhadap pola hidup yang mereka pilih.

Sikap suami sebagai qowwam atau pemimpin keluarga dan istri yang selayaknya taat pada suami. Buku ini juga menyadarkan saya bahwa kunci pendidikan anak-anak adalah dari ibunya. Ibu sebagai madrasah pertama, ibu yang menciptakan lingkungan yang kental nuansa religi dalam rumah. Karena ternyata yang dimaksud lingkungan mempengaruhi pendidikan anak sesungguhnya dari dalam rumah itu sendiri, bukan dari luar rumah.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari buku Hafidz Rumahan ini. Antara lain, ilmu parenting, bagaimana mendidik anak hanya dengan landasan kecintaan pada mereka, hingga tak rela sedikitpun api neraka menyentuh anak-anak.

Sayangnya, ada beberapa hal yang mengganggu saya saat membaca buku ini. Ada beberapa kalimat tidak bersubyek, kesalahan penulisan kata depan di-, yang seharusnya bila mengacu pada nama tempat, penulisannya dipisah. Walau sebenarnya bagi pembaca awam, hal seperti ini tidak akan mengganggu, yang penting isinya baper.

Selain itu, penempatan foto-foto di dalam buku ini, menurut saya, alangkah bagusnya bila foto-fotonya berwarna. Walaupun tentunya tampilan halaman berwarna akan mempengaruhi kenaikan harga buku.

Kemudian dari segi konten buku. Dikisahkan bahwa sebelumnya sang istri sempat menolak ketika dilamar. Namun mengapa pada akhirnya bapak Ramlan tetap datang melamar? Hal ini tidak diceritakan.

Lalu pada saat Abdurrahim memutuskan berhenti mengajar. Kalau menurut saya pribadi, setiap keputusan yang kita ambil mengandung resiko. Begitu juga dalam ketentuan PNS, setahu saya, jika memang ingin mengundurkan diri, yang bersangkutan tak berhak lagi atas gaji, pesangon maupun uang pensiun. Itulah resiko dari pilihannya yang harus diterima dengan ikhlas. Jadi tidak perlu mem-bahasa-kan bahwa “walikota memberhentikan secara tidak hormat”, karena awalnya keputusan adalah dari ustadz Abdurrahim sendiri. Fokuskan saja pada keikhlasannya menjalani hidup setelahnya tanpa menerima penghasilan lagi.

Terlepas dari kekurangan yang saya sebutkan, buku Hafidz Rumahan ini sangat menginspirasi dan layak dibaca semua khalayak. Betapa langkanya manusia yang memilih jalan dakwah, hidup dalam kesederhanaan di tengah masyarakat yang berlomba mengumpulkan harta. Betapa jarangnya sosok ibu yang menyadari sepenuhnya bahwa di tangannyalah tanggungjawab mendidik anak-anak sepenuhnya. Hal ini yang menyentuh sanubari saya sebagai seorang ibu.  Semoga saya bisa mengikuti jejak beliau dan mengambil tanggungjawab penuh mendidik anak-anak saya.

Hafidz Rumahan. Sumber pic: Tapis Blogger

Like Water for Chocolate, Dongeng Cinta Ala Meksiko yang Tragis Namun Mempesona

Judul: Like Water for Chocolate

Diterjemahkan dari: Como Agua para Chocolate

Karya: Laura Esquivel

Penerbit: Bentang (PT. Bentang Pustaka)

Cetakan pertama: Agustus 2018

Copyright Laura Esquivel 1989

Penerjemah: Yunita Candra

ISBN: 978-602-291-496-9

Sinopsis:

Terlahir sebagai putri bungsu keluarga La Garza, Tita harus mematuhi tradisi untuk tidak pernah menikah demi merawat orangtua. Namun, Tita justru jatuh cinta kepada Pedro. Mama Elena, ibunya, berang dan justru menikahkan Pedro dengan kakak Tita. Wanita itu bahkan memaksa Tita menyiapkan jamuan pesta pernikahan mereka.

Pertama saya membuka novel ini, saya langsung mengira ini buku resep. Soalnya setiap babnya dibuka dengan resep makanan khas Meksiko, dari mulai bahan-bahan hingga cara membuatnya.

Karena semua adalah bagian hidup Tita, sebagai putri bungsu keluarga La Garza, sekaligus koki di dapur mereka. Iyalah, sebab dari kecil dia memang lebih dekat dengan dapur dan juru masaknya daripada ibu kandungnya sendiri yang pernah mencoba menyingkirkan Tita waktu masih bayi.

Saya tak habis pikir setelah mengetahui tradisi di sana. Alangkah tidak adilnya menjadi anak bungsu perempuan kalau tidak diperbolehkan menikah karena harus merawat ibunya. Apalagi Mama Elena di sini sangat memperlakukan Tita dengan tidak adil.

Namun dengan gaya bahasanya yg nyastra dan memikat, novel ini benar-benar layak dinikmati. Di pertengahan cerita pembaca dibuat memahami apa latar belakang Mama Elena mempunyai karakter demikian.

Semua karakter di buku ini begitu hidup, meski kadang beberapa adegan tampak kurang masuk akal bagi saya.

Anyway, setelah membaca profil penulis di akhir buku saya baru menyadari bahwa novel ini merupakan salah satu yang difilmkan di Meksiko, bahkan berhasil menyabet Ariel Award pada tahun 1992. Buku ini juga sudah terbit dalam 35 bahasa dan menjadi film asing paling laris di Amerika pada tahun 1993. Wah, ada yg belum lahir umur segitu?

Setelah saya begitu terhibur dengan jalan cerita yang tidak bisa diduga akhirnya. Novel ini mengajarkan bahwa, setiap luka nantinya akan tersembuhkan. Namun jangan lupa bahwa kitalah yang bertanggungjawab untuk menyalakan lilin semangat pada diri sendiri. Asal kita percaya, ada akhir yg indah dari setiap cerita.

Berusaha Jujur pada Diri Sendiri

Sumber: blog stupidcancer

Be Honest (to yourself)

“Kapan terakhir kali kamu jujur pada diri sendiri?”

Sejak 2016 lalu, saya menjalani beberapa terapi online. Dari situ saya mulai menemukan jawaban, “kenapa sih saya slalu berkubang di masalah yg sama?”.

Saya mengenal istilah “mental korban”, “inner child”, “PTSD”, “love addicted”, juga “mindfulness” juga dari terapi tersebut. Terapi yang digagas oleh Bapak Supri Yatno, seorang praktisi kesehatan mental dan founder Peduli Trauma, telah banyak menolong saya, terutama dalam hal pengasuhan anak dan mendengarkan kata hati.

Pengetahuan tentang tantrum yang saya tuangkan di sini adalah salah satu yang kupelajari dari pelatihan Bapak Supri Yatno.

Saya merasa bekal saya cukup. Di saat beberapa teman seperjuangan saya tahu ada yg mendatangi psikolog, bahkan psikiater, saya yg merasa diri sudah baik-baik saja merasa tak perlu melakukan itu semua.

Grup khusus alumni Mindfulness Parenting, salah satu pelatihan Bpk Supri Yatno, kebetulan saya salah satu adminnya

Berlembar Episode Pasca Terapi

Hari-hari saya lalui kemudian dan berbagai masalah muncul. Masalah parenting, masalah dengan pasangan, masalah di tempat kerja, dll. Saya memang sudah bisa pulih lebih cepat.

Dari yang dulu bisa berhari-hari berkubang dalam tangisan, sekarang sudah bisa berduka beberapa menit saja. Dari yang dulu cepat sekali melukai diri sendiri, sekarang sy bisa mengalihkan pikiran ke hal-hal lain yg membahagiakan. Saya merasa lebih kuat.

Memasuki Dunia Literasi

Kemudian, saya menemukan passion saya. Saya menenggelamkan diri dalam tulisan-tulisan saya, mengikuti berbagai training, komunitas, beberapa event, mencoba menjadi blogger, vlogger, PJ antologi, menulis resensi buku, macam-macam-lah pokoknya.

Menjadi penulis seakan menjadi suatu kebanggaan, apalagi saat membaca satu quotes:

“Berhati-hatilah menyakiti seorang penulis jika kamu tak ingin namamu abadi dalam karyanya.”

Terkadang permasalahan masih terasa bagaikan tamparan. Di tengah kenyamanan hidup, dia datang tak peduli situasi. Saya yang sudah merasa lebih kuat mengira sanggup mengatasi semua. Ternyata ….

Bahkan masalah di dunia literasi pun tak urung membuatku berpikir, “mengapa saya tak mampu sebaik yang lain?”

Saya lupa dengan beberapa ilmu yang saya dapatkan dari terapi. Saya lupa untuk acceptance. Saya lupa niatan awal melakukan passion karena saya suka dan bukan untuk bersaing dengan siapapun.

Saat Nada Sumbang Terdengar di Telinga

Apalagi ditambah pada awal Januari sebuah rahasia terkuak, bahwa ada beberapa teman yang hanya mengenalku dari sosial media, menarik kesimpulan sendiri, lalu membenciku. Parahnya lagi mengadu domba dengan menceritakan keburukanku pada seorang sahabat.

Untung saja, sahabatku itu masih bertahan berteman denganku. Memang betul kan, istilah:

“Tidak perlu menjelaskan dirimu pada dunia, yang menyukaimu tak butuh itu dan yang tidak menyukaimu takkan percaya itu.”

Saya mencoba untuk menepis perasaan tidak nyaman yang saya rasakan pada beberapa hari pertama di awal 2019. Namun tak bisa dibohongi, bahkan terbukti ketika diadakan Challenge 30 Hari Bercerita saya langsung memilih tema: Mencintai Diri Sendiri.

Hasil dari Challenge 30 Hari Bercerita selama Januari 2019

Ternyata, saya belum pulih total. Ternyata masih banyak hal yang perlu saya perbaiki. Ternyata ilmu yang saya dapatkan dari terapi online belum semua bisa saya serap sempurna. Bahkan masih ada beberapa kesalahan yang kerap saya lakukan berulang-ulang.

Saya mulai membuka diri pada metode baru. Saya mulai mengosongkan gelas supaya bisa terisi ilmu baru. Saya mulai mencari tahu alasan kenapa saya belum bisa berbahagia dengan sempurna, alasan apa adanya tanpa ditutup-tutupi.

Perkenalan dengan Program “de Most”

Awalnya, di sekolah anak saya dulu ada program penilaian bakat anak dari sidik jari. Program ini dinamakan de Most (Mitra Observation Sinergi Talenta). Saya penasaran ingin mencobanya untuk mengetahui bakat anak-anak saya.

Saya puas mengetahui hasil yang saya terima pada anak saya yang pertama, saya cobakan lagi mengikutkan anak saya yang kedua dalam program de Most. Apalagi kebetulan anak saya yang kedua ini speech delay. Saya ingin mempunyai ilmu lebih untuk memahaminya.

Saya mengantongi hasil yang sangat berbeda untuk kedua anak saya. Kami yang pernah ikut serta program de Most, dimasukkan dalam sebuah grup wa, oleh Bapak Eko Chrismiyanto, seorang konsultan keluarga dan pakar analisis sidik jari. Di grup ini Pak Eko seringkali berbagi ilmu2 parenting sebagai pengingat bagi kami semua.

Di acara ini pertama kalinya saya mengenal Pak Eko dan program de Most

Ternyata tak hanya untuk orangtua, ada juga program untuk pasangan dan untuk diri sendiri. Wait. Bukankah sudah terlalu tua mengetahui kepribadian sendiri?

Tapi saya mencoba untuk jujur. Saya ingin menjadi pribadi lebih baik setiap harinya. Apapun jenisnya, baik terapi online maupun offline bila bertujuan untuk peningkatan kualitas diri, saya akan mengikutinya.

Rata-rata anggota grup wa de Most mengikuti program de Most intimate, saya rasa mungkin hanya saya yang akhirnya memilih de Most personal. Dan begitu saya mengetahui hasilnya saya sangat terkejut.

Scan Sidik Jari bersama de Most

Hasil Scan Sidik Jari yang Jauh dari Prediksi

Saya merasa sudah mengenali diri dengan baik nyatanya banyak hal tak terduga dari hasil scan sidik jari saya. Saya mengira saya dominan otak kanan karena terlalu mengutamakan perasaan dibandingkan logika tapi ternyata sebaliknya. Terbukti imajinasi saya terbatas sehingga lebih mudah bagi saya menuliskan non fiksi dibandingkan fiksi.

Contoh lainnya, saya mengira saya dominan auditorial ternyata saya seorang visual dengan hasil auditorial yg juga cukup tinggi. Bahkan hasil kinestetik saya juga cukup tinggi meski menempati urutan ketiga.

Di saat saya mengira saya tak cukup baik mengatur waktu ternyata justru yang paling tinggi adalah bagian manajerial. Hal ini yang menyebabkan beberapa orang menilai saya berbakat menjadi leader. Saya bisa memilah mana yg prioritas untuk terlebih dulu dilakukan.

Di sini saya mengungkapkan perjalanan saya juga dari seorang manajer di MLM hingga menjadi Manajer di dunia literasi nulis bareng (NuBar)

Sejak mengikutsertakan anak saya pada analisis sidik jari, saya mengetahui bahwa ada 9 jenis kecerdasan manusia, yaitu kecerdasan intrapersonal, interpersonal, naturalis, musik, body kinestetik, verbal, visual spasial, dan logika matematika.

Dan dari 9 jenis kecerdasan, yang tertinggi bagi saya adalah kecerdasan intrapersonal diikuti kecerdasan interpersonal. Gak bisa dipungkiri, meski saya berempati tinggi, saya tetap mengutamakan diri sendiri. Saya hanya bisa mendengarkan orang lain di saat mood saya baik. Saya hanya bisa menolong orang lain jika saya sendiri sudah beres terlebih dulu.

Buku ini juga membahas macam-macam kecerdasan manusia, selain pengetahuan tentang dunia literasi.

Meski saya sempat berminat untuk menjadi psikolog, bahkan minimal menjadi terapis spti Bapak Supri, masih ada hal yang mengganjal di hati saya dan ini jawabannya.

Begitupula terhadap pasangan. Meski setelah mengikuti terapi online saya bisa lebih memahami pasangan namun di sudut hati saya tetap berharap ada saatnya saya ingin dipahami.

Saya butuh eksistensi. Saya butuh untuk dilihat. Saya butuh pengakuan orang terhadap bakat saya. Ini berhubungan erat dengan masa lalu saya yang seringkali tak dianggap, baik di keluarga, di lingkungan sampai dunia kerja.

Untuk pertama kalinya terungkap satu sisi yang tersembunyi dalam diri. Saya hampir menangis saat diam-diam mengakuinya. Saya, seorang melankolis tertutup yang tidak nyaman dilihat orang ternyata haus perhatian.

Bukan. Ini bukan hal menyedihkan. Interpersonal adalah salah satu jenis kecerdasan. Sejajar pentingnya dengan kecerdasan logika Matematika maupun kecerdasan musikal.

Saya merasa lega sekali mengetahui hal ini. Saya merasa lega sekali memberanikan diri ikutan program sidik jari dan mengabaikan kata orang, “dah ketuaan lu umur segini baru tahu minat”.

Belum terlambat. Selagi Alloh masih memberimu napas masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan hidup lebih berbahagia dari sebelumnya. Hal kemudian saya lakukan adalah mengungkap satu trauma saya yang masih mengganggu pada Pak Eko, dan berharap untuk menuntaskannya kemudian hari.

Saya percaya saya pasti bisa. Selagi saya jujur pada diri sendiri. Dan semua bisa terjadi dengan izin-Nya.

P.S. untuk berkonsultasi dengan pakar terapis yang saya sebutkan bisa melalui saya wa 085273642724

Pelajaran Penting tentang Persahabatan (Review Wreck it Ralph 2; Ralph Breaks the Internet)

Sumber gambar: otakukart

Ralph Breaks the Internet adalah sebuah film komedi animasi komputer 3D Amerika Serikat yang diproduksi oleh Walt Disney Animation Studios. Sekuel dari film 2012 Wreck-It Ralph, dan film fitur animasi Disney ke-57, film tersebut menampilkan pengisian suara dari John C.
Tanggal rilis: 23 November 2018 (Indonesia)

Sumber: Wikipedia.

Sudah nonton “Wreck It Ralph” yang pertama? Belum? Wah, wah, baca dulu review-nya di sini deh. Bagusnya memang nonton berurutan, yang pertama dulu baru yang kedua, supaya kalian paham dalamnya persahabatan antara Ralph dan Vanelope 😁

Di film kedua ini, Sugar Rush terancam bubar! Ini gara-gara setir kemudi game Sugar Rush rusak. Mau tak mau, ini akibat ulah Ralph juga yang sengaja membuatkan alur jalan baru untuk Vanelope sahabat kecilnya yang menyukai tantangan, di tengah-tengah balapan. Jadi, saat anak yang tengah memainkan Sugar Rush tersebut memutar setirnya agar Vanelope kembali ke jalur balapan, ups, jadi patah deh.

Mr. Litwack (pemilik tempat games tersebut) sebenarnya ingin membeli gantinya, tapi harganya terlalu mahal.
Langsung saja semua penghuni “Sugar Rush” panik dan seketika menjadi gelandangan.

Dari sekian banyak penduduk Sugar Rush yang mendadak homeless akhirnya “dilelang” dan terambil game lain, tinggal bersisa para pembalap nih. Finally, Fix it Felix dan Calhoun, istrinya, sepakat mengadopsi teman-teman Vanelope tersebut. Tentunya tidak mudah mengasuh mereka 😂😂

Sementara itu, Ralph tiba-tiba mempunyai ide bagaimana cara mendapatkan setir baru. Dia dan Vanelope kompak bertualang ke eBay, melalui WiFi yang dipasang Mr. Litwack. Misinya simple, memesan setir untuk dikirimkan ke alamat toko Mr. Litwack. Hal yang terlupakan oleh mereka bahwa untuk membeli butuh uang. Tentu saja keduanya tidak mempunyai uang.

Sumber gambar: CGV

Saya memang sudah jatuh cinta pada karakter Ralph dan juga Vanelope sejak menonton Wreck it Ralph yang pertama. Makanya, waktu tahu kalau sekuelnya sudah tayang di bioskop Lampung, langsung saja deh saya atur jadwal untuk nonton film ini bersama keluarga.

Sesuai dengan judulnya, Ralph Breaks the Internet, film ini tak hanya mengisahkan petualangan dua sahabat itu memasuki dunia internet tapi juga menceritakan Ralph yang menjadi viral di internet.

Yup. Demi mencari uang banyak, Ralph akhirnya membuat video viral dalam waktu singkat. Wah, jadi ilmu baru nih bagi buzzer, YouTubers, dan siapapun yang mengejar ketenaran melalui sosmed.

Karena keunikannya, video Ralph dengan cepat memperoleh banyak “like” dari para netizen. Dari “like” tersebut nantinya bisa diuangkan.
Tapi jangan lupa, ilmu penting yang harus kalian ingat, abaikan komentar netizen! Fokus saja pada misimu menjadi di sosmed. Di mana-mana punya haters itu biasaaa. Apalagi seorang tokoh antagonist seperti Ralph, ya kan.

Wah, jadilah satu pelajaran penting yg bisa kita ambil dari film ini.

Jangan lupakan juga kemunculan Princesses dari Disney saat berkenalan dengan Vanelope. Saya paling suka saat menonton adegan kekompakan mereka diiringi backsound film masing-masing 😍

Sumber gambar: kaskus

Simak scenes tentang kemunculan Princesses di sini

Namun hikmah paling utama adalah tentang persahabatan. Bagaimana Ralph berproses untuk menghargai keputusan Vanelope yang sangat mengejutkan di pertengahan cerita. Apa itu? Tonton langsung aja filmnya 😊 Yang pasti sesuai dengan quotes yang terkenal dari film ini:

There’s no law saying best friends have to have the same dreams,”

Ini pelajaran penting dalam menjalin persahabatan. Bahwa tak apa menjadi berbeda satu sama lain, bahkan terpisah antara ruang dan waktu. Itu takkan menjadikan kita sungguh-sungguh berpisah dengan sahabat. Kita masih tetap bisa bersama dan sesekali menyapa melalui sosmed. Percaya pada sahabat kita bahwa dia masih tetap sahabat kita meskipun sudah mempunyai teman-teman baru. Just trust her or him! Lanjutkan hidupmu and everything is gonna be okay.

Satu Lagi Drama Korea yang Bikin Gagal Move On (Review “The Beauty Inside” 2018)

“The Beauty Inside” (sumber gambar: Wikipedia)

The Beauty Inside adalah serial televisi Korea Selatan tahun 2018 yang didasarkan pada film tahun 2015 yang berjudul sama; dibintangi oleh Seo Hyun-jin dan Lee Min-ki.

Jumlah episode: 16
Sumber: Wikipedia

Sinopsis:

Han Se-Kye ( Seo Hyun-Jin ) adalah seorang aktris papan atas. Dia dikenal sebagai pembuat onar dan objek banyak rumor. Hidupnya adalah sebuah misteri, tetapi, pada kenyataannya, dia menderita fenomena yang tidak biasa. Pada titik tertentu setiap bulan, penampilannya berubah menjadi orang yang berbeda. Dia hidup satu minggu setiap bulan dengan penampilan yang berbeda. Han Se-Kye bertemu Seo Do-Jae ( Lee Min Ki ).
Seo Do-Jae adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan penerbangan. Ia tampak sempurna dengan penampilan yang menarik dan memiliki kecerdasan, tetapi ia menderita ketidakmampuan mengenali wajah. Dia menyembunyikan kecacatan ini dan berusaha keras untuk menghafal orang dengan kebiasaan dan tingkah laku mereka. Satu-satunya wajah orang yang bisa dia kenali adalah Han Se-Kye. Dengan bertemu dengannya, hidupnya berubah. (sumber: Asian wiki)

Kali ini saya mau review satu lagi drama Korea yang menurut saya beda banget. Diawali dengan adegan sang artis cantik dalam acara penerimaan penghargaan, lalu dia terpaksa kabur tiba-tiba dikarenakan merasa gejala “ingin berubah”. Yup. Berubah dalam arti sebenarnya. Berubah menjadi sosok orang lain.

Itulah Han Se Kye, artis papan atas yang ternyata mempunyai “penyakit” aneh, tak masuk akal, yakni berubah menjadi sosok sama sekali berbeda dengan dirinya tiap sebulan sekali selama tujuh hari lamanya.

Awalnya melihat adegan dia berlari menjauh dari keramaian sampai kehilangan satu sepatunya kukira akan meniru film Disney lawas: Cinderella. Ternyata tidak 🙃

Benar-benar anti-mainstream kan idenya?

Oya, tentu saja Se Kye sudah berusaha mencari pertolongan. Bahkan berdoa berdasarkan segala macam jenis agama pun sudah dilakukan. Nyatanya tidak ada yang bisa menolongnya hingga lama-lama dia merasa lelah. Dan memutuskan, ya sudahlah, lebih baik terima saja kondisi ini.

Lalu, suasana berubah perlahan menjadi romantis dengan kedatangan seorang pria, Seo Do Jae, seorang CEO perusahaan yang mengontrak Se Kye sebagai brand ambassador. Beliau ini satu-satunya orang yang bisa mengenali Se Kye saat dia berubah! Nah, ternyata alasan dia bisa mengenalinya karena dia menderita penyakit prosopagnosia, yaitu tidak dapat mengenali wajah, bahkan wajah dirinya sendiri.

Kok bisa? Justru orang yg tidak bisa mengenali wajah orang lain justru bisa mengenali Han Se Kye dalam kondisi berubah. Itu karena menurutnya, Se Kye adalah perempuan yg berbeda dari yang lain. Ciee. 😍😍

Waduh, menarik sekali kan hubungan mereka? Tentu saja pertemuan mereka tidak serta merta menjadikan keduanya jatuh cinta. Alur yang disajikan dalam drama ini menarik dan tidak mudah ditebak. Bikin penasaran untuk pengen tahu kelanjutannya apa sih. Sifat Do Jae yang angkuh dan terbiasa dingin serta karakter Se Kye yg begitu keras kepala tak mudah disatukan.

Selain hubungan keduanya, saya pun tertarik pada kisah Kang Sa Ra (Lee Da He), adiknya Do Jae , bersama dengan sahabat Se Kye yang bernama Ryu Eun Ho (Ahn Jae Hyun). Sa Ra sosok wanita angkuh yang mati-matian ingin mengalahkan kakaknya. Sementara Eun Ho, si cowok lugu baik hati yang ingin menjadi pendeta.

Tokoh Utama “The Beauty Inside” sumber gambar: kapanlagi

Saya suka sekali dengan karakter masing-masing tokohnya yg khas. Sekali lagi, di sini gak ada orang jahat. Semua bertindak mempunyai alasannya sendiri.

Namun hati-hati di pertengahan cerita, kamu akan berurai air mata. Bukan, bukan di bagian cerita antara dua pasangan unik itu, melainkan kisah Se Kye dan ibunya.

Saya masih terkesan dengan perkataan Se Kye pada ibunya, “kenapa saya tampak sebagai anak yang buruk? Ibu meneleponku, sementara aku sedang mempercantik kuku.

Jlebb banget! Itulah ibu, kadang menahan derita demi kebahagiaan anaknya, supaya sang anak gak khawatir dan fokus pada hidupnya saja. Hiks. 😭😭

Kalau yang ini drakor yg bikin saya banyak nangis. (Still 17)

Anyway, banyak sekali kesulitan yang dialami Se Kye karena penyakit uniknya itu. Dia bahkan sempat ingin mati saja saat pertama kali menyadari hal itu. Bayangkan saja, karena berubah jadi cowok misalnya, dia masuk ke toilet cowok, lalu ternyata di dalam toilet dia kembali ke wujud aslinya, hebohlah tragedi di dalam toilet, ya kan.

Atau, saat salah satu temannya menikah, marah besar karena mengira Se Kye tidak datang, padahal sebenarnya dia datang, namun saat itu sedang berubah wujud.

“Kenapa aku? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?” ujarnya dalam keputusasaan.

Di akhir cerita, Se Kye baru menyadari semuanya. Takdir yang ia jalani sudah dituliskan Tuhan untuk memberikan pengalaman menakjubkan selama ia berubah. Seperti saat dia berubah menjadi cowok remaja yg tampan ternyata bisa menyelamatkan seorang gadis yg dilecehkan teman laki-lakinya, misalnya.

Ternyata dengan wajah ini bisa berguna juga.”

Itu hikmah yg bisa diambil dari drama Korea ini, yakni agar kita selalu percaya pada takdir Tuhan dan menerimanya sebagai bagian dari hidup kita. So deep.

Kalau Drakor ini saya tonton di aplikasi Viu, maka untuk bacaan saya pilih aplikasi Ipusnas, seperti novel Harlequin satu ini.

Terus, kekurangan drakor ini apa?

Hmm, menurut saya, ada 5 adegan yang menjadi tanda tanya saat menonton “The Beauty Inside”:

  1. Pada saat Se Kye berubah dari anak kecil kembali menjadi dirinya sendiri, mengapa pakaian yang dia gunakan otomatis menyesuaikan? Semestinya, perubahan ini tidak mempengaruhi pakaiannya. Karena pada adegan sebelumnya, dia harus mengganti pakaiannya yang sesuai dengan ukuran. Makanya diceritakan, Han Se Kye punya koleksi berbagai macam pakaian, dalam segala ukuran, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Holang kayahh. Namanya juga artis.
  2. Banyak sekali adegan di luar rumah yang menampakkan Se Kye baik-baik saja tampil di depan publik. Padahal di awal cerita kan karena dia seorang artis sudah gak asing yg namanya dikejar-kejar fans.
  3. Untuk ukuran seorang public figure, sikap Se Kye di hadapan umum terlalu berani. Dia tampak tidak peduli dengan anggapan orang lain. Gak khawatir kalau punya haters. Bukannya zaman sekarang gak perlu jadi artis ya buat punya haters. 😂
  4. Begitupun saat dia memutuskan resign begitu saja. Hmm, tampak mudah sekali kelihatannya. Saya sempat mengira apakah ada bisnis yg dia lakukan secara online seperti menjual hasil rajutannya? 🤔 menghasilkan uang? Sebab bila tidak, benarkah bisa hidup hanya dengan mengandalkan tabungan selama satu tahun? Atau mungkin ada beberapa perabotan rumahnya yg dijual ya? 😅
  5. Pada saat Do Jae mengalami kecelakaan dan dilakukan operasi di kepala. Semestinya yang namanya operasi di kepala, perlu dilakukan pencukuran rambut. Bahkan kebanyakan dibotaki untuk memudahkan operasi. Tapi tidak dengan Do Jae. Dia baik-baik saja dan masih tetap tampan. Hahaha. 🤣🤣 Tapi ini kesalahan yg dilakukan banyak film. Namanya orang lagi koma semestinya ada pemasangan selang NGT atau feeding tube. Gak cukup sekedar oksigen dan infus saja. Tapi memang sih, kalau terpasang sesuatu di hidung tentunya akan mengurangi kecantikan/ketampanan si artis 🙃

Over all, tetap saja, drakor ini merupakan salah satu drakor terfavorit yang ceritanya sukses membuat saya tersentuh. Gak nyesel nontonnya. Bahkan masih terkenang di ingatan dan bikin gagal move on. 😍😍

Ini, saya kasih video trailernya:

Sumber video: Trailer “The Beauty Inside” dari Viu

5 Pesan untuk Pelaku MLM

Hadiah gratisan yang kudapatkan saat aktif di MLM

Dulu banget ya, saya sempat aktif pada sebuah MLM kosmetik. Lumayan sih sudah sampai level Manajer. Sudah pernah merasakan bonus hampir 1 juta, di luar keuntungan langsung.

Lalu kemudian saya dimutasi di tempat kerja yang lebih sibuk dari sebelumnya. Saya sempat stres waktu itu. Saya sempat merasa pekerjaan saya akan menghalangi impian saya. Karena saya di sisi lain selain menikmati berjualan skincare, make up, dsb, saya juga belajar menulis, sudah mulai nyemplung di literasi waktu itu.

Mau gak mau saya harus menentukan sikap. Harus memilah mana yang harus saya korbankan. Saya sempat izin pada upline saya, bahwa waktu saya tidak sesenggang dulu. Saya titipkan downline2 saya. Gak tahunya gak kepegang juga dan sukses jaringan saya rontok. Hehe.

Berkat ikut MLM, saya jadi paham tutorial make-up berikut ini

Sebenarnya saya gak serta merta meninggalkan MLM ini. Saya tetap melayani pembeli. Hanya saja karna waktu terbatas saya gak bisa aktif jemput bola, aktif follow up, apalagi membina jaringan, mengajari dari 0 seperti dulu. Saya lebih ke melayani pembeli yang mau beli saja. Tidak terlalu aktif menawarkan.

Lumayan, masih dapat orderan walaupun tidak kejar point

Alhamdulillah, saya masih dapat keuntungan langsung itu, meskipun tetep, dari dulu sampai sekarang jualan di tempat saya bekerja pasti orang-orang maunya bayar tempo dan cicil. Ini bukan hal yang baru sih. Cicilannya bergantung pada insentif kami yang tidak tiap bulan keluar lho. Sebenarnya jadwalnya mestinya tiap bulan, tapi lebih sering ngaretnya daripada on time-nya. Hehe. Ya beginilah.

Lama-lama saya jadi lelah sendiri. Yang namanya MLM, menguntungkan upline yang sudah mencapai level tertentu. Memang sih ada aturan, leader pun harus tutup point. Bedanya, kalau belum punya level, tutup point-nya gak dapat apa2, paling banter keuntungan langsung nya itu saja, sama kalau beruntung ada hadiah langsung (tergantung promo). Kalau leader yg sudah mencapai level tertentu, dia berhak keluarnya bonus sesuai levelnya. Jadi kan caer banget ya jadi leader di MLM. Mempertahankannya pun gak gampang. Gak bisa pasif seperti saya. Hehe.

Bahkan, bulan ini pun saya masih aktif mendaftarkan downline baru

Makanya tuh, banyak pelaku MLM yang memilih konsisten dan berhenti bekerja. Fokus pada impiannya. Gak cuma MLM yang saya ikuti, tapi juga yang lainnya. Karena duluuu banget saya sempat gigih ikut MLM sana sini. Anggaplah sebagai pencaharian jati diri. Hehe.

Nah, alhamdulillah. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Dari mulai masa2 terpuruknya saya ketika awal mutasi kerja, pelan2 saya bangkit. Saya menulis lagi, saya jualan lagi. Saya jalani saja semampu saya. Di sisi lain jangan lupa, tanggung jawab utama sy sebagai seorang istri dan ibu.

Saya pernah saking semangatnya menjawab downline sampai gak lepas HP, ada protes dari anak dan suami. Makanya perlu banget kita buat time management yang restricted buat diri sendiri.

Anyway, singkat kata, kini saya kembali menjadi seorang Manajer. Bukan di MLM, tapi di bidang literasi. Berawal dari menjadi PJ pembuatan antologi, lalu saya diangkat ke jenjang lebih tinggi lagi, Manajer Area yang membawahi beberapa PJ.

Alhamdulillah dapat amanah sebagai Manajer Area, karena ditunjuk Direkturnya langsung

Qodarullah, ternyata saya yang berlatarbelakang anak bungsu ini berbakat jadi leader. Eaa. Pengalaman saya di MLM juga yang memberanikan saya untuk bisa menjadi pemimpin di dunia online. Mengatur banyak orang, dll. Kadang2 saya harus tegas. Kadang2 saya bercanda biar gak tegang terus. Kuncinya semua itu harus dinikmati.

Baca Tips Manajemen Waktu untuk Emak-emak ini yuk.

Saya tidak menyesal telah menjalani semua yang saya alami. Saya tidak menyesal dengan alur hidup saya yang akhirnya membawa saya ke sini, passion saya sebenarnya. Saya mengakui sisi baik dari MLM, karena darinya saya bisa belajar membangun mental positif, salah satunya (walaupun karena saking parahnya saya dulu, seminar online saja gak cukup, saya pergi ke terapis baru bisa “sembuh” hehe)

Dari pengalaman saya, saya punya beberapa pesan untuk pelaku MLM, apapun itu bentuknya:

Karakter manusia berbeda-beda

1. Karakter tiap orang berbeda.

Sepertinya ilmu ini udah umum diketahui ya. Gak di dunia kerja, dunia MLM, sampai masuk ke dunia literasi, namanya kita pasti berhubungan dengan orang banyak. Karakter orang berbeda-beda. Kemampuan orang berbeda-beda. Impian orang pun berbeda-beda.

Ada yang mudah mencerna hanya dengan baca tulisan. Ada yang harus dijelaskan lewat lisan. Ada yang harus dikasih contoh. Ada yang bakat jadi leader, gak disuruh juga mau belajar sendiri, ada yang bergantung penuh pada upline-nya.

Maka, kehati-hatian dalam berkomunikasi memang dibutuhkan. Saya sudah bilang kalau dulu saya bisa dibilang parah. Mindset-nya melulu negatif. Memang setelah ikut seminar di MLM sedikit membantu mengubah mindset, tapi…ternyata kebutuhan saya tak cukup di situ. Iyalah, saya kan survivor suicide, manusia yang dulu saking depresinya hingga nyaris bunuh diri. Tentu menghadapi orang depresi dengan yang tidak, berbeda. Kamu gak bisa ba bi bu, langsung nawari barang.

Di mana-mana konsumen hanya akan mendekat bila kamu punya sesuatu yang dibutuhkannya. 😊

2. Hargailah pilihan orang lain.

Pelaku MLM harus biasa dengan penolakan. Ada yang resign demi fokus MLM, ada juga yang memutuskan tetap nyambi kerja, yang manapun boleh. Itu semua tergantung individu masing-masing.

Ada yang nyaman di MLM karena enak, nyaman dengan bonus dan hadiah lain, misal jalan-jalan ke luar negeri gratis, dll. Ada yang lebih memilih buka usaha sendiri dari 0, bakulan makanan, pakaian (jahit), atau seperti yang saya pilih: nulis. Monggo. Gak ada, siapa benar, siapa salah. Asal konsisten dengan pilihan masing-masing, semua bisa sukses.

MLM, reseller, dll, mau bagaimanapun juga, intinya nge-lakuin barang orang lain.

Gak semua suka dengan pilihan ini, no problemo. Ada yang lebih puas hatinya ketika bisa menjual hasil produksinya sendiri. Dan kita mesti berterimakasih pada para wirausahawan ini. Justru kita dukung. Karena apa yang mereka lakukan berpotensi membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Berikut ini salah satu usaha yang bisa kamu pilih, no MLM.

Lagipula, bayangkan ketika semua mengikuti langkah untuk aktif di MLM saja tanpa bekerja?

Kamu mau makan, warung tutup, karena pemiliknya lebih milih MLM. Kamu sakit, klinik tutup, dokternya resign karena lebih milih MLM.

Apakah lebih suka seperti ini? 😁😁

Intinya kita tetep kan butuh orang-orang yang memilih pekerjaannya dan juga usahanya.

Gak ada yang tahu, barangkali suatu saat kamu butuh ke rumah sakit?

3. Gak ada orang yang suka di-judge

Entah kenapa ya, saya sering menyaksikan pelaku MLM men-judge orang lain. Gak semuanya memang. Misal saya waktu ternyata lebih memilih passion saya di literasi, ada beberapa komentar yg sy terima.

Ada juga yang sakit hatinya dulu, dari seorang teman. Alhamdulillah dia beda jaringan dengan saya. Karena dia seorang ibu rumah tangga yang sudah sukses dengan level direkturnya yang bonusnya di atas saya, PNS golongan dua ketika itu, dia mengatakan ini, “ya wajarlah lebih milih PNS, daripada resign, masuknya kan bayar.”

Hingga detik ini saya gak bisa melupakan kata2 nya waktu itu. Padahal dulu kami sempat dekat karena berasal dari satu SMA yang sama. Hanya karena MLM, hubungan bertahun-tahun pun bisa merenggang.

Sy bertekad untuk sukses meskipun bukan berada di jaringan dia. Dan karena sekarang sy sudah menentukan passion saya maka sayapun harus sukses dengan passion saya. Terakhir saya tahu levelnya sudah tambah tinggi.

Tapi apakah seumur hidupnya dia tak butuh bantuan seorang PNS seperti saya ini? Apakah seumur hidup gak perlu bantuan ke RS, mungkin bukan dia, bisa jadi anak-anaknya yang butuh ke RS? (Karena saya seorang PNS yang kerja di RS) Apakah bila anak-anak sakit cukup datang ke upline saja?

Tolong banget, jaga bener mulut kita dari komentar yang menyakitkan. Berkatalah yang baik atau diam.

Setiap orang bisa sukses!

4. Jalan kesuksesan ada banyak cara.

Sukses gak cuma di MLM saja. Kalian boleh memilih jalan di sana. Tapi hargailah orang yang memilih jalan lain menuju sukses. Ada yang sudah bangga dengan pekerjaannya dan bisa mencapai jabatan tinggi di pekerjaan biarkan saja.

Ada yang lebih memilih buka usaha dari 0 tau-tau pas kamu ketemu dia sudah punya ratusan cabang dengan penghasilan yang mungkin sama dengan penghasilan di level kamu, biarkan saja.

Ada yang suksesnya justru setelah ikut MLM lain? Mungkin yang produknya sesuai hobinya, biarkan saja.

Ada yang lebih memilih nulis sebagai passion, barangkali suatu saat kamu nonton di bioskop dan ketika melihat capturenya, ternyata filmnya diangkat dari tulisan dia, biarkan saja. Atau mungkin kamu nanti perlu bantuan dia untuk membuatkan buku biografi kesuksesanmu?

Beri support pada sesama. Kamu fokus di bidangmu dan biarkan dia fokus di bidangnya. Saling mendoakan untuk sama-sama sukses di bidang masing2 saja. Amiinnnn.

Kamu tak pernah tahu kapan akan membutuhkan orang lain

5. Bertemanlah tanpa memandang untung rugi. Nah ini yang paling sulit saya rasa. Saya tahu, betapa terbatasnya waktu kita yang hanya 24 jam sehari. Apalagi kita juga punya anak, punya kesibukan kuliah atau kerja misalnya. Masih harus membimbing downline, follow up customer, buat pelatihan. Rasanya gak cukup waktu untuk menghubungi mereka yang bukan jaringan kamu.

Tapi satu hal, jangan sampai membuat siapapun merasa kamu mendatanginya hanya karena ingin point atau keuntungan dari dia. Setelah saya tak terlalu aktif lagi di MLM sepertinya hilang alasan mereka untuk keep contact dengan saya. Kalaupun komunikasi lagi hanya untuk menanyakan, “kapan mau aktif lagi?” Haha.

Belum lama ini juga saya baca status sosial media tentang seseorang yang muak karena dihubungi teman lama yang menghubungi hanya untuk menawari barang. Karena setelah pembicaraan itu selesai, tidak ada hal lain lagi dibicarakan. Big no no.

Apalagi itu teman lamamu, bisa kan membicarakan hal lain, seperti aktivitas dia, anaknya, atau mantan waktu sekolah dulu, hiyaa, apa aja deh. Pokoknya kamu harus tunjukkan pertemanan yang tulus, sekalipun ternyata gak ada sepersenpun uang yang bisa kamu tarik darinya, bisa?

Akhir kata, jangan menunggu kehancuran bisnismu dahulu baru mempraktikkan ini. Tapi belajarlah dari pengalaman orang lain, tanpa perlu kamu mengalami sendiri.

Siapapun dirimu, seorang pegawai kantorankah, seorang MLM-ers kah, seorang penuliskah, seorang pedagang kuekah, inti dari kita sama sebenarnya: berjualan. Sasaran kita pun sama: manusia. Maka, layanilah sesama manusia, dari hati. Setuju?

Tetap kompak, meski berbeda-beda pilihan

Sumber gambar: Pixabay dan Koleksi Pribadi.

Review “Cantik itu Luka” karya Eka Kurniawan Beserta 5 Tipe Manusia yang Sebaiknya Tak Membaca Novel Ini

Judul: Cantik itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2015
ISBN: 978 602 03 12583
Jumlah: 494 halaman

Blurb: bisa dibaca pada gambar di bawah ini

Cover belakang “Cantik itu Luka”

Saya tahu saya masih punya tumpukan buku fisik yang belum sempat terbuka segelnya malah (parahh) tapi godaan satu ini berat banget!

Bersiaplah untuk baper baca novel Tere Liye satu ini, klik untuk reviewnya.

Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Dewi Ayu, bagaimana kisahnya hingga dia bisa menjadi seorang pelacur. Dan sebelum kematiannya dia melahirkan seorang anak perempuan buruk rupa namun dinamakan “Cantik”.

Dari judulnya saja sudah memikat. Apalagi memang saya sudah pernah dengar novel tenar yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing ini. Lihat saja cetak ulangnya sudah berapa kali.

Novel ini sudah beberapa kali dicetak ulang

Begitu baca saya baru sadar. Pantaslah novel ini menjadi best seller. Buku ini begitu luar biasa. Penggambaran ceritanya real, tanpa tedeng aling-aling, dengan pilihan diksi yang bukan main. Seumur-umur saya gak pernah nemu novel yang pakai kata-kata demikian.

Novel ini mengingatkan saya pada Memoir of Geisha. Sama-sama menceritakan kisah seorang “wanita bayaran” dan juga sama-sama punya latar belakang perang.

“Gadis-gadis malang. Katanya menolak sesuatu yang tak bisa ditolak adalah hal yang lebih menyakitkan dari apapun.”

Bahwa menjadi seorang perempuan cantik itu bagaikan kutukan. Apalagi di masa penjajahan, zamannya perempuan seolah manusia nomor dua yang seenak jidat diperlakukan seperti barang habis pakai. Ckckck.

Tapi bukan berarti dia yang berprofesi seperti ini bodoh. Justru menurutku, Dewi Ayu adalah sosok yang cerdas. Pemikirannya sungguh luar biasa.

Hanya saja memang nasibnya, hidup di masa seperti itu. Makanya saya heran kalau di zaman yang sudah maju seperti sekarang, sudah emansipasi, persamaan hak sudah diakui undang-undang, tapi masih ada yang memilih kebodohan. Oya, saya juga suka sekali kutipan-kutipan yang saya sadur di sini.

“Tak ada bedanya perang maupun bisnis. Keduanya dikerjakan dengan sangat licik.”

Setelah kisah percintaan yang tidak biasa, kamu juga bisa mendapatkan pelajaran Sejarah dari cerita ini. Dimulai penjajahan Belanda, Jepang, proklamasi kemerdekaan, hingga saat komunis menguasai Indonesia, semua diceritakan di sini. Komplit. Sehingga kamu bisa merasakan nasionalisme dari novel ini.

Kalau tentang masalah hubungan perempuan dan lelaki, saya kira kalau diceritakan hanya nasib perempuan yang malang, tidak juga. Bahkan laki-laki pun sama malangnya. Apalagi beberapa diceritakan bertepuk sebelah tangan, berpisah dengan kekasihnya karena keadaan, sampai yang paling parah lelaki yang tak mampu menahan berahi. Seolah hidup hanya seputar isi “kepala bawah”.

“Aku menyukai laki-laki tapi aku lebih suka melihat mereka menangis karena cinta.”

Oya, hati-hati baca novel ini karena alurnya yang maju mundur. Selain itu beberapa tokoh diceritakan latar belakangnya secara mendalam, tak hanya tokoh utamanya saja. Jadi, awas ketuker. Kamu perlu konsentrasi penuh dan baca per kata supaya paham.

Kata mereka tentang “Cantik itu Luka”

Kesimpulannya, jangan baca novel ini kalau kamu termasuk salah seorang sebagai berikut:

  1. Punya trauma terpendam sehubungan dengan pelecehan seksual. Ada banyak adegan yang akan membangkitkan trauma terdalammu itu. So, mendingan ga usah kepo dengan novel ini kalau kamu punya trauma.
  2. Di bawah 21+ atau manusia tidak bijak saya sarankan jangan baca novel ini. Bahasanya di buku ini ampun dah. Kadang bikin geli. Kadang buat ngerutin kening. Banyak sekali hal yang berada di luar nalar. Kalau kamu tipikal manusia berlibido tinggi, tak punya penyaluran dan sama sekali tak bijak, segera jauhi novel ini. Termasuk kaum feminis yang tak bisa berpikir jernih, takutnya nanti demo minta bakar buku ini karena dianggap merendahkan perempuan.
  3. Penggemar drakor yang dalam bayangannya semua cowok termasuk badboy itu punya sisi baik. Bahwa cowok antagonis sekalipun bisa luluh saat melihat air mata perempuan. Hapus bayanganmu itu sebelum baca novel ini karena para lelaki yang diceritakan di sini sama sekali berbeda dengan bayanganmu.
  4. Orang yang aslinya lebih suka nonton, gak suka baca tapi kepo dan ternyata kesulitan dalam mencerna paragraf-paragraf panjang. Novel ini memiliki ketebalan 494 halaman dengan alur maju mundur cantik dan perpindahan sudut pandang. Apalagi buat kamu yang bukan penikmat sastra. Kamu bakal kesulitan mencerna cerita ini boro-boro bisa mengambil hikmah dari buku ini. Dan bagi kamu yang tak tahan melihat gadget terlalu lama jangan coba-coba pinjam melalui Ipusnas seperti yang saya lakukan.
  5. Manusia yang merasa suci, saleh dan salehah yang merasa buku seperti ini haram dibaca, lebih baik jauhi dari awal.

Baca novel ini saja jika ingin mendapatkan hidayah melalui penuturan ringan

Last but not least, ada satu pertanyaan mengganjal di hati saya waktu membaca novel ini yaitu: “bagaimana Dewi Ayu menjalani masa kedatangan tamu bulanan di masa ini? Apakah tetap melayani pelanggan atau gimana? Soalnya tak pernah diceritakan dalam buku ini.”

Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan

“Ia sebenarnya waras bukan main. Yang gila adalah dunia yang dihadapinya.”

Ketika Sebuah Usaha Mengatasi KDRT Dipadukan Kisah Romance Remaja (Review “Insecure” Karya Seplia)

Insecure karya Seplia

Judul: Insecure

Penulis: Seplia

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 9786020327662

Cetakan: 2016

Blurb:

Cover belakang “Insecure” karya Seplia

Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam.

Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama.

Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.

Apa yang kamu pikirkan saat melihat cover buku ini? Aku sempat mengira ini semacam naskah thriller karena melihat tangan yang berdarah-darah. Tapi ketika baca blurb-nya, wah, naga-naganya ke arah romance ceritanya.

Tapi jika kamu mengira akan mendapatkan kisah romance teenlit biasa dari novel ini, kamu salah besar! Novel ini memang menghadirkan tokoh-tokoh remaja, namun kisah yang dituliskan begitu dewasa dan permasalahan cukup pelik untuk dialami anak seusia mereka.

Bagaimana seorang remaja hidup di tengah keluarga yang kacau balau, sampai-sampai hampir selalu terjadi KDRT di dalamnya. Namun, sang korban malah menutupi semuanya, dengan alasan cinta dan demi keluarga. Hiks.

Sebuah novel yang mengajarkanmu untuk lebih menghargai hidup, baca reviewnya yuk!

Penggambarannya begitu nyata. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama yang berpindah-pindah antara Zee dan Sam, justru feel-nya jadi tambah terasa. Eksplorasi emosi dan perasaannya jadi jelas. Dan meski satunya perempuan, dan satunya lelaki, tapi bahasanya si penulis bisa disesuaikan dengan baik sesuai karakter mereka.

Dan aku suka akan beberapa quotes yang menginspirasi dari novel ini, antara lain:

“Beberapa orang nggak siap jadi orangtua, yang lainnya stres oleh beban hidup. Orang baik bisa berubah jahat, kapanpun itu kalau dia terjepit oleh keadaannya yang nggak menguntungkan.”

Aku tertohok banget dengan quotes ini. Masya Alloh, bisa banget ternyata hanya dengan membaca novel Young Adult orangtua sepertiku terinspirasi mendapatkan ilmu parenting baru.

Ada lagi quotes berikutnya:

“Lo nggak usah cemas. Orang-orang macam gue sering dapat nilai tinggi dalam ujian akhir ketimbang siswa yang cerdas. Sudah banyak buktinya, kan?”

Uhuk! Menjengkelkan! Tapi emang bener sih. Aku yang selalu duduk paling depan di kelas dulu juga kalah sama mereka yang sering bolos. Huwaaaaaaaaaa.

Novel ini mengajarkan kita untuk tidak diam, berani mengambil langkah saat punya masalah, berani minta bantuan jika diperlukan.

Berjuanglah untuk impian. Jangan dengarkan omongan orang yang meremehkan apa yang kau sukai. Kamu harus berani menjadi diri sendiri. Jangan karena kebanyakan orang mengambil jurusan Kedokteran, dirimu merasa wajib ambil jurusan itu juga, meski bertentangan dengan kata hati. Contoh saja seperti apa yang terjadi pada Pak Gio, guru mereka.

P.S. Bagian ini sesungguhnya menohok saya yang sudah salah pilih jurusan namun kini usia sudah tak lagi muda 🙃

Dan ada juga beberapa bait tentang mencari pasangan. Seperti yang dikatakan seorang tokoh di sini:

“Ternyata kita tidak bisa belajar untuk mencintai, sebab hati kita akan mencintai dengan sendirinya. Jauh dari dalam lubuk hati ini, kita tahu sebenarnya kepada siapa hati kita memilih jatuh.”

Bikin baper kaaannnn?

Tidak lupa kuingatkan, kamu bisa baca buku ini secara free melalui aplikasi Ipusnas. Seperti hobi baruku saat ini, berburu buku-buku keren di Ipusnas.

Cinta segitiga antara manusia dan hantu? Baca review salah satu novel yang kubaca di ipusnas ini!

Aplikasi Ipusnas

Bagaimana Bila Kematian Tidak Bisa Menghalangi Cinta? (Review Segitiga Cinta Dua Dunia karya Ratna DKS)

Cover belakang Segitiga Cinta Dua Dunia

Judul: Segitiga Cinta Dua Dunia

Penulis: Ratna DKS

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Tahun: 2017

ISBN: 978 602 394 852 9

Blurb:

Tak ada yang bisa menebak takdir. Pun hanya takdir perkenalan kita. Hidup seseorang bukan bergantung pada seberapa hebat manusia itu melindungi raganya, melainkan pada takdirnya. Jika ia belum ditakdirkan mati, maka ia takkan pernah mati.

Bahkan ajal tidak mampu membuat Mada berhenti mencintai seorang perempuan.

Dalam sisa waktu empat puluh hari rohnya di dunia, ia terus memperjuangkan perasaannya.

Apa yang akan kamu lakukan jika sosok malaikat maut tiba-tiba menampakkan diri dan mengatakan hidupmu takkan lama lagi?

Mada, sosok figur idola para remaja, dalam suatu kesempatan dibisikkan sosok malaikat bahwa hidupnya takkan lama lagi. Karenanya dia mempersiapkan segalanya. Dari mulai dari masuk asuransi, mengadakan jumpa fans dan sebagainya.

Pelajaran tentang melupakan bisa kamu dapatkan di novel ini

Saat Mada ingin memesan tanah makam untuknya sendiri, tak diduga dia bertemu Okta, sosok manajer yang membuatnya jatuh cinta. Ini dikarenakan sikap ketusnya Okta yang tidak biasa didapatkan Mada. Dia sudah terbiasa dengan perhatian dan orang-orang yang memujanya.

Awal saya membaca novel ini, saya jadi teringat dengan sebuah webtoon 90 days. Namun tentu saja jalan ceritanya sangat berbeda.

Alur dalam novel ini termasuk cepat. Selain penggambarannya yang jelas, tersisip juga adegan action yang menegangkan. Makanya saya jadi tak sabar ingin segera menghabiskan novel ini, ingin tahu gimana sih kelanjutannya. Plot twist yang dihadirkan sangat menarik, trus dapet.

Segitiga Cinta Dua Dunia karya Ratna DKS

Sosok Okta yang ternyata mempunyai masa lalu kelam sehingga dia bersikap dingin dengan laki-laki manapun. Juga sosok Dhika, putra dari pemilik tanah makam, pun memiliki masa lalu yang tak terduga sehingga perlahan mengubahnya menjadi pribadi lebih dewasa, berkat jasa Mada juga.

Hikmahnya cerita ini tentu saja kembali lagi mengingatkan kita akan kematian yang bisa datang kapan saja. Sebaik-baiknya manusia adalah yang melakukan persiapan. Tak hanya persiapan untuk kematian, tapi juga persiapan kita dalam hidup, seperti hendaknya jangan menghambur-hamburkan uang, untuk persiapan suatu waktu ada kejadian mendadak.

Recommended untuk bacaanmu di saat nyantai. Saya baca melalui aplikasi ipunas. Download saja di ponselmu.

Novel karya Ken Terate satu ini juga saya baca di ipunas

Aplikasi Ipunas

Review The Miracle of Writing karya Deejay Supriyanto, Bahwa Siapapun Bisa Menulis

Judul: The Miracle of Writing
Penulis: Deejay Supriyanto
Penerbit: SBMB Media Kreatif
Cetakan: Februari 2016
ISBN: 978 602 6811 06 6
Jumlah Hal: 144 halaman

Cover belakang “The Miracle of Writing”

Saya sudah lama mengagumi sosok penulis buku ini, yang sudah 15 tahun mempunyai pengalaman menerbitkan buku di percetakan mayor. Beliau juga salah satu founder NuBar (Nulis Bareng) selain juga mentor pelatihan menulis “Sehari Bisa Menulis Buku”.

Pesan penulis untuk saya selaku pembeli buku ini

Jangan mengira karena kamu akan bosan membaca buku ini hanya karena termasuk buku non fiksi. Karena tulisan Pak DJ (panggilan saya terhadap Pak Deejay) begitu renyah, ringan, dan mudah dimengerti.

Di awal bab beliau buka dengan memberi ilmu tentang beragam kecerdasan manusia. Ternyata ada 10 macam tipe kecerdasan manusia, yaitu kecerdasan verbal linguistics/bahasa, logis/Matematika, ruang/visual, musikal, fisik, intrapersonal, interpersonal, naturalist, visi/intuitif, dan kecerdasan finansial.

Jangan Salah Pilih Pasangan, makanya baca buku ini!

Tak lupa Pak DJ juga memberikan kolom checklist yang bisa kita gunakan untuk menentukan tipe kecerdasan yang kita miliki.

Setelah itu, beliau mengupas berbagai alasan kenapa kita harus menulis, bermacam manfaat menulis hingga menghadirkan tokoh-tokoh penulis ternama baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini akan semakin membangkitkan semangat kita untuk menyegerakan diri mulai menulis.

Bakat hanya menyumbang 1% terhadap keberhasilan, sedangan 99% adalah sumbangan minat, latihan, usaha, kerja keras dan pengalaman.

Apalagi beliau mencontohkan kita boleh memulai menulis dari mana saja, bisa menulis buku harian, artikel di blog, bahkan membiasakan posting di sosmed pun bisa saja. Jadi, siapa saja pasti bisa menulis kan. Menulis kan sudah diajarkan dari SD, bahkan mereka yang sudah mencapai bangku kuliah pasti pernah menyusun karya tulis sebagai tugas akhir sebelum wisuda.

Buku ini juga banyak menghadirkan quote yang menginspirasi, seperti:

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah kreativitas ditimbang-timbang. (Seno Gumira Ajidarma)

Manfaat menulis sendiri antara lain: agar ilmu/ide tidak hilang, sebagai cara mengoptimalkan otak kanan, mengurangi stres, dll. Selanjutnya bisa kamu baca langsung di buku ini ya.

Karena ringannya buku ini, gak sampai sehari bisa langsung selesai baca kok. Sayapun melahapnya saat naik bus dalam perjalanan ke rumah teman.

James Pennebaker, Ph.D. dan Janet Seager, Ph.D. dalam jurnal Clinical Psychology mengatakan bahwa orang yang memiliki kebiasaan menulis umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat dari mereka yang tidak punya kebiasaan tersebut.

The Miracle of Writing karya Deejay Supriyanto