12 Tahun Perjalananku (Part 10): Masih Part UGD

Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/10/12-tahun-perjalananku-part-9-akibat-perilaku-sendiri/

Part UGD: Dari korban kecelakaan hingga menyendiri di negeri orang

“PB. KLL.”

Aku bergegas membantu mengarahkan agar pasien segera memasuki ruang tindakan. Ada dua pasien pagi ini. Yang satu seorang laki-laki mengenakan seragam PNS, yang satunya hmm, ini orang? Baru kemudian kulihat sosok hitam itu bergerak aku tersadar bahwa dia manusia. “Sus, cepat kasih obat, Sus,” ujarnya sambil lalu. Sementara aroma alkohol menyeruak seketika.

Lelaki berkulit hitam itu mengenakan pakaian yang lusuh. Tak hanya aroma alkohol yang tercium tapi juga bau yang sangat amis. Lukanya tak seberapa tapi dia bersuara mengaduh yang membahana.

“Suntik mati aja, Sus.” Aku menoleh pada lelaki yang mengenakan seragam sama dengan pasien yang terbaring di brankar. Pasien itu memerlukan jahitan untuk lukanya. Aku lega dia sudah ditangani oleh kakak perawat.  Aku hanya tersenyum tipis mendengar pernyataan itu, sebab aku sudah paham apa yang sebenarnya terjadi.

Pasien berseragam PNS itu berangkat kerja di suatu pagi. Tiba-tiba melintaslah lelaki berkulit hitam berjalan terhuyung-huyung dan lari mendadak, membuat bapak berseragam PNS itu tak sengaja menabraknya. Dia sudah berusaha menghindar, dan itu hanya menjadikannya terbentur pohon dan mengalami luka parah. Luka yang tak sebanding dengan luka si lelaki berkulit hitam.

Dua pasien KLL (Kecelakaan Lalu Lintas) yang bertolak belakang. Dari aroma saja sudah berbeda. Luka yang dialami lebih parah si PNS, meskipun semua karena kesalahan lelaki berkulit hitam itu yang berjalan sembarangan. Diketahui dia adalah seorang anak jalanan yang sering mabuk-mabukan tanpa arah. Uh, sayangnya, sesuai etika, kami tetap harus merawat keduanya.

Teman si PNS geram dan menyumpahi anak jalanan itu, hanya sebatas ucapan untungnya. Tidak ada gunanya juga berdebat, bukan. Kata pepatah, sebelum kita memutuskan berdebat dengan seseorang, lebih baik pastikan dulu bahwa kecerdasan dan kemampuan berpikirnya setidaknya setara dengan kita, jika tidak, untuk apa dilanjutkan?

Di RS ini sudah banyak kejadian, termasuk di UGD. Kadang tidak semua pasien memiliki identitas dan keluarga, ada juga anak jalanan, gelandangan bahkan orang gila. Makanya memang sepatutnya banyak kakak laki-laki perawat di sini.

Pernah kami layani seorang pasien yang ternyata sakit jiwa, dengan semaunya dia membuka celana lalu pup dalam sebuah ember besar di kamar tindakan. Nah, bagaimana bidan-bidan bisa mengatasi yang seperti itu? Hadeuh.

“PB. KLL.” Lagii?

Memang biasanya ada momen di mana  kecelakaan lalu lintas banyak terjadi. Biasanya menjelang malam tahun baru dan lebaran. Apalagi masa lebaran banyak orang-orang mudik dan bepergian. Tentu harus diimbangi dengan memperhatikan keselamatan diri sendiri. Kalau tidak mau berakhir menjadi pasien di UGD.

Pasien kali ini seorang perempuan. Serombongan warga yang mengantarnya. Salah satu di antara mereka menggendong seorang anak kecil perempuan berusia sekitar setahun, dan terus menerus menangis.

Karena kondisi tak sadarkan diri, maka pasien lekas kami berikan tindakan. Infus, oksigen sudah terpasang, disertai monitor dan alat lainnya.

“Keluarganya siapa? Ada obat yang harus ditebus,” panggilku.

“Enggak ada keluarganya, Sus,” jelas bapak-bapak yang menggendong anak perempuan itu.

“Lho, sekian banyak orang ini tidak ada keluarganya?”

“Jadi, mbak ini kan naik motor, terus nggak sengaja ketabrak sama saya. Saya bawa ke RS, ini banyak yang ikut menyaksikan juga. Si mbak yang kebut dan enggak denger waktu saya klakson. Untung anaknya ini enggak apa-apa.”

Lantas aku jadi melongo mendengar penuturan bapak itu. “Anak kecil ini anaknya mbak itu?”

Si bapak mengiyakan. “Si mbaknya juga enggak bawa apa-apa. Tidak ada KTP dan semacamnya. Warga tidak ada yang kenal dia juga. Jadi saya juga bingung.”

Aku semakin termangu. Kulirik si anak yang tangisnya mulai mereda. Ternyata … anak kecil itu merupakan anak si pasien, tentu saja karena dia terlalu kecil tak mungkin ditanyai. Sementara si mbak masih dalam kondisi tak sadarkan diri.

Pikirankupun menerawang. Entah apa yang terjadi pada pasien itu sebenarnya. Kenapa dia bepergian tidak bawa identitas diri? Apakah dia kabur? Mengingat seperti yang disebutkan dia mengendarai motor terlalu cepat. Apakah kondisi pikirannya sedang kalut? Apakah dia bertengkar dengan suaminya?

Berjuta tanda tanya yang tak pula terjawab. Karena kami harus menunggu kondisi pasien membaik terlebih dulu. Menyedihkan sekali jika kita ditemukan dalam kondisi kritis, sementara keluarga tak tahu menahu. Innalillahi.

Kadang juga hal ini terjadi karena pasien merupakan warga asing yang bepergian sendirian. Sepertinya kisah selanjutnya yang kutemui selama bekerja di UGD. Ceritanya waktu aku sedang shift malam, sekitar jam enam pagi, datanglah seorang bapak tua, bertubuh tinggi dibopong oleh tukang ojek memasuki UGD. Ketika itu kondisi si bapak seperti sesak, lantas kami cepat memberi tindakan, memasang oksigen dan sebagainya. Tak disangka, bahkan ketika pemeriksaan belum selesai dilakukan, bapak tersebut sudah meregang nyawa.

Tukang ojek yang hendak beranjak pergi kami panggil kembali.

“Mas, kok ditinggal? Mas, pasiennya udah enggak ada!”

“Mbak, saya enggak kenal pasiennya, saya cuma tukang ojek,” jelas mamas tukang ojek dengan raut wajah ketakutan.

“Dia naik dari mana, Mas? Gimana ceritanya?”

“Saya lagi mangkal dekat hotel, lantas bapak itu naik, dan minta tolong ke RS terdekat. Biar sajalah, saya belum dibayar. Tapi saya enggak mau ketempuhan.”

Kami saling berpandangan dan meminta pendapat dokter jaga di UGD.

Si bapak membawa tas yang diserahkan tukang ojek tadi kepada kami. Kami buka untuk mencari identitasnya. Kami temukan paspor, KTP warga negara India, serta beberapa uang dollar di dompetnya. Tidak ada uang rupiah.

“Mas, bisa bantu hubungi pihak hotel?” tanya dokter pada tukang ojek tersebut.

Untungnya kami berhasil meyakinkan tukang ojek untuk menghubungi hotel tempat si bapak menginap. Kami menyampaikan bahwa selaku tukang ojek dia tak perlu khawatir, karena kematian pasien memang bukan tanggungjawabnya, kan.

Tak lama, manajer pemilik hotel datang ke UGD. Selanjutnya kami serahkan pada kepala ruangan, koordinator dan lainnya. Yang kutahu, kami juga menghubungi pihak imigrasi karena hal ini menyangkut pendataan mengenai warga asing yang berkunjung ke kota kami.

Paspor pasien menunjukkan banyaknya negara yang sudah dikunjungi. Dugaan dari dokter yang memeriksa sepertinya pasien mempunyai penyakit jantung, karena jantungnya terhenti padahal belum juga selesai kami beri tindakan. Mungkin dia kelelahan karena terlalu sering bepergian, kami juga tidak tahu. Kata pihak hotel dia datang dengan urusan bisnis di kota ini. Tentu mereka yang harus menjelaskan apa adanya kepada polisi dan pihak imigrasi.

Tak urung aku merasa kasihan dengan bapak berkewarganegaraan asing itu, harus menghabiskan hari-hari terakhirnya di negeri orang, jauh dari keluarga maupun saudara yang mengenalnya. Bagaimana jika kamu ada di posisi seperti itu? Atau seperti emak-emak yang pergi tanpa identitas tadi? Hatiku jadi merasa tertohok.

Uh, ada-ada saja cerita di UGD. Di tempat ini aku bisa kenal nama-nama penyakit serta penanganan pertamanya. Keterampilanku memasang infus juga teruji, dari mulai infus dewasa biasa, orang usia lanjut, hingga anak-anak dan bayi. Di UGD juga aku belajar pemasangan intubasi. Sampai bisa mengenal macam-macam dokter spesialis tempat kami berkonsultasi serta perawat-perawat dari ruangan lain.

Kupikir itulah hikmahnya aku dimutasi ke UGD. Tapi hal itu merupakan segelintir saja, karena ternyata ada sebuah hikmah yang lebih besar setelah ini.

Bandar Lampung, 10 Juni 2020

PB = Pasien Baru

12 Tahun Perjalananku (Part 9): Akibat Perilaku Sendiri

Part sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/08/12-tahun-perjalananku-part-8-selamat-datang-di-ugd/

Sejak bekerja di UGD, aku banyak melihat saat-saat terakhir manusia meregang nyawa. Dari mulai pasien yang memang sudah sakit kritis maupun yang sampai dari rujukan hanya untuk mengantar nyawa.

Death on Arrival,” ucap seorang petugas UGD. Biasanya kami akan menulis diagnosis DOA, jika ada pasien yang begitu sampai di UGD, tak sempat ditangani sudah meregang nyawa. Biasanya faktor jauhnya asal rujukan ikut menentukan. Biasanya dari RS kabupaten yang berkilo-kilometer jauhnya dari sini.

“PB. PB.” Kusigap setengah berlari untuk membantu menyambut pasien baru dengan brankar. Bekerja di UGD, berarti harus siap untuk jarang sekali duduk. Siap stand-by aja berjalan ke sana kemari.

“Tolong, Sus. Tolongin, Sus,” ucapin seorang ibu separuh baya yang ikut turun dari mobil yang mengantarkan pasien itu. Pasien berupa seorang wanita muda berusia dua puluhan, kami bantu untuk menaiki brankar. Setelah anamnesa singkat dan pemeriksaan dokter, kami mengambil peralatan yang diperlukan untuk tindakan selanjutnya.

“Infus NaCl 2 kolf,” pintaku pada pihak depo farmasi di UGD.

“Beda sama infus set yang tadi ya, Mbak?” tanya mbak-mbak penjaga depo.

“Yang ini untuk kumbah lambung, Mbak,” ujarku.

Aku bergegas kenbali ke ruang tindakan tempat pasien itu dibaringkan. Kulihat kakak perawat sudah menyiapkan peralatan. Infus sudah terpasang di tubuh wanita muda itu.

“Tolongin, Sus. Aduuh, saya enggak tahu kalau dia serius. Saya tadinya heran, tiba-tiba dia datang ke saya, trus bilang titip anak-anak, ya, katanya.” Ibu separuh baya itu terus menerus menangis.

Begitu pula pasien yang sekarang sedang disiapkan untuk dipasang NGT (nasogastric tube).

“Tahan ya, Mbak,” perintah kakak perawat yang bersiap memasangkan NGT.

Baru sebentar selang memasuki hidung pasien, wanita itu sudah termuntah. Dalam sekejap aroma baygon menyeruak. Hal itu membuatku ingin ikut muntah tapi kutahan, setidaknya jangan sampai kumuntah di depan pasien.

Sebuah perjuangan bagiku pribadi yang mempunyai hidung cenderung sensitif. Kadang tugasku harus ikut membersihkan pasien. Aku bisa tahan dengan aroma darah, tapi aku tak tahan aroma feses dan muntahan. Tapi aku tak bisa menghindari karena itulah kewajibanku. Tak jarang setelah merapikan pasien, aku lantas bergegas ke toilet, lalu termuntah sampai lega. Setelahnya ya, lanjut makan minum lagi seperti biasa, karena petugas harus menjaga kesehatannya, kan.

“Jangan dilawan, Mbak. Lambung Mbak harus segera dibersihkan, ini perintah dokter.” Kakak perawat yang terkena sedikit muntahan pasien itu, terllihat sedikit kesal. “Ayo, kita coba lagi.”

Akhirnya pasien terlihat sedikit menurut waktu selang kembali dicoba dipasangkan melaui hidung. Tentu saja, proses itu menyakitkan. Bayangkan, hidung kita kemasukan air enggak sengaja saja, perihnya minta ampun, apalagi sengaja dimasukkan alat. Tapi prosedur kali ini dilakukan adalah karena ulah si pasien sendiri, jadi wajar saja kalau kakak perawat terlihat kesal.

Syukurlah, dalam percobaan selanjutnya akhirnya pasien tak melawan dan alat NGT bisa terpasang dengan sempurna. Segera aku menyiapkan infus NaCl dan melakukan kumbah lambung. Belum ada satu botol termasuki, pasien sudah bersiap-siap terduduk lalu …kembali memuntahkan semua isi perutnya.

Ah, makanya jangan lupa memakai masker kalau bekerja di UGD, karena kau tak tahu aroma macam apa yang akan kau terima. Haha.

“Lanjutkan, Em, sampai habis 2 kolf.” Kakak perawat itu lalu meninggalkanku bersama pasien.

“Siap, Kak.”

Mudah-mudahan untuk tahap selanjutnya si Mbak mau bekerja sama. Kami sudah berjuang sampai segini karena ulahnya.

Iya, pasien tadi memang sengaja ingin melakukan praktik suicide, alias bunuh diri. Dia sengaja minum baygon. Makanya sebelumnya dia sempat berpamitan pada ibunya, mengatakan mau nitip anak-anaknya. Dia punya satu orang anak berumur satu tahun. Entah apa yang dialaminya hingga memutuskan untuk minum baygon. Praktik suicide yang gagal lalu menjadikannya berakhir di UGD.

“Hah, ada-ada saja, orang-orang yang begitu bikin-bikin sakit sendiri. Pasien kita sudah banyak tanpa perlu ditambah orang-orang yang tidak menghargai hidupnya sendiri.”

Aku terdiam mendengar kata-kata kakak perawat tadi. Apa yang dikatakannya memang benar, tapi entah kenapa membuat jantungku sedikit tertohok.

Lain cerita di lain hari. Kali itu aku sedang shift malam. Seorang pasien tiba-tiba datang menjelang Subuh. Seorang pemuda sudah dalam keadaan tidak sadar terbaring di brankar.

Aku dan temanku bergegas mempersiapkan peralatan, infus set, kateter set, dan sebagainya. Dokter yang memeriksa juga sigap memberikan instruksi.

Laki-laki yang mengantarkan pasien kulihat sudah bersiap untuk pergi.

“Lho, ke mana, Mas?” tanyaku.

“Saya sudah hubungi keluarganya. Ada-ada saja, gara-gara mereka, saya yang punya kos jadi ketiban.”

“Ya sudah, Mas, di sini dulu, sampai keluarganya tiba.” Kali ini temanku yang bersuara.

“Saya tunggu di luar saja, terserah kalian mau diapakan anak ini,” lanjutnya tak acuh.

Kutatap tubuh pasien yang sudah membiru. Napasnya yang terengah-engah, kedua matanya yang melihat ke atas. Belum sempat infus terpasang, pasien sudah mengalami apnoe.

“Kak, apnoe!” seruku. Kami melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) sebuah usaha terakhir untuk menyelamatkan nyawa.

Sekali lagi, petugas hanya berusaha, Tuhan juga yang menentukan.

Tak lama datanglah seorang ibu dengan rambut yang sudah memutih di kepala berteriak dengan histeris.

“Anakku! Ya Allah, Nak. Kenapa begini, Nak? Tiga hari tak pulang ke rumah, kenapa sekarang malah begini?”

Dokter menjelaskan kepada sang ibu bahwa pasien sudah tidak ada. Akhirnya kami melanjutkan untuk perawatan jenazah, sesuai prosedur. Belum ada satu jam, hanya berselang sekian detik, semua terjadi begitu cepat.

Setelah perawatan jenazah selesai, kami biarkan si ibu menangis di sisi pasien. Bagaimanapun keluarga berhak berada di sisi pasien di saat-saat terakhirnya.

“Entah siapa yang memulai kegilaan.” Kudengar dokter berseru setelah aku kembali ke ruang jaga.

“Kenapa, Dok?”

“Iya, jadi mereka itu sengaja, niat mabuk-mabukan. Dengan cara minum alkohol 70% dicampur dengan fanta. Idenya siapa coba? Akhirnya? Tiga orang sudah meninggal di tempat, hanya pasien tadi yang sampai di UGD, itupun enggak lama sudah meninggal.”

Innalillahi, jadi kejadian kali ini juga disengaja oleh ulah pasien sendiri? Bedanya, yang ini terjadi karena kebodohan, kalau si Mbak kemarin memang sengaja mencelakakan diri.

“Saya kasian sama ibunya, anak lama enggak pulang ke rumah, giliran ketemu sudah enggak bernyawa,” lanjut dokter.

Begitulah, tak hanya di ruang kebidanan, di UGD pun banyak sekali kutemukan drama. Semua ini adalah untuk diambil hikmahnya. Mungkin karena itu juga akhirnya aku menjadi bagian yang menyaksikan semua drama ini, untuk pembelajaran.

Hal yang kukagumi adalah, dari sekian banyak manusia berkalar-kilir di UGD, Alhamdulillah Malaikat Izrail tidak pernah salah mencabut nyawa. Sebuah dedikasi yang pantas ditiru oleh kita, manusia. Kalau kerja, jangan salah-salah.

Kurasakan sebuah luka berdenyut, luka yang sudah tertutupi kulit dengan sempurna sehingga tidak akan ada orang yang memperhatikannya. Kuraba pergelangan tanganku, tempat luka itu berasal. Luka akibat ulahku sendiri.

Ya Allah, jangan sampai kulakukan hal itu lagi. Aku bukan pada posisi orang yang berhak men-judge mereka, pasien-pasien yang datang ke UGD karena ulah mereka sendiri, karena aku pun pernah melakukannya. Self injury akibat depresi.  

Bandar Lampung, 9 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 8): Selamat Datang di UGD

Selamat Datang di UGD

Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/07/12-tahun-perjalananku-part-7-haruskah-kuucapkan-sayonara/

So, here I am.

“PB. PB. Ambil brankar.”

Fiuh, sudah lama tak bertemu suasana seperti ini. Mengingatkan saya akan hari-hari pertama orientasi dulu. Sebenarnya sih, riwehnya sama. Di Kebidanan juga pasien selalu ramai. Hanya saja, di sini kan, pasien beragam. Namanya juga pintu gerbang rumah sakit. Bukan sembarang RS lagi, melainkan RS pusat rujukan.

Aku sigap menyiapkan infus set untuk pasien baru. Kuberikan injeksi sesuai instruksi dokter baru kemudian berpindah mengurusi pasien lain. Di UGD kami tak mungkin berlama-lama. Lakukan anamnesa seperlunya, tindakan sesuai advis dokter lalu pekerjaan lain sudah siap menanti.

Terbukti pasien baru datang silih berganti. Kadang ada yang perlu tindakan agak lama, kadang ada yang gawat darurat sehingga perlu lebih diperhatikan.

“Em, pasien bumil.”

Saat ada pasien ibu hamil biasanya kakak-kakak perawat langsung menyodorkanku. Dengan senang hati aku menerima meski tetap saja, tak bisa berlama-lama. Pertolongan pasien sebisa mungkin dilakukan di ruang kebidanan.

“Klaimnya tidak bisa kalau di UGD, Em. Namanya pasien Kebidanan ya tindakannya harus di Kebidanan. Mungkin nanti ya, kalau PONEK sudah dibuka,” jelas Kak Riska, kakak bidan senior di UGD.

Tentu saja seperti itu ya. Yang dimaksud Kak Riska adalah klaim Jamkesmas atau Askes (sekarang dikenal dengan BPJS). Rata-rata pasien di RS ini adalah dengan jaminan, bukan membayar secara umum. Seandainya pun pasien melahirkan ditolong di UGD, maka tetap saja hitungannya masuk paket, dijadikan satu dengan ruang kebidanan.

Ah, tentu saja beberapa petugas UGD ternyata adalah bidan. Sesuai dengan yang dikatakan bu Har kemarin, bahwa UGD akan dipersiapkan untuk pembukaan PONEK.

PONEK itu kepanjangannya adalah Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif. Jadi nanti penanganan ibu hamil, bayi, nantinya akan terpusat di PONEK ini, sehingga sebagai pintu gerbang utama RS, akan lebih cepat terlayani. Hanya untuk sekarang, masih belum diaktifkan. Masih perlu diadakan beberapa penambahan alat seperti misalnya inkubator, doppler, dan lainnya.

“Oo, jadi ini yang namanya Emmy,” ujar seorang perawat senior di UGD.

Aku tersenyum ke arahnya.

“Dulu, pernah di UGD, kan?”

“Iya, Kak. Kan masuk Tim Kakak.”

Kak Wahyu adalah salah satu anggota tim yang kuikuti waktu orientasi di UGD. Sama halnya dengan Kebidanan, di sini juga berlaku aturan Tim. Masing-masing tim punya ketua dan beberapa anggota, dengan jadwal kerja yang sama, pagi, sore, malem.

Bisa dibilang temannya itu-itu saja. Kecuali misal ada yang tukaran shift jaga. Hihi. Tapi justru itu yang akan menjadikan kami lebih akrab.

Tak seperti Kebidanan yang memang isinya semua perempuan (berhubung memang yang hamil itu perempuan tidak ada laki-laki), di UGD kebanyakan perawat laki-laki. Hal yang seru saat berjaga di shift malam. Kamar jaga perawat yang hanya satu saja tapi harus ditempati berbagi dengan lainnya.

Tentu saja kami bisa istirahat di malam hari. Secara bergantian pastinya karena tetap harus ada yang menjaga pasien. Biasanya petugas perempuan akan diminta untuk beristirahat lebih dulu.

“Geser, Em.”

Aku menggeser posisi baringku di malam itu. Waktu sudah menunjukkan jam satu malam, aku harus cepat terlelap.

Kak Rahmat meluruskan kakinya di sisiku. Iya. Betul sekali. Karena keterbatasan kamar jaga, beginilah kami, berbagi satu ruangan dengan laki-laki. Kadang karena keterpaksaan kami akan tidur bersebelahan.

Eit, jangan dikira macam-macam ya. Kelelahan saat bekerja membuat kami jauh-jauh dari pikiran tidak senonoh. Lagipula kebanyakan sudah punya pasangan masing-masing. Aku sendiri kalau sudah posisi seperti itu biasanya akan memilih berbaring tanpa berpindah posisi, tetap pada posisi yang sama dari awal sampai akhirnya terbangun. Bagaimana tidak, waktu istirahat saat berjaga shift malam sangat mahal. Jadi, daripada tidak bisa beristirahat, lebih baik, apa adanya seperti ini. Ada untungnya postur tubuhku masih slim. Tak seperti sekarang, hihi.

Makanya seperti yang kupernah bilang, pasanganku harus mau memahami kondisi ini. Soalan menjaga diri itu, Insya Allah, semua tergantung pada diri masing-masing. Kalau mau niat nakal sih, bisa saja. Tapi untuk apa? Aku juga bukannya se-desperate itu belum punya anak. Justru sebaliknya, aku merasa bebas. Biar kunikmati masa-masa pacaran sah dengan suami, hahay.

“Rahmat, lu tidur di samping Emmy lagi semalam?” tanya kakak perawat lainnya.

Yang ditanya malah senyum-senyum. “Ah, enggak apa-apa, ya Em. Nyenyak kan, semalam?”

Aku tersenyum melihat Kak Rahmat mengedipkan mata padaku. Aku tahu dia sengaja, bukan untuk menggodaku tapi temannya tadi yang bertanya.

“Hati-hati lu. Anak gadis orang bisa-bisa hamil. Dasar bapak anak tiga.”

“Siapa yang gadis, Kak?” tanyaku polos.

“Lha, kamu kan gadis tho?”

Mendengar itu tawaku meledak. Mereka berdua sampai keheranan melihat orang paling introvert sepertiku tertawa seperti itu.

“Gadis udah dol, Kakak.” Aku masih belum bisa menahan tawa.

“Ha? Maksud Emmy?” Kak Rahmat bertanya meyakinkan lagi.

Aku menunjukkan cincin emas yang melingkar di jari manis kananku sambil berkata, “aku tu udah menikah.”

Akhirnya kedua kakak itu kompak membentuk huruf O di mulut mereka.

Haha. Ternyata aku masih pantas disebut gadis. Karena aku belum punya anak dan tubuhku masih terbilang ramping ada saja yang tertipu.

Ada juga ibu perawat senior yang mengira aku masih gadis. Saat kujawab dengan jawaban yang sama, dia terkejut. Yang paling seru saat ada seseorang menyatakan perasaan sukanya padaku. What?

Tentunya tidak perlu kujawab lagi, karena ketika suatu waktu aku dijemput oleh suamiku, hal itu sudah menjawab semuanya. Semestinya sih, begitu.

“Em, kamu nikah sama brondong?” Nah, ada juga hal yang menyebalkan. Kali ini dari Pak Mul yang menjabat sebagai koordinator di UGD. Selain tubuhku masih ramping, suamiku pun masih bisa dibilang kinyis-kinyis. Sama sekali tidak mengembang seperti kebanyakan teman yang sudah tampang bapak-bapak meski belum menjadi bapak-bapak. Padahal kami sepantaran, teman seangkatan di sekolah yang akhirnya berjodoh.

Walau jujur saja, kalau secara usia, lebih tuaan aku, karena suamiku sudah masuk sekolah setahun lebih awal dibandingkan yang lain, dan berkat kepintarannya dia bisa cepat lulus, termasuk saat kuliah.

“Trus, kenapa kamu belum hamil-hamil, Em? Ngadonnya kurang pas apa gimana?”

“Alah, paling juga si Emmy keseringan. Pagi bikin, siang bikin, malam bikin lagi.”

Ada-ada saja. Bagaimana aku enggak lantas terbahak mendengar bercandaan kakak-kakak perawat itu. Walau kadang ada yang menyebalkan juga. Apalagi pas icak-icak nawarin bantuan.

“Apa mau dibantu, Em? Sini, sama gue. Gue mah lempar kolor juga jadi anak, Em.”

Huuu. Dasar.

Pengalaman ini baru ini kualami sejak bekerja di UGD. Akhirnya suasana yang selayaknya tegang karena pekerjaanku banyak menyaksikan pasien meregang nyawa, namun bisa dibuat jangan stres. Bagaimanapun juga, hidup harus terus berjalan, tugas-tugas harus diselesaikan. Enggak boleh baperan kalau mau jadi nakes, apalagi tugas banyak resiko seperti ini.

Itu hanya sepenggal cerita awalku di UGD. Masih ada kelanjutannya.

Bandar Lampung, 8 Juni

12 Tahun Perjalananku (Part 7): Haruskah Kuucapkan Sayonara?

Haruskah kuucapkan sayonara?

Episode sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/06/12-tahun-perjalananku-part-6-episode-romantika/

“Aku pergi dulu, ya.” Baru hendak kuanggukkan kepala, tiba-tiba lelaki di hadapanku mengecup keningku sebelum ia berbalik badan. Oh, my God! Yuhu, sepertinya aku benar-benar telah jatuh hati. Lalu kuberjalan kembali menuju ruang Kebidanan dengan hati berbunga-bunga. Tunggu, lelaki yang mengecup keningku tadi siapa? Widi?

No, salah besar! Dia bukan Widi, apalagi Yudi. Bukan pula salah satu petugas di RS ini. Dia mampir hanya untuk menemuiku sebentar saja, memberikan titipanku, sebelum mulai bekerja kembali. Dia adalah … calon suamiku.

Wah, akhirnya ….

Betul sekali. Akhirnya setelah lebih dari setahun menjalani kerja di ruang Kebidanan, aku dipersatukan lagi dengan jodohku. Dia adalah sosok yang sudah menyukaiku bahkan jauh sebelum aku bekerja di RS. Dia sudah menyukaiku jauh sebelum aku menjadi PNS. Dia menerima jadwal kerjaku yang shift-shiftan. Dia juga merupakan cinta pertamaku, sejak mengenakan seragam putih biru.

Anyway, bisa habis satu buku sendiri kalau membicarakan tentang dia. Singkat kata, akhirnya aku menikah, dan hidupku ke depan tak lagi sama. Alhamdulillah.

Berlanjut hari-hari selanjutnya di ruang Kebidanan. Bertemu drama dan kisah perjuangan perempuan lainnya. Dari mulai ibu pasca operasi sesar yang mengalami luka terbuka pada bekas operasinya, pasien kabur begitu saja sebelum melunasi pembayaran, pasien stress pasca keguguran, bahkan ada juga ibu yang kabur setelah melahirkan dan meninggalkan anaknya begitu saja di ruang kebidanan.

Yang menyedihkan, temanku sendiri, mengalami perdarahan dan kegawatdaruratan pasca operasi, sampai akhirnya dia menghembuskan napas terakhirnya di ruang ICU. Ini yang membuatku syok. Bagaimana tidak, aku bahkan sudah mempersiapkan kado untuk menyelamatinya. Ketika kuhendak menengoknya di ruang paviliyun kebidanan, “lho, di mana dia? Kok tidak ada?”

“Oh, yang perawat itu? Dia sudah masuk ICU.”

Aku yang baru saja masuk kerja kembali pasca libur akhirnya terkejut. Tak semuanya persalinan berjalan lancar, tapi aku tak menduga hal itu bisa terjadi juga pada orang yang kukenal.

Namanya Septi, teman seangkatanku di kampus yang sama, hanya berbeda jurusan. Kami pernah bersama dalam satu kepanitiaan mengadakan buka bersama dengan anak yatim. Dia lebih dulu keterima sebagai CPNS di RS ini. Dia juga lebih dulu menikah dan sudah punya satu anak lelaki, persalinan ini adalah untuk yang kedua.

Dia pernah mengalami ujian, pulang shift sore, lalu dibegal di jalan. Waktu itu aku sedang shift malam, dia datang sambil menangis, duduk di kursi roda, diantarkan keluarganya, ingin menumpang periksa USG di tempat kami. Kami terkejut mendengar ceritanya. Karena dia sempat terjatuh dari atas motor ketika dibegal. Kejadiannya pun baru saja, ketika dia pulang shift sore, sekitar pukul sepuluh malam, di daerah dekat rumahnya. Dia yang dalam kondisi hamil besar, dibonceng ayahnya ketika itu.

Uh, bedebah sekali pembegal itu. Untung saja hasil pemeriksaan USG menunjukkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Septi hanya diminta dokter untuk bedrest di rumah. Kegawatan itu justru datang setelah dia menjalankan operasi sesar. Tak lama dia mengalami pendarahan, harus transfusi darah dan karna kondisi tidak membaik dia akhirnya dirawat di ICU, sementara bayinya dalam kondisi sehat dirawat di ruang perinatologi (khusus bayi).

Aku sempat menjenguknya di ruang ICU. Menyaksikan sendiri bagaimana dia tetap mencoba tersenyum dan berwajah ceria seperti biasa. Perawat ICU tidak memperbolehkan kami melihat terlalu dekat, karena Septi akan senang hati mengajak mengobrol teman yang menjenguknya meski dalam keadaan sesak. Dia tak peduli dengan monitor dan alat lainnya yang menempel di tubuhnya. Septi, seorang perawat yang ramah, tetap ceria bahkan di hari-hari terakhirnya.

Sehari setelah aku menjenguknya, Septi akhirnya berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Bahkan kado yang sudah kusiapkan akhirnya tak sempat kuberikan.

Aku sama sekali tak menyadari segala pengalaman yang kulihat ternyata menimbulkan tumpukan trauma dalam diri. Hal yang baru kuketahui bertahun-tahun setelahnya, ini hal utama yang menjadikanku takut untuk melahirkan. Sehingga akhirnya aku tak jua dikaruniai keturunan meski telah menikah. Aku pun tak ambil pusing, meski banyak bidan senior yang menasihatiku bermacam-macam. Memberi saran tentang asupan maupun aktivitas yang harus kulakukan. Bahkan ada salah satu bidan yang naik haji lalu mendoakanku agar aku segera hamil. Masya Allah.

Di tengah kekosongan itu, masih ada beberapa yang berani menggodaku. Dari mulai sebatas candaan hingga mengatakan menyukaiku terang-terangan. Lagi-lagi dari coas, namanya Raka (lagi-lagi bukan nama sebenarnya). Yah, sebuah pernyataan yang tak perlu jawaban tentunya, sebab statusku sudah jelas.

“Saya memang menemui Mbak Emmy sudah seperti ini, sudah dalam keadaan sudah menikah. Jadi tidak ada yang perlu disalahkan. Tapi saya serius mengatakan saya menyukai Mbak Emmy. Saya hanya ingin jujur sama Mbak Emmy saja. Tidak perlu menjawab apa-apa, Mbak.”

Aku menghela napas. Juga saat mengetahui dia akhirnya putus dengan pacarnya, sesama coas, aku sempat bertanya-tanya. Iya, saat dia mengatakan suka padaku, Raka sudah punya pacar, aku pun mengenal siapa pacarnya.

“Tenang aja, Mbak. Saya putus bukan karena Mbak Emmy, kok. Sudah lama memang saya ingin putus,” ungkapnya setelah kutanya.

“Apapun itu, selesaikan masalah kalian dengan baik-baik, ya. Jaga hubungan baik dengannya.”

“Iya, Mbak.”

Pacarnya, adalah dokter muda yang cantik dan pintar. Kami belum pernah bertemu namun sudah mengobrol akrab karena berkenalan via Facebook. Sebut saja namanya Amel, yang berkata padaku, “tunggu aku di ruang kebidanan, ya Mbak.”

Pertama kali aku mengetahui perihal mereka putus adalah dari Amel sendiri. Aku jadi sempat merasa bersalah, kupikir ini ada kaitannya denganku. Apalagi pacarnya tidak tahu bahwa si lelaki ini pernah mengungkapkan perasaannya. Aku pikir nanti saja kalau kami sudah bertemu langsung, baru aku akan cerita pada Amel.

Saat Amel akhirnya tiba giliran coas di stase Kebidanan, dia langsung mengungkapkan, “ Mbak Emmy, tahu enggak, Raka sudah punya pacar lagiii.”

Haha. Tak butuh waktu lama bagi Raka untuk mempunyai pacar lagi ternyata. Baiklah. Mungkin yang pernah diungkapkannya padaku bukan hal yang serius. Entah apa tujuannya.

Yang penting aku senang bisa bertemu dengan Amel. Aku akhirnya menganggapnya seperti adik sendiri, kebetulan aku tidak punya adik. Walau sebenarnya ada juga coas lainnya yang juga ingin dianggap adik olehku. Itu cerita yang berbeda.

Hingga satu saat ….

“Akan ada tiga orang pegawai kebidanan yang menerima surat mutasi. Hal ini dikarenakan di tempat yang baru memang dibutuhkan tenaga bidan. Yang satu ruangan OK, satunya poliklinik, nah satunya lagi enggak tahu, antara UGD dengan perinatologi. Kepastiannya besok, di hari Senin.”

Aku terdiam saat mendengarkan pembicaraan antara teman-teman sejawatku. Aku tak mau ambil pusing dan terus melanjutkan pekerjaan.

Tibalah hari Senin pagi, aku dipanggil oleh kepala ruangan.

“Emmy, ini SK-mu.”

Bagai petir di siang bolong aku menerima sebuah amplop putih panjang dengan jemari gemetar. “Seperti yang Ibu sampaikan, kepindahan ini adalah hal yang biasa di rumah sakit ini. Kebetulan memang di tempat yang baru membutuhkan tenaga. Apalagi di UGD nanti akan dibuka PONEK. Mereka akan membutuhkan banyak bidan,” lanjut bu Har, kepala ruangan kebidanan saat itu.

Apakah ini berarti aku akan berpisah dengan teman-teman dan segala kisah di ruang kebidanan ini? Apakah berarti aku tidak akan lagi menjadi orang pertama yang menyaksikan kelahiran bayi di dunia? Haruskah aku mengucapkan sayonara?

Apapun itu kuharap hari-hari ke depanku akan baik-baik saja.

Bandar Lampung, 7 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 6): Episode Romantika

Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/05/12-tahun-perjalananku-part-5-ada-suspense-di-tiap-ruangan/

“Kamu di mana? Saya sudah sampai di depan bioskop.” Pesan singkat itu tidak kubalas, melainkan kulangsung bergegas.

“Sudah sampai? Kok smsnya enggak dibalas?” tanyanya melihat kehadiranku tiba-tiba.

Aku menatap kedua mata di balik kacamata ini sambil lalu lantas menjawab, “tanggung.”

Kami berdua memasuki ruangan teater pintu satu dan mengambil tempat duduk sesuai yang tertera pada tiket. Baiklah, ini saatku menikmati “me time”, demi hilangkan penat karena bekerja.

“Me time”? bukannya nonton berdua. Hehe. Bagiku tetap saja ini namanya me time.

Pria berkacamata di sampingku menawarkan popcorn di tangannya.

“Makasih, Dok,” godaku.

“Belum dokter, masih dokter muda.”

Hiyaa. Tepat sekali. Aku mengenalnya sebagai coas yang kali itu berjaga di ruang kebidanan. Tidak ada yang istimewa. Pembicaraan kami juga awalnya seputar pekerjaan. Sampai satu saat ….

“Eh, film ini udah tayang, kita nonton, yuk,” ujar salah seorang temanku.

“Iya, nanti pas kita libur, ya.”

Sebuah rencana kosong, karena ketika hari libur tiba, teman-temanku tidak jadi menonton bersama. Haha. Padahal kebanyakan bidan angkatanku yang masuk sebagai cpns di ruangan ini, belum menikah. Termasuk aku, saat itu. Mestinya waktu luang kami lebih banyak. Tapi entahlah, waktu libur yang hanya sehari seminggu rasanya ingin dimanfaatkan dengan beristirahat di rumah saja.

“Ah, kalau aku nonton sendirian juga enggak masalah,” celetukku yang langsung disambut tawa.

“Emmy mah emang ke mana-mana sendirian. Ke gudang sendirian aja berani dia.”

Lha, memang betul, kan. Simple aja hidup itu. Kalau teman tidak bisa menemani, janjian ujungnya gagal, ya sudah jalan saja sendiri. Tapi sebenarnya bukan karena itu juga sih. Karena memang aku terbiasa ke mana-mana sendiri, sejak dulu. Aku adalah introvert yang paling introvert. Tak kusangka coas yang sedang menuliskan resume medis di meja VK mendengar kata-kataku.

Saat kami hanya berdua, lantas dia bertanya, “nonton sama aku, mau?”

What? Ini ajakan? Sama aku? Ya iyalah, karena tidak ada petugas lain yang sedang berada di sini. Tidak  mungkin dia mengajak ibu hamil yang sedang menunggu lahiran di bed pasien itu, kan?

“Kenapa gitu ngajak aku nonton?” tanyaku penuh curiga. Haha, namanya juga introvert paling introvert. Berada dalam kesendirian sudah penuh kenyamanan, kenapa pula perlu ditemani.

“Abis kasian kayaknya, nonton di bioskop masa sendirian.”

“Udah biasa.”

Pembicaraan itu berakhir begitu saja hingga coas tersebut tuntas menyelesaikan stase di ruang kebidanan. Kupikir enggak ada kelanjutannya. Nyatanya, dia menghubungiku dan beneran, ngajak nonton.

Fiuh, oke. Aku memerintahkan diri sendiri, jangan GR. Tidak hanya dia, sebelumnya juga pernah ada coas sekadar menggodaku. Mungkin karena dilihatnya aku yang paling pendiam di antara teman-teman, ya.

“May i?” sms coas itu secara tiba-tiba pada siang bolong. Sebut saja namanya Yudi (untuk membedakannya dengan pria berkacamata yang sedang menonton bersamaku).

“What?” tanyaku keheranan.

“May I kiss you?” sms selanjutnya membuatku membelalakkan mata.

Apa-apaan ini? “Aku orang ke berapa yang kau tanya begitu?” langsung saja kutodong demikian.

“Well, you will be the first, if you want to.” Yeah, macam aku percaya saja.

Yudi selama ini memang baik padaku. Kadang-kadang memberikan kami makanan. Ingat waktu tiba-tiba ada paket KFC dipegangnya, lalu diberikan pada kami, bidan jaga. Pernah juga dia membelikanku somay, khusus buatku. Yah, cukup segitu saja, sih.

Kemudian, beberapa hari setelah sms ngawur itu, aku akhirnya sadar, Yudi sudh punya pacar. Sama sepertinya, pacarnya juga coas yang sedang berpraktik di RS tempatku bekerja. Hanya mereka berbeda tim. Tahu enggak, paket KFC yang diberikannya pada kami, ternyata dibelikan oleh pacarnya itu. Wadaow. Dasar playboy mau coba-coba mempermainkanku, ya.

Lantas bagaimana dengan pria di sisiku ini? Hmm. Penasaran namanya? Panggil saja dia Widi.

“Aku izin ke belakang, ya,” ujar Widi.

Aku mengangguk dan mengambil popcorn yang disodorkannya padaku. Sudah lama rasanya tidak punya teman nonton. Lebih tepatnya, sudah lama aku tidak keluar rumah, selain untuk bekerja.

Selesai nonton, dia mengajakku ke parkiran. “Kuantar, ya.”

“Kamu bawa helm dua?” tanyaku. Aku tidak ingin dibonceng tanpa helm.

“Iya, sudah kusiapkan.”

Awalnya aku agak kesulitan menaiki motornya. Sebab tidak biasa dibonceng jenis motor semacam ini. Di perjalanan kupikir dia langsung mengantarku pulang, tapi ….

“Kita makan dulu, yuk, laper,” ajaknya.

Wah, udah dibayarin tiket nonton, sekarang mengajakku makan pula?

 “Emang enggak apa-apa?”

“Iya, kan aku yang ajak.”

Selanjutnya aku menurut saja waktu dia mengarahkan motornya ke sebuah rumah makan. Kebetulan aku belum pernah makan di sini.

“Pesanlah, jangan khawatir. Aku yang bayar.”

“Aku yang udah kerja kok aku yang ditraktir terus, ya?” iseng aku bertanya. Ya kali dia kapok gitu ngajak aku.

“Enggak apa-apa, lain kali kan bisa gantian.”

Eit, enak aja. Bisa keluar rumah seperti ini saja sudah bagus, pikirku. Belum tentu ada kesempatan selanjutnya.

Sambil makan, kadang-kadang kami membicarakan pekerjaan. Dia bilang sebentar lagi akan berjaga di ruangan bayi. Yang artinya, dia akan sekali-sekali berkunjung ke ruang kebidanan untuk visit bayi-bayi yang ada di rawat gabung.

“Ketemu lagi, dong.”

Waktu itu aku sama sekali tak memahami makna dari tatapannya. Daripada aku terkecoh lagi, kan.

Namun beberapa hari berikutnya, kembali berulang, dia mengajakku makan siang. Widi juga rajin menghubungi via sms, untuk menyemangatiku bekerja. Pernah juga karena aku merasa tidak enak, ditraktir mulu, aku membelikannya roti untuk menemaninya bertugas. Sengaja kubeli dalam jumlah banyak, siapa tahu teman-temannya mau juga. Hingga suatu saat ….

“Em, would you like to be my girl?

E, busyet. Ini sungguhan?

“Why me?” tanyaku memastikan. “Karena aku salah satu di antara tiga pilihan?”

Teringat salah satu ceritanya yang pernah disampaikan di sela pembicaraan tentang pekerjaan. Kata Widi, ada tiga perempuan tercantik menurutnya di ruang kebidanan. Ketiganya adalah teman seangkatanku yang diterima CPNS bersamaan. Aku mendengarnya seolah tak acuh. Walau sempat terkejut juga karena aku berada di nomor tiga. Haha, cuma nomor tiga.

“Aku suka kamu udah lama, Em.”

Nope. Kamu pernah bilang aku cuma salah satu.”

“Tapi kamu pemenangnya.”

“Memangnya ini perlombaan?”

“Kamu yang aku pilih. Kamu bidan, mandiri, tidak ketergantungan, ke manapun bisa jalan sendiri, selepas masa coasku, lalu aku menjadi dokter, aku akan lanjut mengambil spesialis dokter kandungan, dan kita bisa buka praktik bersama. Membangun RSIA.”

Wow. Mimpi yang begitu tinggi! Masalahnya bahkan aku enggak yakin kalau aku mau buka praktik. Dari awal kelulusanku dulu, aku hanya ingin bekerja saja, tidak ada keinginan buka praktik mandiri, seperti teman-temanku.

“Kamu suka karena aku bidan? Kamu ingin punya istri bidan?”

“Hmm, ya aku suka kamu. Kebetulan kamu bidan dan sesuai dengan visi misiku ke depan.”

Ini merupakan jawaban yang fatal dan tidak bisa diterima oleh egoku. Dari dulu aku paling tidak suka disukai karena embel-embel.

Pernah ada seseorang lelaki mendekati di awal kami diterima sebagai CPNS. Dia berusaha melakukan PDKT, dari satu teman ke temanku yang lain, semua yang didekati adalah yang bergelar bidan. Yeah, siapa yang tidak mau punya jodoh seorang bidan, kan?

Bahkan ada seorang temanku yang konyol, berkunjung ke rumah dengan membawa seorang teman untuk dikenalkan kepadaku. Kebetulan temannya bertugas sebagai polisi. Kujelaskan begini, “pekerjaanku kadang-kadang menyita waktu. Tidak hanya bekerja di pagi hari, kami juga berjaga shift-shiftan termasuk di malam hari.”

Yang kuingat, setelah kejadian hari itu, polisi itu tidak pernah lagi menghubungiku. Skakmat. Kamu mau denganku, berarti kamu harus terima caraku bekerja.

Tapi, jangan jadikan itu sebagai alasan. Ingin memperistri seorang bidan? Ada banyak perempuan bergelar bidan di luar sana. You can pick by random. Yang penting dianya mau sama kamu juga dan tidak keberatan.

Kalau aku? Maaf. Aku ingin dipilih oleh dia yang menerimaku apa adanya. Seseorang yang seandainya aku memilih resign sekalipun dia tetap akan bersamaku. Kamu ingin bersamaku karena gelarku? Then chose anyone else.

Fun fact: beberapa lelaki yang pernah dekat denganku pada akhirnya mempunyai istri seorang bidan. Yup. Termasuk Widi. Gladly, bukan sama aku. Karena aku yang sekarang sudah sedikit berbeda jalur. Hehe.

Bandar Lampung, 6 Juni 2020

p.s. Enggak apa-apa, kan, kali ini aku enggak cerita soal pasien? hehe

12 Tahun Perjalananku (Part 5): Ada Suspense di Tiap Ruangan

Ada Suspense di Tiap Ruangan, termasuk Ruang Kebidanan

Part sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/04/12-tahun-perjalananku-part-4-episode-pasien-sakit-jiwa-dan-anak-kembarnya/

“Wadah plasentanya di mana?”

“Ada sih, tapi di Gudang, aku enggak mau ke sana, ah.”

Penasaran aku mendekati kedua temanku yang sedang mengobrol. “Ada apa?” tanyaku.

“Mau ambil kendi untuk wadah plasenta, lho. Masalahnya aku takut ke sananya.”

Seperti biasa setiap ibu yang habis melahirkan pasti sekaligus akan melahirkan plasentanya. Plasenta merupakan tempat cadangan makanan bagi janin di dalam kandungan. Setelah lahir, bayi tidak akan memerlukan plasenta lagi. Tali pusat yang menghubungkan dengan plasenta akan dipotong dan plasentanya akan dikuburkan. Sebelumnya tentu perlu dicuci bersih dan diberi wadah.

Di ruang kebidanan juga disediakan kendi sebagai wadah untuk plasenta ini. Meski pasien bebas memilih, kadang ada juga yang sudah menyiapkannya sendiri dari rumah. Nah, tempat penyimpanan kendi-kendi ini ada di gudang. Namanya juga gudang, penuh dengan perabotan. Belum lagi lampunya yang temaram semakin menambah suram. Temanku jadi enggan ke sana.

“Ya sudah, aku saja yang ambil.” Akhirnya kutawarkan bantuan.

“Serius, Em? Ini kuncinya.”

Aku meraih kunci gudang dan bergegas menuju gudang penyimpanan. Aku juga tak hendak berlama-lama di sana. Kerjaan masih banyak menanti.

Suasana suram langsung membuat bulu kuduk merinding. Segera kulancarkan doa dalam hati, “Ya Allah, lindungi aku.” Tak lupa kutambahkan doa paling ampuh kupanjatkan, setiap kali bekerja, “saya di sini karena niat bekerja, saya tidak mengganggu, jadi tolong jangan ganggu saya.”

Lepas dari suasana suram dengan kendi sudah di tangan akhirnya aku kembali mengunci pintu gudang. Aku baru bisa menarik napas lega setelah kembali ke ruangan VK.

“Wah, Emmy udah balik?”

“Enggak ketemu Mbak Kun?” tanya temanku menggoda.

“Ish, apaan sih?” Aku sudah tahu apa yang temanku maksudkan. Jadi tidak perlu dibahas siapa Mbak Kun yang dia maksud.

“Ih, gudang kita kan seram, tahu.”

“Iya, aku pernah lihat penampakan di sana.”

Nah, mulai, deh. Cerita-cerita semacam ini biasanya kuhindari meski kadang bikin penasaran juga.  Positive thinking saja, namanya juga rumah sakit, pasti adalah yang namanya makhluk halus. Apalagi di sini jelas-jelas tempat melahirkan. Yang tidak melulu semua melahirkan lalu sehat. Ada juga bayi yang meninggal kemudian, bahkan kadang ibunya yang meninggal, seperti yang pernah kuceritakan tentang ibu Lily.

Tak heran kadang teman-teman kalau mau ke toilet atau salat di musala sekalipun minta ditemani. Aku malah jojong sendirian. Soalnya sudah terbiasa dari dulu, aku sering ke mana-mana sendiri. Bahkan kadang aku duduk di ruang administrasi untuk menulisi setumpuk berkas pasien sendirian. Alhamdulillah enggak pernah ada kejadian apapun, walau bukan berarti aku enggak takut. Tapi kuniatkan semua untuk bekerja.

Sama halnya ketika aku masih bekerja di RS swasta sebelum diterima sebagai CPNS. Teman-teman sudah banyak cerita, ada yang lihat kursi roda jalan sendiri, atau dengar suara-suara aneh. Aku malah pernah berjaga sendirian, tidur biasa saja, dan syukurlah tidak terjadi apa-apa.

Nah, di ruang kebidanan ini temanku malah yang sering melihat. Kadang dia bilang seperti ada bayangan hitam besar di musala, menemani dia salat. Selain penampakan Mbak Kun di gudang, pernah juga terasa di toilet. Yang paling seru, ketika mendengar cerita itu dari pasien.

Jadi, waktu itu kebetulan saya bersama tim kebagian giliran shift malam. Kami yang bertugas di ruang perawatan, baik ruang kelas 3 maupun di paviliun pasti harus visit ke ruangan dulu, untuk melihat semua kondisi. Ada jadwal injeksi jam berapa, apakah infus sudah hendak diganti, pasien ada keluhan apa, dan sebagainya.

Jadi di ruang paviliun, teman sudah mencatat siapa pasien yang sudah mau habis infusnya. Lalu kami kembali ke ruang VK. Karena banyaknya tindakan di ruang VK, tak sengaja terlupakan oleh temanku itu. Seharusnya walaupun lupa, biasanya keluarga pasien akan ikut mengingatkan, soal infus habis. Yang penting bukan jadwal injeksi yang terlupa, karena catatann itu ada pada kami. Kalau infus kan bisa terlihat oleh keluarga kalau sudah habis. Biasanya kami ingatkan sebelum habis, silakan lapor ke ruang jaga perawat.

Setelah kesibukan di ruang VK, bergantianlah kami untuk beristirahat di kamar jaga. Tentu setelah yakin bahwa pasien semua sudah aman. Ada saat-saatnya di mana kami menjalani shift malam tanpa tidur sedetik pun, tapi sebisa mungkin kami akan meluangkan waktu untuk sekadar rebahan meluruskan kaki sejenak. Petugas juga harus menjaga kesehatannya kan, kalau pada sakit, nanti yang nolong pasien siapa?

Ketika terbangun menjelang subuh, temanku baru teringat soal infus tadi. Lekaslah dia menuju kamar pasien. Tak lama dia kembali dengan wajah bingung.

“Kenapa? Ada masalah pasiennya?”

Dia menggelengkan kepala. “Em, kita kan enggak ada yang pake baju putih-putih, kan?”

Biasanya kami memakai seragam putih-putih khas tenaga kesehatan itu hanya di saat berjaga pagi. Kalau sore dan malam, kami punya seragam sendiri. Kebetulan, malam itu kami semua memakai seragam warna merah marun.

“Emangnya kenapa?” tanyaku lagi penasaran.

“Kan aku lupa belum ganti infus pasien di sana, kok infusnya udah penuh lagi ya? Pas aku tanya, katanya yang ganti suster yang pake baju warna putih.”

“Nah, loh. Kita kan enggak ada yang pakai baju putih,” tegasku ikut kebingungan.

“Iya, katanya susternya pakai baju putih, enggak pakai jilbab.”

“Mana ada, kita semua kan, pakai jilbab.”

Waduh, apa lagi, nih.

Aku jadi ingat cerita masa lalu zaman masih menjadi mahasiswa praktik di ruang kebidanan ini. Dulu, ruangannya belum serapi sekarang. Dengan lampu dan suasana jauh lebih suram. Betapa mengerikannya masuk ke ruang kebidanan di zaman itu.

Nah, banyak terdengar cerita pasien kalau infusnya diganti sama suster berambut pirang. Namanya juga rumah sakit ini kan rumah sakit zaman penjajahan kolonial Belanda. Kalau dengar sejarah berdirinya RS ini sudah didirikan sejak 1929 lalu, jauh sebelum Indonesia merdeka, kan.

Belum lagi isunya dulunya di tanah berdirinya RS ini adalah bekas kuburan tawanan Belanda.

Jadi, memang yang bertugas jaga di sini pun juga banyak suster berkebangsaan Belanda, pada zaman itu. Tentu saja, sekarang sudah tidak ada suster berambut pirang, kecuali kalau kamu ketemu perawat yang rambutnya diwarnai, hehe.

Tapi masa-masa aku masih menjadi mahasiswa praktik, banyak pasien yang melaporkan tentang kehadiran suster bule yang baik hati karena membantu mengganti infus.

Nah, bagaimana dengan suster berbaju putih yang dimaksudkan pasien paviliun itu? Wallahualam. Bahkan temanku meminta kami semua, tim jaga malam berbaris di kamar pasien dan meyakinkan lagi, siapa di antara kami yang mengganti infus ibu itu semalam. Jawabannya: entah.

Biarkan saja tetap menjadi misteri. Yang penting jangan mengganggu kami, baik petugas maupun pasien di ruang kebidanan ini.

Bandar Lampung, 5 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 4): Episode Pasien Sakit Jiwa dan Anak Kembarnya

Episode sebelumnya https://emm.my.id/2020/06/03/12-tahun-perjalananku-part-3/

“Ayah, tolong aku, Ayah.”

“Iya, Bu. Iya.”

Aku menahan geli karena wajah pucat seorang coas lelaki yang tak bisa bergeming di samping bed pasien di VK.

“Ayah, sakit, Ayah.”

“Iya, Bu. Tahan ya, Bu.”

Lagi suara yang tadi terdengar, yang satu dari coas berwajah pucat tadi, satunya lagi dari ….

“Dek, minta ibunya melorot ke sini, cem mane pule, kite mau menolong die.” Kali ini dari dokter kandungan yang hendak menolong persalinan. Si coas tadi meminta pasien untuk pelan-pelan melorot ke bawah, agar bisa diposisikan untuk ditolong melahirkan. Benar saja, kepala bayinya bahkan sudah terlihat. Karena dari tadi ibunya sulit diajak kerjasama makanya kami kesulitan memeriksanya. Kalau bukan karena kehadiran sang coas penyelamat, alias “Ayah”.

Haha. Cerita bermula dari kehadiran pasien baru, seperti biasa diantar oleh pekarya UGD. Dari awal pasien sulit sekali untuk diajak pindah ke bed VK. Belum lagi kelakuan si ibu yang rada aneh. Setiap petugas yang mendekatinya langsung disalami lalu dia mengatakan, “saya ini lagi puasa.”

Pertama kali melihatnya juga keningku berkerut. Si pasien tampak sedikit berbeda dengan rambut yang menyerupai lelaki, alias dicukur gundul. Kira-kira ukuran rambutnya masing-masing hanya setengah sentimeter.

Keluarga yang mengantarkannya lalu membisikkan kepada kami, “maaf ya, Sus, dia ini memang agak kurang. Namanya juga pernah dirawat di RSJ.”

Mulut kami jadi membulat setelah mendengar keterangan dari keluarganya. Setidaknya ibu ini ada yang mengantarkan.

“Lalu suaminya, Bu?” tanya bidan senior dengan hati-hati.

Si ibu yang tadi menjelaskan kondisi pasien menggelengkan kepalanya. “Dia ini suaminya udah lama kabur, makanya jadi seperti ini. Bertahun-tahun stres sejak ditinggal suaminya. Sampai dirawat di rumah sakit jiwa.”

“Lho, suaminya sudah lama pergi? Lalu kenapa …?”

“Iya, itu ulah tukang-tukang bangunan yang tak jauh dari rumah. Saat itu kami lagi enggak awas, pas dia keluyuran sendiri.”

Astagfirullah. Siapa tega menodai orang sakit jiwa tentu saja dialah yang jiwanya lebih sakit.

Kami tak sempat meneruskan menanyai keluarga ibu tadi, karena kondisi pasien memerlukan pemeriksaan segera.

“Tekanan darahnya tinggi,” kata temanku yang berhasil memeriksa tekanan darahnya, setelah disalami ibu itu.

“Saya puasa, Bu,” ucap si pasien lagi.

“Iya, Bu,” jawab temanku sambil tersenyum.

“Kalau tidak bisa pindah ke bed VK, bagaimana?” tanyaku.

Sementara kulihat pekarya UGD akhirnya kembali tanpa membawa brankar. Dia bilang, nanti saja dibawanya, sekalian pas antar pasien kebidanan lainnya.

Tak lama datangnya dokter muda mendekat. Si pasien langsung berkata spontan, “Ayah!”

Lantas kami semua terkejut tak terkecuali si dokter muda.

Coas atau dokter muda adalah sarjana kedokteran yang harus menuntaskan periode menjadi dokter muda selama waktu yang ditentukan agar bisa meraih gelar dokter. Kalau sudah meraih gelar dokter, baru dia sah menjadi dokter dan boleh menjalankan praktik layaknya seorang dokter. Kalau belum? Ya, harus lulus coasnya. Artinya, tidak bisa tidak.

Lantas aku jadi sedikit kasihan sama si coas. Mereka masih muda, sebagian besar belum menikah. Masuk ke ruang kebidanan ini saja, sebagian sudah terkaget-kaget karena mendadak harus menolong persalinan. Ya, mungkin secara teori sudah matang. Tapi di sinilah praktik yang sebenarnya. Semua coas harus melalui stase kebidanan, dan ini adalah salah satu tahapan penting.

Coas yang dipanggil ayah tadi, sebut saja namanya Anton, tentu saja dia juga masih bujang. Tiba-tiba saja mendapat panggilan “Ayah”, hihi, bagaimana kami tidak tertawa.

Tapi kami bersyukur adanya kehadiran “sang Ayah” pasien jadi manut. Luar biasa. Si ibu akhirnya mau pindah ke bed pasien. Menurut waktu dipasang infus. Kini dia sudah dalam posisi siap untuk melahirkan.

“Dek, minta ibunya mengedan sedikit saja,” advis dokter.

Aku sampai terheran, bagaimana cara menginstruksikan pasien sakit jiwa untuk mengedan sedikit saja. Hanya sedikit, sebab kondisi tekanan darahnya tinggi. Walau kami sudah menyuntikkan obat untuk menurunkan tensinya, tapi tetap saja proses melahirkan pada pasien dengan tekanan darah tinggi sebaiknya tidak terlalu lama.

Untungnya memang tak perlu waktu lama, sebab dengan lancar bayi meluncur dan disambut oleh dokter yang menolongnya.

Masya Allah, Allah memang memberikan kemudahan dengan kondisi pasien yang demikian. Sang bayi pun langsung menangis kuat, tanpa perlu ada yang dikhawatirkan. Kalau saja kondisi ibu baik-baik saja, pasti sudah kuanjurkan untuk dilakukan Inisiasi Menyusui Dini. Ah, enggak usah muluk-muluk. Segala teori harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

“Ayah, sakit, Ayah.” Si ibu masih mengeluh.

Aku sudah merapikan bayi si ibu dan meletakkannya di bawah bed khusus dengan penghangat, istilahnya infant warmer.

“Masya Allah, ada bayi kedua,” seru dokter mengejutkan kami semua.

Masya Allah, si ibu hamil kembar? Allahu Akbar. Tentu saja kami tidak mengetahui hal ini sebelumnya karena pemeriksaan memang belum dilakukan maksimal akibat si ibu tidak kooperatif di awal tadi. Lagipula kalau pasien umumnya melampirkan buku hasil pemeriksaan selama kehamilan, normalnya minimal sekali (lebih baik dua kali), pernah diperiksa USG. Tapi yang ini boro-boro. Pasien mau melahirkan di RS saja sudah bagus.

Benar saja, kemunculan bayi berikutnya sudah terlihat. Semoga kali ini bayinya juga sehat. Tak lama terdengarlah suara tangisan yang tak kalah kencang dibandingkan yang tadi.

 Alhamdulillah. Tak henti aku mengucapkan syukur dalam hati sembari merapikan si bayi. Seperti asuhan neonatus yang biasa kulakukan. Keringkan, hangatkan, periksa kelengkapan bayi, lakukan rangsang taktil bila perlu, pakaikan bedong pada bayi, hal-hal seperti itu. Jangan lupa selalu berikan identitas bayi segera setelah dilahirkan. Identitas direkatkan pada bayi. Ini sangat penting agar bayi tidak tertukar.

Ah, kadang aku berpikir, beruntungnya menjadi seorang bidan, menjadi wajah pertama yang menyambut seorang bayi baru lahir, sebuah kehidupan baru di dunia. Sungguh mulia jasa bidan, tak hanya bagi sang ibu, tapi juga bagi kelangsungan hidup manusia. Aku jadi terharu.

“Ayah, jangan ke mana-mana, Ayah.”

Kasian juga aku sama si Anton. Boro-boro mau ikut menolong persalinan, adanya juga lengannya tak juga dilepaskan oleh ibu itu. Uh, kembali aku menyumpahi si pelaku pelecehan. Pasti keluarganya tak punya kuasa juga untuk menuntut pelakunya. Lagipula terkadang hukum dunia ini memihak. Orang lemah jadi mudah terlindas. Tapi ada hukum Allah yang Maha Adil. Ada yang namanya karma di dunia ini.

Dua bayi menjadi saksi kuasa Allah. Seorang ibu dengan penyakit mental dan kondisi tekanan darah tinggi bisa melahirkan dua bayi kembar sehat walafiat, bahkan secara normal dan tanpa bantuan alat. Semoga kedua anak ini tumbuh sehat dengan sempurna, dirawat dengan baik oleh keluarganya. Apapun latar belakangnya, mereka berhak mendapatkan penghidupan yang layak, seperti manusia pada umumnya.

Cerita saat berdinas hari ini benar-benar berkesan bagiku. Perempuan memang hebat!

Bandar Lampung, 4 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 3): Episode Perdarahan Pasca Melahirkan

Part sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/02/12-tahun-perjalananku-part-2/

“Saya tidak terima ini! Brengsek!”

Aku terdiam saat melihat ember besar yang penuh berisi air kotor ditendang serta merta oleh bapak-bapak yang tadi berteriak. Awalnya kami sempat melarangnya masuk dikarenakan proses membersihkan belum selesai. Ember besar yang ditendangnya tadi adalah untuk kami gunakan membersihkan pasien usai melahirkan. Tentu saja airnya akan menjadi kotor kemudian, apalagi pasien kali ini mengalami perdarahan hebat. Aku baru hendak mengganti airnya, sebelum si bapak keburu datang dan menendang ember tersebut.

“Sabar, Pak. Kami sudah berusaha ….” Dokter kandungan yang tadi sudah berusaha menolong si pasien berusaha menengahi.

“Sabar apanyaaa!! Saya mengantar istri saya ke sini mengharapkan untuk dapat pertolongan, tapi apa yang saya dapatkan??”

“Baik, Pak. Akan saya jelaskan, mari kita ke luar dulu,” ajak dokter kepada bapak tadi.

Kubiarkan dokter, bersama bidan senior yang bertanggungjawab di VK, menemui keluarga pasien, mengajak bicara di ruang pertemuan. Aku biar tetap di sini, menyelesaikan tugas yang tersisa.

Kutatap sedih pada sosok ibu yang barusan berjuang melahirkan anaknya. Bukan lagi bertaruh nyawa, namun nyawanya justru tak bisa kami selamatkan, karena sang ibu mendadak mengalami perdarahan yang hebat. Dokter sudah menolong sebisanya. Si ibu sampai mendapatkan transfusi darah sebanyak dua kantong yang kami minta secara cito.

Saat melihat kondisi bayinya yang menangis kuat aku bisa menarik napas lega. Setidaknya kami sudah berjuang mempertahankan keselamatan sang bayi yang juga sempat tak bernapas beberapa detik setelah lahir ke dunia.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Ketika itu saat kami baru tiba lalu operan jaga dengan shift sebelumnya, kondisi di ruangan VK sudah tampak seperti pasar. Pasien begitu ramai sampai bed penuh dan beberapa ibu hamil masih di atas brankar. Tak lama satu per satu pembukaan lengkap. Satu, dua, dan pasien-pasien selanjutnya melahirkan dengan lancar. Lalu tiba saatnya si ibu tadi, kita sebut saja namanya ibu Lily.

Dia termasuk salah seorang pasien yang berada di atas brankar. Seiring banyaknya yang sudah melahirkan dan kami membutuhkan bed-bed VK, satu per satu pasien kami pindahkan ke ruang perawatan. Sehingga ibu Lily bisa menempati bed VK. Kubaca rekam medisnya, pasien G2P1A0 dengan KPD dan hasil pemeriksaan terakhir sudah pembukaan 8.  Terpasang infus RL di tangannya, tanpa tulisan apa-apa. Saya hanya membaca catatan pemeriksaan terakhir yang dilakukan oleh tim jaga sebelum kami.

Kontraksi bu Lily semakin menjadi. Tak lama pembukaannya sudah lengkap. Kami lekas mengabari anggota keluarga. Dengan kondisi suasana ruang melahirkan yang pasiennya melebihi kapasitas, akhirnya kepala tim VK mengambil kebijakan untuk mempersilakan keluarga pasien menunggu di luar, termasuk keluarga ibu Lily. Kami petugas yang bolak balik mengabari kondisi sang ibu pada keluarga masing-masing.

Persalinan berlangsung cepat, sekiranya tiada kendala. Aku yang membantu keselamatan bayinya, segera melakukan slim suction, rangsang taktil dan sebagainya sesuai prosedur yang ada. Tak lama, anak ibu Lily pun menangis. Karena fokus pada keselamatan bayinya, aku tak sempat perhatikan bahwa bu Lily mengalami kegawatan. Karena yang menolong si ibu sebelumnya juga bukan aku, sudah ada dokter kandungan langsung yang turun tangan dibantu kakak bidan senior.

Yang kulihat selanjutnya, ibu Lily diambil sample darah untuk permintaan transfusi. Ternyata, astagfirullah, ibu Lily mengalami perdarahan hebat.

Perdarahan pasca persalinan biasa terjadi pada ibu pasca melahirkan. Namun bila terjadi perdarahan hebat dengan perkiraan darah keluar melebihi 500 cc maka itu berarti sudah memasuki keadaan gawat. Perdarahan umumnya terjadi dalam 2 jam pertama pasca melahirkan, namun bisa saja terjadi beberapa jam setelahnya.

Ada beberapa penyebab terjadinya perdarahan pasca persalinan, antara lain: karena adanya sisa plasenta yang belum keluar sehingga menghalangi penyusutan rahim kembali seperti semula, karena luka jalan lahir yang belum dijahit atau dikarenakan kontraksi uterus yang tidak adekuat.

Keringat dingin menyelimutiku saat melihat banyaknya darah yang mengalir dari tubuh ibu Lily. Kulihat oksigen mulai dipasangkan untuk membantu pernapasannya. Sementara dokter tak henti memberikan instruksi memberikan obat injeksi untuk membantu perdarahan, serta memastikan tidak ada sisa-sisa plasenta yang kemungkinan menghalangi kontraksi rahim.

“Kontraksinya jelek,” ujar sang dokter. Kakak bidan senior kembali menyuntikkan oksitosin ke ibu Lily. Dalam infus RL yang terpasang pun sudah dibantu dengan obat yang sama.

“Dok, ini darahnya, tanpa pemeriksaan.” Teman sejawatku yang lain membawakan satu kantong transfusi darah. Yang kutahu untuk mendapatkan transfusi darah harus dilakukan pemeriksaan kecocokan darah terlebih dahulu. Bila dokter sudah memutuskan darah boleh diberikan tanpa pemeriksaan, artinya kondisi sudah sangat mendesak sehingga resiko ketidakcocokan darah dikesampingkan.

Aku membantu memasangkan infus di tangan ibu Lily yang masih bebas. Dia harus segera mendapatkan transfusi darah, sementara cairan infus berisikan obat oksitosin tak boleh pula dihentikan.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Mirisnya usaha keras kami tak banyak membuahkan hasil hingga berujung pada hembusan napas terakhir bu Lily. Jujur saja aku syok melihat pemandangan ini. Banyak kematian yang sudah kusaksikan di depan mata. Namun kali ini begitu mendadak.

Kondisi ibu Lily sebelum operan tidak menandakan adanya kegawatdaruratan. Namun mengapa bisa terjadi seperti ini? Terlebih ibu Lily sudah pernah melahirkan sebelumnya bahkan tanpa komplikasi.

Dokter ditemani salah satu bidan senior menjelaskan keadaan sebenarnya kepada keluarga pasien. Seorang temanku melihat kembali catatan pada berkas ibu Lily. Sementara aku melanjutkan menyelesaikan perawatan jenazah, satu hal yang tak kuduga sebelumnya akan kulakukan di ruang VK ini.

“Astagfirullah, pasien sudah diberi induksi sebelumnya dari rujukan?”

Aku mendengar temanku yang sedang memegang berkas ibu Lily berseru.

“Memangnya rujukan dari rumah sakit mana?”

“Bukan dari rumah sakit lain, pasien dirujuk dari bidan!”

“Ha? Bidan memberinya induksi?” tanyaku kembali tak percaya.

Setelah membereskan pekerjaanku aku mendekati temanku dan membaca sendiri berkas ibu Lily.

Induksi persalinan hanya boleh diinstruksikan oleh dokter kandungan, bidan tidak boleh melakukannya tanpa ada instruksi dan bimbingan dari dokter (seberapa banyak oksitosin yang diberikan dan berapa tetesan harus diatur).

“Bukannya tadi sebelum persalinan, infus pasien masih kosong?”

Infus kosong adalah istilah untuk botol infus yang murni berisi cairan, tanpa tambahan obat.

“Iya, sudah diganti sama yang menerima pasien di sini. Tapi sudah habis satu kolf infus dari tempat rujukan,” jawab temanku.

Astaghfirullah. Padahal tadi kondisi ibu Lily tidak menunjukkan kejanggalan, Detak jantung bayinya pun sudah kami periksa dan normal adanya. Apakah tim sebelumnya sudah melaporkan saat operan kepada petugas VK yang lain? Sebab aku tak tahu menahu karena langsung memegang pasien selain ibu Lily ketika operan.

Bagaimanapun inilah salah satu resiko bekerja di RS pusat rujukan. Kondisi pasien sebelum dirujuk seharusnya dijelaskan sedetik-detilnya oleh perujuk. Termasuk semua obat-obatan yang sudah diberikan. Kadang kami menerima kondisi pasien yang lebih parah dari ini, misalnya rujukan dari dukun yang tak kelar ditangani lalu dilarikan ke rumah sakit. Aduhh ….

Aku menghela napas. Ketegangan ini belum juga berlalu. Tangisan bayi ibu Lily membuatku tertegun. “Semoga Allah menerima syahidnya ibumu, Nak. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”

Bandar Lampung, 3 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part-2): Selamat Datang di Ruang Kebidanan

Sebelumnya di https://emm.my.id/2020/06/01/12-tahun-perjalananku-part-1/

Welcome to Ruang Kebidanan

“Maaf, Bu, saya mau menyerahkan ini.”

Aku menyodorkan sebuah amplop berisikan lembaran surat penempatanku di sini yang ditandatangani direktur utama RS. Bu Yati, kepala ruang kebidanan menerimanya. Kami, semua bidan CPNS, ditempatkan di ruang kebidanan. Aku sih, sudah lama menduga hal ini. Kebetulan ruangan ini merupakan tempat terakhirku menjalani orientasi.

Ruang Kebidanan terdiri dari 3 bagian besar, VK/Verlos Kamer (bahasa Belanda) sebagai ruang melahirkan serta tindakan lainnya. Lalu ada ruang perawatan kelas 3, yang dibagi menjadi pasien Obstetri dan Ginekologi. Pasien Obstetri merupakan pasien habis melahirkan yang biasanya dirawat gabung bersama anaknya.

Ruangan berikutnya, masih berupa ruang perawatan, tapi spesial melayani pasien kelas 2, kelas 1, hingga VIP. Untuk pasien setelah melahirkan juga dirawat gabung bersama bayinya. Di tempat ini pun tersedia VK terpisah.

Tak hanya 3 ruangan itu, ada juga bagian neonatus (bertanggungjawab pendataan bayi dan segala keperluannya), ada recovery room, tempat khusus untuk pasien yang baru saja melaksanakan operasi. Di tempat ini akan dilakukan pemantauan TTV, sebelum akhirnya pasien dinyatakan aman untuk dipindahkan ke ruangan perawatan. Ada juga ruang pemeriksaan USG, yang digunakan jika ada pemeriksaan USG oleh dokter kandungan. Hanya dokter yang boleh melakukan pemeriksaan USG.

Biasanya saat melakukan orientasi aku ditempatkan di VK, karena di sinilah segala tindakan. Mulai dari menolong persalinan, tindakan kuretase, observasi pasien gawat (hamil dengan komplikasi), tindakan embriotomi, hingga visum et repertum. Visum yang dilakukan di ruang kebidanan hanya berupa visum untuk kasus pemerkosaan dan diperiksa oleh dokter spesialis obstetri ginekologi. Tentu saja diwajibkan melampirkan surat dari kepolisian dalam hal ini.

“Maaf sebelumnya, apakah Mbak ini sudah menikah?” tanyaku berhati-hati saat melakukan anamnesa.

“Dia ini masih gadis loh, Sus. Kok pake ditanya, sih,” ujar seorang ibu berambut putih yang duduk di sisi Mbak-mbak tadi. Si Mbak yang kutanya hanya tersenyum saja.

Mereka ada di ruang kebidanan ini dengan tujuan pemeriksaan lebih lanjut. Pasien datang dengan keluhan perdarahan atau menstruasi yang tidak sesuai siklus dan lebih deras dari biasanya. Tampak wajah si Mbak, sedikit pucat, seperti sedang anemis.

Aku melengkapi data pada berkas resume medis si Mbak, sebelum menyerahkannya kepada Kakak bidan senior yang lalu melanjutkannya kepada dokter konsulen, bersama berkas pasien lainnya yang hendak dilakukan pemeriksaan. Setelah itu, kulanjutkan melayani pasien lainnya setelah sebelumnya meminta si Mbak menunggu.

“Dia ini masih gadis, Dok. Masih gadis!”

Kepalaku menoleh mencari arah sumber suara. Rupanya si ibu beruban tadi yang berteriak ke arah dokter yang sedang memberikan penjelasan kepadanya. Sang dokter mengisyaratkan sesuatu kepada seorang bidan senior di VK.

“Mari, Bu, saya tunjukkan sesuatu,” ujar bidan itu kepada si ibu beruban.

Penasaran  kudekati mereka. Saat sang bidan senior menunjukkan wadah kom besar berisikan gumpalan darah, wajah si ibu tampak terkejut. Kuintip isi kom tersebut. Tampaklah gumpalan darah yang terlihat jelas berbentuk sesosok janin. Artinya? Yup. Pasien yang kuanamnesa tadi ternyata perdarahan karena mengalami keguguran. Si ibu beruban yang merupakan ibu kandung mbak tadi, pun menangis.

Ada banyak cerita yang kualami sejak pertama menginjakkan kaki di ruang kebidanan ini. Kadang layaknya menonton sebuah drama di televisi, tapi kali ini real.

Beberapa hari berikutnya datanglah seorang perempuan yang hendak melakukan visum. Kulihat parasnya cantik, tinggi semampai. Tampaknya berusia 20-an, mungkin lebih muda dariku yang ketika itu belum menikah.

Aku tak banyak membantu ketika dokter melakukan pemeriksaan. Karena proses anamnesa hingga penulisan laporan hasil pemeriksaan visum harus dilakukan oleh dokter yang bersangkutan. Bidan hanya melakukan pendataan, merekap dalam buku laporan khusus bahwa ada klien yang melakukan visum pada hari dan tanggal sekian, diperiksa oleh dokter siapa, dan hasil pemeriksaannya apa.

Kadangkala efek penasaran, kusempatkan diri membaca tulisan dari dokter tersebut.

“Kalau mau sama mau mbok ya, enggak usah pakai visum,” keluh si dokter sambil menorehkan tandatangannya.

“Kenapa, Dok?” tanyaku ingin tahu.

“Yah, seperti biasa. Hasilnya jelas menunjukkan kalau si Mbak tidak diperkosa.”

Deg. Jantungku terasa berhenti berdetak. Apalagi tadi sempat kubaca hasil anamnesa dari klien tadi.

“Kelihatan jelas, ya Dok?”

“Hasil visum mana bisa dibohongi, Em. Kami, dokter, hanya menuliskan apa adanya, sesuai dengan hasil pemeriksaan. Ada tandanya kalau klien mengalami pemaksaan. Bukan seperti ini.” Sang dokter menutup laporannya. “Kalau menurut saya, daripada yang begini jadi diketahui banyak orang, lebih baik tidak usah lapor polisi. Enggak bisa dipakai buat menuntut juga, kan. Kebanyakan klien minta visum, karena tujuannya agar si lelaki mau bertanggungjawab. Bukan karena ingin si lelaki dipenjara, awalnya juga melakukannya bukan karena dipaksa, toh,” lanjutnya.

Kutarik napas panjang setelah dokter meninggalkan ruangan VK. Apa yang dikatakannya barusan memang ada benarnya. Sangat disayangkan. Tapi pengalaman ini bukan hanya terjadi satu-dua kali.

Well, apapun itu, tetap saja, aku bukan di posisi berhak untuk men-judge. Semoga keputusan si Mbak melaporkannya pada polisi sudah dipertimbangkan resikonya secara matang. Setiap orang kurasa pernah melakukan kesalahan, tapi hanya yang sanggup menghadapi kesalahannya dan memperbaikinya, yang menunjukkan ketangguhannya menjalani hidup di dunia.

“PB, PB, pasien preeklampsi.”

Aku tertegun saat pekarya dari UGD mendorong brankar dengan seorang ibu hamil di atasnya.

“Maaf, keluarga cukup satu saja yang di dalam. Kalau bisa suaminya, ya, sandalnya mohon dibuka,” ujarku kepada keluarga yang mengiringi pasien tersebut. Aku membantu si ibu hamil bergeser di bed VK.

Baru selesai melakukan pemeriksaan TTV, sekaligus anamnesa dan ANC kilat, aku laporkan kepada kakak senior bidan di VK. Kullihat beliau melaporkannya kepada dokter yang kemudian menginstruksikan terapi pasien preeklampsia sesuai dengan protap.

Aku menyiapkan obat injeksi yang diperlukan untuk membantu menurunkan tensi pada ibu hamil tersebut. Kasian kalau ibu hamil mengalami kenaikan tensi saat hendak melahirkan. Bisa rawan menimbulkan kejang yang ujungnya akan berbahaya bagi nyawa ibu termasuk bayi di dalam kandungannya. Maka sebaiknya proses persalinan pun berjalan tidak terlalu lama. Kenaikan tensi saat kontraksi adalah hal yang wajar, tapi jangan sampai membahayakan bagi sang ibu sendiri.

“Darahnya sudah diambil untuk pemeriksaan laboratorium?” tanya Kak Nur, bidan senior VK, padaku.

“Sudah, Kak, tinggal pemeriksaan urinnya yang belum.”

Untuk pasien dengan preeklampsia harus dilakukan pemeriksaan laboratorium lengkap termasuk kadar protein urin. Semakin pekat kadar protein berarti menunjukkan semakin tinggi tingkat preeklampsianya. Makanya ada istilah PER dan PEB. PER berarti preeklampsia Ringan, PEB berarti sudah berat dan menuju eklampsia. Disebut eklampsia kalau pasien sudah kejang.

Tak lama, kudengarkan lagi bagai siaran ulang, “PB, PB, sekaligus dua.”

Pekarya UGD tadi tak lama sudah kembali lagi dengan membawa pasien lainnya ke ruang VK ini. Bidan yang berjaga di VK menyambutnya. “Masih ada, Mas?” tanyanya pada pekarya tadi.

“Masih ada tiga lagi,” jawab pekarya itu.

Haha. Namanya juga rumah sakit pusat rujukan. Pasien kami selalu ramai setiap harinya. Selamat bertugas di ruang kebidanan, Em.

Bandar Lampung, 2 Juni 2020

12 Tahun Perjalananku (Part 1): Masa Orientasi

Inilah perjalananku 12 tahun bekerja di RS pusat rujukan episode masa orientasi:

Pertengahan tahun 2008

Bismillah. Kali ini kumantapkan niatan hati sembari melangkah di koridor rumah sakit ini. Sebuah rumah sakit yang tak pernah sepi dari pengunjung. Maklum saja, kalau sepi dari pengunjung bukan rumah sakit pusat rujukan namanya. Apalagi rumah sakit ini berada di pusat kota dan merupakan rumah sakit milik pemerintah. Beruntungnya aku terpilih untuk ditempatkan di sini.

Berawal sebagai SK CPNS yang keluar beberapa hari lalu. Masih teringat jelas pelantikan yang langsung diadakan oleh gubernur provinsi Lampung pada kami, calon pegawai negeri sipil yang berhasil lulus tes melalui jalur reguler. Ah, bayangan raut wajah ayahku yang bangga menambah haru. Aku benar-benar bahagia.

Walaupun ada beberapa keraguan yang sempat melanda. Sanggupkah aku bekerja di sini? Bisakah kubekerja dengan baik? Pantaskah aku menjadi satu-satunya dalam angkatan yang ditempatkan di RS ini sementara aku lulusan dengan IPK terendah di angkatanku? Leganya menjadi CPNS tak memperhatikan berapa IPK-mu saat kelulusan, tapi lebih kepada hasil tes tertulis yang diadakan. Terbukti saat bekerja, tidak ada yang menanyakan IPK-ku berapa. Yang ada hanya seputar pertanyaan, lulusan dari kampus mana, angkatan berapa, serta masih jomlo atau tidak. Hihi.

“Kalian dibagi dalam beberapa kelompok, lalu harus menjalankan orientasi sesuai dengan yang ditempatkan. Ada beberapa ruangan, meski tidak semua, kalian tempati. Tapi bekerjalah yang baik, anggap kalian bagian dari pegawai rumah sakit ini. Pasien mana tahu apakah kalian pegawai baru atau bukan. Maka, bekerjalah secara profesional.”

Kudengarkan secara seksama arahan dari Bu Yus, Kepala Bidang Keperawatan. Baiklah, Bu, aku akan berusaha dengan segenap hati. Kulantunkan meski hanya sebatas suara dalam pikiranku.

***

“Kalian hari ini masuk shift pagi semua, tapi mulai besok dibagi mengikuti shift kakak-kakaknya, ya.”

Aku mengangguk patuh perintah koordinator ruangan Instalasi Gawat Darurat. Fiuh, hari pertama bekerja langsung ditempatkan di gawat darurat. Lekas kumenyesuaikan ritme kerja di sini.

“PB, PB, ambil brankar.”

“Ambil termometer, periksa TTV.”

“Cari selang oksigen.”

“Geret EKG.”

“Pasien apnoe, siapkan ambubag.”

So, here I am. Enggak ada waktu untuk mengobrol dan berkenalan panjang lebar dengan kakak-kakak di UGD. Kulakukan semampu yang kubisa untuk membantu mereka. Bagaimanapun basic-ku bukan perawat. Kalau sekadar TTV atau pasang infus, aku bisa. Tapi penatalaksanaannya harus lebih banyak belajar.

***

Aku melepas lelah sejenak untuk meneguk air putih dan meluruskan kaki sejenak. Baru hari pertama, kakiku sudah lelah luar biasa. Menjadi petugas UGD, berarti harus siapkan tenaga ekstra, yang artinya, tahan untuk jarang duduk. Pasien datang silih berganti, harus segera ditangani. Belum sebagian besar pasien datang dalam kondisi kritis. Resiko rumah sakit pusat rujukan ya seperti ini. Kadang kondisi diperparah, karena pasien sudah lama berada di perjalanan, dari RS kabupaten yang bermil jauhnya dari sini.

Setelah kusempatkan menunaikan ibadah Zuhur di musala UGD, tanpa berlama-lama, aku kembali ke triase.

“Em, tolong bantu Kak Aan di sana, ada pasien plus.”

Ini juga merupakan hal yang harus kubiasakan, melakukan perawatan jenazah. Kukenakan handscun lalu mulai meraih kasa perban untuk kuikatkan pada kaki pasien. Pasien merupakan seorang bapak yang sudah berusia tujuh puluhan. Diagnosanya Stroke. Dia datang sudah dalam kondisi tidak sadar dan baru saja menghembuskan napas terakhirnya. Ada seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan sedang menangis, mungkin keluarganya.

“Keluarga Pak Abdul, mari ke bagian administrasi.” Kulihat perempuan itu mengikuti langkah Mas Irfan, bagian administrasi UGD. Duh, aku tak hanya harus hafal pasien di sini, tapi juga keluarganya, nih. Kuteruskan mengurus perawatan jenazah, sambil mengucapkan doa dalam hati. Takut? Tentu saja, tidak sempat terpikirkan olehku. Yang ada, dari satu pekerjaan langsung beralih ke pekerjaan lainnya. Dari satu pasien lanjut ke pasien lainnya.

Kadang juga kutemukan drama di ruangan ini. Misalnya saat yang menjadi pasien adalah seorang tawanan polisi, atau korban kecelakaan lalu lintas, korban pemukulan yang hendak melakukan visum, anak jalanan tanpa identitas, orang gila, yang terparah adalah pasien yang hendak melakukan suicide.

Masih jelas dalam ingatanku, saat memberi injeksi antibiotik pada pasien yang separuh sadar karena percobaan menggantung diri yang gagal. Alasannya: karena keinginannya untuk memiliki motor tidak dituruti oleh orang tuanya. Astagfirullah.

Tapi aku bukan pada posisi yang berhak men-judge. Aku sendiri juga terkadang merasa hidupku kacau. Ah, kadang aku dan beberapa pemikiranku yang berbahaya ini merasa tak pantas jadi tenaga kesehatan, apalagi tenaga inti seperti petugas UGD ini.

Pokoknya aku salut, deh, dengan ketangguhan seluruh petugas UGD. Kalian benar-benar berjasa mulia.

“Em, tolong bantu, pasien bumil.” Kudengar namaku dipanggil lalu kuikuti langkah kakinya menuju pasien yang baru datang.

Nah, kalau yang ini baru bidangku. Segera kubergegas sambil membawa tensimeter, doppler, untuk persiapan pemeriksaan ANC.

Masa orientasiku di UGD  tak lama, hanya setengah bulan. Setelah itu, kami dirolling ke ruangan lain. Satu kelompok terdiri dari empat orang. Kebetulan dalam kelompokku terdiri dari tiga orang bidan dan satu perawat. Tidak ada bedanya bidan maupun perawat, kalau sudah di lapangan pekerjaan. Masing-masing dari kami harus lekas menyesuaikan diri, menolong pasien sesuai SPO. Bahkan perawat laki-lakipun kena rolling di bagian Kebidanan contohnya.

Selain UGD, kami juga harus menjalani orientasi di ruang kebidanan, ruang bedah, ruang paru-paru dan ruang perinatologi (bayi). Tampak seru sekali, ya. Pasti akan beragam ilmu yang akan kudapatkan di sini. Tidak terbatas pada pengetahuan ibu dan bayi baru lahir saja.

Seperti di ruangan bedah, aku bertemu pasien anak lelaki yang harus menjalani sirkumsisi di ruang operasi. Iya, sirkumsisi atau biasa disebut khitan. Bukankah hal itu merupakan hal lazim yang dialami setiap anak lelaki, terutama muslim? Nah, tapi dikarenakan si pasien merupakan penderita hemofili, jadi dia harus diopname sekaligus menerima transfusi darah. Luar biasa.

Lalu, di ruangan paru-paru, aku harus memberanikan diri menghadapi penderita TBC. Kusampaikan pada setiap pasien baru di sana untuk pengambilan sampel dahak SPS. Oya, tentu tidak semuanya. Ruangan paru-paru terbagi menjadi dua sisi, bagian penyakit menular dan tidak menular. Kalau TBC termasuk penyakit menular, yang tidak menular di antaranya sakit asma atau bronkhitis seperti yang kupunya. Kalau di sini aku bisa melihat seorang pasien yang dilakukan , sebuah tindakan untuk mengeluarkan cairan dari paru-parunya.

Kalau di ruangan perinatologi, kami harus punya keterampilan merawat bayi, eit, bukan bayi sehat. Di sini kebanyakan bayi prematur, bayi sakit hingga bayi dengan kelainan bawaan. Jadi selain pemberian susu kami juga harus memperhatikan pemberian obat-obatan injeksi kepada bayi, sesuai dengan kebutuhannya. Obatan injeksi tentu beda dengan yang didapatkan orang dewasa. Kami harus bisa menghitung dosis yang tepat sesuai dengan berat badan si bayi. Wah, luar biasa. Begitulah, berbeda ruangan, berbeda ilmu yang kudapatkan. Yang akhirnya tiap jalan orientasi ini semakin memperkaya pengetahuanku. Hingga tiba saatnya aku sampai di ruang kebidanan. Kebetulan sekali kelompokku merupakan kelompook terakhir yang harus menjalankan orientasi di ruang kebidanan. Baiklah, aku siap melanjutkan perjuangan. Semangat, Em!   

Bandar Lampung, 1 Juni 2020