Siti Hajar, Sosok Ibu Luar Biasa di Balik Keluarga Hafidz/Hafidzhoh

Judul: Hafidz Rumahan

Penulis: Neny Suswati

Editor: Rosidin

Penerbit: AURA CV. Anugrah Utama Raharja

Cetakan: Februari 2019

ISBN: 978-623-211-033-5

Harga: Rp. 65.000

Hafidz Rumahan

Sinopsis:

Hasan Basri, hafidz cilik dari pulau Nias. Semakin sering disebut dan sangat mudah menelusuri untuk mendapatkan informasi tentangnya di internet, terutama youtube yang banyak menayangkan video saat dia melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan suara merdunya. Sebuah fenomena yang amazing, tentu menimbulkan rasa ingin tahu yang mendalam. Bagaimana bisa jadi seperti itu?

Buku ini bercerita, bagaimana seorang ibu, dengan kegigihan dan kesabarannya, membimbing sendiri anak-anaknya yang 9 orang untuk menjadi hafidz Quran! Saat ditulisnya buku ini, 7 orang anaknya sudah hafal 30 juz Al-Quran di usia 6 sampai dengan 12 tahun, 1 orang meninggal dunia di usia hampir 2 tahun dan 1 orang sedang menghafal.

Masya Allah! Bagaimana bisa? Sehebat apa beliau? Setinggi apa pendidikannya? Selengkap apa sarana hidupnya? Di mana suaminya? Bisakah kita seperti dia?

Sejak mengikuti acara launching buku “Hafidz Rumahan”, pada Kamis lalu, tanggal 7 Maret 2019, saya sudah sangat penasaran dengan kisah keluarga Ustadz Abdurrahim. Bagaimana seorang yang dulunya sangat awam agama, kemudian bisa mendapatkan hidayah dan mengubah hidupnya 180 derajat.

Begitu juga dengan sang istri, Siti Hajar. Seorang ibu tanpa pernah mengenyam pendidikan  di pesantren, telah berhasil mendidik putra-putrinya hingga menjadi hafidz/hafidzhoh. Luar biasa. Bahkan keluarga ini tinggal di pulau dengan penduduk muslim hanya sekitar 5%. Bagaimana bisa?

Saya menikmati lembar demi lembar kisah keluarga dalam buku ini. Diawali dengan latar belakang bapak Ramlan Dalimunthe, sebelum ia menjadi ustadz Abdurrahim. Lalu profil istrinya, Sri Maharani Hasibuan, yang tadinya sempat menolak untuk menikah dengan Bapak Ramlan. Qodarulloh, mereka akhirnya menikah, berhijrah, hingga menjadi seperti sekarang. Penggambaran masa lalu mereka terbayang jelas karena penulis menggunakan teknik showing yang mantap.

Kemudian yang terpenting bagaimana sang ibu mendidik anak-anaknya. Bab inilah yang merupakan favorit saya. Dimulai dari halaman 107, bagian 0-3-7-10, diceritakan bagaimana memperlakukan anak-anaknya berdasarkan tahapan umur mereka. Fase lahir sampai usia 3 tahun, usia 3-7 tahun, usia 7-10 tahun.

Cerita berlanjut hingga saat mereka pertama kalinya mendapat hidayah. Alasan ustadz Abdurrahim memutuskan untuk mengundurkan diri dari statusnya sebagai PNS dan fokus di jalan dakwah. Kehidupan keluarga ini yang berubah 180 derajat. Terjadinya gempa Nias yang semakin mengingatkan betapa dunia begitu mudah porak poranda oleh kekuasaan Alloh SWT. Lalu cara mereka menghadapi cibiran dari keluarga dan lingkungan sekitar terhadap pola hidup yang mereka pilih.

Sikap suami sebagai qowwam atau pemimpin keluarga dan istri yang selayaknya taat pada suami. Buku ini juga menyadarkan saya bahwa kunci pendidikan anak-anak adalah dari ibunya. Ibu sebagai madrasah pertama, ibu yang menciptakan lingkungan yang kental nuansa religi dalam rumah. Karena ternyata yang dimaksud lingkungan mempengaruhi pendidikan anak sesungguhnya dari dalam rumah itu sendiri, bukan dari luar rumah.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari buku Hafidz Rumahan ini. Antara lain, ilmu parenting, bagaimana mendidik anak hanya dengan landasan kecintaan pada mereka, hingga tak rela sedikitpun api neraka menyentuh anak-anak.

Sayangnya, ada beberapa hal yang mengganggu saya saat membaca buku ini. Ada beberapa kalimat tidak bersubyek, kesalahan penulisan kata depan di-, yang seharusnya bila mengacu pada nama tempat, penulisannya dipisah. Walau sebenarnya bagi pembaca awam, hal seperti ini tidak akan mengganggu, yang penting isinya baper.

Selain itu, penempatan foto-foto di dalam buku ini, menurut saya, alangkah bagusnya bila foto-fotonya berwarna. Walaupun tentunya tampilan halaman berwarna akan mempengaruhi kenaikan harga buku.

Kemudian dari segi konten buku. Dikisahkan bahwa sebelumnya sang istri sempat menolak ketika dilamar. Namun mengapa pada akhirnya bapak Ramlan tetap datang melamar? Hal ini tidak diceritakan.

Lalu pada saat Abdurrahim memutuskan berhenti mengajar. Kalau menurut saya pribadi, setiap keputusan yang kita ambil mengandung resiko. Begitu juga dalam ketentuan PNS, setahu saya, jika memang ingin mengundurkan diri, yang bersangkutan tak berhak lagi atas gaji, pesangon maupun uang pensiun. Itulah resiko dari pilihannya yang harus diterima dengan ikhlas. Jadi tidak perlu mem-bahasa-kan bahwa “walikota memberhentikan secara tidak hormat”, karena awalnya keputusan adalah dari ustadz Abdurrahim sendiri. Fokuskan saja pada keikhlasannya menjalani hidup setelahnya tanpa menerima penghasilan lagi.

Terlepas dari kekurangan yang saya sebutkan, buku Hafidz Rumahan ini sangat menginspirasi dan layak dibaca semua khalayak. Betapa langkanya manusia yang memilih jalan dakwah, hidup dalam kesederhanaan di tengah masyarakat yang berlomba mengumpulkan harta. Betapa jarangnya sosok ibu yang menyadari sepenuhnya bahwa di tangannyalah tanggungjawab mendidik anak-anak sepenuhnya. Hal ini yang menyentuh sanubari saya sebagai seorang ibu.  Semoga saya bisa mengikuti jejak beliau dan mengambil tanggungjawab penuh mendidik anak-anak saya.

Hafidz Rumahan. Sumber pic: Tapis Blogger

Ketika Dua Remaja Dipersatukan oleh Keinginan Bunuh Diri (Review “Rooftop Buddies” karya Honey Dee)

Rooftop Buddies karya Honey Dee

Judul: Rooftop Buddies

Penulis: Honey Dee

Genre: Young Adult

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbitan: 2018

ISBN: 978-602-03-8819-9

Sinopsis:

Buat Rie, mengidap kanker itu kutukan. Daripada berjuang menahan sakitnya proses pengobatan, dia mempertimbangkan pilihan lain. Karena toh kalau akhirnya akan mati, kenapa harus menunggu lama?

Saat memutuskan untuk melompat dari atap gedung apartemen, tiba-tiba ada cowok ganteng berseru dan menghentikan langkah Rie di tepian. Rie mengira cowok itu, Bree, ingin berlagak pahlawan dengan menghalangi niatnya, tapi ternyata dia punya niat yang sama dengan Rie di atap itu.

Mereka pun sepakat untuk melakukannya bersama-sama. Jika masuk dunia kematian berdua, mungkin semua jadi terasa lebih baik. Tetapi, sebelum itu, mereka setuju membantu menyelesaikan “utang” satu sama lain, melihat kegelapan hidup masing-masing … Namun, saat Rie mulai mempertanyakan keinginannya untuk mati, Bree malah kehilangan satu-satunya harapan hidup.

Rooftop Buddies karya Honey Dee

Saat membaca novel ini, dari paragraf pertamanya saja sudah menyedot perhatianku. Aku jadi penasaran dan berpikir, “wah, terusannya apa nih?”

Tak banyak cerita yang menyorot “keinginan suicide“. Bagaimana Rie dan Bree, dua remaja yang sama-sama mempunyai alasannya pribadi dan masuk akal untuk mengakhiri hidupnya. Rie dengan penyakit kankernya, yang berpikir toh hidupnya tak akan lama. Dan Bree yang memiliki latar belakang hidup yang begitu kacau.

Mak Oney telah menghadirkan alasan yang masuk akal, karakter tokoh yang jelas serta showing yang mantap. Saya benar-benar terlarut hingga menitikkan air mata.

Coba baca saja, satu kalimat yang diucapkan salah satu tokoh di buku ini:
“Buat dia, semua yang terjadi itu sudah ditulis di takdir. Kalau memang usianya cuma sampai delapan belas tahun, ya mau bagaimana?”

Yup. Tak hanya kehadiran dua tokoh ini yang menjadikan ceritanya menarik tapi juga karena karakter tokoh lainnya. Ada Devon, pemuda tampan yang juga penderita kanker. Lalu ada juga kata-kata bijak dari Marina yang “dalem” menurut saya:
“Ada beberapa anak yang memutuskan bunuh diri karena emosi sesaat. Bukan berdasarkan perhitungan matang. Biasanya untuk kasus seperti itu dia akan cepat pulih begitu merasa berada di suasana nyaman.”

Me and Rooftop Buddies

Begitu banyak hikmah yang terkandung di dalam buku ini. Tak hanya persahabatan yang disisipi kisah roman layaknya genre young adult.

Nuansa kekeluargaan yang begitu kental dihadirkan akan membuat kita tersadar betapa orangtua sanggup berbuat apapun, berusaha semaksimal mungkin untuk anak-anak mereka, sebagai tanda cinta yang tulus.

Yang terpenting adalah bagaimana “Rooftop Buddies” sanggup mengingatkan pembaca untuk berusaha menjaga semangat hidup masing-masing bahkan di tengah situasi terburuk sekalipun. Begitu masuk akal, karena ternyata sang penulis sendiri pun juga pernah didiagnosa kanker.

Pokoknya, baca saja kisahnya langsung ya teman-teman. Dijamin gak bakal nyesel! Apalagi seluruh keuntungan penjualan buku ini akan disumbangkan ke penderita kanker. Pantaslah kalau buku ini akhirnya menjadi best seller ketiga Gramedia. Yeayyy!

Best Seller Ketiga Gramedia

Meresapi Kegalauan Hati dalam Pencaharian Cinta (Review HuJanuari karya Yoga Pratama)

HuJanuari karya Yoga Pratama

Judul Buku: HuJanuari

Penulis: Yoga Pratama

Penerbit: CV. Anugerah Utama Raharja (AURA)

Jumlah Halaman: 185 hal

Cetakan: Maret 2016

ISBN: 978-602-6238-04-7


Blurb
:

Masa lalu kerap membuat seseorang lupa akan masa depan. Sedangkan hujan dan Januari kerap membawa sejuta pertanyaan, untuk memastikan langkah yang baru sesuai dengan harapan di akhir tahun baru. Perjalanan kisah seseorang itu simple, namun terkadang terlalu diperberat dengan kebimbangan yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Sampai ia lupa, sejatinya cinta yang hakiki tak harus berkutik pada masa lalu, dan tak harus hari ini dimiliki. Percayalah janji Tuhan itu benar adanya. Semua jawaban sesuai usahanya. “Memantaskan diri, lalu dipantaskan.” Sembari menunggu janji Tuhan yang terbaik, semua berproses dari sebuah kesadaran. HuJanuari.



Novel ini menceritakan kisah tokoh utama seorang pria yang kerap dipanggil Agoy (sepertinya memang cerita tokoh utamanya, ya) lalu bersama sahabatnya antara lain, Tya, Laga, Re dan Ichan. Agoy yang tengah berproses dalam pencaharian cinta, pasangan jiwa, bertemu dengan beberapa perempuan yang sempat mengisi hatinya. 

Adalah Kiky, sang kekasih hati yang seolah maju mundur dalam menjalin hubungan karena ternyata cinta mereka tak direstui oleh orangtua Kiky. Dan ada juga Senja, perempuan berhijab yang anggun dan kata-katanya seringkali menyejukkan hati, juga mempunyai beberapa persamaan dengan si tokoh utama. Lantas, pada siapa akhirnya hati si Agoy berlabuh? Baca saja di buku ini 😁😁

Hal pertama yang menarik dari buku ini adalah judulnya yang unik. Terlepas dari ketertarikan saya pada sang author, ehem, novel yang cocok dibaca untuk generasi teenlit hingga young adult ini menghadirkan bahasa yang mengalir, ringan dibaca sampai punya istilah kekinian. Tapi tak semuanya “ringan”, coba saja baca lembaran puisi yang dihadirkan di dalamnya. Saya sampai harus mengerutkan kening karena mungkin jiwa sastra saya tak sampai ke sana 😂😂

Baca juga review buku inspiratif tentang ayah di sinihttps://emmylivesite.wordpress.com/2018/06/02/tentang-sosok-cinta-pertama-anak-perempuan-review-the-most-beloved-man/

Kalaupun ada beberapa kekurangan dalam buku ini, antara lain, seperti yang diakui penulis, masih ada beberapa typo. Kalau menurut saya gak terlalu mengganggu sih. Karena tidak terlalu banyak juga typo-nya, hanya beberapa saja.

Justru saya lebih terganggu oleh beberapa penempatan kata depan yang tidak sesuai, seperti kata depan di- yang seharusnya kalau mengacu pada tempat, penulisannya dipisah. Tapi kembali lagi, itu karena saya membaca novel ini pada saat saya sudah cemplung di dunia literasi dan mendalami berbagai ilmu penulisan. Sehingga, saya yakin itu tidaklah menjadi masalah, terutama bagi pembaca awam. 

Yang pasti saya percaya novel selanjutnya pasti lebih baik lagi teknik penulisannya. No matter what, over all, novel ini keren. Salut untuk sang penulis! Two thumbs up! 🤗🤗

Novel karya Yoga Pratama