Still 17 (Thirty but Seventeen) Satu Lagi Drakor yang Dijamin Bikin Nangis

Sumber: Wikipedia

Judul: Thirty but Seventeen atau Still 17
Jumlah episode: 32

30 but 17 (Thirty but Seventeen) atau biasa dikenal dengan Still 17 adalah serial televisi Korea Selatan tahun 2018 yang dibintangi oleh Shin Hye-sun, Yang Se-jong dan Ahn Hyo-seop. Serial televisi ini mulai ditayangkan di SBS pada Juli 2018.
Sumber: Wikipedia

Still 17 berkisah tentang sosok Woo Seo Ri, seorang gadis berusia 17 tahun yang mengalami kecelakaan hebat dia mengalami koma sampai berusia 30 tahun. Maka tak heran setelah terbangun, Seo Ri masih bersikap seolah dia berusia 17 tahun.

Sementara itu Goong Wo Jin, seorang pria cuek dan hidup semaunya tenyata tak bisa terlepas dari trauma, dikarenakan dia begitu merasa bersalah telah menyebabkan gadis yang dicintainya (disangkanya) meninggal akibat kecelakaan. Yang ternyata hal ini salah besar.

Awal menonton ini saya jadi mengerutkan kening, masa sih ada orang yang bisa bangun setelah koma belasan tahun? Dan ketika bangun dia seolah tidak apa-apa?

Tapi, seperti drama Korea lainnya, meski ada hal yang tampak tidak masuk akal, namun pengarangnya pintar membumbuinya sehingga alurnya menarik hingga bisa diterima dengan baik.

Misal: setelah bangun dari koma panjang, Seo Ri gak langsung bisa berjalan, dia perlu menjalani proses fisioterapi dulu.

Karakter-karakter tokoh di drama ini juga bisa membuatmu jatuh cinta lho. Soalnya gak ada orang jahat. Semuanya tampak benar-benar manusia. Dan punya latar belakang yang jelas hingga menjadikan sikap tokohnya jadi seperti sekarang.

Tengok trailer Still 17 di sini yuk!

Contoh: karakter Jennifer, yang awalnya bikin saya geleng-geleng kepala dan merasa, gak mungkin deh ada asisten rumah tangga sepinter dia, eh ternyata ada alasan yang jelas kenapa dia memilih pekerjaan itu, dan ada latar belakang yang menjadikan dia sosok cerdas dan berkata-kata bijak.

Selain itu, ada hikmah yang menjadikan saya merenung saat menonton Drakor ini, sikap Seo Ri dalam membuat keputusan. Betapa dirinya sangat mencintai biola, mencintai musik dan bercita-cita untuk tampil di atas panggung dengan kebanggaan hingga hampir melupakan hal terpenting: menikmati musik itu sendiri.

Ya, hampir sama-lah dengan saya dan hobi saya (menulis). Jangan sampai dikarenakan tuntutan ego dalam diri, lalu memaksakan diri ingin lekas meraih impian hingga melupakan bahwa hobi seharusnya sesuatu yang kita nikmati bukan dilakukan di bawah tekanan.

Yang pasti Still 17 adalah satu dari sekian banyak drama Korea yang berhasil membuatku menitikkan air mata. Terutama saat sudah memasuki episode-episode terakhir. (Saat misteri tokoh-tokohnya sudah mulai terungkap)

Pingin nonton film lokal yang romantis? Dear Nathan Hello Salma aja!

Pokoknya saya jatuh cinta pada drakor ini. Gak keberatan kalau diajak nonton ulang. Dan saya, penggemar romance, sangat puas dengan plot twist-nya yang tidak disangka-sangka.

Sumber video: YouTube My K-song

Koleksi album sound track drakor Still 17

Karena Seorang “Bad Guy” Belum Tentu “Bad” (Review Film Animasi “Wreck-It Ralph”)

Judul Film: Wreck-It Ralph
Diproduksi oleh: Walt Disney Animation
Sutradara: Rich Moore
Penulis skenario: Phil Johnston dan Jennifer Lee
Pengisi suara: John C. Reilly, Sarah Silverman, Jack McBrayer dan Jane Lynch
Rilis pada tahun: 2012 dan beredar di Indonesia pada tahun: 2015

Wreck-It Ralph (sumber: wikipedia)

Tahu nggak, rasanya jadi “bad guy” yang selalu terkucilkan? Adalah Ralph, nama panggilan dari “Wreck-it Ralph”, tokoh antagonis dalam sebuah mesin game. Sesuai namanya, Ralph mempunyai tugas sebagai “penghancur” dalam permainan tersebut. Dia mempunyai tangan besar yang memudahkan menjalankan misinya. Apapun yang disentuhnya bisa hancur dengan mudah. Bertolak belakang dengannya, “Fix-it Felix” yang bertugas memperbaiki apapun dihancurkan oleh Ralph. Berbekal sebuah palu emas, Felix bisa menjalankan misinya. Tentu saja hal ini sesuai dengan judul game tersebut; “Fix it, Felix!”.

30 tahun sudah, game “Fix it Felix” menjadi salah satu jenis permainan dalam sebuah toko (kalau di sini samalah seperti game di Time Zone) yang masih digemari anak-anak. Lama-lama Ralph mulai merasa jenuh dengan tugasnya. Dia mencurahkan isi hatinya dalam sebuah perkumpulan tokoh antagonis dari semua mesin permainan. Ralph ingin sekali merasakan peran sebagai “good guy”. Teman-teman sesama pemegang peran antagonis, seperti Zombie, Satan, dan lainnya berusaha menasihati Ralph, bahwa tak mungkin mengingkari peranan mereka sebagai antagonis. Bahkan mereka mempunyai motto yang sangat bagus lho, yaitu:

“I am bad, and that’s good. I will never be good man and it’s not bad. There’s no one I’d rather be than me.”

(sumber: Pinterest)

Dalam perjalanan pulang, Ralph menyadari bahwa ternyata dalam game-nya sedang merayakan pesta anniversary ke-30 tahun. Melihat itu Ralph menjadi geram dan berpikir, mengapa dia tak pernah diundang dalam acara pesta? Terlebih bahkan tokoh dalam game lain pun, seperti Packman, diundang dalam pesta tersebut.

Felix yang diminta warga mengusir Ralph, akhirnya memperbolehkan Ralph menghadiri acara pesta, hanya untuk mencicipi kue. Ralph yang awalnya senang menjadi tertegun saat dia melihat kue yang dibuat percis berupa miniatur gedung apartemen lengkap dengan penghuninya. Miniatur felix berada di puncak gedung dengan medalinya, sementara miniatur Ralph berada di bawah, sendirian, tercebur kolam cokelat.

Film drama komedi yang satu ini cocok untuk ditonton bersama pasangan.

Ralph menyatakan protesnya, mengapa hanya dirinya yang berada sendirian di bawah? Tanpa sengaja karena dipengaruhi amarahnya, Ralph pun menghancurkan kue tersebut. Ralph tersinggung dengan anggapan penduduk bahwa seorang antagonis seperti dirinya tidak akan pernah mendapatkan medali. Dari situ, Ralph pun bertekad, bahwa dia bisa mendapatkan medali, layaknya “good guy”.

Kemudian Ralph tanpa berpikir panjang berusaha mendapatkan medali dalam sebuah game lain. Dia menyamar menjadi salah seorang tentara dan memasuki game bernama “Hero’s Duty”. Ralph tak memahami bahwa perjuangan untuk mendapatkan medali begitu berat, para tentara harus membunuh cy-bug (cyber bug) yang begitu banyak.

Sementara itu, dalam game “Fix it Felix” terjadi kekacauan. Saat ada seorang anak yang ingin bermain di game ini, citizen pun kelabakan karena tak ada kehadiran Ralph di sana. Felix memutuskan untuk mencari Ralph. Dengan petunjuk dari Qybert, seorang tokoh game yang hidup menggelandang (karena mesin game-nya out of order), Felix mengetahui bahwa Ralph ada di “Hero’s Duty”. Ralph dianggap “menjadi Turbo”. Istilah ini berasal dari Turbo, seorang tokoh dalam game balapan mobil “Turbotastic” yang iri dengan mesin game balapan lainnya (Road Blaster) dan berusaha melintas memasuki game tersebut, yang kemudian berakibat kedua mesin dianggap rusak dan tidak dapat beroperasi atau “out of order”. Khawatir hal tersebut terjadi pada game mereka, Felix menyusul ke “Hero’s Duty”.

Ternyata saat itu, Ralph yang sedang mengambil medali secara diam-diam tanpa sengaja memecahkan salah satu telur cy-bug. Ralph yang panik dengan kejadian itu menaiki salah satu pesawat. Kejadian itu disaksikan oleh Sersan Calhoun, pemimpin dalam game “Hero’s Duty” dan Felix yang sedang mencari Ralph di sana.

Pesawat yang dikendarai Ralph terbang tanpa kendali dan tanpa sengaja jatuh dalam sebuah game lainnya yang berjudul “Sugar Rush”. Dari situ pengalaman sebenarnya Ralph dimulai. Di game tersebut, Ralph bertemu dengan Vanellope von Schweetz, seorang glitch/cacat gambar yang kemudian merebut medali Ralph. Awalnya Ralph tidak menyukai Vanellope, lama-lama dia pun tersadar bahwa ada persamaan antara dirinya dan Vanellope, yaitu sama-sama menjadi orang yang tersisih dari game-nya. Malangnya Vanellope tidak seberuntung Ralph. Gadis kecil itu tak bisa meninggalkan game-nya apapun yang terjadi.

Bagaimana akhirnya perjalanan mereka? Dapatkah Ralph mendapatkan medali yang diambil Vanellope? Bisakah Felix membawa Ralph kembali dan menyelamatkan game mereka? Lalu bagaimana dengan cy-bug yang sudah terlanjur masuk dalam game Sugar Rush? Tonton saja di film ini.

Film animasi berdurasi dua jam ini memiliki plot twist yang menarik. Alurnya tidak mudah ditebak, menarik, mempunyai unsur komedi, drama dan juga roman. Selain itu film ini juga mengajarkan banyak hal. Yang pertama kita harus menerima diri sendiri, menerima apapun peranan diri kita. Bila memang kita diposisikan sebagai bad guy, buktikan bahwa kita tak benar-benar bad. Itu hanyalah suatu peranan yang harus dijalani. Toh, terbukti bahwa good guy maupun bad guy memiliki peranan yang sama pentingnya dalam sebuah game. Begitulah kehidupan, semua peranan sama pentingnya agar hidup dapat berjalan seimbang.

Begitu pula nasihat tersirat lainnya dalam film ini, bahwa jangan lantas men-judge seseorang hanya karena peranan yang dia jalani. Alasan utama timbulnya masalah adalah karena ketidakadilan perlakuan warga yang dirasakan Ralph. Sementara yang lain bisa tidur nyenyak dalam gedung apartemen, Ralph tersisih di samping sebuah pohon besar bersama runtuhan bangunan, seperti seorang gelandangan.

Pelajaran tentang men-judge seseorang juga bisa anda lihat di film animasi satu ini.

Hikmah lainnya adalah “you don’t need a medal to be a hero”. Bukan ada tidaknya medali yang menjadikan seseorang pantas disebut pahlawan namun bagaimana attitude-nya secara keseluruhan.

Wah, seru banget kan! Apalagi katanya sebentar lagi, tepatnya November 2018, akan ditayangkan lanjutan film ini, yaitu Wreck It Ralph 2. Jadi tidak sabar ingin menonton lanjutannya juga, seperti apa ya. Tengok saja trailernya di sini:

Trailer “Wreck-It Ralph 2”

“Wreck-It Ralph 2” (sumber otakukart)

Drama Komedi tentang Cinta, Persahabatan, dan Keluarga (Review Film “How I Met Your Mother”)

Judul: “How I Met Your Mother”

Genre: romantic comedy

Umur: young adult

POV 1

Alur: campuran

Tokoh : Ted Mosby (Josh Radnor), Marshall Eriksen (Jason Segel), Robin Scherbatsky (Cobie Smulders), Lily Aldrin (Alyson Hannigan) dan Barney Stinson (Neil Patrick Harris) serta tokoh kejutan 😉

How I Met Your Mother adalah sebuah drama komedi romantis situasi yang mulai ditayangkan di pada tanggal 19 September 2005, dituliskan oleh Craig Thomas dan Carter Bays, dan disutradarai oleh Pamela Fryman.

Film yang bersetting di Manhattan ini telah memenangkan enam Emmy Awards, termasuk nominasi untuk “Outstanding Comedy Series” (2009), juga People Choice Awards 2012 untuk Komedi TV Terbaik, dan Neil Patrick Harris memenangkan Aktor Komedi Terbaik.

Pelajaran tentang nge-judge seseorang bisa kalian lihat dari film ini loh!

Bercerita tentang Ted, seorang lajang yang mencari pasangan hidup. Tidak seperti sahabatnya Marshal yang begitu awet hubungan cintanya dengan Lily sejak kuliah, Ted mengalami begitu banyak aral rintangan dalam pencaharian soulmate. Selain pernah ditinggalkan calon istrinya tepat di hari pernikahannya, Ted juga pernah merasakan jatuh cinta dengan Robin, lalu putus dan kemudian menjadi sahabat. Kemudian Barney yang akhirnya bergabung dengan geng mereka pun jatuh cinta dengan Robin. Dan setelah mereka berdua juga putus, Ted dan gengnya selalu bersama-sama.

Selain menceritakan soal percintaan masing-masing tokoh, film ini juga menghadirkan berbagai masalah kehidupan yang muncul silih berganti. Konflik yang dihadirkan begitu beragam dan sulit untuk ditebak endingnya. Makanya saya selalu tak sabar untuk menanti kelanjutannya dan mengetahui siapa perempuan beruntung yang akhirnya menjadi ibu dari anak-anaknya Ted kelak?

Apakah  kisah  ini selesai setelah Ted menemukan soulmate-nya? Oo, ternyata tidak juga. Penonton sukses diberi kejutan selanjutnya di akhir-akhir drama ini. Wah, jadi penasaran, kan?

Nilai-nilai yang didapatkan dari film ini antara lain persahabatan sejati, terutama antara Ted dan Marshall yang sudah bersahabat sejak mereka masih sama-sama di universitas. Juga persahabatan yang sempat retak setelah Marshal dan Lily sibuk mengasuh bayi mereka. Dan persahabatan dua perempuan, Lily dan Robin yang sempat terancam bubar juga, ketika Lily mengandung di saat Robin masih single.

Baca juga yuk Review Film “Trolls” yang akan mengajarkan tentang makna kebahagiaan.

Ada juga konflik rumah tangga, yang diwakili cerita Marshall dan Lily (FYI, saya sangat terharu oleh kata-kata Marshall pada Lily ketika mengetahui istrinya terjerat hutang karena sifat shopaholic-nya; “Ketika aku memutuskan menikahimu, itu juga berarti aku menikahi masalah-masalahmu.”) Selain menghadirkan hubungan mereka dengan orangtuanya masing-masing. 

Lalu bagaimana dengan pelajaran mencari pasangan hidup? Saya lebih suka bercermin pada pasangan terawet: Marshal dan Lily. Dan karena film ini ber-setting di Amerika, jadi tidak semua pure bisa kita adopsi. Tetaplah bijak dalam menonton film apapun. Over all, drama komedi romantis yang satu ini sukses menempati hati saya. Mantappphhh!! 🤗🤗😍

Saksikan juga: Best Moment “How I Met Your Mother”

Sumber: Google, wikipedia