Dari Ruwetnya Mengurus Sebuah Pernikahan hingga Datangnya Hidayah (Review “Insya Allah, Sah!” Karya Achi TM)

Judul Buku: Insya Allah, Sah!

Penulis: Achi TM

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun: 2017 (cetakan kedua)

ISBN:

978-602-03-1465-5

Jumlah halaman: 328

Blurb:

Kenapa sih semesta ini seperti berkonspirasi mengacaukan persiapan pernikahan, Silvi?

Silvi terjebak dalam lift bersama Raka. Karena panik, Silvi bernazar akan memakai jilbab kalau bisa keluar dari lift. Masalahnya, bagaimana mungkin ia -desainer sekaligus pemilik Silviana Sexy Boutique yang beromzet miliaran- bisa memenuhi nazar untuk berjilbab? Gila aja, kan?! Tapi, menurut Raka nazar harus dipenuhi, kalau tidak, kesialan beruntun akan terus menimpanya.

Kekacauan urusan pernikahan Silvi ternyata tak kunjung kelar. Ketika Silvi rela mencoba berjilbab demi kelancaran urusan pernikahannya, ia mendapati kenyataan yang mengejutkan. Dion, calon suami Silvi, ternyata tak suka perempuan berjilbab dan mengancam akan membatalkan pernikahan mereka!

Kalau buku yang satu ini sangat bermanfaat bagi anda yang sedang mencari Soulmate sejati.

Waktu saya membaca novel ini, saya seperti terbawa dalam dunia Silvia yang cocok sekali dengan figur chicklit zaman now, yaitu perempuan sukses, single, mandiri, dan punya 3B banget-lah, Brain, Beauty, Behavior.

Cara penceritaan yang baik buat kita masuk ke karakter tokoh-tokohnya. Dari mulai Silviana, lalu Kiara; sahabatnya yang alim, Raka yang sifatnya selalu mengingatkan Silvi pada Kiara, serta Gina, adik Silvi yang karakternya mengingatkanku pada film-film “blondie“.

Kamu gak cuma bisa dapetin unsur komedi dan love story yang bikin deg-degan di sini. Tapi juga ada banyak nasihat-nasihat Islami yang diberikan sangat mulus. Santai tapi: jleb!

Contohnya pada potongan dialog ini:

“…kapan aku ada waktu buat shalat? I’m really busy, Kia.”

“Malaikat Izrail juga busy lho, Sil.”

Novel ini adalah salah satu bacaan yang bikin saya betah melek demi penasaran ending-nya bagaimana. Apalagi beneran deh, saya belum sempet nonton filmnya. Dan meskipun dapat sedikit spoiler dari seorang teman, tapi saya tetap penasaran dengan novelnya. Walau kamu udah nonton, saya tetap sarankan kamu untuk baca novelnya. Soalnya beda banget! Terutama penggambaran tokoh Raka.

Saya pribadi yang sempat senyum-senyum sendiri waktu baca cerita ini, tak urung sempat meneteskan air mata saat membaca bab-bab terakhir, khususnya Bab 26: Penentuan.

Sumber gambar: koleksi pribadi

Hikmah yang saya ambil dari novel ini antara lain:

Pertama, jodoh mengikuti siapa diri kita sebenarnya, jika ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka pantaskan dulu diri menjadi orang baik-baik.

Kedua, berdakwah itu bisa dilakukan berbagai cara. Kadang-kadang cara nyantai dan slow seperti yang dilakukan Raka maupun Kiara itu akan lebih mudah memasuki hati dan membuka pintu hidayah seseorang. Tanpa harus pakai acara tarik urat dan berdebat.

Ketiga, kekuatan tulisan itu ternyata mempunyai dampak yang begitu besar. Hidup Silvi sempat hancur karena berita infotainment. Begitu dia bangkit kembali dibantu tulisan seseorang di blog yang menceritakan dirinya. So, hati-hati sama penulis ya. Hohoho!

7 hal yang akan membuat anda berpikir ulang untuk menjadi seorang penulis

Dua buku novel favorit dari penulis yang sama

Still 17 (Thirty but Seventeen) Satu Lagi Drakor yang Dijamin Bikin Nangis

Sumber: Wikipedia

Judul: Thirty but Seventeen atau Still 17
Jumlah episode: 32

30 but 17 (Thirty but Seventeen) atau biasa dikenal dengan Still 17 adalah serial televisi Korea Selatan tahun 2018 yang dibintangi oleh Shin Hye-sun, Yang Se-jong dan Ahn Hyo-seop. Serial televisi ini mulai ditayangkan di SBS pada Juli 2018.
Sumber: Wikipedia

Still 17 berkisah tentang sosok Woo Seo Ri, seorang gadis berusia 17 tahun yang mengalami kecelakaan hebat dia mengalami koma sampai berusia 30 tahun. Maka tak heran setelah terbangun, Seo Ri masih bersikap seolah dia berusia 17 tahun.

Sementara itu Goong Wo Jin, seorang pria cuek dan hidup semaunya tenyata tak bisa terlepas dari trauma, dikarenakan dia begitu merasa bersalah telah menyebabkan gadis yang dicintainya (disangkanya) meninggal akibat kecelakaan. Yang ternyata hal ini salah besar.

Awal menonton ini saya jadi mengerutkan kening, masa sih ada orang yang bisa bangun setelah koma belasan tahun? Dan ketika bangun dia seolah tidak apa-apa?

Tapi, seperti drama Korea lainnya, meski ada hal yang tampak tidak masuk akal, namun pengarangnya pintar membumbuinya sehingga alurnya menarik hingga bisa diterima dengan baik.

Misal: setelah bangun dari koma panjang, Seo Ri gak langsung bisa berjalan, dia perlu menjalani proses fisioterapi dulu.

Karakter-karakter tokoh di drama ini juga bisa membuatmu jatuh cinta lho. Soalnya gak ada orang jahat. Semuanya tampak benar-benar manusia. Dan punya latar belakang yang jelas hingga menjadikan sikap tokohnya jadi seperti sekarang.

Tengok trailer Still 17 di sini yuk!

Contoh: karakter Jennifer, yang awalnya bikin saya geleng-geleng kepala dan merasa, gak mungkin deh ada asisten rumah tangga sepinter dia, eh ternyata ada alasan yang jelas kenapa dia memilih pekerjaan itu, dan ada latar belakang yang menjadikan dia sosok cerdas dan berkata-kata bijak.

Selain itu, ada hikmah yang menjadikan saya merenung saat menonton Drakor ini, sikap Seo Ri dalam membuat keputusan. Betapa dirinya sangat mencintai biola, mencintai musik dan bercita-cita untuk tampil di atas panggung dengan kebanggaan hingga hampir melupakan hal terpenting: menikmati musik itu sendiri.

Ya, hampir sama-lah dengan saya dan hobi saya (menulis). Jangan sampai dikarenakan tuntutan ego dalam diri, lalu memaksakan diri ingin lekas meraih impian hingga melupakan bahwa hobi seharusnya sesuatu yang kita nikmati bukan dilakukan di bawah tekanan.

Yang pasti Still 17 adalah satu dari sekian banyak drama Korea yang berhasil membuatku menitikkan air mata. Terutama saat sudah memasuki episode-episode terakhir. (Saat misteri tokoh-tokohnya sudah mulai terungkap)

Pingin nonton film lokal yang romantis? Dear Nathan Hello Salma aja!

Pokoknya saya jatuh cinta pada drakor ini. Gak keberatan kalau diajak nonton ulang. Dan saya, penggemar romance, sangat puas dengan plot twist-nya yang tidak disangka-sangka.

Sumber video: YouTube My K-song

Koleksi album sound track drakor Still 17

Swissvita Travel Kit, Serum Praktis Agar Kecantikan Tak Pudar oleh Usia

Aku di usia 30-an


Saya sadar, di usia yang sudah memasuki kepala tiga sudah saatnya saya lebih concern memperhatikan kebutuhan kulit, terutama wajah. Kenapa? Karena wajah adalah yang pertama kali dilihat saat bertemu orang lain.

Nah, kalau di usia 20-an, perempuan umumnya cemas dengan kemunculan jerawat. Lain halnya saat memasuki usia 30-an seperti saya, garis-garis halus di kulit akan mulai terlihat, bisa terjadi hiperpigmentasi, pori-pori membesar dan tak jarang kulit pun akan terlihat mudah kusam. Whaat?

Tenang, Ladies! Nggak usah panik! Semua masalah kulit itu bisa kita atasi kok, caranya begini:
1. Rajin bersihkan wajah setiap pagi setelah bangun tidur dan malam hari sebelum tidur.
2. Wajib menggunakan skincare. Usia 30-an sudah wajib menggunakan skincare sebagai perawatan wajah.
3. Wajib juga menggunakan night treatment atau perawatan wajah di malam hari untuk mendapatkan kulit wajah lebih lembut di pagi harinya.
4. Gunakan eye cream. Yup. Kondisi kantung mata sudah tak sekencang dulu setelah memasuki usia kepala tiga. Jadi, sudah wajib menggunakan eye cream ya, Ladies.
5. Rutin menggunakan masker dan scrub sebagai perawatan wajah tambahan minimal 2 minggu sekali. Tapi jika kulit wajah anda termasuk sensitif maka gunakan scrub wajah minimal 1 minggu sekali.

Sudah jelas kan, pentingnya melakukan perawatan pada wajah, termasuk serum dan eye cream.
Untuk serum wajah sendiri manfaatnya antara lain:
1. Melembabkan kulit wajah
2. Mencegah pengaruh buruk dari polusi dan sinar matahari
3. Mengurangi minyak berlebih
4. Mencegah penuaan dini
5. Menyamarkan bintik gelap di wajah

Wah, semua keluhan wajah di usia kepala tiga bisa teratasi nih dengan rajin mengaplikasikan serum muka.

Swissvita Travel Kit dari Allyoung

Kurang lebih sejak sebulan lalu saya mencoba produk perawatan wajah dari Allyoung. Tepatnya Swissvita Travel Kit yang berisi paket serum untuk wajah dalam kemasan mungil dan unik. Apa saja sih isinya travel kit ini?

Saya jelaskan ya …. Jadi, paket Swissvita Travel Kit ini terdiri dari sebagai berikut:
1. Micrite 3D all use skin serum (5 g), yaitu serum multiguna yang akan mengurangi kulit kusam, melembabkan dan mengembalikan kembali kulit bercahaya anda hanya dalam 7 hari. Serum ini bisa digunakan untuk semua jenis kulit. Aplikasikan pada seluruh wajah setelah dibersihkan, hindari daerah mata dan sekitar mulut ya.

2. Micrite 3D all use anti spot serum (5 g), yaitu serum yang membantu menyamarkan noda dan mengembalikan warna kulit seperti sedia kala mencegah pigmentasi kulit, melembabkan dan meratakan warna kulit. Serum ini bisa diaplikasikan hanya pada kulit wajah yang membutuhkan ya.

3. Micrite 3D all use whitening serum, krim ini diformulasikan khusus untuk membantu mencerahkan dan meratakan warna kulit, tanpa menyebabkan iritasi. Kulit menjadi lebih cerah dan bebas dari kusam. Seperti all use skin serum, whitening serum ini juga bisa digunakan di seluruh wajah, dengan tetap menghindari area sekitar mata dan mulut.

4. Micrite 3D all use anti wrinkle serum, kalau yang ini serum yang diformulasikan khusus untuk memperbaiki masalah penuaan dini. Gunakan hanya di area wajah yang membutuhkan ya.

5. Micrite 3D all use swissvita eye cream, bermanfaat untuk mengencangkan dan menghaluskan kerutan di area sekitar mata hanya dalam 7 detik. Sesuai namanya tentunya digunakan di sekitar mata, kelopak mata atas dan bawah.

Wah, menarik sekali kan. Dan sesuai namanya juga travel kit, tentu harus available untuk dibawa berpergian. Makanya kemasannya pun menyesuaikan. Lihat saja. Dan saya pun suka sekali bentuk tube-nya yang memudahkan kita mengendalikan saat mengeluarkan serumnya, supaya tidak terlalu banyak keluarnya.

Kemasan serum yang unik

Produk perawatan kulit ini diproduksi dari PT. Allyoung International Indonesia yang masih bernaung di bawah Allyoung International. Allyoung international ini merupakan perusahaan terbesar di Asia Tenggara dan Taiwan yang sudah meluaskan penjualannya hingga ke Indonesia, terpusat secara online yang mana produknya berpusat di kategori Skincare, Healthcare dan Fitness.

Day 1 bersama Swissvita Travel Kit

Kelebihan produk Allyoung antara lain:
1. 100% asli.
2. Rata-rata pengiriman 3-5 hari kerja saja. Bahkan pengiriman ke tempat saya di Bandar Lampung pun tak lebih dari tiga hari, barang sudah sampai di tangan.
3. Garansi kualitas karena dikemas dalam aluminium tube sehingga terjaga kualitas dan kesegaran produknya.
4. Harga yang terjangkau
5. Excellent customer service 24 jam merespon. Ladies bisa menghubungi customer service melalui instagram, facebook, line maupun pada website-nya.

Mottonya pun sangat unik:

Allyoung make you always young

Day 14 bersama Swissvita Travel Kit

Nah, kalau manfaat yang saya rasakan pribadi selama pemakaian Swissvita Travel Kit apa sih?
Antara lain ini dia:
1. Krimnya sangat ringan dan tidak lengket. Langsung menyatu di kulit wajahku yang cenderung berminyak. Jadi tidak terasa berat di muka.
2. Wajah terlihat lebih cerah setelah pemakaian rutin all use skin serum dan whitening serum.
3. Eye cream-nya membantu memullihkan mata sembab akibat kebiasaan begadang
4. Noda hitam mulai memudar karena pemakaian anti spot serum-nya
5. Setiap pagi kulit wajahku terasa lebih lembut karena pemakaian serum di malam harinya menjelang tidur. Jadi semakin percaya diri keluar tanpa make-up deh.

Swissvita Travel Kit dari Allyoung Muslima

Gimana? Penasaran pingin cobain produk ini?
Langsung saja berkunjung ke Website-nya yuk: https://www.allyoung.co.id

Bisa juga lewat Instagram: https://www.instagram.com/allyoung.id/
dan https://www.instagram.com/allyoung.muslima/

Facebook: https://www.facebook.com/Allyoung-Muslima_253862751938707/
Atau juga Line: @allyoungindonesia

Oya, saya juga punya voucher lho dari produk allyoung ini. Asyiik, karena serum saya sudah pada kehabisan, saya mau pesan lagi ahh. Yang mau ikutan pakai voucher, boleh kontak saya ya. Berbagi itu indah. Eaaa

Voucher dari Allyoung Muslima

Mencermati Hikmah dalam Film “Dear Nathan Hello Salma” dari Sudut Pandang Orangtua

“Dear Nathan Hello Salma” (sumber gambar: sidomi)

Judul film: Dear Nathan Hello Salma
Sutradara: Indra Gunawan
Pemain film: Amanda Rawles, Jefri Nichol, Devano Danendra dan Susan Sameh
Rilis: 25 Oktober 2018

“Dear Nathan Hello Salma” merupakan film drama remaja Indonesia yang juga sekuel dari Dear Nathan (sumber: Wikipedia). Film ini masih berkisah tentang sosok remaja yang bisa dibilang nakal namun mempunyai sisi baik dalam dirinya. Nathan yang awalnya berpacaran dengan Salma lalu mereka putus karena kelakuan Nathan yang masih saja suka berkelahi. Karena perkelahian itu juga Nathan memutuskan pindah sekolah. Di sekolah barunya dia bertemu dengan Rebecca, seorang siswa yang sering bermasalah di sekolah lantaran latar belakang keluarganya yang berantakan. Sementara di sisi lain, Salma dipertemukan kembali dengan Ridho, teman masa kecilnya.

Waktu pertama saya memutuskan nonton ini, saya pikir sekedar untuk hiburan saja tak apalah. Saya sempat mengira bahwa isinya seputar cerita cinta anak muda, anak SMU yang belum banyak kenal lika-liku kehidupan. Apalagi saya akui saya belum pernah baca novelnya. Jadi saya sempat berpikir dah ketuaan ya nonton genre teenlit. 😅

Dan ternyata, saya salah besar. Menonton film ini tidak hanya buat hiburan semata, tapi juga banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.

Nonton film pilih yang berkualitas, baca fakta tentang perfilman Indonesia di sini

Dari mulai mempelajari bagaimana para remaja ini menyelesaikan masalah mereka masing-masing bahkan tanpa bantuan orangtua.
Bagaimana cara mengatasi masalah dan menerima kondisi hidup kita sekacau apapun keadaannya (tengok saja kisahnya Rebecca di film ini).

Bagaimana cara mengelola perasaan cinta agar jangan sampai menyakiti hal yang paling berharga, yaitu keluarga (seperti yang dikatakan Nathan kepada orangtua Salma)

Dan yang paling berkesan karena satu adegan yang sukses membuat saya berurai air mata. Yang mana yaa?

Film animasi pun juga banyak mengandung hikmah loh, salah satunya ini

Yang pasti adegan ini menyadarkan saya, sulitnya menjadi orangtua. Betapa sulitnya menghadapi anak-anak kita ketika mereka sudah beranjak remaja.

Kita mesti membimbing namun tanpa menyuapi. Kita selayaknya memberi ruang untuk anak-anak kita agar mereka belajar berani mengambil keputusan, belajar mengatasi masalahnya sendiri. Dan yang tak kalah penting bagi semua orangtua agar mendukung passion anak-anak kita meskipun kadang berlawanan dengan keinginan kita.

Tiket “Dear Nathan Hello Salma” Hari Jumat, 26 Oktober 2018

Mari kita simak salah satu nasihat yang diberikan orangtua Nathan:
“dalam hidup ada lima fase ketika kita dihadapi masalah/ujian;
yang pertama ngeyel atau bahasa kerennya denial, kita mengingkari diri sendiri bahwa kita punya masalah,
Yang kedua; marah, kita salahkan semua, kita lampiaskan emosi pada siapapun termasuk marah pada diri sendiri,
Yang ketiga; nawar, kita lakukan tawar-menawar terhadap masalah kita,
Yang keempat; depresi, di titik ini seolah kita tak menemukan jalan keluar dari masalah kita hingga akhirnya tertekan,
Baru yang terakhir: ikhlas. Saat ini kita sudah acceptance dengan kondisi yang kita hadapi.”

Benar-benar menarik bukan, dari sebuah film begitu banyak nasihatnya tak hanya untuk remaja, tapi juga saya pribadi sebagai orangtua. Dan saya semakin terkejut lagi saat mengetahui ternyata film ini diangkat dari sebuah novel yang ditulis oleh Erisca Febriani, seorang penulis dari Lampung.

Masya Alloh! Bertambah lagi satu alasan yang memicu saya untuk mengikuti jejak mereka yang sudah sukses sebagai penulis, apalagi novelnya sudah difilmkan. Luar biasa!

Bukan Sensornya yang Diperketat, Melainkan Nontonnya yang Dipilah (Review Talk Show “Budaya Sensor Mandiri Bijak Membentuk Generasi”)

Talk Show “Budaya Sensor Mandiri Bijak Membentuk Generasi”

Hari Kamis lalu, tanggal 11 Oktober 2018, saya berkesempatan menghadiri acara Talk Show “Budaya Sensor Mandiri, Bijak Membentuk Generasi”. Bertempat di Gummati Cafe, acara ini diselenggarakan oleh Tapis Blogger bekerjasama dengan Lembaga Sensor Film Republik Indonesia.

Tapi gak cuma blogger yang boleh hadir di acara ini loh, untuk publik juga. Udah gitu free lagi. Dan banyak ilmu yang saya dapatkan dari acara ini.

MC keren, Mbak Novi Nusaiba

Pembicara dari LSF, mbak Ni Luh Putu Elly Prapti

Acara ini dibuka oleh MC keren, Mbak Novi Nusaiba, lalu lanjut ke acara inti. Kita mulai dari LSF ya ….

Apa sih LSF itu? Dan apa tanggungjawab LSF?
Menurut pembicara, Mbak Ni Luh Putu Elly Prapti Erawati, M.Pd., LSF dengan kepanjangannya Lembaga Sensor Film bertugas melakukan pengeditan pada film sebelum tayang ke publik. LSF ini fokusnya di film dan iklan film. Kalau untuk acara berita di tipi yg menyensor bukan LSF, tapi kominfo.

Sumber gambar: grup Tapis Blogger

Di awal sebelum memberikan materi Mbak Ni Luh menanyakan kami, lebih suka nonton film apa sih? Film yang bernilai edukasi tinggi atau yang kurang nilai edukasinya? Spontan deh para peserta menjawab lebih suka film yang edukasinya tinggi. Apa benar?

Kondisi sekarang, kebanyakan masyarakat lebih memilih film horror, sedikit nilai edukasi dibandingkan film yang kaya nilai edukasi. Nah, ini dia, beliau menunjukkan buktinya.

Film “HOS Cokroaminoto” penontonnya hanya sekitar 26000

Film “RA Kartini” penontonnya hanya sekitar 500000

Film “Terowongan Casablanca” mencapai jumlah penonton 900000

Film “Pengabdi Setan” mencapai jumlah fantastis yaitu 4 juta penonton.

Me in action (Budaya Sensor Mandiri Bijak Membentuk Generasi)

Luar biasa sekali ya, penggemar film horror. Padahal berapa sih bujet yang diperlukan untuk membuat film tersebut?

Ini perbandingannya:
Film “Cokroaminoto” dengan jumlah penonton hanya 26K, bujetnya mencapai 15 M

RA Kartini” dengan penonton hanya 500K bujetnya 12 M

Pengabdi Setan” yang penontonnya 4 jeti, bujetnya hanya 2 M

Kuntilanak” penontonnya 1200000 bujetnya hanya 3.5 M

Wah, ternyata jauh lebih murah biaya produksi film horror dibandingkan film edukasi. Sementara penontonnya membludak. Gak sebanding dengan film edukasi. Ada rentang jarak cukup jelas antara biaya produksi dan penonton.

Nah, makanya itu, gak heran sangat sedikit film edukasi yang tayang di Indonesia. Udah capek-capek bikin film bermanfaat, eh yang nonton dikit. Sementara film
horror selalu dan selalu ada di bioskop.

Trus, gimana dengan kondisi TV?
Kurang lebih kondisi TV begini:

Masih banyak acara tak bermanfaat di TV

Film-film yang laris masih seputar sinetron, trus film luar negeri. Acara religi hanya sekitar 2%, anak-anak 11%, dll.

Tapi sebenarnya beda juga tayangan TV dengan tayangan bioskop. Kalau Di TV tidak banyak pilihan, lain hal dengan menonton di bioskop yang harus mempersiapkan bujet, waktu, dsb. Jadi kalau acara di TV rating film tertentu tinggi, bisa jadi itu karena penonton gak ada pilihan lain, semata-mata cari hiburan. Lah kalau bioskop, niat banget mau nonton.

Maka dari itu, perlu adanya sinergi antara LSF dan masyarakat. Masyarakat-lah yang perlu diedukasi untuk mendukung tontonan baik dan mengurangi (kalau bisa meninggalkan) tontonan tak baik. Kalo gak ada “demand” pastinya gakkan diproduksi kan.

Tugas LSF itu terkait erat dengan pemerintah, yaitu seperti tercatat pada UU 33 tahun 2009 pasal 57 ayat 2 :
1. Melakukan penyensoran film dan iklan film sebelum dipertunjukkan ke khalayak;

2. Melakukan penelitian dan penilaian judul, tema, gambar, adegan, teks dalam film.

3. Melakukan pengklasifikasian tontonan sesuai usia.

Bila terlalu ketat pengeditan yang marah adalah produksi film, LSF akan dikatakan mengekang kebebasan berkreasi.

Ini dia kategori rentang usia film:
SU atau segala umur, film dengan kategori ini aman ditonton anak-anak.
13 th , kalau yang ini film yang cocok ditonton usia remaja.
17 th, yang ini film khusus yang punya KTP ya.
21 th, nah apalagi yang ini, biasanya sudah ada adegan syur.

Mbak Ni Luh juga mengatakan di luar negeri tidak ada sensor film loh. Film kreatif apapun boleh-boleh saja. Tapi lebih kepada mengetatkan ke klasifikasi usia.

Perkembangan anak-anak sekarang tergantung apa sih?
Kalau zaman dulu, mungkin seperti ini urutannya:

Orangtua
Guru
Teman
Lingkungan sekitar

Zaman sekarang peran influencers sudah sejajar dengan peran orangtua. Jadi urutan di atas ditambah dengan influencers.

Pilihlah film yang beredukasi tinggi

Nah, setelah ini Mbak Naqiyyah Syam, selaku founder Tapis Blogger juga turut memberikan materi.

Beliau menanyakan, menonton film itu kebutuhan atau keinginan? Kalau kebutuhan, sebaiknya mempertimbangkan nilai-nilai dalam film tersebut. Film horror kita ketahui, sangat sedikit nilai edukasinya.

Mbak “Naqiyyah Syam” ikut memberikan materi

Apa aja sih dampak buruk menonton film? Terlebih untuk anak-anak, karena perkembangan otak anak lagi pesatnya dalam usia dini. Semestinya di bawah usia 10 tahun jangan diberikan TV. Apalagi kalau ada tayangan porno.

Ini dia dampak buruk dari menonton film porno:
1. Tidak bisa menundukkan pandangan
2. Melihat aurat dengan bebas
3. Membuat ketagihan
4. Terus melekat di pikiran
5. Berujung pada onani
6. Terbuang waktu dan uang sia-sia
7. Daya kerja otak berkurang
8. Pengaruh rusaknya otak
9. Dampak jelek aktivitas seksual

Berikut tips dari Mbak Naqi, terutama bagi orangtua untuk menangkal pengaruh buruk film pada anak:

  1. Mendampingi anak saat menonton film
  2. Alihkan kegiatan lain yg positif, baca buku, dst (menjadi blogger salah satunya, eaaa)
  3. Orangtua layaknya jadi contoh yg baik
  4. Lingkungan, kita ajak lingkungan turut peduli

Kalau ini contoh film yang baik, untuk anak: “Petualangan Sherina“, “Laskar Pelangi“, “Garuda di Dadaku“. Yang mana yang pernah kamu tonton?

Lalu, hal yang bisa kita (pada umumnya) lakukan juga nih, contoh yaa:

  1. Cerdaslah memilih film. Saring sebelum share.
  2. Share bila sudah menonton film baik. Bisa dengan foto tiket, masukin IG. Bikin temen2 kita penasaran dengan film tersebut.
  3. Nonton di awal tayangnya dalam waktu secepatnya, supaya tidak turun layar. Ini penting ya!
  4. Khusus untuk blogger, review film di-blog ya. Yang belum nge-blog juga bisa sedikit-sedikit nulis di sosmed. Ingat, no spoiler!

Dari kiri ke kanan, Mbak Naqiyyah Syam, Mbak Ni Luh Putu Elly Prapti, dan Mbak Novi Nusaiba

Setelah itu ada sesi tanya jawab yang seru, saya rangkum sedikit ya:

“Sudah ada LSF kok masih ada film yg ada adegan syur, apakah tidak disensor?”

Berikut jawaban mbak Ni Luh: “UU yang dipakai LSF sangat lama berharap semoga setelahnya pemerintah segera menerbitkan UU terbaru yang mengatur ini.

Perlu adanya edukasi di masyarakat. LSF di satu sisi ingin banyak mengedit namun di sisi lain sudah dinilai terlalu ketat mengekang produksi film.”

Semestinya masyarakat yang sadar dan memilah mana yang boleh dan tidak untuk anak-anak. Kalau acaranya tidak cocok untuk anak-anak ya jangan nonton sama anak-anak.

Di luar negeri pun ada keluarga yg tidak punya tivi jika ada anak kecil di dalam keluarga tersebut. Sekalipun ada tivi ada segmen sendiri khusus untuk anak, contohnya Nickelodeon, Baby TV, dll.

Selain sesi tanya jawab, juga ada pembagian door prizes. Wah, liat tuh banyak sekali door prizes-nya. Jelas saja, soalnya acara ini punya banyak sekali sponsor, seperti:

    1. Gummati Cafe
    2. FLP Bandar Lampung
    3. Thasya Busana
    4. Al Mitry Indo
    5. KOPFI Lampung
    6. Keripik Pisang Aroma Sejati
    7. Perut Bulat Cafe
    8. Papa Tom’s Cafe
    9.Famedia Publisher

Dari pemenang kuis, lomba foto di instagram dan juga untuk para penanya di sesi tanya jawab, banyak sekali yang dapat door prizes. Wah, selamat untuk yang dapat hadiah.

Sumber gambar: grup Tapis Blogger

Sumber gambar: grup Tapis Blogger

Setelah itu, di akhir acara ada foto bersama seluruh peserta. Ini dia.

Sumber gambar: grup Tapis Blogger

Sumber gambar: grup Tapis Blogger

Wah, beruntung sekali kan aku bisa ikutan acara ini. Selain dapat ilmu, dapat sertifikat juga, banyak ketemu teman-teman baru, eh dapat makan siang gratis lagi.

Jadi, buat kamu, para blogger berdomisili atau stay di Lampung atau juga pernah tinggal di Lampung, nggak ada ruginya loh ikutan Tapis Blogger . Dari hobi menulis kamu bisa dapetin banyak manfaat. Kalau buat saya pribadi manfaat jadi anggota Tapis Blogger bisa kamu baca di sini . Sst, dapetin juga tips meningkatkan follower Instagram di situ (uhuy). Yuuk, gabung bersama kami 😘

#TapisBlogger
#BloggeLampung
#LSFXLAMPUNG
#BudayaSensorMandiri

Sebuah Novel Teenlit Unik Berlatarbelakang Gempa di Yogyakarta (Review “57 Detik” karya Ken Terate)

57 detik karya Ken Terate

Judul buku: 57 Detik

Penulis: Ken Terate

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun: 2009

Jumlah halaman: 234 halaman

Sinopsis:

Aji, Ayomi, Nisa adalah remaja “biasa”, kayak kita-kita gitu deh. Mereka mengaku kadang bosan dengan hari-hari mereka. Sekali-kali mereka pengin juga mengalami kejadian seru. Tapi tentu saja bukan seru yang menyengsarakan seperti GEMPA. Namun itulah yang terjadi!

Gempa itu tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya. Cuma 57 detik tapi akibatnya begitu mengerikan. Petualangan luar biasa terpaksa mereka jalani.

Sebenarnya awalnya saya pinjem buku dari ipunas karena penasaran dengan karyanya beliau ini. Maklumlah saya kan rada kudet, jadi tak banyak tahu tentang penulis kecuali yang sudah pernah saya baca bukunya dan berkesan (hihihi). Dan kebetulan ini karya pertama Ken Terate yang saya baca.

Ken Terate, Penulis

Berikutnya, wah, ada tiga kesan pertama yang tersirat di benak setelah membaca novel berlatarbelakang gempa di Yogyakarta ini:

1. Gile, bahasanya asyik banget. Belum-belum saya udah terbawa seolah saya jadi tokoh utama dalam cerita ini. Meskipun tokohnya beragam dan mempunyai karakter yang berbeda-beda. Apalagi novel menggunakan PoV 1 atau sudut pandang orang pertama setiap tokohnya.

2. Ngasuh anak itu susah, bener deh. Duh kayaknya gak siap deh kalau anak saya tiba-tiba jadi teenager mendadak seperti si Nisa. Tapi jangan sampai juga jadi orangtua seperti orangtuanya Ayomi. Ck ck ck. Tapi seiring membaca lebih banyak lagi jadi semakin terharu, hiks.

Kalau novel satu ini akan membuatmu lebih menghargai hidup. Baca reviewnya yuk!

3. Wahh, baca ini jadi mengingatkan masa lalu saya. Pas banget pertama saya pakai hijab waktu SMU tuh ya, saya kan penggemar nasyid, dari snada, hijjaz, the fikr, the zikr, dll. Brasa Aisyah di buku ini mirip karakter saya dulu deh. Tapi dia mah lebih lembut, maklum anak pondok. Lah saya slengekan kayak Nisa, cuma luarnya aja kayak Ais. Duh. Mudahan dulu gak ada yg ter-zholimi dengan diri saya. Hiks. Tapi ya itu, setelah baca ke belakang-belakangnya jadi tambah terharu.

Belum lagi kata-kata Aji, “terlambat! Gue selalu grogi kalau identitas gue sebagai mahasiswa kedokteran tersingkap.”

Wah, kita kok sama ya. Saya juga gak nyaman kalo orang tahu identitas saya sebagai bidan. Apalagi sekarang, saya sudah benar-benar ambil keputusan beralih dan menjalani yang sesuai passion saja meski resikonya gak sedikit.

Anyway, memanh banyak sekali quotes yang jleb dalam buku ini. Seperti ucapan Ayomi, “aduh murahnya harga pertemanan. Hanya dengan semangkuk mi ayam sudah membuat mereka lengket padaku.”

Atau ucapan Aji, “emak, betapa mudahnya memanipulasi para emak.”

Atau kata-kata jleb Nisa yang mudahan menyadarkan kita para orangtua, “yang aku tidak mengerti kenapa anak-anak harus mengerti perasaan orangtua mereka? Memangnya anak-anak tidak bisa stres?”

Cover belakang “57 Detik” karya Ken Terate

Selanjutnya apa lagi? Udah selesai? Beluum. Itu baru tentang karakter tokoh-tokohnya. Plot akan semakin menegangkan ketika latar belakang gempa dimulai. Showingnya yang mantap jadi buat saya seolah-olah menyaksikan langsung di depan mata. Wah, seru deh pokoknya.

Apalagi dalam novel ini juga menyajikan foto-foto real dari berita gempa di Yogyakarta itu sendiri. Jadi benar-benar brasa nyata banget kan ya.

Jadi gimana kondisi tiga tokohnya, Nisa, Ayomi dan Aji setelah gempa? Well, baca sendiri aja deh. Lagian saya bacanya free kok. Dari ipunas. Eaa …. Selamat membaca!

Buku yang Membantu Anda dalam Pencarian Soulmate Sejati (Review “Jangan Salah Pilih Pasangan” Karya Ayah Edy)

“Jangan Salah Pilih Pasangan” karya Ayah Edy

Judul Buku: Jangan Salah Pilih Pasangan

Tagline: Temukan Soulmate Sejatimu

Penulis: Ayah Edy

Penerbit: Noura (PT Mizan Publika)

Cetakan: 2017

ISBN: 978-602-385-325-0

Sinopsis:

Kapankah saya akan bertemu pujaan hati?

Kriteria apa yang digunakan untuk memilih pasangan hidup?

Bagaimana saya bisa tahu kalau dia memang yang terbaik?

Apa yang harus dilakukan jika ada ketidakcocokan dengan calon pasangan?

Bagaimana jika hubungan saya dan dia tidak direstui orangtua?

Sederet pertanyaan muncul ketika akan memilih pasangan hidup. Karena dia yang akan menemani kita seumur hidup, dalam suka dan duka, hingga ajal menjemput.

Jangan sampai keliru memilih pasangan akibat ketidaktahuan, tekanan lingkuna, atau dorongan cinta sesaat yang membutakan hati dan kenyataan. Memilih pasangan yang salah tak hanya menyengsarakan, tetapi juga mengorbankan anak-anak kelak, dan menghancurkan keluarga.

Ayah Edy mempersembahkan buku ini untuk siapa pun yang sedang mencari belahan jiwa. Buku ini menjawab segala kegalauan dalam mewujudkan mimpi: menemukan soulmate sejati.

Daftar Isi “Jangan Salah Pilih Pasangan”

Ini adalah buku yang wajib dibaca bagi kalian yang sedang dalam pencaharian pasangan jiwa. Bahasanya mengalir tidak terkesan menggurui, menyajikan contoh-contoh yang brasa liat orangnya langsung, seperti live show. Jadi terasa sangat nyata.

Lihat saja bab-babnya, ada “PDKT yang Sehat itu Penting!”, “Oh Soulmate-ku, Di manakah kamu?’, “Pilah-Pilih Pasangan Hidup”, ‘Kapan Nikah’, dll. Yang kesemuanya akan membantu kita membuka mata, oh ternyata seperti ini tho. Sehingga nantinya akan meminimalisir kesalahan cari jodoh.

Buku ini juga menyajikan lembar pertanyaan yang harus didiskusikan bersama pasangan sebelum menikah. Jadi bisa langsung dipraktekkan dan menemukan solusi setelahnya. Apakah take it or leave it.

Lalu bagaimana dengan yang sudah menikah? Tenang saja, baca buku ini juga akan membantu mengembalikan keharmonisan rumah tangga. Gak ada hal yang nggak bisa dibicarakan baik-baik.

Baca juga: Review “Rooftop Buddies”, buku yang akan membuatmu semakin menghargai hidup.

Kita bisa meniru langkah Ayah Edy dalam buku ini, yaitu secara teratur bersama pasangan sama-sama membuat list kekurangan masing-masing yang perlu diperbaiki. Kadangkala kita merasanya karena sudah hidup bersama bertahun-tahun, hal yang kita anggap biasa, ternyata bisa menjadi masalah buat pasangan kita. Dengan membuka hati dan pikiran dan mengakui kekurangan kita serta berusaha memperbaikinya dijamin ke depannya hubungan dengan suami/istri kita akan menjadi harmonis. Lakukan hal ini secara berkala ya!

“How I met your mother” adalah film drama keluarga yang akan mempererat hubunganmu dengan pasangan.

Satu lagi yang saya sukai dari buku ini, karena terdapat lirik lagu di setiap pembuka bab demi bab. Sehingga sering kali saya seolah sedang mendengarkan lagu yang liriknya tertuang di sana sambil membaca buku ini. Akhirnya, tanpa sadar saya bisa mengelarkan buku ini dalam beberapa jam saja, di selingan waktu bekerja.

Wah, pokoknya nggak akan menyesal deh udah beli buku ini. Saya malah jadi penasaran dengan serial Ayah Edy yang lain nih.

Cover belakang “Jangan Salah Pilih Pasangan”

Ketika Dua Remaja Dipersatukan oleh Keinginan Bunuh Diri (Review “Rooftop Buddies” karya Honey Dee)

Rooftop Buddies karya Honey Dee

Judul: Rooftop Buddies

Penulis: Honey Dee

Genre: Young Adult

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbitan: 2018

ISBN: 978-602-03-8819-9

Sinopsis:

Buat Rie, mengidap kanker itu kutukan. Daripada berjuang menahan sakitnya proses pengobatan, dia mempertimbangkan pilihan lain. Karena toh kalau akhirnya akan mati, kenapa harus menunggu lama?

Saat memutuskan untuk melompat dari atap gedung apartemen, tiba-tiba ada cowok ganteng berseru dan menghentikan langkah Rie di tepian. Rie mengira cowok itu, Bree, ingin berlagak pahlawan dengan menghalangi niatnya, tapi ternyata dia punya niat yang sama dengan Rie di atap itu.

Mereka pun sepakat untuk melakukannya bersama-sama. Jika masuk dunia kematian berdua, mungkin semua jadi terasa lebih baik. Tetapi, sebelum itu, mereka setuju membantu menyelesaikan “utang” satu sama lain, melihat kegelapan hidup masing-masing … Namun, saat Rie mulai mempertanyakan keinginannya untuk mati, Bree malah kehilangan satu-satunya harapan hidup.

Rooftop Buddies karya Honey Dee

Saat membaca novel ini, dari paragraf pertamanya saja sudah menyedot perhatianku. Aku jadi penasaran dan berpikir, “wah, terusannya apa nih?”

Tak banyak cerita yang menyorot “keinginan suicide“. Bagaimana Rie dan Bree, dua remaja yang sama-sama mempunyai alasannya pribadi dan masuk akal untuk mengakhiri hidupnya. Rie dengan penyakit kankernya, yang berpikir toh hidupnya tak akan lama. Dan Bree yang memiliki latar belakang hidup yang begitu kacau.

Mak Oney telah menghadirkan alasan yang masuk akal, karakter tokoh yang jelas serta showing yang mantap. Saya benar-benar terlarut hingga menitikkan air mata.

Coba baca saja, satu kalimat yang diucapkan salah satu tokoh di buku ini:
“Buat dia, semua yang terjadi itu sudah ditulis di takdir. Kalau memang usianya cuma sampai delapan belas tahun, ya mau bagaimana?”

Yup. Tak hanya kehadiran dua tokoh ini yang menjadikan ceritanya menarik tapi juga karena karakter tokoh lainnya. Ada Devon, pemuda tampan yang juga penderita kanker. Lalu ada juga kata-kata bijak dari Marina yang “dalem” menurut saya:
“Ada beberapa anak yang memutuskan bunuh diri karena emosi sesaat. Bukan berdasarkan perhitungan matang. Biasanya untuk kasus seperti itu dia akan cepat pulih begitu merasa berada di suasana nyaman.”

Me and Rooftop Buddies

Begitu banyak hikmah yang terkandung di dalam buku ini. Tak hanya persahabatan yang disisipi kisah roman layaknya genre young adult.

Nuansa kekeluargaan yang begitu kental dihadirkan akan membuat kita tersadar betapa orangtua sanggup berbuat apapun, berusaha semaksimal mungkin untuk anak-anak mereka, sebagai tanda cinta yang tulus.

Yang terpenting adalah bagaimana “Rooftop Buddies” sanggup mengingatkan pembaca untuk berusaha menjaga semangat hidup masing-masing bahkan di tengah situasi terburuk sekalipun. Begitu masuk akal, karena ternyata sang penulis sendiri pun juga pernah didiagnosa kanker.

Pokoknya, baca saja kisahnya langsung ya teman-teman. Dijamin gak bakal nyesel! Apalagi seluruh keuntungan penjualan buku ini akan disumbangkan ke penderita kanker. Pantaslah kalau buku ini akhirnya menjadi best seller ketiga Gramedia. Yeayyy!

Best Seller Ketiga Gramedia

Cinta Bersemi untuk Seorang Teman Lama (Review “This Kiss” karya Teresa Southwick)

“This Kiss” by Teresa Southwick

Judul: This Kiss (Ciuman Ini)
Penulis: Teresa Southwick
Terbitan: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 252 halaman

Sinopsis:
Dev Hart benar-benar terpesona ketika Hannah datang ke peternakannya. Gadis superpintar yang dulu canggung dan berkacamata tebal itu telah berubah menjadi wanita dewasa. Sekarang dia adalah dr. Hannah Morgan.

Hati Dev mulai terusik, tapi berkali-kali Hannah mengatakan kepulangannya ke Destiny, Texas hanyalah kunjungan singkat sebelum menerima tawaran pekerjaan berpenghasilan besar di Los Angeles. Ia yakin cara terbaik menebus masa kecilnya yang kurang bahagia adalah dengan bekerja keras dan mendapatkan kehidupan nyaman. Mampukah ciuman Dev meyakinkan Hannah bahwa kebahagiaan sejati tak bisa dibeli dengan uang?

“This Kiss”

Dari awal saya membaca buku ini, alur ceritanya sudah membawa pikiran saya berkelana ke Texas. Novel ini menceritakan tentang seorang duda, bernama Dev Hart yang mempunyai satu anak lelaki, berusia empat tahun, bernama Ben. Ben diasuh oleh Polly, ibu dari Hannah Morgan, seorang gadis yang kini sudah menjadi dokter spesialis anak (pediatrician).

Dalam kunjungan Hannah untuk menengok ibunya, pertemuan mereka pun akhirnya menjadi kedekatan. Terlebih Ben, yang awalnya diobati oleh dokter Hannah, kemudian menjadi sangat manja dengan gadis itu.

Dev yang sebenarnya sudah bisa merasakan sesuatu di hatinya tiap kali berada di dekat Hannah namun masih berusaha menepis perasaannya setelah trauma mengalami kegagalan cinta dengan mantan istrinya.

Di sisi lain, Hannah pun tak dapat mengingkari bahwa pipinya selalu bersemu merah tiap kali berdekatan dengan Dev, yang dulunya satu SMU dengan Hannah di kota kecil itu, Destiny, Texas.

Film drama komedi yang satu ini cocok untuk ditonton bersama pasangan.

Wah, jadi gimana dung kelanjutan kisah cinta mereka?

Sama seperti koleksi Harlequin lainnya, novel ini memiliki teknik showing yang mantap. Bisa dibuktikan kemampuannya membawa pembaca turut berimajinasi seolah sedang menonton langsung adegan demi adegan yang disuguhkan dalam novel ini.

Banyak jalan cerita yang tidak bisa diduga. Kedatangan satu demi satu tokoh dibuatnya mengalir, berkaitan dan yang terpenting: masuk akal.

Tapi ingat, pastinya genre romance satu ini layaknya dibaca oleh yang sudah dewasa ya, bagusnya lagi yang sudah berpasangan (supaya ada sandaran untuk berbaper-ria setelah membaca novel ini), seperti layaknya koleksi Harlequin lainnya.

Oya, novel ini saya baca free dari aplikasi ipunas lho. Download saja di ipunas

Ipunas, Aplikasi Perpustakaan Nasional

Tujuh Konsep Mengenali Tantrum Pada Anak dan Solusinya

Sumber: rocking Mama

Tempo hari saya pernah mengikuti sebuah diskusi online yang dibimbing Bapak Supri Yatno, seorang praktisi kesehatan mental, mengenai jenis-jenis tantrum dan bagaimana cara mengatasinya.

Apa sih tantrum itu? Berdasarkan Wikipedia, tantrum (atau tantrum temper) adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika “tujuan” orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang.

Tantrum bisa jadi merupakan momok yang ditakuti orangtua. Padahal sebenarnya kalau kita paham penyebabnya, kita tak perlu khawatir untuk mengatasinya. Apalagi tantrum bisa dibilang merupakan hal yang wajar dialami anak-anak, yang belum mengerti bagaimana cara mengungkapkan emosinya.

Usia anak dan prosentase anak-anak yang mengalami temper tantrum:

18 – 24 bulan: 87 persen
30 – 36 bulan: 91 persen
42 – 48 bulan: 59 persen

Rata-rata, tantrum berlangsung selama:
– 2 menit di usia 1 tahun
– 4 menit di usia 2 – 3 tahun
– 5 menit di usia 4 tahun
dan terjadi
– 8 kali dalam satu minggu pada usia 1 tahun
– 9 kali dalam satu minggu; pada usia 2 tahun
– 6 kali dalam satu minggu; pada usia 3 tahun
– 5 kali dalam satu minggu; pada usia 4 tahun

sumber: Potegal & Davidson, 2003

Sumber gambar: kumparan

Ada empat jenis tantrum pada anak.
Keempat jenis tantrum secara lengkapnya dapat anda baca di sini .

Singkat kata, jika anda sudah mengetahui tipe tantrum yang mana, maka kemudian anda menggunakan isu yang mendasarinya untuk secara efisien menerapkan intervensi logis pada tantrum. Begitu anda menjadi lebih mengerti dan berpengalaman, anda akan mampu mengenali tipe tantrum dalam beberapa detik.

1. Manipulatif tantrum timbul karena perasaan ingin mengendalikan sesuatu, maka paling baik ditangani dengan menetapkan batasan untuk mendapatkan kekuasaan dan kendali yang tepat versus tidak tepat.

2. Upset tantrum timbul karena perasaan anak yang tertekan, maka paling baik ditangani dengan membimbing atau memberi validasi kepada individu yang dalam tekanan.

3. Helpless tantrum timbul karena perasaan tidak berdaya, maka paling baik ditangani dengan membantu membangun kekuatan diri anak melawan rasa putus asa untuk merawat dirinya sendiri.

4. Cathartic tantrum timbul karena stres anak yang menumpuk, maka paling baik ditangani dengan memberikan ijin dan membimbing bagaimana cara yang paling baik melepaskan stres yang menumpuk.

Dua kesayanganku

Namun bagaimana kita bisa membedakan anak kita termasuk jenis tantrum yang mana? Pencegahan ini dimulai dari pengenalan anak terlebih dulu.

Ada tujuh konsep yang bisa kita pakai untuk mengenali tantrum anak kita sendiri:

(1) Buatlah diary tentang tantrum anak anda selama 7 hingga 10 hari. Catat informasi berikut ini: di mana kejadian tantrumnya, apa yang terjadi sebelumnya, dan apa yang terjadi setelahnya. Adalah penting kita mempunyai catatan lengkap mengenai tantrum anak kita. Semakin kita paham semakin kita mudah mengenali anak kita termasuk jenis tantrum yang mana.

(2) Kenali situasi yang menyebabkan tantrum terjadi lebih sering. Buat rencana untuk menghindari situasi tersebut atau buat situasi tersebut tidak membuat stres anak. Nah, kalau sudah paham dan mengenali pola tantrumnya, maka kita akan lebih mudah untuk bersiaga menghindari situasi pencetus tantrum pada anak.

(3) Kenali apa saja yang memicu anak anda tantrum. Cari cara mengurangi atau menghindari pemicu tantrum. Hampir sama dengan nomor dua di atas, kita juga harus mengenali apa yang menjadi pemicu anak tantrum.

(4) Kenali konsekuensi tantrum. Dapatkah anda melihat perilaku tersebut tanpa anda sengaja disebabkan oleh tindakan anda atau tindakan orang lain? Kita memang perlu memahami juga apakah tantrum itu disebabkan kesengajaan anak karena kehadiran orang tertentu?

(5) Beri hadiah kepada anak anda sebagai dorongan tambahan jika tetap mampu tenang. Sangat dianjurkan sering-sering memberi pujian pada anak ketika dia mampu bersikap tenang, supaya anak paham dan merasa dihargai.

(6) Bantu anak yang lebih tua untuk belajar dan mempraktikkan penanganan masalah (coping skills) pada situasi-situasi yang biasanya membuat dia tantrum. Bila anak sudah lebih besar, bisa pelan-pelan kita ajari dia mengatasi emosinya sendiri.

(7) Ini adalah dua kemungkinan saat anak anda mengalami tantrum:
– Abaikan tantrum: jangan melihat atau berbicara pada anak anda saat tantrum.
– Ambil jeda waktu

Namun jangan lupa ya bahwa kita mengabaikan tantrum-nya, bukan anaknya. Jangan membuat anak merasa dia yang ditinggalkan. Kita tetap berada di sisinya hingga tantrum berakhir. Tapi jangan coba untuk merangkul anak terlebih dulu. Dan bila sudah berakhir, anak mendekati kita dengan sendirinya, barulah kita berikan pelukan yang ia butuhkan dan beri pengertian padanya.

Cari tahu cara mengasuh anak zaman now di sini yuk

Sebelum diskusi yang berlangsung lebih kurang dua jam ini ditutup, Bapak Supri mempersilakan peserta untuk bertanya.

Kurang lebih saya rangkum demikian:
– Anak perlu diajarkan cara yang tepat untuk menyalurkan emosinya. Dan mengajarkannya ini perlu kesabaran, gak cukup sekali.

– Yang terpenting saat menghadapi anak, lakukan mindfulness. Kita perlu benar-benar berada penuh di situasi saat ini. Jangan terbebani oleh pikiran lain yang buat gagal konsentrasi dalam menghadapi anak.

Sumber gambar: Bapak Supri Yatno

– Yang perlu dipahami juga, percuma belajar pengasuhan anak bila tidak dibarengi dengan usaha mengasuh diri sendiri. Bagaimanapun anak adalah peniru ulung orangtuanya. Bila anak sendiri pernah melihat orangtuanya tantrum, jangan disalahkan kelak mereka akan meniru.

Sementara mungkin orangtua tidak menyadari bahwa ada masalah yang belum tuntas pada dirinya sendiri. Maka memahami diri sendiri terlebih dulu ini sangat penting. Bila dirasa perlu bisa menemui pakar terapis atau orang yang tepat untuk berdiskusi.

Sumber gambar: Bapak Supri Yatno

Sekilas info, barangkali ada yang membutuhkan, berikut jadwal terapi online dengan Bapak Supri Yatno, boleh dicoba, recommended. Kalau saya pribadi pernah mengikuti terapi “Mindfulness Parenting” dari beliau dan diskusi tantrum ini merupakan salah satu yang diberikan pada alumni Mindfulness Parenting.

Baca juga Manajemen Kemarahan pada Anak

Sumber: Bapak Supri Yatno