Siti Hajar, Sosok Ibu Luar Biasa di Balik Keluarga Hafidz/Hafidzhoh

Judul: Hafidz Rumahan

Penulis: Neny Suswati

Editor: Rosidin

Penerbit: AURA CV. Anugrah Utama Raharja

Cetakan: Februari 2019

ISBN: 978-623-211-033-5

Harga: Rp. 65.000

Hafidz Rumahan

Sinopsis:

Hasan Basri, hafidz cilik dari pulau Nias. Semakin sering disebut dan sangat mudah menelusuri untuk mendapatkan informasi tentangnya di internet, terutama youtube yang banyak menayangkan video saat dia melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan suara merdunya. Sebuah fenomena yang amazing, tentu menimbulkan rasa ingin tahu yang mendalam. Bagaimana bisa jadi seperti itu?

Buku ini bercerita, bagaimana seorang ibu, dengan kegigihan dan kesabarannya, membimbing sendiri anak-anaknya yang 9 orang untuk menjadi hafidz Quran! Saat ditulisnya buku ini, 7 orang anaknya sudah hafal 30 juz Al-Quran di usia 6 sampai dengan 12 tahun, 1 orang meninggal dunia di usia hampir 2 tahun dan 1 orang sedang menghafal.

Masya Allah! Bagaimana bisa? Sehebat apa beliau? Setinggi apa pendidikannya? Selengkap apa sarana hidupnya? Di mana suaminya? Bisakah kita seperti dia?

Sejak mengikuti acara launching buku β€œHafidz Rumahan”, pada Kamis lalu, tanggal 7 Maret 2019, saya sudah sangat penasaran dengan kisah keluarga Ustadz Abdurrahim. Bagaimana seorang yang dulunya sangat awam agama, kemudian bisa mendapatkan hidayah dan mengubah hidupnya 180 derajat.

Begitu juga dengan sang istri, Siti Hajar. Seorang ibu tanpa pernah mengenyam pendidikan  di pesantren, telah berhasil mendidik putra-putrinya hingga menjadi hafidz/hafidzhoh. Luar biasa. Bahkan keluarga ini tinggal di pulau dengan penduduk muslim hanya sekitar 5%. Bagaimana bisa?

Saya menikmati lembar demi lembar kisah keluarga dalam buku ini. Diawali dengan latar belakang bapak Ramlan Dalimunthe, sebelum ia menjadi ustadz Abdurrahim. Lalu profil istrinya, Sri Maharani Hasibuan, yang tadinya sempat menolak untuk menikah dengan Bapak Ramlan. Qodarulloh, mereka akhirnya menikah, berhijrah, hingga menjadi seperti sekarang. Penggambaran masa lalu mereka terbayang jelas karena penulis menggunakan teknik showing yang mantap.

Kemudian yang terpenting bagaimana sang ibu mendidik anak-anaknya. Bab inilah yang merupakan favorit saya. Dimulai dari halaman 107, bagian 0-3-7-10, diceritakan bagaimana memperlakukan anak-anaknya berdasarkan tahapan umur mereka. Fase lahir sampai usia 3 tahun, usia 3-7 tahun, usia 7-10 tahun.

Cerita berlanjut hingga saat mereka pertama kalinya mendapat hidayah. Alasan ustadz Abdurrahim memutuskan untuk mengundurkan diri dari statusnya sebagai PNS dan fokus di jalan dakwah. Kehidupan keluarga ini yang berubah 180 derajat. Terjadinya gempa Nias yang semakin mengingatkan betapa dunia begitu mudah porak poranda oleh kekuasaan Alloh SWT. Lalu cara mereka menghadapi cibiran dari keluarga dan lingkungan sekitar terhadap pola hidup yang mereka pilih.

Sikap suami sebagai qowwam atau pemimpin keluarga dan istri yang selayaknya taat pada suami. Buku ini juga menyadarkan saya bahwa kunci pendidikan anak-anak adalah dari ibunya. Ibu sebagai madrasah pertama, ibu yang menciptakan lingkungan yang kental nuansa religi dalam rumah. Karena ternyata yang dimaksud lingkungan mempengaruhi pendidikan anak sesungguhnya dari dalam rumah itu sendiri, bukan dari luar rumah.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari buku Hafidz Rumahan ini. Antara lain, ilmu parenting, bagaimana mendidik anak hanya dengan landasan kecintaan pada mereka, hingga tak rela sedikitpun api neraka menyentuh anak-anak.

Sayangnya, ada beberapa hal yang mengganggu saya saat membaca buku ini. Ada beberapa kalimat tidak bersubyek, kesalahan penulisan kata depan di-, yang seharusnya bila mengacu pada nama tempat, penulisannya dipisah. Walau sebenarnya bagi pembaca awam, hal seperti ini tidak akan mengganggu, yang penting isinya baper.

Selain itu, penempatan foto-foto di dalam buku ini, menurut saya, alangkah bagusnya bila foto-fotonya berwarna. Walaupun tentunya tampilan halaman berwarna akan mempengaruhi kenaikan harga buku.

Kemudian dari segi konten buku. Dikisahkan bahwa sebelumnya sang istri sempat menolak ketika dilamar. Namun mengapa pada akhirnya bapak Ramlan tetap datang melamar? Hal ini tidak diceritakan.

Lalu pada saat Abdurrahim memutuskan berhenti mengajar. Kalau menurut saya pribadi, setiap keputusan yang kita ambil mengandung resiko. Begitu juga dalam ketentuan PNS, setahu saya, jika memang ingin mengundurkan diri, yang bersangkutan tak berhak lagi atas gaji, pesangon maupun uang pensiun. Itulah resiko dari pilihannya yang harus diterima dengan ikhlas. Jadi tidak perlu mem-bahasa-kan bahwa β€œwalikota memberhentikan secara tidak hormat”, karena awalnya keputusan adalah dari ustadz Abdurrahim sendiri. Fokuskan saja pada keikhlasannya menjalani hidup setelahnya tanpa menerima penghasilan lagi.

Terlepas dari kekurangan yang saya sebutkan, buku Hafidz Rumahan ini sangat menginspirasi dan layak dibaca semua khalayak. Betapa langkanya manusia yang memilih jalan dakwah, hidup dalam kesederhanaan di tengah masyarakat yang berlomba mengumpulkan harta. Betapa jarangnya sosok ibu yang menyadari sepenuhnya bahwa di tangannyalah tanggungjawab mendidik anak-anak sepenuhnya. Hal ini yang menyentuh sanubari saya sebagai seorang ibu.  Semoga saya bisa mengikuti jejak beliau dan mengambil tanggungjawab penuh mendidik anak-anak saya.

Hafidz Rumahan. Sumber pic: Tapis Blogger

Bukan Sensornya yang Diperketat, Melainkan Nontonnya yang Dipilah (Review Talk Show “Budaya Sensor Mandiri Bijak Membentuk Generasi”)

Talk Show “Budaya Sensor Mandiri Bijak Membentuk Generasi”

Hari Kamis lalu, tanggal 11 Oktober 2018, saya berkesempatan menghadiri acara Talk Show “Budaya Sensor Mandiri, Bijak Membentuk Generasi”. Bertempat di Gummati Cafe, acara ini diselenggarakan oleh Tapis Blogger bekerjasama dengan Lembaga Sensor Film Republik Indonesia.

Tapi gak cuma blogger yang boleh hadir di acara ini loh, untuk publik juga. Udah gitu free lagi. Dan banyak ilmu yang saya dapatkan dari acara ini.

MC keren, Mbak Novi Nusaiba

Pembicara dari LSF, mbak Ni Luh Putu Elly Prapti

Acara ini dibuka oleh MC keren, Mbak Novi Nusaiba, lalu lanjut ke acara inti. Kita mulai dari LSF ya ….

Apa sih LSF itu? Dan apa tanggungjawab LSF?
Menurut pembicara, Mbak Ni Luh Putu Elly Prapti Erawati, M.Pd., LSF dengan kepanjangannya Lembaga Sensor Film bertugas melakukan pengeditan pada film sebelum tayang ke publik. LSF ini fokusnya di film dan iklan film. Kalau untuk acara berita di tipi yg menyensor bukan LSF, tapi kominfo.

Sumber gambar: grup Tapis Blogger

Di awal sebelum memberikan materi Mbak Ni Luh menanyakan kami, lebih suka nonton film apa sih? Film yang bernilai edukasi tinggi atau yang kurang nilai edukasinya? Spontan deh para peserta menjawab lebih suka film yang edukasinya tinggi. Apa benar?

Kondisi sekarang, kebanyakan masyarakat lebih memilih film horror, sedikit nilai edukasi dibandingkan film yang kaya nilai edukasi. Nah, ini dia, beliau menunjukkan buktinya.

Film “HOS Cokroaminoto” penontonnya hanya sekitar 26000

Film “RA Kartini” penontonnya hanya sekitar 500000

Film “Terowongan Casablanca” mencapai jumlah penonton 900000

Film “Pengabdi Setan” mencapai jumlah fantastis yaitu 4 juta penonton.

Me in action (Budaya Sensor Mandiri Bijak Membentuk Generasi)

Luar biasa sekali ya, penggemar film horror. Padahal berapa sih bujet yang diperlukan untuk membuat film tersebut?

Ini perbandingannya:
Film “Cokroaminoto” dengan jumlah penonton hanya 26K, bujetnya mencapai 15 M

RA Kartini” dengan penonton hanya 500K bujetnya 12 M

Pengabdi Setan” yang penontonnya 4 jeti, bujetnya hanya 2 M

Kuntilanak” penontonnya 1200000 bujetnya hanya 3.5 M

Wah, ternyata jauh lebih murah biaya produksi film horror dibandingkan film edukasi. Sementara penontonnya membludak. Gak sebanding dengan film edukasi. Ada rentang jarak cukup jelas antara biaya produksi dan penonton.

Nah, makanya itu, gak heran sangat sedikit film edukasi yang tayang di Indonesia. Udah capek-capek bikin film bermanfaat, eh yang nonton dikit. Sementara film
horror selalu dan selalu ada di bioskop.

Trus, gimana dengan kondisi TV?
Kurang lebih kondisi TV begini:

Masih banyak acara tak bermanfaat di TV

Film-film yang laris masih seputar sinetron, trus film luar negeri. Acara religi hanya sekitar 2%, anak-anak 11%, dll.

Tapi sebenarnya beda juga tayangan TV dengan tayangan bioskop. Kalau Di TV tidak banyak pilihan, lain hal dengan menonton di bioskop yang harus mempersiapkan bujet, waktu, dsb. Jadi kalau acara di TV rating film tertentu tinggi, bisa jadi itu karena penonton gak ada pilihan lain, semata-mata cari hiburan. Lah kalau bioskop, niat banget mau nonton.

Maka dari itu, perlu adanya sinergi antara LSF dan masyarakat. Masyarakat-lah yang perlu diedukasi untuk mendukung tontonan baik dan mengurangi (kalau bisa meninggalkan) tontonan tak baik. Kalo gak ada “demand” pastinya gakkan diproduksi kan.

Tugas LSF itu terkait erat dengan pemerintah, yaitu seperti tercatat pada UU 33 tahun 2009 pasal 57 ayat 2 :
1. Melakukan penyensoran film dan iklan film sebelum dipertunjukkan ke khalayak;

2. Melakukan penelitian dan penilaian judul, tema, gambar, adegan, teks dalam film.

3. Melakukan pengklasifikasian tontonan sesuai usia.

Bila terlalu ketat pengeditan yang marah adalah produksi film, LSF akan dikatakan mengekang kebebasan berkreasi.

Ini dia kategori rentang usia film:
SU atau segala umur, film dengan kategori ini aman ditonton anak-anak.
13 th , kalau yang ini film yang cocok ditonton usia remaja.
17 th, yang ini film khusus yang punya KTP ya.
21 th, nah apalagi yang ini, biasanya sudah ada adegan syur.

Mbak Ni Luh juga mengatakan di luar negeri tidak ada sensor film loh. Film kreatif apapun boleh-boleh saja. Tapi lebih kepada mengetatkan ke klasifikasi usia.

Perkembangan anak-anak sekarang tergantung apa sih?
Kalau zaman dulu, mungkin seperti ini urutannya:

Orangtua
Guru
Teman
Lingkungan sekitar

Zaman sekarang peran influencers sudah sejajar dengan peran orangtua. Jadi urutan di atas ditambah dengan influencers.

Pilihlah film yang beredukasi tinggi

Nah, setelah ini Mbak Naqiyyah Syam, selaku founder Tapis Blogger juga turut memberikan materi.

Beliau menanyakan, menonton film itu kebutuhan atau keinginan? Kalau kebutuhan, sebaiknya mempertimbangkan nilai-nilai dalam film tersebut. Film horror kita ketahui, sangat sedikit nilai edukasinya.

Mbak “Naqiyyah Syam” ikut memberikan materi

Apa aja sih dampak buruk menonton film? Terlebih untuk anak-anak, karena perkembangan otak anak lagi pesatnya dalam usia dini. Semestinya di bawah usia 10 tahun jangan diberikan TV. Apalagi kalau ada tayangan porno.

Ini dia dampak buruk dari menonton film porno:
1. Tidak bisa menundukkan pandangan
2. Melihat aurat dengan bebas
3. Membuat ketagihan
4. Terus melekat di pikiran
5. Berujung pada onani
6. Terbuang waktu dan uang sia-sia
7. Daya kerja otak berkurang
8. Pengaruh rusaknya otak
9. Dampak jelek aktivitas seksual

Berikut tips dari Mbak Naqi, terutama bagi orangtua untuk menangkal pengaruh buruk film pada anak:

  1. Mendampingi anak saat menonton film
  2. Alihkan kegiatan lain yg positif, baca buku, dst (menjadi blogger salah satunya, eaaa)
  3. Orangtua layaknya jadi contoh yg baik
  4. Lingkungan, kita ajak lingkungan turut peduli

Kalau ini contoh film yang baik, untuk anak: “Petualangan Sherina“, “Laskar Pelangi“, “Garuda di Dadaku“. Yang mana yang pernah kamu tonton?

Lalu, hal yang bisa kita (pada umumnya) lakukan juga nih, contoh yaa:

  1. Cerdaslah memilih film. Saring sebelum share.
  2. Share bila sudah menonton film baik. Bisa dengan foto tiket, masukin IG. Bikin temen2 kita penasaran dengan film tersebut.
  3. Nonton di awal tayangnya dalam waktu secepatnya, supaya tidak turun layar. Ini penting ya!
  4. Khusus untuk blogger, review film di-blog ya. Yang belum nge-blog juga bisa sedikit-sedikit nulis di sosmed. Ingat, no spoiler!

Dari kiri ke kanan, Mbak Naqiyyah Syam, Mbak Ni Luh Putu Elly Prapti, dan Mbak Novi Nusaiba

Setelah itu ada sesi tanya jawab yang seru, saya rangkum sedikit ya:

“Sudah ada LSF kok masih ada film yg ada adegan syur, apakah tidak disensor?”

Berikut jawaban mbak Ni Luh: “UU yang dipakai LSF sangat lama berharap semoga setelahnya pemerintah segera menerbitkan UU terbaru yang mengatur ini.

Perlu adanya edukasi di masyarakat. LSF di satu sisi ingin banyak mengedit namun di sisi lain sudah dinilai terlalu ketat mengekang produksi film.”

Semestinya masyarakat yang sadar dan memilah mana yang boleh dan tidak untuk anak-anak. Kalau acaranya tidak cocok untuk anak-anak ya jangan nonton sama anak-anak.

Di luar negeri pun ada keluarga yg tidak punya tivi jika ada anak kecil di dalam keluarga tersebut. Sekalipun ada tivi ada segmen sendiri khusus untuk anak, contohnya Nickelodeon, Baby TV, dll.

Selain sesi tanya jawab, juga ada pembagian door prizes. Wah, liat tuh banyak sekali door prizes-nya. Jelas saja, soalnya acara ini punya banyak sekali sponsor, seperti:

    1. Gummati Cafe
    2. FLP Bandar Lampung
    3. Thasya Busana
    4. Al Mitry Indo
    5. KOPFI Lampung
    6. Keripik Pisang Aroma Sejati
    7. Perut Bulat Cafe
    8. Papa Tom’s Cafe
    9.Famedia Publisher

Dari pemenang kuis, lomba foto di instagram dan juga untuk para penanya di sesi tanya jawab, banyak sekali yang dapat door prizes. Wah, selamat untuk yang dapat hadiah.

Sumber gambar: grup Tapis Blogger

Sumber gambar: grup Tapis Blogger

Setelah itu, di akhir acara ada foto bersama seluruh peserta. Ini dia.

Sumber gambar: grup Tapis Blogger

Sumber gambar: grup Tapis Blogger

Wah, beruntung sekali kan aku bisa ikutan acara ini. Selain dapat ilmu, dapat sertifikat juga, banyak ketemu teman-teman baru, eh dapat makan siang gratis lagi.

Jadi, buat kamu, para blogger berdomisili atau stay di Lampung atau juga pernah tinggal di Lampung, nggak ada ruginya loh ikutan Tapis Blogger . Dari hobi menulis kamu bisa dapetin banyak manfaat. Kalau buat saya pribadi manfaat jadi anggota Tapis Blogger bisa kamu baca di sini . Sst, dapetin juga tips meningkatkan follower Instagram di situ (uhuy). Yuuk, gabung bersama kami 😘

#TapisBlogger
#BloggeLampung
#LSFXLAMPUNG
#BudayaSensorMandiri

Milad Kedua Tapis Blogger yang Mempesona (Intip Juga Yuk, 7 Tips Meningkatkan Follower Instagram dan 7 Manfaat Bergabung dengan Tapis Blogger)

Tempo hari tepatnya pada hari Minggu, tanggal 2 September 2018, saya berkesempatan menghadiri acara puncak Milad Tapis Blogger yang kedua. Acara ini bertempat di Papa Tom’s Cafe di Jl. Kimaja Way Halim Bandar Lampung, saya bisa bertemu teman-teman Tapis Blogger sekalian deh menyaksikan acara seru “Meningkatkan Follower Instagram” bersama Kak Alejenes, seorang foodies pemilik akun IG @kuliner_lampung dengan follower 220 K.

Mbak Desma selaku MC acara Milad Tapis Blogger

Jadi, mulanya Tapis Blogger ini diawali dari pertemuannya Mbak Naqiyyah Syam dan mbak Heni Puspita, pada tahun 2016 lalu. Keduanya akhirnya memutuskan untuk membangun suatu wadah yang menampung blogger di Lampung. Awalnya, komunitas ini cuma terdiri dari empat orang anggota saja, selain mereka berdua, ada juga Fifi Restiana dan Izzah Annisa. Kemudian tak lama berkembang menjadi komunitas blogger khusus perempuan.

Mbak Heni, Co-founder Tapis Blogger

Pada akhirnya, seiring berjalannya waktu dan semakin banyak peminatnya, Tapis Blogger pun terbuka untuk laki-laki juga. Hingga kini anggota Tapis Blogger sudah mencapai sekitar 300 orang dari segala kalangan.

Seru banget ya ternyata! Tanpa terasa tepatnya 31 Agustus lalu, Tapis Blogger sudah berusia dua tahun lho. Saya pribadi masih terbilang baru bergabung dengan Tapis Blogger, belum ada setengah tahun. Berawal dari ditawari seorang teman seangkatan waktu SMU dulu yang kebetulan sama-sama punya hobi menulis.

Bang Sandi, Blogger Lampung

Selain penjelasan sejarah berdirinya Tapis Blogger oleh Mbak Heni, ada juga sharing dari blogger senior yang sudah berpenghasilan jutaan dari blognya, yaitu Bang Sandi Prayoga. Bang Sandi berharap komunitas ini semakin berkembang dan bisa memperkenalkan Lampung kepada dunia.

Berikutnya sambutan dari Mbak Naqi, founder Tapis Blogger. Beliau menyampaikan bahwa ke depannya Tapis Blogger akan meningkatkan kerja sama dengan UMKM di Provinsi Lampung. Wah, menarik nih. Saya setuju sekali!

Mbak Naqi, Founder Tapis Blogger

Lalu, berlanjut acara yang ditunggu-tunggu, sharing dari Kak Alejenes, penasaran?

Kak Ale, Pemilik Akun Kuliner Lampung didampingi Mbak Novi (Sekretaris Tapis Blogger)

Ini dia tips untuk meningkatkan follower Instagram yang saya rangkum dalam 7 poin, yaitu:

1. Rutinlah posting di IG, minimal 1 foto per hari.

2. Fokuslah pada satu tema sama. Ketika banyak orang berpikir bisa meraih semua, Kak Ale fokus pada satu tema saja, yaitu: kuliner lampung alias makanan.

3. Promosikan IG kita, ajak kawan-kawan untuk follow IG kita lalu kita folbek juga IG mereka. Dalam bekerja tidak melulu soal profit yang dipikirkan tapi juga unsur kemanusiaan yang akhirnya membuat IG kita jadi besar dan terkenal.

4. Tag akun besar, seperti akun artis. Siapa tahu nanti dapat like dari mereka. Hal itu akan mengangkat IG kita juga.

5. Komitmen dalam memakai hastag. Gak perlu banyak-banyak hastagnya. Kak Ale saja hanya memakai dua hastag, kulinerlampung dan lampungkuliner. Dari situ banding itu dimulai, Ale ya Kuliner Lampung, Kuliner Lampung ya Ale, jadi? Siapapun sudah melekat dipikirannya, Kuliner Lampung.

6. Ulet, konsisten dalam berusaha. Kak Ale sendiri awalnya sepi like. Hal ini terus terjadi hingga enam bulan pertama. Tapi karena kerja kerasnya, hingga kini akun IG-nya sudah memiliki 220 K. Inilah kunci kesuksesannya hingga menggaungkan nama Lampung di Nusantara lewat Kuliner Lampung. Salah satunya melalui acara kuliner Lampung di taman gajah tempo hari, yang bahkan sempat menjadikan sistem gojek error karena membludaknya pesanan go-food saat itu.

7. Tunjukkan komitmen dengan mengubah akun IG personal menjadi IG bisnis. Tapi sebelumnya kita buat dulu FB page.

Acara pun berlanjut dengan pemotongan tumpeng. Wah, lezat sekali nih, tumpengnya.

Nasi Tumpeng Milad Kedua Tapis Blogger

Oya, acara bermanfaat ini didukung banyak sponsor lho, antara lain:
1. Papa Tom’s Cafe
2. Thasya Busana
3. Nuola Food
4. Has’t Coffee
5. Rumah Kue Maya
6. Puspa Home Snack Lampung
7. Randang Ambo
8. Dapoer Nomay
9. Al Mitry Indo
10. Yara Art and Craft
11. Lampung Banana Foster
12. Diarra Queen Spa

Sponsor Acara Milad Tapis Blogger

Sponsor-sponsor ini adalah mereka yang pernah mengadakan kerjasama dengan Tapis Blogger.

Sambal Enak dari Rumah Kue Maya

Puspa Home Snack Lampung

Durian Goreng dari Dapur Noemay

Gak heran, dari 30-an peserta yang hadir, semuanya kebagian hadiah. Yeay! Lihat saja di sini.

Wow! Saya sendiri akhirnya mendapatkan voucher perawatan di Diarra Queen Spa. Asyik, bisa nyalon lagi niih.

Selain itu, ada juga pengumuman pemenang event-event yang diadakan Tapis Blogger, antara lain lomba blog tematik Ramadhan dan lomba video milad Tapis Blogger. Ada juga event yang diadakan sepanjang acara yaitu, lomba foto acara milad dan lomba foto sponsor acara di Instagram.

Bang Rasuane, juara satu lomba video Milad Tapis Blogger

Pemenang yang terpilih untuk event lomba blog tematik Ramadhan, antara lain:
1. Anggun Josie Pasemawati dengan IG @anggunjosiepasemawatii
2. Rasuane dengan IG @razzone_14
3. Rika dengan IG @rika_altair

Untuk event lomba video milad Tapis Blogger dimenangkan oleh:
1. Rasuane dengan IG @razzone_14
2. Yandigsa dengan IG @yandigsa
3. Dwi Septiani dengan IG @dwiseptiani.dwi

Juara Lomba Blog Tematik Ramadhan Tapis Blogger

Asyik sekali kan jadi anggota Tapis Blogger.

Saksikan video acara lengkapnya di sini ya:
360_12_0.85_Sep132018

Manfaat untuk saya pribadi setelah bergabung di komunitas ini antara lain:

1. Jadi tambah teman atau tambah kenalan. Tak hanya sesama penulis. Beberapa juga orang media atau jurnalis. Jadi inget waktu SMU dulu saya sempat punya ketertarikan di bidang jurnalistik. Tepatnya waktu berorganisasi di Rohis sebagai Koordinator Bidang Seni dan Jurnalistik.

Kalau yang ini, buku hasil karya salah satu anggota Tapis Blogger.

2. Jadi dikenal orang juga. Hihihi. Sesungguhnya saya tadinya hanyalah seorang introvert yang biasa dengan kesendirian. Bahkan di tempat kerja pun juga tidak banyak yang kenal saya. Tapi karena kewajiban sebagai blogger kadang harus meliput acara tertentu, jadilah saya turut dikenal, selain dikenal teman-teman di komunitas, juga partner Tapis Blogger, alias bisa dibilang saya “numpang tenar”. Eaaa πŸ˜€

3. Nge-blog jadi tambah semangat. Memang betul, kalau kita mau tambah semangat nulis ya gabung di komunitas menulis. Mau tambah nge-blog ya gabung di komunitas blogger. Apalagi ada yg sekota, dijamin bakal tambah semangat lagi. Karena bisa bertemu langsung dengan teman-teman yang berhobi sama.

4. Jadi tahu lebih dulu kalau ada event-event di Lampung. Dulu, saya biasanya tahu acara event di Lampung seperti festival krakatau atau festival kuliner dan lainnya dari koran. Itupun seringnya telat tahunya. Pas udah mau selesai baru saya tahu ada event. Nah, setelah gabung dengan Tapis Blogger saya jadi tahu event kece di Lampung lebih dulu dari teman-temanku yang lain nih.

5. Tambah banyak ilmu, baik tentang blog maupun ilmu lainnya. Dengan mengikuti berbagai event kerja sama Tapis Blogger saya jadi bisa menambah berbagai ilmu. Sebagai contoh, saya bisa dapat ilmu tentang kesetaraan gender ketika saya mengikuti acara “Sosialisasi Partisipasi Masyarakat dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung” bersama Dinas PPPA Provinsi Lampung.

Ini dia salah satu acara bermanfaat yang saya ikuti setelah bergabung dengan Tapis Blogger.

6. Dapat penghasilan dari nge-blog. Nah, ini yang buat saya terharu. Selain ilmu, ternyata kita juga bisa mendapatkan penghasilan sebagai blogger. Ada beberapa event yang saya ikuti, di mana saya mendapatkan bayaran atas tulisan yang saya buat di blog. Wah, jadi terharu. Karena saya membuat blog ini awalnya sebagai tempat curhat. Lama-lama asyik juga ya kalo diseriusin. πŸ˜€ Tapi tentunya saya perlu banyak belajar dari ahlinya nih.

7. Jadi banyak membuat tulisan bermanfaat bagi orang lain. Tambahan lagi, kudu membangun branding positif. Karena blogger dan sosmed, adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Kadang brand tertentu ketika mengajak kerja sama juga turut memperhatikan sosmed si blogger itu sendiri. Rasanya gak mungkin diajak kerja sama kalau blogger-nya masih suka bikin status galau atau keluhan misalnya. Eaa. Jadi mau gak mau, lebih bijak lagi ya menggunakan sosial media.

Barangkali ini bisa bermanfaat, baca yuk Manajemen Waktu untuk Mom Zaman Now

Aku bangga menjadi bagian dari Tapis Blogger

Jadi, buat kamu yang berdomisili di Lampung, aktif menulis di blog, boleh banget deh bergabung dengan Tapis Blogger. Dijamin, gak bakal nyesel deh!

#Milad2TapisBlogger
#LombaBlogMilad2TapisBlogger

Me-Time di Diarra Queen Spa (Asyiknya Menjalani Hobi yang Menghasilkan)

Salah satu β€œme time” yang saya senangi sedari dulu adalah melakukan treatment di salon/spa. Sudah ada beberapa tempat yang menjadi langgananku dalam rangka memuaskan hati. Ada tempat yang biasa kukunjungi untuk sekedar potong rambut dan creambath. Ada juga tempat yang spesial kukunjungi jika ingin melakukan body massage atau pijat refleksi. Bahkan di saat hamil pun saya sampai keliling spa satu dan lainnya untuk mencari di mana saya bisa melakukan spa.

Dari sekian banyak yang kukunjungi punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada yang bagus di bidang hair treatment tapi tidak di bidang massage. Ada juga yang bagus di bidang massage tapi bahkan tidak mengerti bagaimana melakukan treatment yang aman untuk ibu hamil. Wah, jadi teringat, kala itu saya sempat kecewa lho.

Nah, sekarang sudah launching nih, tempat spa yang menyediakan perawatan lengkap, top to toe, bahkan juga menyediakan treatment untuk ibu hamil, yaitu Diarra Queen Spa. Yup. Spa yang berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi 169A atau di depan Lampung Banana Foster ini memang menyediakan tenaga terapis dengan pengkhususan bidang masing-masing. Ada terapis spesial untuk hair tratment, ada terapis spesial untuk slimming, dan untuk treatment ibu hamil sendiri ada terapis yang juga berprofesi sebagai bidan. Ini baru mantap!

Jadi penasaran pingin nyobain treatment di spa ini, sejak saya diundang untuk menghadiri grand opening pada hari Minggu, 24 Juni 2018 yang lalu, bersama teman-teman Tapis Blogger. Apalagi kami semua mendapatkan dua voucher masing-masing senilai 100K, kenapa tidak sekalian dimanfaatkan, bukan?

Jadilah, setelah melakukan reservasi terlebih dulu dengan cara menghubungi Whatsapp 0821-8282 7252, maka pada hari Jumat, 29 Juni 2018, sepulang bekerja saya putuskan ke sini untuk mengambil paket Diarra Korea, terdiri dari footbath, full body massage, body compress, body peeling Korean, creambath, milk bath, dan mendapatkan free ginger/hot tea.

Tempatnya sangat nyaman lho. Dengan konsep back to nature, teman-teman akan disuguhi pemandangan serba hijau dengan alunan musik instrumental dan aromaterapi yang menenangkan pikiran. Tak hanya pelayanan yang ramah, tamu juga disambut dan dipakaikan mahkota bunga-bunga di kepala ketika datang ke sini. Huwaaaa, saya terkejut waktu mbak terapisnya memakaikan saya mahkota, jadi brasa Queen beneran deh.

Ruang perawatan untuk wanita berada di lantai dua, merupakan area steril laki-laki, karena ruang perawatan untuk laki-laki sendiri berada di lantai satu. Jadi bisa tuh, ajak suami ke sini, daripada bosan menunggu, sekalian aja perawatan. Ajak anak-anak juga bisa lho.

Selain bisa treatment, teman-teman juga bisa bawa pulang oleh-oleh untuk perawatan di rumah nih. Kesemuanya homemade dan tentunya sudah terdaftar di BPOM. Lihat tuh, ada sabun, serum rambut, masker wajah, minyak aroma terapi, lilin aroma terapi, bahkan kalau pingin ngerasain aromaterapi di rumah seperti yang tersedia di spa ambil saja pilihan yang elektrik. Lebih praktis dan watt-nya juga kecil. Saya sendiri membawa pulang serum rambut Honey Dew seharga 20K.

Oya, bagi teman-teman yang mau tahu perawatan apa aja sih yang tersedia, bisa dilihat di list ini:

Harganya terjangkau kan, untuk ukuran spa mewah seperti ini.
Bingung mau ambil perawatan yang mana? Kenapa nggak cobain aja semuanya. Dapetin member card-nya dulu deh, hanya seharga 50K, berlaku di semua cabang Diarra Queen se-Indonesia. Bisa tanya-tanya dulu melalui telepon (0721) 5608844, WA 0821-8282 7252 atau IG @diarraqueenlampung.

By the way, saya masih punya voucher satu lagi nih yang bisa saya manfaatkan untuk treatment selanjutnya. Asyiiik.

Nah, jadi penasaran kan pingin cobain spa terbaru di Bandar Lampung ini. Jadi nggak nyesel udah gabung menjadi Tapis Blogger deh. Kalau bukan karenanya saya nggak akan mungkin bisa menikmati hobi yang menghasilkan seperti ini. Hobi menulis iya, hobi β€œme-time” di spa pun terpuaskan. Makasih ya Tapis Blogger!

Buat teman-teman yang pingin melihat acara Grand Opening-nya bisa tengok videoku di sini:

Atau baca juga liputanku di sini:

https://emmylivesite.wordpress.com/?p=615

#TapisBlogger

#DiarraQueenLampung

#TapisBloggerXDiarraQueen